Salah jika Faris berpikir Sean akan semudah itu menyerah. Awalnya dia tidak ingin buru-buru mendekati Izza, tetapi setelah bertemu Faris, dia sadar tidak akan bisa melepas wanita itu. Dia tidak ingin melihat Izza berakhir dengan pria lain, selain dirinya.
Itu memang terdengar egois. Namun, Sean tidak lagi memedulikannya. Dia ingin mengenal Izza lebih cepat. Semakin lambat dia bergerak, Faris pasti mengambil kesempatan. Banyak hal tertinggal yang mesti dikejarnya, dia tidak bisa bersantai dan membiarkan Izza pergi. Setidaknya, dia ingin berusaha terlebih dahulu.
Lalu, bagaimana jika Izza tahu tentang Nadia? Gadis itu bisa saja kecewa saat tahu alasan Sean mendekatinya. Haruskah Sean jujur sejak awal?
“Jujurlah dari awal, Sean. Tidak ada orang yang mau dibohongi. Setidaknya jelaskan pada dia kalau kamu punya masa lalu. Yakinkan dia kalau kamu ingin melangkah bersama di masa ini dan seterusnya. Kalau dia menerima masa lalumu, berarti dia memang ditakdirkan untukmu. Ingat, Sean. Manusia tidak bisa selamanya mengenang masa lalu. Kadang ada beberapa hal yang harus kita lupakan. Bukan berarti kita tidak menghargai masa lalu, tetapi karena kita ingin menjadi orang yang lebih baik.”
Jawaban Mama saat Sean meminta pendapat sangat membantu. Sebuah hubungan akan lebih baik ketika dimulai dengan kejujuran. Tidak ada salahnya menceritakan masa lalu pada Izza. Wanita itu juga memiliki kenangan, bukan?
Mengingat Izza menyukai Faris membuat Sean terbakar cemburu. Sampai sekarang kakak beradik itu masih tinggal di rumah yang sama. Bagaimana kalau keduanya memutuskan untuk mempertahankan perasaan dan menikah? Itu sangat mungkin terjadi, bukan?
Jadi, untuk menjaga kewarasannya, Sean nekat berkunjung ke rumah Izza. Dia tidak peduli dengan izin Faris. Toh, itu adalah rumah Mami. Siapa pun boleh berkunjung. Setelah meminta sedikit bantuan pada Mama, dia berhasil duduk di ruang tamu keluarga Izza.
“Jangan paksa Izza kalau dia memang tidak ingin dekat denganmu. Kamu sudah dewasa, Mama yakin kamu bisa melihat hal itu di mata Izza,” pesan Mama saat Sean berpamitan.
Yah. Sean sudah melihat keterpaksaan di mata Izza pada perjumpaan pertama mereka. Dia bertekad akan mengubah hal itu. Dia akan menunjukkan pada Izza bahwa ketertarikannya tidak main-main.
“Wah! Lihat siapa yang datang? Sean, kan?” sapa Mami dengan senyum lebar.
“Siang, Tante. Semoga saya tidak mengganggu.”
“Tentu saja tidak. Kebetulan Tante tidak ada acara hari ini.” Mami diam sebentar. “Kamu mau bertemu Izza?”
Tangan Sean menggaruk tengkuk. Dia sudah biasa berhubungan dengan berbagai macam wanita, tetapi belum pernah sekali pun berkunjung ke rumah mereka. Ini adalah pengalaman pertamanya. Rasa percaya diri yang dimilikinya mendadak hilang.
Apakah memang begini perasaan kalian jika berkunjung ke rumah orang tua wanita yang disukai? Jantung Sean tidak bisa berdetak normal sejak tadi. Dia terus-terusan memandangi setiap sudut ruangan agar tidak terlihat gugup. Atau itu malah membuatnya ketahuan?
“Bolehkah saya menemuinya, Tante?” tanya Sean berbasa-basi. Dari sikap manis Mami, dia tahu betul akan mendapat izin.
“Tentu saja. Dia sedang berkebun di belakang. Biasalah, anak gadis. Suka sekali sama bunga,” ujar Mami sambil mengibaskan tangan. Sean tertawa singkat mendengar hal itu. “Kamu susul dia saja di belakang.”
“Apa tidak masalah, Tante? Faris ....”
“Faris sedang keluar. Omong-omong, dia tidak mengatakan hal aneh waktu kalian bertemu, kan?” tanya Mami serius.
“Tidak, Tante. Kami hanya mengobrolkan hal-hal kecil sebagai laki-laki. Faris sangat baik. Tante tidak perlu khawatir.”
Mami tidak perlu tahu kalau Sean dan Faris sempat bersitegang mengenai masa depan Izza. Begitulah pria sejati bersikap. Tidak mengumbar kelakuan buruk saingannya hanya demi mendapat dukungan. Sean bukan orang yang suka berbuat curang. Dia menyukai persaingan sehat.
“Syukurlah. Tante sempat khawatir. Kamu sudah tahu kalau Faris dan Izza ....” Mami kelihatan ragu untuk meneruskan kalimatnya.
“Sudah, Tante,” potong Sean cepat. Mami sempat tertawa kaku, sebelum mengangguk-angguk.
“Kamu tidak keberatan?”
“Semua orang punya permasalahannya sendiri, Tante. Saya dan Izza juga begitu. Jadi, saya berusaha bersikap realistis saja.”
“Baiklah. Tante harap kamu dan Izza bisa berjodoh. Tante bukannya ingin memisahkan Faris dan Izza, tapi sebaiknya mereka memang tidak bersama.”
Sebetulnya Sean ingin menanyakan alasan Mami menghalangi cinta Faris dan Izza. Namun, melihat wajah mendung Mami, dia mengurungkan niat. Ini masalah yang sensitif. Sean rasa, Mami masih belum mau berbagi dengan orang asing.
Seiring dengan berjalannya sang waktu, Mami pasti akan luluh. Itu pun kalau Sean berakhir dengan menikahi Izza. Perjalanan Sean meyakinkan Izza tentu tidak semudah bayangan. Saat ini, Izza masih menyimpan rasa pada Faris. Sean juga belum sepenuhnya melupakan Nadia. Jadi, posisi mereka sama, bukan?
***
Pemandangan yang sangat indah. Bukan hanya karena berbagai jenis bunga, tetapi karena Izza yang tampak sibuk merawat tanaman-tanaman di kebun. Gadis itu tidak ragu memindahkan berbagai bunga dari polybag ke sebuah pot. Dia membiarkan tangan dan sebagian bajunya kotor oleh tanah dan pupuk.
Senyum Izza terus mengembang selama melakukan kegiatan berkebun. Dia sangat menikmati perannya sebagai seorang pekebun. Sesekali dia tertawa saat ada tanah yang mengenai wajah, lalu menyekanya dengan cepat.
Sean bertopang dagu sambil duduk di beranda. Dia mengikuti setiap gerakan Izza yang begitu manis di matanya. Si gadis bahkan tidak sadar jika ada yang memperhatikan. Haruskah Sean menyapa?
“Assalamualaikum, Cantik!”
Izza hampir menjatuhkan pot yang sedang dipegang. Dia menoleh dan mendapati Sean yang menutup mulut untuk menahan tawa. Dengan wajah merah, dia meletakkan bunga yang akan ditanam. Sean bingung, gadis itu sebenarnya malu atau marah. Karena Izza hanya menghela napas, lalu melanjutkan aktivitas.
Really? Sean melotot. Tidak percaya kalau Izza mengabaikannya. Izza juga tidak membalas salam Sean. Baiklah. Sean sudah sangat sering menghadapi berbagai macam tipe wanita, dia bisa mengatasi Izza.
“Menjawab salam itu hukumnya wajib, lho,” ucap Sean keras. Sengaja agar Izza merasa kesal. Wajah Izza yang cemberut terlihat lebih cantik.
“Waalaikumsalam,” jawab Izza tanpa menoleh.
Masih tidak dipedulikan. Sean mengetukkan telunjuk berulang kali ke meja. Pandangannya lekat pada gadis yang kini mulai menata pot-pot bunga di sebuah rak besi bertingkat. Dia penasaran, sampai kapan Izza akan cuek seperti itu.
“Sampai kapan kamu akan mengabaikanku?”
Tidak ada sahutan dari Izza. Sean memutar bola mata. Izza itu tipe gadis yang betah berdiam diri dalam waktu yang lama. Sean pernah menjumpai orang seperti itu. Tidak banyak bicara dan dingin.
Sebenarnya Sean percaya kalau Izza tidak sedingin itu. Dia bisa mengajar anak-anak panti dengan senyum lebar dan keramahan. Jadi, intinya adalah Izza berusaha membuat Sean bosan dan menyerah.
Kamu belum mengenalku, Za. Aku bukan pria yang mudah menyerah. Mari bertaruh dan kita lihat sejauh mana kamu bisa bertahan. Aku punya banyak waktu untuk menunggu. Tidak usah buru-buru. Aku suka memperhatikanmu seperti ini. Sikapmu yang alami sangat mengesankan. Aku harap kamu bisa selalu tersenyum manis seperti itu.
Dari dalam rumah seseorang menatap Sean dengan tangan terkepal. Dia ingin sekali menghampiri pria itu dan protes, tetapi ada yang menghalangi. Jadi, dia hanya menjadi penonton setia tanpa bisa berbuat apa-apa.
Mata tajam sang pengintai tidak sedetik pun teralihkan pada Izza. Dia mencoba untuk menahan gelora di hatinya yang membuncah. Sean adalah pria penuh semangat yang tidak akan mudah goyah. Dia harus mencari cara agar Sean bisa mundur dengan suka rela. Senyum yang baru saja terbit, seketika lenyap ketika melihat Izza menghampiri Sean. Apa gadis itu sadar dengan apa yang dia lakukan?
Yang lebih mengejutkan adalah Izza tersenyum lebar pada Sean. Apakah ini sebuah mimpi?