Senyuman Izza bukan hal yang menggembirakan. Sean melihat ada kilat lain yang disembunyikan oleh wanita itu, meski matanya memandang ke bawah. Izza terus melangkah mendekati Sean yang sedikit penasaran dengan rencana si gadis.
“Mas Sean sepertinya sudah biasa menggoda wanita, ya?” tanya Izza tanpa sungkan. Dia berdiri agak jauh dari Sean dan tidak berminat untuk duduk menemani pria itu.
“Tidak juga. Aku tidak terlalu suka menggoda kaummu. Merekalah yang suka menggodaku,” ucap Sean bangga. Izza memutar bola mata.
Memang apa bagusnya kalau sering digoda oleh para wanita? Jadi, Mas Sean itu seorang playboy? Wah! Harus berhati-hati.
Izza sadar kalau Sean bukan orang yang kesulitan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sean bahkan sangat santai saat menyapa orang asing. Dia juga bisa berbicara santai dengan Mami di pertemuan pertama mereka. Apa karena dia seorang pengusaha?
Omong-omong. Sean memang nyaris sempurna. Minus playboy-nya. Perawakan tinggi dan wajah tampan. Penampilan keren dan pakaian bermerek. Aksesorinya juga tidak main-main. Dia pasti sudah terbiasa tampil menawan seperti itu.
Menyadari dirinya mulai mengagumi sosok Sean, Izza berulang kali mengucap istigfar. Ini sudah terlalu jauh dan berlebihan. Apa gunanya semua kelebihan Sean jika tidak dibarengi dengan sikap serius memandang pernikahan.
Seperti kebanyakan wanita, Izza menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Dia tidak mau terburu-buru dan salah memilih. Namun, Sean bukan calon yang mudah ditolak. Mami juga sangat menyukai pria itu. Sementara Faris masih belum bisa memercayai keinginan Mami dalam hal perjodohan ini.
“Kamu tenang saja. Aku ... sudah lama tidak berhubungan dengan makhluk bernama wanita. Kali ini, aku serius ingin menikah,” ucap Sean.
“Benarkah?” Entah bagaimana, Izza bisa merasakan keseriusan dalam ucapan Sean. Padahal beberapa detik yang lalu dia masih meragukan pria di hadapannya itu. “Kenapa harus saya? Apa ada alasan khusus?”
Sean menelan ludah. Pertanyaan mengerikan itu akhirnya terucap, tetapi lidah Sean kelu saat akan mengatakan alasan dibalik keinginannya menikahi Izza. Jika dia berkata jujur, akankah Izza menerima? Bagaimana kalau Izza malah mundur?
Tak kunjung mendapat balasan, Izza pun mengangkat kepala dan melihat Sean yang tengah termenung. Kening Izza mengerut. Apa pertanyaannya begitu sulit dijawab? Izza mengamati Sean yang terdiam lama. Dia merasa ada yang tidak beres.
“Sulit untuk dijawab? Atau ada sesuatu yang tidak bisa Mas katakan?”
Keterkejutan jelas terlihat di wajah Sean. Dia mengalihkan pandang pada Izza yang gelagapan karena kepergok sedang memperhatikannya. Tingkah jenaka Izza itu sedikit menghilangkan rasa tak nyaman yang memenuhi hati Sean.
Kaki Izza mundur beberapa langkah. Sean jadi bingung, apa yang sebenarnya direncanakan gadis itu. Tadi, dia bicara dengan berani pada Sean. Ke mana keberanian itu pergi? Sean menghela napas. Dia belum bisa memutuskan, akan menceritakan tentang Nadia atau tidak.
“Menurutmu kenapa?”
“Kenapa malah bertanya? Saya menanyakan alasannya karena memang tidak tahu.”
Diam lagi. Sean gamang.
“Aku sendiri masih memikirkannya sampai sekarang. Maukah kamu memercayaiku?”
“Kalau Mas ada di posisi saya, apakah Mas juga akan percaya? Saya hanya tidak ingin ada kecurigaan. Jika Mas berniat menikah dengan saya, bukankah seharusnya Mas bisa meyakinkan saya?”
Sekak mati. Izza adalah gadis cerdas berpendidikan. Dia tentu ingin tahu yang sesungguhnya. Sean bukannya tidak ingin bercerita, dia hanya belum siap. Nanti, dia akan mengungkap sosok Nadia begitu waktunya tepat.
“Aku hanya ingin menikahimu. Tidak ada alasan khusus.”
Mata Izza terpejam. Dia merenungkan kembali ucapan Faris tentang sikap aneh Sean. Jika dipikirkan, Sean memang penuh teka-teki. Mana ada pria asing yang mengajak wanita menikah, padahal mereka tidak saling mengenal.
Apa lagi Sean seakan sangat menginginkan pernikahan dengan Izza. Apa yang disembunyikan oleh pria itu? Mata Sean tidak bisa menutupi. Ada hal lain yang tidak bisa dikatakan olehnya dan Izza mulai penasaran.
“Apa hal yang tidak bisa Mas katakan itu tidak akan memengaruhi pernikahan kita nanti?”
Ingin rasanya Izza menenggelamkan diri setelah bertanya. Mengapa dia memberi pertanyaan seperti itu? Bukankah itu menyiratkan kalau dia juga menginginkan pernikahan dengan Sean. Namun, apa yang sudah dia katakan, tidak bisa ditarik kembali.
Ya, Allah. Kenapa aku bisa seceroboh ini? Mas Sean bisa salah paham dan mengira aku menerima perjodohan kami.
Sementara Sean dipenuhi kegembiraan karena pertanyaan tak terduga dari Izza. Dia menahan tawa saat melihat Izza menutup mulut dan bergerak gelisah. Gadis itu sangat menggemaskan. Sean jadi penasaran, berapa umurnya?
“Kalau aku bilang tidak, apa itu akan melegakanmu?”
Izza mendongak sebentar. “Kenapa harus ada kata kalau?”
Sean tertawa. Dia tidak tahu kalau Izza termasuk wanita sensitif. “Berapa sebenarnya umurmu?”
“Kenapa tiba-tiba bertanya tentang umur? Kita sedang membicarakan pernikahan.”
“Aku hanya penasaran. Biar aku tebak.” Sean mengelus dagu sambil memperhatikan Izza yang masih terus menunduk. “Pertengahan dua puluh. Dua puluh lima atau dua puluh enam. Aku benar, kan?"
“Mas berbakat menebak. Lalu, kenapa bertele-tele dan menanyakan hal yang tidak penting?”
“Aku hanya ingin meyakinkan.” Sean tersenyum lebar. “Kamu sudah tahu umurku?”
“Apa saya perlu tahu?”
“Tahun ini usiaku tiga puluh dua,” kata Sean tanpa memedulikan Izza. “Jarak usia kita cukup jauh juga, ya. Kamu tidak keberatan menikah dengan pria yang sudah tua ini, kan?”
Tua? Sean tidak terlihat tua sama sekali. Izza pikir, usianya belum mencapai tiga puluhan. Ternyata pria itu awet muda. Melihat bagaimana wajah Mama, Izza tidak heran. Ibu Sean masih terlihat segar di umur yang sudah melewati setengah abad.
“Dengar, Izza. Aku tidak pernah menganggap pernikahan sebagai permainan. Aku juga menjunjung tinggi ikatan suci ini. Jadi, saat memutuskan menikah, itu artinya aku serius.”
Jantung Izza berdetak keras sekali. Ada sesak yang mengimpit. Seluruh tubuhnya bergetar mendengar kalimat yang diucapkan Sean. Apakah ini pertanda baik atau malah sebaliknya? Sungguh! Izza tidak bisa memikirkan apa pun. Belum lagi jantungnya bekerja dengan normal, kalimat lanjutan Sean semakin membuat d**a Izza sakit.
“Izza, maukah kamu menikah denganku?”
***
“Mami akan membiarkan Sean terus mendekati Izza?” tanya Faris, suaranya bergetar.
Dari balik jendela kaca itu, Faris tidak bisa mendengarkan pembicaraan Sean dan Izza. Namun, dia yakin kalau kedua orang itu sedang membicarakan hal serius. Izza berkali-kali tampak terkejut dengan ucapan Sean. Apa pada akhirnya dia akan kehilangan Izza?
Perasaan tidak rela mulai meruntuhkan benteng keimanan Faris. Dia sangat tahu jika masalah jodoh adalah urusan Allah. Tidak ada yang bisa menentang keputusan Sang Khalik. Akan tetapi, kenapa dia berat melepas wanita yang dikaguminya sejak lama itu?
“Kita sudah sepakat untuk menjodohkan mereka, bukan?”
“Kita?” ulang Faris. Kapan dia menyetujui perjodohan antara Izza dan Sean? “Mami baru kenal Sean. Mengapa terburu-buru?”
“Mami memang baru mengenal Sean, tapi Mami sudah lama mengenal ibunya. Dia wanita baik yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya. Mami percaya padanya. Karena itu, Mami juga memercayai Sean.”
“Tapi, Mi ....”
“Kalau memang berjodoh, mereka akan bersatu. Kamu tidak perlu ikut campur. Ingat, Ris. Kamu tidak bisa terus-terusan memikirkan Izza. Apa yang kamu rasakan itu bukan cinta sebenarnya. Kamu hanya tidak rela kalau gadis yang kamu jaga sejak kecil menemukan pria lain.” Mami menepuk pelan pundak Faris sambil tersenyum, lalu meninggalkannya seorang diri.
Apa yang kamu rasakan itu bukan cinta sebenarnya. Kamu hanya tidak rela kalau gadis yang kamu jaga sejak kecil menemukan pria lain.
Benarkah apa yang dikatakan oleh Mami? Sejujurnya, Faris tidak pernah melihat wanita lain selain Izza. Dia menyayangi Izza sejak mereka dipertemukan di panti. Selama ini dia selalu berusaha menjaga dan membuat Izza bahagia.
Ya, Allah. Apa hatiku memang selemah ini? Ampuni hamba. Jangan biarkan perasaan hamba dikuasai oleh setan. Hamba hanya ingin menjaga Izza seperti dulu. Berilah hamba petunjuk-Mu, ya Allah.
Apa pun keputusan Izza nanti, Faris harap itu adalah kebaikan dari Allah. Dia tidak ingin Izza menderita atau disakiti. Sayangnya, dia melihat ada peluang itu di mata Sean. Dia bukan menghakimi Sean, dia hanya merasa kalau ada rahasia besar dalam keinginan Sean menikahi Izza. Hal itulah yang membuat Faris takut.
Kedua netra Faris memandang Izza dan Sean yang masih berbincang di taman. Ada rasa tak nyaman yang memenuhi hatinya melihat kedekatan mereka. Sanggupkah dia melepas Izza pada Sean?