8. Putusan

1386 Kata
“Izza, maukah kamu menikah denganku?” “Izza, maukah kamu menikah denganku?” “Izza, maukah kamu menikah denganku?” Suara Sean yang mengajaknya mengarungi biduk rumah tangga terus menggema di kepala Izza. Dia bahkan bisa mengingat wajah serius Sean saat menyampaikan lamaran. Ada asa besar di kedua mata Sean. Seakan pria itu sudah lama ingin mengucapkannya pada Izza. Ada yang aneh pada diri Izza dan ini pasti ada hubungannya dengan Sean. Dia sudah sering dijodohkan oleh Mami sejak usianya belum genap dua puluh lima. Entah apa alasan Mami. Wanita paruh baya itu ingin sekali Izza segera menikah. Izza tahu jika Mami tidak pernah menyayanginya dengan tulus. Selalu ada Faris dan Papi dibalik sikap lembut Mami padanya. Yang dia tidak tahu adalah alasan Mami tidak menyukai kehadirannya di rumah. Bukankah dia dan Faris sama-sama anak panti yang diangkat? “Kalau bukan karena Faris dan papimu, Mami enggak sudi menerima kamu di rumah ini. Jadi, jangan cengeng atau manja kalau tinggal di sini. Mami enggak usir kamu saja, sudah untung.” Itu yang dikatakan Mami ketika Izza memberanikan diri bertanya pada Mami tentang sikap tak ramah sang ibu. Izza kelas tiga SMP waktu itu dan dia masih mengingat kata demi kata dengan baik. Setelah kalimat menyakitkan yang diterima, Izza tidak memiliki keberanian untuk membahas lagi. Cukup tinggal di rumah dengan tenang tanpa menimbulkan masalah. Sebisa mungkin jauhi perkara yang tidak disukai Mami. Berusaha mengukir prestasi yang bisa membanggakan ibunya. Meskipun kenyataannya, Mami tidak pernah memuji.  Jika ada yang paling menyayangi Izza, itu ialah Faris. Terutama sejak kepergian Papi. Pria itu menjadi pelindung dari segala kesedihan dan masalah. Dia menempatkan Izza di posisi pertama. Mungkin itu juga yang membuat Faris tidak memperhatikan dirinya sendiri. Dia terlalu fokus mengurusi Izza, tanpa memedulikan masa depannya. “Kamu yang buat jodohnya Faris hilang timbul.” Perasaan Izza gundah. Dia bukannya tidak menyadari kalau banyak wanita yang ingin mengenal Faris lebih dekat. Beberapa bahkan terang-terangan menanyakan pada Izza. Namun, Faris selalu menolak dan berkata kalau dia belum siap untuk menikah. Benarkah apa yang dikatakan Mami? Bahwa akulah yang membuat jodoh Kak Faris menjauh. Apa aku terlalu dekat dengannya? Salahkah jika aku dekat dengan kakakku sendiri. Kakakmu? Kamu yakin? Bukankah kamu menyukai Faris layaknya pria?  Ada bisikan lain yang kembali menambah beban Izza. Harus diakuinya, dalam beberapa kesempatan, dia memang berharap kalau Faris adalah pria asing. Dia ingin terus dilindungi oleh Faris. Memimpikan Faris menjadi imam dan juga pembimbing di sisa hidupnya. Sebutir kristal jatuh di pipi Izza, lalu disusul oleh butiran selanjutnya. Dia merasa begitu berdosa. Bagaimana mungkin dia menginginkan Faris menjadi suami. Seharusnya dia bisa menjaga pandangan dan malu terhadap jilbab yang menutupi mahkota. Nafsu membuatnya menjadi lupa diri dan egois. “Melamun sore?”  Tangan Izza sigap menghapus air mata ketika suara Mami menyapa indra pendengar. Dia mencoba tersenyum pada Mami yang langsung duduk di hadapannya. Mami menghela napas setelah memperhatikannya sebentar. Mungkin dia melihat jejak di kedua pipi sang putri. “Habis menangisi apa? Perjodohanmu dengan Sean?” sindir Mami.  “Bukan, Mi. Bukan begitu. Izza cuma mengingat masa lalu.” Mami melirik foto di meja Izza. Dia tersenyum kecut. “Papimu itu pergi terlalu cepat, kan?” tanya Mami lirih. Wajah wanita itu berubah mendung. “Seharusnya dia lebih bertanggung jawab. Bisa-bisanya dia membebankan kalian pada Mami.” Jadi, Mami menganggap aku dan Kak Faris sebagai beban?  Ingin rasanya Izza melontarkan pertanyaan itu, tetapi tidak. Dia tidak mungkin membuat Mami lebih bersedih. Sudah cukup menjadi anak yang tidak diinginkan. Mengapa harus repot ditambah dengan anak yang tidak tahu diri? “Kamu sudah memutuskan?”  “Memutuskan apa, Mi?” “Tentu saja menikah dengan Sean,” jawab Mami dengan gemas. Izza terdiam lama. “Mami ingin Izza menikah dengan Sean?” Mami menghela napas kembali. “Mami selalu ingin kamu menikah secepatnya, Za. Dengan Sean atau pria mana pun, bagi Mami tidak masalah. Yang penting, kamu mau. Itu saja sudah cukup.” “Mami ... tidak akan memaksa?” Lagi-lagi, Mami menghela napas. Dia memandang Izza yang tersenyum lebar. Rasa tak nyaman yang biasa dirasakan, lenyap sudah. Berdua dengan Izza seperti ini membuatnya merasa marah dan sedih sekaligus. Sebisa mungkin, dia menghindari situasi yang menjebak perasaannya itu. Melihat senyum Izza yang tampak begitu manis, hati Mami terasa disirami air es. Dia tidak ingin bersikap buruk pada Izza, tetapi masa lalu membuatnya mengeras. Noda buruk yang akan dia ingat selama sisa umurnya. “Mami mungkin tidak menyukaimu, tapi Mami juga tidak ingin kamu salah melangkah.”  Ucapan Mami meruntuhkan kesedihan yang mengimpit Izza. Kalimat itu bagai obat mujarab yang menghilangkan seluruh dukanya selama ini. Izza begitu bahagia dan tanpa sadar memeluk sang ibu. Siapa sangka kalau Mami membalas pelukannya. Jika menikah bisa membuat Mami menyayanginya, Izza akan dengan senang hati melakukan. Dia tidak peduli bagaimana calon suaminya. Yang penting, Mami menyukai pria itu dan merestui hubungan mereka. Dia tidak mempermasalahkan yang lain. Doa Mami cukup untuk membuatnya berani mengambil keputusan terbesar dalam hidup. “Mami menyukai Sean?” tanya Izza setelah Mami melepas pelukan. “Seharusnya Mami yang bertanya, kamu menyukai Sean atau tidak?” Giliran Izza termenung. Dia baru berkenalan dengan Sean dan belum bisa meraba perasaan. Sean memang terlihat bersungguh-sungguh ingin menikahinya. Namun, Izza tetap ingin mengetahui rahasia yang disembunyikan oleh pria itu. “Izza belum tahu, Mi. Dia memang pria yang menarik, tapi ada sesuatu yang dia sembunyikan.” “Kamu sudah bertanya tentang hal itu?” Izza mengangguk. “Lalu, apa jawabannya?” “Dia tidak menjawab. Dia hanya bilang kalau serius ingin menikah dengan Izza.” “Bagaimana pendapatmu tentang pernikahan kalian?” “Entahlah, Mi. Izza masih belum tahu.” “Kamu mau Mami mengatakan pada Sean agar dia menyerah? Sama seperti pria-pria sebelumnya?” “Tidak, Mi.” Izza refleks menutup mulut ketika sadar kalau dia menjawab terlalu cepat. Namun, dia sedikit takut saat Mami berkata begitu. Ada rasa tidak rela. Padahal dia belum memutuskan akan menerima lamaran Sean atau tidak. Wajah Izza yang memerah semakin menunduk saat Mami tertawa. Sepertinya sang ibu sengaja menggoda. Izza melirik raut wajah Mami yang luar biasa bersinar. Ini pertama kali Mami memukau mata Izza dengan ekspresi indah.  “Mami bahagia?” “Tentu saja. Kamu harus lihat wajahmu waktu Mami bilang akan menyuruh Sean menyerah. Sangat lucu.” Mami masih tertawa dan membuat Izza sangat bahagia. “Mami mau tertawa sampai kapan?” protes Izza setelah Mami tak kunjung menghentikan tawa. “Ya, ampun, Za. Perut Mami sampai sakit,” ujar Mami sambil meremas perut. Dia berdeham dan mencoba untuk berhenti tertawa. “Jadi, kamu menyukai Sean?” “Izza tidak tahu, Mi. Dia itu kan memang tipe pria yang mudah disukai. Jadi, Izza bingung.” “Itu karena kamu selama ini tidak pernah mau melihat pria lain selain Faris.” Ada batu besar yang menimpa Izza begitu Mami menyebut nama Faris. Sosok kakaknya itu terlupakan untuk sesaat tadi. Selama ini, Izza memang selalu membandingkan pria yang mendekatinya dengan Faris. Wajar, bukan? Faris adalah satu-satunya pria yang berada di dekat Izza.  “Mami menyadari hal itu?” “Sejak lama. Mami selalu memperhatikan kalian. Maaf, Mami tidak bisa membiarkan kalian bersama. Bukan egois atau apa. Mami hanya merasa, lebih baik kamu tidak menikah dengan Faris. Mami menyayangi kalian berdua, meski kelihatannya Mami lebih menyayangi Faris.” “Benarkah?” bisik Izza. Mami terenyak. Dia membelai pipi Izza dengan lembut. “Mami tahu kalau Mami sudah banyak mengatakan hal-hal buruk padamu. Kamu berhak marah atau membenci Mami.” Mana mungkin Izza bisa marah atau benci pada Mami? Apa lagi setelah Mami memeluk dan menyalurkan kasih sayangnya hari ini. Dia lupa semua perkataan buruk Mami. Yang dia ingat hanya pelukan hangat dan usapan lembutnya. “Mami mau menerima kehadiran Sean sebagai menantu?” Mata Mami berbinar mendengar pertanyaan Izza. “Kamu sungguh ingin menikah dengannya?” “Dia sudah melamar Izza tadi,” ucap Izza malu-malu. “Benarkah?” Izza mengangguk sambil menunduk. “Kamu sudah memberi jawaban?” Kali ini, Izza menggeleng. “Mana mungkin Izza mengambil keputusan itu tanpa restu Mami dan Kak Faris.” “Mama selalu merestuimu, Za. Mama harap, Sean adalah pria yang terbaik untukmu.” Diam-diam Izza mengamini dalam hati. Dia juga mengharapkan hal itu. Semoga keputusannya ini bukan karena ingin membahagiakan Mami. Juga bukan karena ingin terlepas dari jerat Faris. Ya. Semoga ini adalah petunjuk Allah mengenai masa depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN