18. Goresan Luka

1292 Kata

Senyum yang sempat Sean pamerkan di awal kedatangannya musnah sudah. Berkali-kali dia melirik Izza yang masih berpelukan dengan kakaknya, Khoirun Nisa. Dia tidak bisa melihat ekspresi Izza karena wanita itu membelakanginya.  Nisa sendiri sudah meneteskan air mata. Dia memeluk erat Izza seolah takut kehilangan Sang Adik lagi. Terlihat sekali kalau wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Matanya sempat melirik Sean sebentar, tetapi kembali fokus pada Izza. Sementara Izza menerima pelukan Nisa dengan perasaan tak keruan. Sungguh! Dia bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya. Sudah lama dia bertanya-tanya di mana keluarga aslinya dan mengapa dia bisa berakhir di panti asuhan. Kenyataan bahwa Nisa dan Nadia adalah orang yang sama memberikan kejutan luar biasa. Izza tidak tahu harus bagaimana meny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN