“Jatuh cinta itu bukanlah sebuah kesalahan, Za. Lagi pula, Sean adalah suamimu. Kenapa kamu harus ragu mengakui kalau kamu mencintainya?” Kata-kata Dian terus mengikuti Izza ke mana pun dia melangkah. Izza tidak mengerti mengapa sang ibu seakan yakin jika dia sudah jatuh hati pada suaminya. Apakah dia memang sudah mengalaminya? Ketika melihat Sean terakhir kalinya tadi, Izza merasa sedikit luluh. Hati kecil wanita itu tidak mengizinkan untuk melangkah pergi meninggalkan rumah. Namun, mereka memerlukan jarak saat ini agar bisa mengambil keputusan dalam keadaan tenang, bukan dengan emosi yang memenuhi hati. Ruangan hotel yang disewa Izza terasa kosong. Dia belum pernah bersembunyi seperti ini. Namun, dia tidak bisa berpikir dengan baik jika terus berada di sekitar Sean. Dia juga tidak bis

