Apakah jika aku mempercayainya aku terlihat bodoh di mata Devi dan Mas Imron

1847 Kata
" Kamu " " Pagi Mbak, saya kemari atas perintah dari suami Mbak Anita" ucapnya menyelonong masuk ke dalam rumah Dan tanpa di persilahkan ia nampak duduk santai di sofa ruang tamu berwarna abu abu tersebut " Sudah berani Mas Imron membawamu masuk ke rumah ini " tatapku sinis yang hanya di balas dengan senyum kecutnya Tak berselang lama Mas Imron datang dan kini berada bersama aku dan Devi Devi tersenyum manis menyambut kedatangan Mas imron sedangkan Mas Imron tampak enggan membalas senyuman Devi Mungkin karena ada aku di antara mereka, sehingga membuat Mas Imron nampak acuh di depan Devi. Bermuka dua kamu mas " Anita duduk " langkahku terhenti mendengar perintah dari Mas Imron Segera aku mengambil posisi duduk bersama mereka " Silahkan Devi " " Mbak Anita cemburu ya sama saya" tanya Devi tanpa basa basi " Kemarin saya gak sengaja ke cafe dekat kantor Mas imron dan saya melihat Mas imron sedang disana juga untuk makan siang, tetapi karena penyajian makanan di cafe tersebut lama jadi aku tawarkan deh bekal makan ku ke Mas Imron sepertinya Mas imron juga lagi buru buru dan kelamaan jika harus menunggu makanan di cafe itu tersaji " ucapnya sangat lugas Ntah harus percaya atau tidak tetapi mengapa semua serba kebetulan Bagaimana Devi tahu jadwal makan siang Mas Imron jika Mas imron tak memberi tahu Apakah jika aku mempercayainya aku terlihat bodoh di mata Devi dan Mas Imron " Mbak Nita, Mbak " ucap Devi seraya melambaikan tangannya di depanku " Saya sudah menyampaikannya secara jujur, kalau begitu saya pamit " pamitnya dan dapat ku lihat ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Mas Imron, Centil sekali ! " Nit, semoga penjelasan Devi tak lagi membuatmu berfikiran macam macam tentang aku" ucap Mas Imron " Untuk apa mas kamu susah payah meyakinkanku ? " " Karena aku gak suka di tuduh melakukan sesuatu yang sama sekali tidak aku perbuat " " Sudahkah aku terlihat bodoh di matamu " ucapku berlalu Menjalani rutinitasku sebagai seorang pendidik. Mengajar dan bertemu anak anak Mereka tampak polos tanpa beban, senyumannya ikhlas bahkan mereka sama sekali tak menyimpan dendam di dalam hatinya Mereka manusia cilik namun berhati luas. Mereka bertengkar namun tak lama kembali memaafkan dan bermain bersama lagi, seperti tak ada kesalahan yang beberapa menit lalu tercipta di antara mereka Harusnya aku banyak belajar dari mereka memaafkan untuk kemudian kembali hidup berdampingan Aku sudah memaafkan, tapi tidak dengan mudah melupakan. Melupakan, penolakan penolakan yang Mas Imron berikan kepadaku Hidup memang tidak selalu baik baik saja Terlebih jika di paksakan untuk bertahan di tengah keadaan yang semestinya harus di lepaskan Tidak ada yang salah, namun aku masih terus saja mengutuk diri mengapa dengan sadarnya aku terus memperjuangkan ia yang tak menaruh hati kepadaku Mengapa terus berjuang mati matian untuk perasaan yang bertepuk sebelah tangan tanpa sedikitpun mendapat balasan Memang tak ada yang salah, bagaimanapun, cinta itu baik. Memiliki atau tidak, cinta tetap cinta Aku harus mengembalikan hatiku yang dulu, yang tidak mencintaimu Bagaimanapun aku tak bisa memaksakan yang bukan hakku, termasuk memaksanya untuk mencintai aku ** " Mamaaaa" Aldy segera berlari menghampiri aku. Ku ciumi setiap inci dari wajahnya " Mama kangennn" pelukku manja " Ayo masuk dulu" sapa ibu di ujung pintu " Waaah .. senengnya anak mama yang habis liburan, ada cerita apa nih bagi bagi dong sama mama " Aldy dengan antusias bercerita tentang liburannya Sesekali aku mengangguk angguk dan tersenyum padanya Lalu ia memberiku sebuah liontin berisikan foto Mas Imron " Kok foto papa yang di kasihkan Mama" protesku dengan manyun " Iya ma, kalau punya papa isinya foto mama dan ini punya aku isinya foto kita bertiga " jawabnya dengan ceria " Kok begitu nak kenapa " tanyaku penasaran " Biar papa selalu tersimpan rapi di hati mama, dan mama selalu tersimpan rapi di hati papa dan mama papa selalu tersimpan rapi di hati Aldy" ucapnya dengan lugas " Aldy akan selalu ada di hati mama, aldy pemilik hati Mama " ucapku seraya memeluk erat tubuhnya Hatiku perih membayangkan jika nanti Aldy akan kehilangan sosok Ayah yang sangat ia cintai Pasti ia akan sangat kecewa mendapati perpisahan kedua orang tuanya Nak sesungguhnya Mama juga tidak ingin berpisah Tetapi Mama hanyalah manusia yang punya batas sabar Jika kesabaran Mama terus saja di uji, lama lama bisa kikis Nak. Layaknya batu karang di lautan. " Kita pulang yuk Ma, Aldy gak sabar mau ngasih liontin ini ke Papa " ajaknya " Duh sayangnya gak bisa hari ini Nak, Papa sedang ada kerjaan di luar kota jadi gak ada dirumah. Besok ya , Malam ini kita bobok sini bersama sama bobok bertiga sama Uti. Mama juga kangen banget sama Uti " Maaf nak, Mama harus berbohong Mama belum siap untuk bertemu dengan Ayahmu malam ini Ku habiskan waktu untuk bercengkerama dengan Ibu dan juga Aldy anakku Hingga akhirnya Aldy tertidur di pelukanku " Nit, kamu baik baik saja kan " tanya Ibu memecah keheningan " Baik bu " jawabku dengan tersenyum " Kamu ada masalah sama Imron " tanya ibu mengintrogasi Aku hanya terdiam dan menatap kosong sekitar " Anita " ucap ibu kemudian memegang tanganku " Cerita Nak, Ibu siap mendengarkan apapun ceritamu " Lagi Lagi aku tak dapat membendung Air Mata yang sedari tadi ku tahan Ku peluk erat ibu dan ku tumpahkan semua risau ku padanya Ibu dengan sabar mengelus- elus punggungku, membuatku semakin terisak " Nangislah jika itu membuatmu merasa lega" ucap Ibu menenangkan Bu, maaf jika sampai sebesar ini aku masih saja menjadi beban fikirmu. Batinku Ku ceritakan detail demi detail kejadian yang menimpa rumah tanggaku dan Mas Imron Ibu nampak menyimaknya dengan seksama Sesekali Ia memberi wejangan untukku " Lalu, apa langkah yang akan kamu ambil " tanya Ibu " Ntah bu, sejujurnya Anita ingin sekali mempertahankan tapi disisi lain Anita sudah lelah memperjuangkan " jawabku " Jangan mengambil keputusan ketika emosi Nita, nanti akan membuatmu menyesal " " Perasaan Nita seperti sedang di permainkan, kadang di buat berharap kadang pula di buat seakan akan Nita harus membuang jauh harapan Nita. Mengapa tak dengan tegas ia menolak ajakan perempuan itu jika memang Mas Imron tak ada perasaan apa apa padanya " " Jika memang ada hubungan di antara Mas Imron dan Devi, mengapa dengan susah payah Mas Imron meminta Devi menjelaskan padaku kalau itu hanyalah salah paham, bukankah Mas Imron tak mencintaiku ? . " " Perasaan Anita seperti di tarik ulur Bu, Anita tak mengerti apa tujuan Mas Imron mempertahankan aku jika ujung ujungnya tetap aku jadi wanita yang ia buang " Ku ungkapkan segala isi hatiku pada Ibu tanpa ada yang di tutupi sedikitpun " Sepertinya Imron sedang belajar memberi dan mencintai kamu hanya saja dia belum menemukan caranya, bisa saja ia sedang menata hatinya untuk memposisikan dirimu. Ibu tak bisa kekeuh menyuruhmu untuk bertahan, tetapi Ibu juga tak ingin melihat kalian berpisah yang Ibu minta jangan gegabah. Shalat dan minta petunjuk. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kalian " nasihat Ibu " Bolehkah Anita tidur di pangkuan Ibu, Anita lelah Bu " manjaku pada Ibu Ibu mengelus elus kepalaku sambil bershalawat hingga akhirnya aku pun tertidur dengan nyaman di pangkuan ibu Dyaaaaaaaar Suara petir membangunkan tidurku Gemuruh petir yang disusul oleh turunnya hujan membuat malam ini terasa mencengkam Ku ubah posisi memeluk Aldy Aldy nampak pulas dalam tidurnya Dan tak lama terdengar ketukan pintu di depan rumah " Sapa ya Nit, hujan hujan gini bertamu " tanya Ibu Aku yang tak tahu pun hanya geleng geleng kepala " Biar Nita yang bukain " ucapku segera turun dari ranjang Ku lihat Mas Imron nampak kedinginan Memang angin di luar sedang kencang kencangnya Ia menerobos masuk tanpa ku persilahkan " Seharian gak bisa di hubungin, bikin khawatir aja " ucapnya protes " Ngapain kamu cari aku " ucapku tak kalah sengit " Ya kan kamu istri aku " jawabnya santai " Masih di anggap ? " Ujarku " Aku gak mau berdebat , bikinkan aku Teh aku kehujanan gara gara kamu " perintahnya " Bodohhhhhh " ucapku tak memperdulikanya Dyaaaaaaaaarrrrr Suara petir membuatku reflek memeluk Mas Imron. " Ciyeeee ciyeeee " Tiba tiba suara Aldy mengagetkanku, dan membuat aku dan Mas Imron saling melepaskan pelukan Ibu tampak senyum senyum melihat tingkah anak dan mantunya " Aldy kok bangun " ucapku menutupi kecanggunganku " Aldy cari mama eh gak taunya ada papa " jawabnya Mas Imron segera menghampiri dan mencium Aldy " Papa pingin gendong anak Papa yang ganteng ini, tapi baju Papa masih basah. Papa ganti baju dulu ya suruh Mamamu untuk bikinkan Teh hangat untuk papa " ucapnya sambil mengacak rambut Aldy kemudian berlalu " Bisa aja " batinku Setelah ganti baju. Mas Imron menyeruput teh manis buatanku " Aaah .. semanis … " tiba tiba ucapan Mas Imron terhenti " Siapaaa ? " Jawabku sengit Tetapi Mas Imron hanya tersenyum dan kembali menyeruput teh dalam gelas Setelah teh hangat itu habis kami memutuskan untuk menemui Aldy . Dan ternyata ia sudah tertidur kembali Aku meminta izin ibu untuk menemani Aldy tidur Dan Malam ini kami tidur bertiga Mas Imron memeluk Aldy erat sesekali mencium kening Aldy Ada rasa terharu dalam hatiku melihat pemandangan di depan mata Kasihan Aldy jika harus kehilangan momen seperti ini ** Adzan subuh berkumandang, segera aku bergegas bangun dari tempat tidurku untuk menunaikan ibadah shubuh bersama Ibu Tak berselang lama Mas Imron hadir di tengah tengah kami Harus ku akui Mas Imron adalah menantu yang baik , ia sangat sopan dan sangat sayang kepada Ibu Tak heran jika Ibu juga sangat sayang terhadap Mas Imron ** " Selamat Pagi Anak ganteng Papa " sapa Mas Imron menyambut Aldy yang baru saja bangun tidur Aldy langsung bertingkah manja di pangkuan papanya Selain menantu yang baik ia juga ayah yang baik untuk putra semata wayang kami Hanya saja ia belum menjadi suami yang baik untukku Atau justru aku bukan istri yang baik untuk Mas Imron, sebab bukan aku wanita yang ia ingini untuk menjadi istrinya. " Aldy punya sesuatu untuk Papa " ucap Aldy antusias " Ehm, Papa juga punya sesuatu untuk Aldy " ucap Mas Imron tak kalah antusias " Apa pa " tanya Aldy penasaran " Yaaah sayangnya sesuatu itu dirumah , nanti ya setelah Papa pulang dari kantor papa akan segera jemput Aldy dan ngasih tahu sesuatu itu " " Yaa Pa, oh ya ini untuk papa " Aldy memberikan liontin bergambar foto diriku kepada Mas Imron Mas Imron dengan senang hati menerima pemberian Aldy tersebut " Ketuker sama punya Mama ya " " Gak pa , ini punya papa. Mama juga punya isinya foto Papa dan aku juga punya isinya foto Mama sama papa " ucap Aldy menjelaskan " Wah kenapa kok di tuker tuker gitu " tanya Mas Imron " Gak di tuker tuker pa, memang sengaja begitu Agar papa selalu ingat kalau di hati papa milik mama , dan hati mama milik papa dan mama sama papa akan ada terus di hati Aldy " ucap Aldy dengan polosnya Mas Imron tersenyum mendengarkan penjelasan dari Putranya itu Ia memeluk dan mencium tubuh mungil Aldy sambil berkata " Mama dan Aldy akan selalu ada di hati papa "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN