Bukankah itu merk arloji di pusat perbelanjaan yang saat itu di kunjungi oleh Devi
Apakah arloji ini pemberian Devi ?
Suara pintu kamar mandi membuatku kembali menaruh barang barang milik mas Imron di meja, dan mengatur posisi dudukku semula
Aroma sabun memenuhi ruangan berukuran 4x4 ini
Mas imron sudah nampak rapi dengan setelah kaos dan celana cargo
Ia mengenakan pomade di rambutnya dan menyisirnya asal
Kemudian ia menuju meja untuk mengambil handphone dan memakai arloji bermerk c*sio tersebut
" Jam tangannya bagus, baru ya " tanyaku
" Ya " begitu jawabnya
" Kapan belinya, kok aku gak tahu"
Ia tampak salah tingkah dan aku semakin yakin bahwa arloji itu pemberian Devi
" Jam tangan yang lama rusak " tanyaku lagi
" Ya "
Untuk menutupi kecanggungannya ia menyuruhku untuk segera mandi dan ia menungguku di teras
**
" Ronde dua bang " pesan Mas Imron kepada penjual Ronde
Dinginnya angin malam menyapu kulitku, membekukan separuh hatiku
Menepis segala angan anganku
Cinta memang tak harus memiliki begitulah katanya
Namun salahkah jika aku memaksakan cinta harus ku miliki
Padahal aku dan dirinya sudah berada dalam satu ikrar cinta yang sama
Jika memang harus ku perjuangkan, sampai pada titik mana aku menyeruput manis hasil perjuanganku
Jika pada akhirnya kita berada di persimpangan jalan yang berbeda
Mengapa dengan sadar ia mengucapkan akad, kalau pada akhirnya kita harus berpisah
Ku lihat sekeliling nampak sepasang muda mudi yang tengah memadu kasih
Genggaman tangan yang erat , tatapan mata yang tajam dan senda gurau yang menenangkan membuatku semakin yakin mereka adalah sepasang yang saling mencintai
Berbanding terbalik denganku dan mas imron
Kami hanya diam membisu tanpa ada percakapan, sentuhan, tatapan mata bahkan seulas senyum
Mas imron nampak asik dengan handphone di genggaman tangannya sesekali ia tersenyum tipis
Aku pun tak tahu ia berbalas chat dengan siapa , atau ia sedang berbalas chat dengan wanita itu
Ronde hangat tersaji di depan kami
Ronde hangat dengan aroma jahe mampu menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam
Tetapi ia tak mampu memberi kehangatan di sudut terdalam relung hatiku
Hingga ronde ini habis tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutku dan Mas Imron
Kita seperti dua orang asing yang mencoba untuk hidup bersama
Mas Imron mengajakku untuk berkeliling tempat wisata ini dengan menggunakan motor yang ia sewa sore tadi
Tempat yang tepat untuk dua orang yang salah
" Kalau kamu di beri kesempatan untuk kesini lagi, kamu mau kesini sama siapa " pertanyaan mas Imron membuyarkan lamunanku
"Kamu " jawabku singkat
Ku lihat dari spion yang mengarah di wajahnya, ada simpul senyum yang tercipta disana
Simpul senyum yang menghipnotisku untuk ikut tersenyum
" Kamu, kalau kamu masih suamiku " lanjutku kemudian
Ia mengerem dengan sangat mendadak
" Apa maksudmu " ia membalikan badan dan nampak kaget dengan jawabanku
" Ya gak mungkin kan kita kesini lagi kalau kita sudah bercerai "
" Jadi kamu pengen kita bercerai "
" Bukankah itu yang kamu mau "
" Anita tolong jangan merusak suasana "
Ia kembali melajukan kendaraanya dengan cepat
Hingga akhirnya kita sampai pada tempat penyewaan sepeda
Untuk bisa sampai ke villa kami harus berjalan kaki
Meskipun tak jauh tetapi jalan yang menanjak cukup memberatkan langkahku
" Makin malam makin dingin " ia memberikan jaketnya padaku
" Terimakasih " ucapku
Aku mengikuti langkah kakinya dan
Ahhhh
Kakiku tiba tiba kram, ini hal biasa ku alami ketika berada di udara yang cukup dingin
Dengan sigap ia membopong tubuhku
" Sabar ya udah mau sampai "
Ia nampak tertatih sambil menggendong tubuhku
Berpasang pasang mata menatap kedatangan kami
Ada yang mensoraki ada juga yang menanyakan apa yang terjadi padaku
Mas imron menggendongku sampai kamar, dan kemudian menjatuhkan tubuhku di ranjang
Tubuhnya pun ikut terjatuh membuat mata kami saling beradu
" Ini mii…. " Kata hermi , istri dari Rudi sahabat Mas Imron yang aku pun mengenalnya dengan baik
" Ku taruh sini ya, minyak urutnya" ia menaruh minyak urut di meja yang berada tepat di samping pintu yang terbuka, dan ia pun berlalu pergi sambil cengar cengir
Dengan telaten Mas imron memijat kakiku
Awww aku mengeluh kesakitan
" Sabar ya bentar lagi juga mereda" ucap Mas Imron menenangkan
Dan memang tak berselang lama kram itu pun hilang
" Terimakasih ya Mas "
" Kamu istirahat saja, aku buatkan teh dulu " pamitnya kemudian pergi
Wanita mana yang tak luluh dengan perlakuan lembut seorang lelaki
Perlakuannya membuatku berharap kadang pula perlakuannya membuatku menepis harapan itu
Tak berselang lama Mas imron datang dengan segelas teh hangat
" Di minum dulu biar hangat "
Aku merubah posisi tubuhku dan segera mengambil teh buatan mas imron
" Kamu istirahat aku mau ngobrol dulu sama temen temen di bawah, nanti aku nyusul " pamitnya kemudian menutup daun pintu dengan sangat hati-hati
Bisakah selalu semanis ini perlakuanmu mas
**
Mobil kami terparkir di halaman rumah
Namun karena ada keperluan, Mas imron harus kembali ke kantor
Rasanya rindu sekali dengan rumah ini
Ya meskipun tak ada kisah yang manis yang tercipta antara aku dan mas imron di rumah ini
Ku pisahkan baju kotor dan baju bersih dan menatanya di lemari
Baju bersih milik mas imron pun ku tata di lemari
" Apa ini " ucapku penasaran dengan bingkisan di lemari bawah milik Mas imron
Saat ku buka ternyata isinya dua buah kaos berwarna merah dan biru
Dari siapa batinku
Aku pun memutuskan untuk membuka lipatan kaos tersebut dan sepucuk surat pun jatuh
" Semoga kamu suka , love Devi "
Kaos dari Devi ?
Dan kemungkinan arloji yang di kenakan Mas imron pun memang dari Devi
Berarti yang kapan hari aku lihat Devi di Mall itu memang Devi berbelanja untuk Mas Imron
Tidak mungkin jika tidak ada apa apa antara Devi dan Mas Imron
Mas Imron sangat menyukai barang pemberian Devi, buktinya ia memakainya dan kaos ini tersimpan rapi di lemarinya
Segala prasangka muncul di otakku
Ku lipat kembali dan menaruhnya rapi ke posisi semula
Ada perasaan kecewa tetapi ada sisi lain hatiku tertantang untuk kembali memperjuangkan mas Imron
Mas imron milikku dan akan tetap menjadi milikku
Jika aku tak bisa memiliki Mas Imron maka Devi pun tak bisa memiliki Mas Imron
Ku segera membersihkan diri dan menuju dapur
Ku buka kulkas dan mengambil beberapa sayur mayur yang ku butuhkan
Sore ini aku akan membuatkan sop ayam kesukaan Mas Imron
Detik demi detik berlalu akhirnya masakanku tersaji dengan sempurna di meja makan
Sedikit ku poles wajahku dan ku semprotkan parfum di tubuhku untuk menyambut kedatangan Mas imron
Detik demi detik berlalu
Ku lirik jam di dinding menunjukan pukul 7 malam
Dengan gelisah ku kirimkan pesan kepada Mas imron namun tak kunjung ada balasan
Kemana dia ? Apakah iya serepot itu sampai jam segini ia belum juga pulang
Jarum jam pun terus berputar dan tak peduli dengan kecemasanku yang menanti akan kedatangan suamiku
Tak adakah waktu untuk mengabari istrimu ini, batinku
Suara mesin kendaraan membangungkanku dari alam bawah sadarku
Saat ku lihat ternyata tepat pukul sembilan malam
" Kamu belum tidur" sapa Mas Imron yang terkejut mendapatiku berdiri di ambang pintu
" Aku nunggu kamu, kamu darimana aja sih , repot banget ya sampai gak sempet ngabarin , handphone kamu juga gak aktif lagi " cerocosku
" Suruh sapa nungguin " ucapnya santai dan berlalu
" Kamu suamiku wajar dong aku nungguin kamu " sahutku
" Gak perlu berlebihan " jawabnya
" Aku sudah masakin sop ayam kesukaanmu, kamu makan dulu " ajakku
" Aku gak lapar " jawabnya sembari menaiki anak tangga
Aku hanya terdiam mendapatkan penolakan darinya
Terasa seperti sia sia semua yang sudah aku lakukan
Apa harus ku akhiri saja segala upayaku
Tetapi hatiku selalu berkata jangan menyerah ayo berjuang lagi
Padahal sudah terlihat nyata depan mata bagaimana ia tak membutuhkan aku
Ia membalikan badannya dan menatapku terpaku seperti ada rasa iba
Ia kembali menuju meja makan dan menyantap masakanku
" Kamu sudah makan " ia menanyaiku
" Sop buatan kamu enak banget tak tertandingi " ujarnya sambil mengunyah
" Sini makan sama aku " ajaknya
Ku tarik nafas dalam dalam untuk menetralkan suasana hatiku
Jika ia saja mampu mengendalikan egonya mengapa aku tak bisa mengendalikan emosiku
Aku duduk di sampingnya dan ikut menikmati masakan yang dengan susah payah aku masak
Meski tak ada lagi pembicaraan diantara kami namun aku bersyukur ia menghargai apa yang sudah aku upayakan
Selesai makan ia berpamitan untuk beristirahat di kamar nya
Dan aku kembali membereskan sisa makan malam
Ternyata handphone mas imron tertinggal di meja makan
Aku berniat mengembalikannya padanya
Drrt
" Udah sampai rumah mas ? Masakanku enak gak "
Pesan dari Devi terpampang di layar handphone Mas imron
Seperti kebetulan pesan tersebut menjawab semua pertanyaanku tentang kemana mas Imron
Amarahku telah sampai di ubun ubun
Ku banting kursi dengan sangat keras dan berteriak
Mas imron yang mendengar kegaduhan yang ku perbuat pun tergesa mengahampiriku
" Kamu kenapa Nit " tanyanya
" Lihat ini " ujarku seraya menunjukan pesan dari Devi
" Jadi ini yang buat kamu pulang semalam ini dan mengabaikan aku, kamu sengaja mematikan ponselmu biar aku gak bisa menghubungi kamu iyaaaa "
" Urusan kantor kamu jadikan alasan untuk bertemu dengan Devi, iyaaaaa " ucapku lantang dan penuh emosi
" Kamu salah paham nit "
" Salah paham apaaaa " aku dengan cepat memotong omongan mas Imron
" Sudah sangat jelas kalau kamu ketemuan sama wanita itu, dan kamu masih mengelak bahwa gak ada hubungan spesial diantara kalian "
" Jam tangan itu, dan baju yang ada di lemarimu itu juga pemberian dari Devi kan, iya kan mas "
Mas imron tampak gugup dengan segala tuduhanku
" Kamu pasti tanya darimana aku tahu, Aku Tahuuuuu semuanya yang kamu perbuat di belakangku aku gak bodoh mas " ucapku tak terkendali
" Nit " Mas imron mencoba untuk menyentuh tanganku tapi dengan segera ku tepis
" Segera urus perceraian kita, jika kamu gak bisa aku yang akan urus "
Kututup pintu dengan sangat kerasa, Mas imron tetap berusaha menggedor gedor pintu kamarku
Aku meraung raung seperti anak kucing kehilangan induknya
Sakittttt
Sakit sekali mendapati kenyataan bahwa orang yang kita cintai tidak mencintai kita
Sakit sekali mendapati kenyataan bahwa orang yang selalu kita utamakan nyatanya tak mengutamakan kita
Aku yang salah karena terlalu memaksakan hati untuk terus bersama dengan Mas Imron
Aku yang salah karena terlalu berharap jika suatu saat Mas Imron akan mencintaiku
Nyatanya hingga bertahun tahun terlewati tak ada sedikitpun yang berubah dari Mas Imron
Ia tetap menjadi sesosok Imron yang bersamaku hanya karena terpaksa bukan rasa
Lagi harus ku telan kekecewaan atas perbuatannya
Tidak ia sudah berbuat semestinya, aku kecewa karena harapanku padanya yang terlalu tinggi
Aku tak sadar bahwa tak ada sedikitpun tempat untukku di hatinya
Ku paksakan mata untuk terpejam agar hati tak terlalu merana
Ada hari esok yang harus ku hadapi dengan tabah
**
Ikhlas bukan melepaskan sesuatu dengan air mata, tetapi bisa merelakan sesuatu dengan senyuman
Jika memang bersamamu bukan bagian dari takdirku maka ikhlas adalah yang semestinya aku lakukan
Ketukan pintu membuyarkan lamunanku
Aku segera menuruni anak tangga dan membukakan pintu
" Kamu "