Sebuah kenyataan

1820 Kata
Bukankah itu merk arloji di pusat perbelanjaan yang saat itu di kunjungi oleh Devi  Apakah arloji ini pemberian Devi ?  Suara pintu kamar mandi membuatku kembali menaruh barang barang milik mas Imron di meja, dan mengatur posisi dudukku semula  Aroma sabun memenuhi ruangan berukuran 4x4 ini  Mas imron sudah nampak rapi dengan setelah kaos dan celana cargo  Ia mengenakan pomade di rambutnya dan menyisirnya asal  Kemudian ia menuju meja untuk mengambil handphone dan memakai arloji bermerk c*sio tersebut  " Jam tangannya bagus, baru ya " tanyaku  " Ya " begitu jawabnya  " Kapan belinya, kok aku gak tahu"  Ia tampak salah tingkah dan aku semakin yakin bahwa arloji itu pemberian Devi  " Jam tangan yang lama rusak " tanyaku lagi  " Ya "   Untuk menutupi kecanggungannya ia menyuruhku untuk segera mandi dan ia menungguku di teras  **  " Ronde dua bang " pesan Mas Imron kepada penjual Ronde  Dinginnya angin malam menyapu kulitku, membekukan separuh hatiku  Menepis segala angan anganku  Cinta memang tak harus memiliki begitulah katanya  Namun salahkah jika aku memaksakan cinta harus ku miliki  Padahal aku dan dirinya sudah berada dalam satu ikrar cinta yang sama  Jika memang harus ku perjuangkan, sampai pada titik mana aku menyeruput manis hasil perjuanganku  Jika pada akhirnya kita berada di persimpangan jalan yang berbeda Mengapa dengan sadar ia mengucapkan akad, kalau pada akhirnya kita harus berpisah  Ku lihat sekeliling nampak sepasang muda mudi yang tengah memadu kasih  Genggaman tangan yang erat , tatapan mata yang tajam dan senda gurau yang menenangkan membuatku semakin yakin mereka adalah sepasang yang saling mencintai  Berbanding terbalik denganku dan mas imron  Kami hanya diam membisu tanpa ada percakapan, sentuhan, tatapan mata bahkan seulas senyum  Mas imron nampak asik dengan handphone di genggaman tangannya sesekali ia tersenyum tipis  Aku pun tak tahu ia berbalas chat dengan siapa , atau ia sedang berbalas chat dengan wanita itu  Ronde hangat tersaji di depan kami  Ronde hangat dengan aroma jahe mampu menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam  Tetapi ia tak mampu memberi kehangatan di sudut terdalam relung hatiku  Hingga ronde ini habis tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutku dan Mas Imron  Kita seperti dua  orang asing yang mencoba untuk hidup bersama  Mas Imron mengajakku untuk berkeliling tempat wisata ini dengan menggunakan motor yang ia sewa sore tadi  Tempat yang tepat untuk dua orang yang salah  " Kalau kamu di beri kesempatan untuk kesini lagi, kamu mau kesini sama siapa " pertanyaan mas Imron membuyarkan lamunanku "Kamu " jawabku singkat  Ku lihat dari spion yang mengarah di wajahnya, ada simpul senyum yang tercipta disana Simpul senyum yang menghipnotisku untuk ikut tersenyum  " Kamu, kalau kamu masih suamiku " lanjutku kemudian  Ia mengerem dengan sangat mendadak  " Apa maksudmu " ia membalikan badan dan nampak kaget dengan jawabanku  " Ya gak mungkin kan kita kesini lagi kalau kita sudah bercerai "  " Jadi kamu pengen kita bercerai "  " Bukankah itu yang kamu mau "  " Anita tolong jangan merusak suasana "  Ia kembali melajukan kendaraanya dengan cepat  Hingga akhirnya kita sampai pada tempat penyewaan sepeda  Untuk bisa sampai ke villa kami harus berjalan kaki  Meskipun tak jauh tetapi jalan yang menanjak cukup memberatkan langkahku  " Makin malam makin dingin " ia memberikan jaketnya padaku  " Terimakasih " ucapku Aku mengikuti langkah kakinya dan  Ahhhh  Kakiku tiba tiba kram, ini hal biasa ku alami ketika berada di udara yang cukup dingin  Dengan sigap ia membopong tubuhku  " Sabar ya udah mau sampai "  Ia nampak tertatih sambil menggendong tubuhku  Berpasang pasang mata menatap kedatangan kami  Ada yang mensoraki ada juga yang menanyakan apa yang terjadi padaku  Mas imron menggendongku sampai kamar, dan kemudian menjatuhkan tubuhku di ranjang  Tubuhnya pun ikut terjatuh membuat mata kami saling beradu  " Ini mii…. " Kata hermi , istri dari Rudi sahabat Mas Imron yang aku pun mengenalnya dengan baik  " Ku taruh sini ya, minyak urutnya" ia menaruh minyak urut di meja yang berada tepat di samping pintu yang terbuka, dan ia pun berlalu pergi sambil cengar cengir  Dengan telaten Mas imron memijat kakiku  Awww aku mengeluh kesakitan " Sabar ya bentar lagi juga mereda" ucap Mas Imron menenangkan  Dan memang tak berselang lama kram itu pun hilang  " Terimakasih ya Mas "  " Kamu istirahat saja, aku buatkan teh dulu " pamitnya kemudian pergi  Wanita mana yang tak luluh dengan perlakuan lembut seorang lelaki  Perlakuannya membuatku berharap kadang pula perlakuannya membuatku menepis harapan itu  Tak berselang lama Mas imron datang dengan segelas teh hangat  " Di minum dulu biar hangat "  Aku merubah posisi tubuhku dan segera mengambil teh buatan mas imron  " Kamu istirahat aku mau ngobrol dulu sama temen temen di bawah, nanti aku nyusul " pamitnya kemudian menutup daun pintu dengan sangat hati-hati  Bisakah selalu semanis ini perlakuanmu mas  **  Mobil kami terparkir di halaman rumah  Namun karena ada keperluan, Mas imron harus kembali ke kantor  Rasanya rindu sekali dengan rumah ini  Ya meskipun tak ada kisah yang manis yang tercipta antara aku dan mas imron di rumah ini  Ku pisahkan baju kotor dan baju bersih dan menatanya di lemari  Baju bersih milik mas imron pun ku tata di lemari  " Apa ini " ucapku penasaran dengan bingkisan di lemari bawah milik Mas imron  Saat ku buka ternyata isinya dua buah kaos berwarna merah dan biru  Dari siapa batinku  Aku pun memutuskan untuk membuka lipatan kaos tersebut dan sepucuk surat pun jatuh  " Semoga kamu suka , love Devi "  Kaos dari Devi ?  Dan kemungkinan arloji yang di kenakan Mas imron pun memang dari Devi  Berarti yang kapan hari aku lihat Devi di Mall itu memang Devi berbelanja untuk Mas Imron  Tidak mungkin jika tidak ada apa apa antara Devi dan Mas Imron  Mas Imron sangat menyukai barang pemberian Devi, buktinya ia memakainya dan kaos ini tersimpan rapi di lemarinya  Segala prasangka muncul di otakku  Ku lipat kembali dan menaruhnya rapi ke posisi semula  Ada perasaan kecewa tetapi ada sisi lain hatiku tertantang untuk kembali memperjuangkan  mas Imron  Mas imron milikku dan akan tetap menjadi milikku  Jika aku tak bisa memiliki Mas Imron maka Devi pun tak bisa memiliki Mas Imron  Ku segera membersihkan diri dan menuju dapur  Ku buka kulkas dan mengambil beberapa sayur mayur yang ku butuhkan  Sore ini aku akan membuatkan sop ayam kesukaan Mas Imron  Detik demi detik berlalu akhirnya masakanku tersaji dengan sempurna di meja makan  Sedikit ku poles wajahku dan ku semprotkan parfum di tubuhku untuk menyambut kedatangan Mas imron  Detik demi detik berlalu  Ku lirik jam di dinding menunjukan pukul 7 malam  Dengan gelisah ku kirimkan pesan kepada Mas imron namun tak kunjung ada balasan  Kemana dia ? Apakah iya serepot itu sampai jam segini ia belum juga pulang  Jarum jam pun terus berputar dan tak peduli dengan kecemasanku yang menanti akan kedatangan suamiku  Tak adakah waktu untuk mengabari istrimu ini, batinku Suara mesin kendaraan membangungkanku dari alam bawah sadarku  Saat ku lihat ternyata tepat pukul sembilan malam  " Kamu belum tidur" sapa Mas Imron yang terkejut mendapatiku berdiri di ambang pintu  " Aku nunggu kamu, kamu darimana aja sih , repot banget ya sampai gak sempet ngabarin , handphone kamu juga gak aktif lagi " cerocosku  " Suruh sapa nungguin " ucapnya santai dan berlalu " Kamu suamiku wajar dong aku nungguin kamu " sahutku  " Gak perlu berlebihan " jawabnya " Aku sudah masakin sop ayam kesukaanmu, kamu makan dulu " ajakku  " Aku gak lapar " jawabnya sembari menaiki anak tangga  Aku hanya terdiam mendapatkan penolakan darinya  Terasa seperti sia sia semua yang sudah aku lakukan  Apa harus ku akhiri saja segala upayaku  Tetapi hatiku selalu berkata jangan menyerah ayo berjuang lagi  Padahal sudah terlihat nyata depan mata bagaimana ia tak membutuhkan aku  Ia membalikan badannya dan menatapku terpaku seperti ada rasa iba  Ia kembali menuju meja makan dan menyantap masakanku  " Kamu sudah makan " ia menanyaiku  " Sop buatan kamu enak banget tak tertandingi " ujarnya sambil mengunyah  " Sini makan sama aku " ajaknya  Ku tarik nafas dalam dalam untuk menetralkan suasana hatiku  Jika ia saja mampu mengendalikan egonya mengapa aku tak bisa mengendalikan emosiku  Aku duduk di sampingnya dan ikut menikmati masakan yang dengan susah payah aku masak  Meski tak ada lagi pembicaraan diantara kami namun aku bersyukur ia menghargai apa yang sudah aku upayakan  Selesai makan ia berpamitan untuk beristirahat di kamar nya  Dan aku kembali membereskan sisa makan malam  Ternyata handphone mas imron tertinggal di meja makan  Aku berniat mengembalikannya padanya  Drrt  " Udah sampai rumah mas ? Masakanku enak gak "  Pesan dari Devi terpampang di layar handphone Mas imron  Seperti kebetulan pesan tersebut menjawab semua pertanyaanku tentang kemana mas Imron  Amarahku telah sampai di ubun ubun  Ku banting kursi dengan sangat keras dan berteriak  Mas imron yang mendengar kegaduhan yang ku perbuat pun tergesa mengahampiriku  " Kamu kenapa Nit " tanyanya  " Lihat ini " ujarku seraya menunjukan pesan dari Devi  " Jadi ini yang buat kamu pulang semalam ini dan mengabaikan aku, kamu sengaja mematikan ponselmu biar aku gak bisa menghubungi kamu iyaaaa "  " Urusan kantor kamu jadikan alasan untuk bertemu dengan Devi, iyaaaaa " ucapku lantang dan penuh emosi  " Kamu salah paham nit "  " Salah paham apaaaa " aku dengan cepat memotong omongan mas Imron  " Sudah sangat jelas kalau kamu ketemuan sama wanita itu, dan kamu masih mengelak bahwa gak ada hubungan spesial diantara kalian "  " Jam tangan itu, dan baju yang ada di lemarimu itu juga pemberian dari Devi kan, iya kan mas "  Mas imron tampak gugup dengan segala tuduhanku " Kamu pasti tanya darimana aku tahu, Aku Tahuuuuu semuanya yang kamu perbuat di belakangku aku gak bodoh mas " ucapku tak terkendali  " Nit " Mas imron mencoba untuk menyentuh tanganku tapi dengan segera ku tepis  " Segera urus perceraian kita, jika kamu gak bisa aku yang akan urus "  Kututup pintu dengan sangat kerasa, Mas imron tetap berusaha menggedor gedor pintu kamarku  Aku meraung raung seperti anak kucing kehilangan induknya  Sakittttt  Sakit sekali mendapati kenyataan bahwa orang yang kita cintai tidak mencintai kita Sakit sekali mendapati kenyataan bahwa orang yang selalu kita utamakan nyatanya tak mengutamakan kita  Aku yang salah karena terlalu memaksakan hati untuk terus bersama dengan Mas Imron  Aku yang salah karena terlalu berharap jika suatu saat Mas Imron akan mencintaiku  Nyatanya hingga bertahun tahun terlewati tak ada sedikitpun yang berubah dari Mas Imron Ia tetap menjadi sesosok Imron yang bersamaku hanya karena terpaksa bukan rasa  Lagi harus ku telan kekecewaan atas perbuatannya  Tidak ia sudah berbuat semestinya, aku kecewa karena harapanku padanya yang terlalu tinggi  Aku tak sadar bahwa tak ada sedikitpun tempat untukku di hatinya  Ku paksakan mata untuk terpejam agar hati tak terlalu merana  Ada hari esok yang harus ku hadapi dengan tabah ** Ikhlas bukan melepaskan sesuatu dengan air mata, tetapi bisa merelakan sesuatu dengan senyuman Jika memang bersamamu bukan bagian dari takdirku maka ikhlas adalah yang semestinya aku lakukan  Ketukan pintu membuyarkan lamunanku  Aku segera menuruni anak tangga dan membukakan pintu  " Kamu " 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN