Ulang tahun Anita

1014 Kata
" Kamu, Mas Hendra " Ucapku terkejut melihat Mas Hendra berada disini. " Anita " Ucap Mas Hendra sama terkejutnya denganku " Oh jadi kalian saling kenal " Ucap Devi " Bagus lah. Kalian memang cocok, sama sama .... " " Aku duluan Anita " Ucap Mas Hendra menarik paksa tangan Devi dan mengajaknya menjauh dariku. Devi berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Mas Hendra. Tetapi Mas Hendra begitu kuat mencengkram tangan Devi. Hingga akhirnya Devi pun menyerah dan mereka pun menghilang dari pandanganku Aku dan Mas Hendra Sama Sama ? sama sama apa yang di maksud Devi. Harusnya sih aku tak terkejut mengetahui Mas Hendra bersama Devi sebab aku yakin mereka mengenal satu sama lain. Tetapi ada hubungan apa antara Mas Hendra dan Devi Apa mungkin Devi adalah adik Mas Hendra. tetapi tidak mungkin Aku mengenal Mas Hendra dan keluarganya dan Mas Hendra tidak mempunyai adik perempuan. ** " Mama lama banget sih " Protes Aldy menyambut kedatanganku " Maaf ya " Ucapku dan kembali duduk Kami pun melanjutkan makan malam kami di iringi dengan senda gurau ** " Mas aku tadi bertemu Devi loh " Ucapku kepada Mas Imron yang tengah berada di balkon untuk menghisap rokok " Hm Iya" Ucapnya nampak tak bersemangat mendengar ceritaku " Kamu kok jawabnya gitu ? " Protesku " Aku bosan setiap hari mendengar namanya. Sudahlah stop bahas dia " Ucapnya kemudian Ku dekati dia, dan aku duduk di pangkuannya Ku rengkuh Mas Imron di dalam pelukanku " Mas. Kamu mencintaiku ? " Tanyaku seraya memainkan tanganku di tengkuknya " Ya " Ucapnya yang nampak menikmati permainanku " Yakin ? " Ucapku dengan manja Ia kemudian melepaskan diri dariku. Ia beranjak menjauh dariku " Terserah mau percaya apa enggak " Jawabnya dengan sedikit emosi " Mas, kan wanita itu butuh di yakinkan berkali-kali kalau dirinya itu di cintai " Ucapku memanyunkan bibir " Kamu mau pembuktian apa lagi ? " Tanya Mas Imron. " Ya terserah kamu sih " Ucapku Mas Imron segera menggendongku dan menjatuhkan diriku di atas kasur. Dengan cepat di bukanya baju yang melekat di tubuhnya. " Aku buktikan sekarang " Ucapnya kemudian mengecup bibirku dengan rakus Hingga akhirnya ranjang menjadi saksi panasnya permainan kami ** Aku terbangun saat adzan shubuh berkumandang, segera aku mandi dan kemudian melakukan shalat shubuh. Setelah itu aku bersiap untuk memasak di dapur . Semua menu sarapan telah tersaji dengan rapi di meja makan, tetapi Mas Imron belum juga bangun. Ku putuskan untuk membangunkan Mas Imron Dengan malas Mas Imron beranjak dari kasurnya Ku tunggu Mas Imron di meja makan . Dan tak lama ia pun bergabung bersamaku di meja makan. Mas Imron nampak dengan lahap memakan masakanku " Mas gak pengen ngomong sesuatu " Ucapku pada Mas Imron Hari ini adalah hari ulang tahunku dan aku berharap Mas Imron mengingatnya tetapi sampai sejauh ini bahkan sampai aku memberinya kode , ia tak mengatakan apa-apa kepadaku " Apa ? " Ucapnya balik bertanya Aku semakin cemberut melihat Mas Imron yang lupa dengan hari ulang tahunku. Terlihat sekali jika Mas Imron tak peduli padaku " Kenapa sih, bilang apa ? Terimakasih atau masakannya enak " Ucap Mas Imron mencoba menebak isi kepalaku " Lupakan . udah sana makan " Ucapku dengan ketus Mood aku pagi ini berubah sangat buruk. Berkali-kali aku menatap ke arah Mas Imron tetapi Mas Imron diam saja seakan tak terjadi apa-apa . Apa Mas Imron benar-benar lupa ? ** " Nanti aku jemput ya " Ucap Mas Imron sebelum aku turun dari mobilnya " Mas " Ucapku dengan sedikit manja Dan dia langsung mendaratkan ciumannya di keningku " ih Mas , bukan itu " Rengekku " Terus apa ? bilang dong, aku gak tahu apa yang kamu mau " ucap Mas Imron " Bodoh " Ucapku kemudian turun dari mobil Mas Imron Tak lama mobil Mas Imron menjauh dari pandanganku. Keterlaluan sekali Mas Imron, bahkan dia saja lupa hari ulang tahunku Hari ini terasa sangat menyebalkan . Mas Imron, Ibu Mama dan Papa tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Benar-benar tak ada yang mengingatnya Bahkan Aldy, Ia juga tak mengucapkan apa - apa kepadaku. Padahal Aldy biasanya selalu ingat tentang peristiwa apa - apa saja. Tapi kali ini sepertinya ia lupa. Mengapa harus hari spesialku yang Ia lupakan Tak lama Mas Imron datang dan aku segera duduk di sebelahnya " Kamu kenapa sih, daritadi manyun aja " Tanya Mas Imron " nggak papa " Jawabku dengan ketus Di tarik nafas dalam dalam dan Mas Imron melajukan mobilnya. " Loh Mas , gak jemput Aldy dulu ? " Protesku saat Mas Imron tak membelokan mobilnya ke jalan menuju rumah Ibu " Nanti saja " jawab Mas Imron Mas Imron kembali fokus pada jalanan, ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang Dan tibalah kami di rumah kami. Dengan segera ia memakirkan mobilnya. Aku turun dari mobil dan menuju rumah ceklek Pintu rumah terbuka dan Surprise Mama, Papa, Aldy dan Ibu berada disini Mereka berkumpul disini untuk merayakan ulang tahunku Balon - balon, hiasan ruangan , kue tart dan terompet menyambut kedatanganku Begitu riuh Mereka bersekongkol untuk mengerjai aku. Pantas saja, satu pun tak ada yang mengucapkan ulang tahun kepadaku. Ternyata mereka sudah punya rencana lain Aku begitu terharu di buatnya. Mereka memelukku satu persatu dan mengucapkan selamat ulang tahun Mataku mengembun mendapatkan perlakuan begitu spesial. Aku merasa berdosa karena sempat berburuk sangka kepada mereka. suasana hatiku yang kacau tiba-tiba berubah menjadi penuh suka cita mendapatkan kejutan dari orang-orang yang aku sayang " Selamat ya sayang, semoga sehat selalu " Ucap Ibu " Selamat ya Sayang, Bahagia selalu semoga Aldy cepet di beri Adik " Ucap Mama " Selamat Nak, semoga semakin berkah " Ucap Papa " Selamat Mama, Semoga makin cantik dan baik hati " Ucap Aldy " Selamat Anita. I love you " Ucap Mas Imron kemudian memeluk dan mendaratkan ciumannya di keningku " Oh ya Sayang ada satu orang lagi yang berperan dalam kejutan ulang tahunmu loh " Ucap Mama " Siapa Ma ? " Tanyaku dan Mas Imron secara berbarengan " Siapa Jeng ? " Tanya Ibu Pada Mama " Dia Adalah ...... "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN