Ku putuskan untuk membuang penat di coffe shop yang tak jauh dari gedung tempat aku rapat.
" Hai " Sapa Sekar yang tiba-tiba ada di hadapanku
Ku peluk dia dengan erat
" Lo masih disini ? " Tanyaku
" Iya untuk beberapa bulan kedepan gue masih disini. Lo sama siapa ? "
" Sendiri aja "
" Lo baik-baik aja kan ? kelihatannya lesu banget gitu " Tanyanya nampak khawatir dengan keadaanku
" Ya gue baik-baik aja, cuma kurang istirahat deh kayaknya " Jawabku
Obrolan kami pun mengalir apa adanya. Jarak membuat cerita kita semakin banyak.
Pertemuanku dengan sekar membuatku lupa waktu.
Setelah ku rasa cukup pertemuan yang tak sengaja ini, kami pun berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing.
Ku putuskan untuk kerumah Ibu terlebih dahulu tetapi ternyata Aldy, Mama dan Papa sudah di jemput oleh Mas Imron dan aku pun segera pulang kerumah.
Mereka nampak sangat akrab satu sama lain.
" Assalamualaikum " Ucapku memberi salam
" Walaikumsalam " Jawab mereka serentak
" Mama .. sini ngobrol-ngobrol " Ajak Aldy dan aku pun ikut bersama mereka.
Tak berselang lama aku berpamitan untuk membersihkan diri.
segera aku pun menuju kamar.
Aku tatap bintang yang nampak sangat megah di angkasa.
Ku rasakan hangat pelukan di tubuhku
" Kamu kenapa ? " Tanya Mas Imron
" It's okey " jawabku singkat
" Kamu gak mau berbagi cerita sama aku ? " Tanya Mas Imron lagi
Harus ku akui, Mas Imron sudah jauh berubah.
Ia kini menjadi sosok yang hangat dan manis sekali. tetapi tetap saja , ada sisi lain hatinya yang tak dapat ku sentuh.
" Mas .. kamu pernah gak sih cemburu sama aku ? " Tanyaku kemudian
" Kamu kenapa tanya begitu ? "
" Seandainya aku punya temen cowok yang deket banget sama aku, bahkan aku peduli sama dia. Apa yang bakal kamu lakukan ? "
Di lepaskannya pelukanku , dan kini ia tepat berada di sampingku.
Dapat ku dengar bagaimana dia menarik nafasnya dengan berat
" Kamu masih meragukan aku ? " Tanyanya
" Kamu gak bisa jawab kan Mas. Aku hanya ingin tahu betapa susahnya berada di posisiku. Harus bersabar seperti apalagi aku menghadapi situasi ini.Mas seandainya aku memintamu untuk berhenti peduli sama Devi, apakah kamu bersedia melakukannya demi aku ?" Tanyaku kemudian
" Kejiwaan Devi sedang tergoncang "
" Bagaimana kalau itu tipu daya Devi untuk menarik simpatimu ? Kamu selalu ada untuknya, seakan-akan memberi harapan tetapi nyatanya berbanding terbalik. Bukannya itu semakin menyakitkan untuknya ? .
Dan lagi, tidak pedulikah kamu dengan hatiku? Tidak bisakah kamu sedikit menghargai perasaanku, menghargai aku sebagai istrimu ? " Jawabku kemudian.
Mas Imron hanya terdiam dengan pandangan kosong.
Aku tahu, ini begitu berat untuk Mas Imron.
Mas Imron juga pasti tertekan dengan keadaan ini
" Percaya sama Aku. Aku akan menyelesaikannya. Dan percaya sama aku, Aku akan menjaga cinta kita " kalimatnya seolah menenangkanku.
Meski beribu kata cinta, tetapi jika di depan mata ku lihat dia begitu peduli pada Devi. tetap saja api cemburu ini tak dapat aku bendung begitu saja.
**
" Pasti bakal kangen sama cucu Nenek yang ganteng ini " Ucap Mama seraya memeluk Aldy
" Kenapa cepet banget ya, Mama sama Papa harus pulang. Padahal Anita masih pengen Mama Papa disini " Ucapku
" iya . Nanti kalau Aldy liburan main ya kerumah kakek " jawab Papa
**
" Loh Ibu sama Bapak sudah pulang ? " Tanya Bik Murni yang lari dengan terburu-buru
" Sudah. barusan saja, kenapa Bik ? " Tanyaku
" Ini. ada sesuatu kayaknya sih punya Ibu dan Bapak " Ucapnya seraya memberikan bungkusan kepadaku.
" Tadi saya beres-beres kamar Ibu Bapak, kok ada ini. kayaknya ini tertinggal deh "
" Oh ya makasih " Ucapku mengambil barang dari tangan Bik Murni
Saat ku buka , ternyata sebuah aksesoris rumah yang cukup elegan.
Lampu hias terbuat dari kayu yang di ukir sangat cantik.
Ku rogoh lagi isi dalam bingkisan tersebut, dan ada pesan di dalamnya.
" Terimakasih waktunya tante, seneng banget bisa jalan bareng tante. Oh ya ini untuk tante semoga setiap lihat ini tante jadi ingat pernah jalan bareng aku. Best regards DN "
DN ?
Devi Natasha. Sepertinya feelingku tak keliru ini pasti Devi.
Kapan Mama pernah jalan bareng Devi. Apakah pertemuan mereka yang tak di sengaja di Mall beberapa waktu lalu ?
Tidak mungkin, dari isi pesannya terlihat sekali jika pertemuan mereka sangatlah intim.
Perlahan, Devi menarik simpati dari orang-orang yang aku sayang.
Dari Aldy kemudian Mama.
Ia benar-benar serius dengan ucapannya, bakal melakukan apa saja untuk merebut Mas Imron dariku.
Apa ini artinya aku harus mengalah ?
Mengikhlaskan pernikahanku yang dengan susah payah aku pertahanankan.
Lalu bagaimana dengan Aldy ? Dia orang yang juga terluka jika terjadi apa-apa dengan kedua orang tuanya.
Kebahagiaan Aldy juga terancam jika aku dan Mas Imron berpisah.
" Apa itu Nita ? " Tanya Mas Imron padaku.
Ku serahkan kepada Mas Imron, dan Mas Imron membacanya.
Di remas-remasnya selembaran kertas tersebut kemudian Ia buang hiasan itu.
Di rengkuhnya aku ke dalam pelukannya.
" Kita hadapi bersama, tolong tetap bersamaku, walaupun sehebat apapun badai menerjang " Ucapnya dengan lembut.
**
Drrrr Drrt Drrrrt
Dering ponselku berbunyi, tak tercantum nama di panggilannya.
Apakah ini Devi ? tetapi tempo lalu nomernya sudah aku blokir.
Apakah dia masih tetap nekat menghubungiku.
" Hallo " jawabku
" Maaf mengganggu Bisa saya bertemu. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda " Ucap seseorang di sebrang sana .
" Ini .. "
" Ya, ada beberapa hal yang harus anda tahu. Ini mengenai Imron dan saya harap anda meluangkan sedikit waktu anda untuk berbicara dengan saya " Ucapnya memotong pembicaraanku. kemudian menutup sambungan telfonnya
Tak lama ia mengirimkan lokasi, tempat dimana yang dia janjikan.
Aku segera merapikan diriku untuk bertemu dengannya.
Aku ingin tahu, apa yang akan dia sampaikan kepadaku mengenai Mas Imron.
Dengan menggunakan taksi online segera aku menuju ke tempat yang sudah di sepakati.
Ku pilih bangku yang tak jauh dari pintu masuk agar Ia tak kebingungan mencariku.
Tak menunggu waktu lama, akhirnya dia pun datang.