Haus

900 Kata
Selain bermalas-malasan di kamar ketika hari minggu, Bunga juga senang nongkrong di cafe kekinian daerah dago sambil minum mango thai ditemenin banana nugget memang menu paling enak di santap di sore kayak gini. Biarlah pemandangan sekeliling bikin perih mata, yang penting jangan sampai bikin perut mulas.             Sudah hampir 1 jam Bunga asyik berkutat dengan HPnya yang menayangkan layar akun gosip i********: yang di follownya. Membicarakan kehidupan orang lain memang hal yang menyenangkan, terkadang hal yang kurang baik dilakukan justru terdengar menyenangkan untuk dilakukan.             " Tante Bunga!"             Bunga mendongakkan kepala dan terkejut melihat Hana yang sedang tersenyum lebar menatapnya.             " Lho Hana, kamu kesini sama siapa?" tanya Bunga memeluk Hana dan mengecup rambut gadis kecil itu.             " Sama Mama dan Om Tante." jawab Hana memperlihatkan lesung pipinya.             " Terus mana Mama sama Omnya?"             Hana membalikkan badan dan menunjuk arah wanita dan pria yang sedang memilih makanan di kasir. Bunga meneguk ludah melihat penampilan Cintya yang begitu seksi tengah bergelayut manja di lengan pria yang Bunga tahu siapa pria itu.             " Aku sebenarnya pengen Papa ikut, tapi kalau Om Reza ada Papa selalu engga mau." ujar Hana menarik perhatian Bunga kembali.             " Kenapa engga mau?"             Hana mengendikkan bahu dan kembali menatap Mamanya yang telah selesai membayar dan berjalan mencari tempat duduk diikuti Reza yang memegang nampan di belakangnya.             " Hai kita ketemu lagi." ucap Cintya menyapa Bunga.             Bunga mengangguk. " Hai."             " Hmm.. Kayaknya kita engga dapat tempat duduk, boleh gabung sama kamu? "             " Silahkan." Bunga duduk di depan Cintya dan Reza sedangkan Hana duduk disebelahnya. Bunga berdeham tidak nyaman karena pria disebelah Cintya menatapnya terang-terangan tanpa malu.             " Oh iya Say, Bunga ini dulunya teman kita waktu SMA. Itu lho Say yang aku ceritain ke kamu kemarin." ujar Cintya pada Reza.             Reza mengangguk dan kembali memakan makanannya.             " Ma, kok Hana engga dipesenin cola? Hana kan engga mau s**u!" protes Hana menatap makanan dan minuman dinampan.             Cintya menghela napas. " Minum cola itu engga bagus buat tubuh, minum s**u aja ya biar cepat besar."             Hana mencebik dan melipat tangannya di d**a. Entah mengapa raut kesal gadis itu sangat mirip Papanya.             " Mau coba minuman tante?" tanya Bunga mencoba menengahi.             Hana menatap minuman bunga dengan mimik mengerut sepertinya ini pertama kalinya gadis itu melihat mango thai.             " Ini minuman lagi trend lho, sehat lagi. Tuh lihat ada topping buah diatasnya, minumannya juga pakai s**u jadi manis. Hana suka minum jus?"             " Suka Tante. Tiap pagi Papa suka bikinin Hana jus apel"             " Nah ini juga jus cuma jus mangga terus diatasnya pakai buah mangga utuh. Enak lho! Mau coba?"             Hana tersenyum dan mengangguk. Bunga membantu Hana dengan memegang gelasnya.             " Enak kan?" tanya Bunga melihat gadis itu meminum minumannya hingga setengah.             " Enak Tante. Nanti Hana minta Papa buat ini di rumah."             Bunga mengangguk walaupun agak bingung, memangnya anak ini tidak tinggal bersama Mamanya?             " Kamu sudah nikah, Nga?" tanya Cintya. Bunga sebenarnya jenuh dengan pertanyaan ini, namun menjaga kesopanan ia tersenyum. " Belum."             " Aku pikir kamu udah nikah."             " Doain aja."             Cintya menatap Bunga terkejut. " Sudah ada calon?"             Bunga agak terkejut dengan reaksi Cintya yang agak berlebihan. " Belum sih."             Cintya tersenyum lega. " Bagus dong."             " Bagus kenapa?" tanya Bunga jengkel, kenapa Cintya ini lama-lama menyebalkan ya? Membuat Bunga ingin melemparinya sepatu.             " Aldi berarti masih punya kesempatan."             " Hah?"             " Aldi kan suka sama kamu." terang Cintya yang kini tengah memeluk lengan Reza.             Bunga yang bingung dan terkejut dengan fakta ini tidak tahu harus merespon apa. Ia pura-pura batuk dan meminum minumannya sampai habis.             " Tante." panggil Hana.             " Ya Hana?"             " Itu kan s**u Hana, kok diabisin?" tanya Hana menunjukkan gelas yang dipegang Bunga.             Bunga menatap gelas yang dipegangnya dan benar saja minuman yang diminumnya tadi milik Hana. Pantas saja rasanya beda. Astaga Bunga merasa malu.             Sementara Cintya yang menatapnya terkekeh dan Reza, pria itu hanya menatapnya datar. Astaga pria itu terus saja menatap Bunga tanpa malu, padahal jelas-jelas kekasihnya bergelayutan disampingnya. ...             " Kemarin Hana cerita sama saya katanya dia ketemu kamu di cafe?" tanya Aldi duduk disamping Bunga yang tengah makan di kantin sendirian.             Bunga menatap Aldi gugup, ia jadi ingat perkataan Cintya perihal Aldi yang menyukainya. Padahal umurnya sudah tua mengapa ia terlihat seperti ABG labil?             Bunga menghabiskan minumannya sekali teguk. " Iya Pak."             " Saya jadi menyesal tidak mengiyakan ajakan Hana untuk ikut."             " Kenapa?"             " Kalau saya ikut ya saya bisa ketemu kamu." jawab Aldi tersenyum manis.             Bunga tertegun, seketika tenggorokannya terasa kering. Ia segera meraih gelasnya namun sayang minumannya sudah habis.             Aldi menggeser minuman miliknya ke depan Bunga. " Minum punya saya saja, belum sempat saya minum kok."             " Makasih Pak, nanti biar saya saja yang bayar tagihannya."             " Tidak usah."             Bunga hanya diam dan kembali minum.             " Hana setiap hari membicarakan kamu. Sepertinya anak saya suka sama kamu."             " Saya juga suka Hana."             " Kalau ke Papanya?"             " Maaf Pak?"             Aldi tertawa dan menggaruk tengkuknya, Bunga melirik telinga Aldi yang merah. Apakah pria ini sakit?              Aldi berdeham dan mengambil gelas dihadapannya dan menempelkannya di bibir.             " Pak, maaf minumannya sudah saya habiskan tadi kan kata Bapak itu buat saya." ujar Bunga merasa bersalah.             Aldi melotot dan menyimpan gelas itu kembali di meja. " Oh iya saya lupa. Sa-saya mau pesan minum dulu ya." ucap Aldi segera beranjak dari tempat duduknya.             Bunga mengipasi dirinya dengan tangan, entah mengapa udara terasa panas dan tenggorokannya selalu haus padahal cuaca tengah hujan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN