Jodoh

1296 Kata
Datang keundangan nikahan memang selalu menyenangkan, selain bertemu kerabat, kita juga bisa makan gratis sepuasnya. Datang dalam kondisi lapar dan pulang dalam kondisi kenyang. Hati senang perut kenyang.             Namun jika kamu datang sendirian tanpa gandengan ya seperti Bunga nasibnya, mampir ke kiri kanan selalu ada acara dakwah dadakan, mau kabur ditahan sepupu buat jagain anaknya, mau marah nanti dibilang kekanakkan, disuruh senyum bawaannya jadi kayak meringis. Jadi, ya sudah terima nasib menjadi perawan tua dan menundukkan kepala untuk mendengar siraman rohani.             " Dinda cantik ya Kak, gaun pengantinnya bagus banget! Itu pesannya di langganan tempat Ibu jahit lho, nanti kalau Kakak nikah pesan gaun pengantinnya disitu aja."             Bunga hanya mengangguk dan kembali memakan baso tahunya dengan lahap.             " Kak makannya anggun dikit dong! Malu ih banyak yang lihat, nanti kalau ada laki-laki yang mau deketin kamu pada mundur lagi lihat nafsu makan kamu besar gini." keluh Mama.             " Emang Lapar Ma?! Mama temenin Papa aja gih, Kakak pusing denger Mama ngomel-ngomel."             Mama menghela napas lelah dan berdiri. " Kamu ini dikasih tahu malah gitu, pusing ah Mama! Kaka jangan banyak makan bumbu kacang nanti jerawatan."             Bunga hanya berdeham dan kembali menghabiskan makanannya.             Selesai makan Bunga kembali berkeliling untuk mencicipi stan makanan lainnya. Pernikahan Dinda sepupuya ini terhitung mewah, selain diadakan di ballroom hotel ternama, konsep pernikahannya pun mengambil eropa style, apalagi jajaran makanan yang melimpah dan banyak. Dari menu nasional dan internasional ada. Wajar saja karena suami Dinda seorang dokter dan berasal dari keluarga DPR sudah pasti duitnya banyak.             " Bunga, sini ikut sama Bude." Bude Mpie menarik tangan Bunga dan membawanya ke meja keluarga dimana kedua orangtua Bunga tengah mengobrol dengan keluarga besar.             " Lho, ponakan kamu itu mana Pak Bahrul? Ini ponakanku Bunga yang mau dikenalin sama ponakan kamu itu" ucap Bude Mpie semangat lalu menoleh pada Bunga. " Bunga ini teman Bude di tempat bekam, kenalin Pak Bahrul."             Bunga menyalami tangan Pak Bahrul. " Bunga Pak."             Pak Bahrul tersenyum. " Ini ponakanmu cantik lho, banyak yang antri ini Bude." ujar Pak Bahrul mengamati wajah Bunga.             Bunga melirik kearah Ibu dan Ayahnya yang kini menatap Bunga antusias.             " Mana ponakanmu?" tanya Bude tidak sabar.             " Sebentar, dia tadi mau ambil minum dulu buat saya. Bude ini tidak sabar ya."             " Kenapa sih Bude?" bisik Bunga ditelinga Bude.             " Udah kamu jangan banyak tanya, Bude mau kenalin kamu sama ponakannya Pak Bahrul yang seusia kamu. Mudah-mudahan kalian jodoh." jelas Bude semangat.             Bunga menatap jengah Bude Mpie, ini bukan pertama kalinya Bude mengenalkan ia dengan seorang pria. Setahun yang lalu Bude pernah mengenal Bunga dengan Ardan, pria manis asal semarang yang bekerja sebagai dosen. Namun sayang perkenalan mereka tidak berlanjut karena di pertemuan pertama Ardan mengaku bahwa dirinya tidak tertarik pada wanita dan sudah memiliki kekasih pria yang bekerja sebagai DJ. Sontak saja itu membuat Bunga mundur dan trauma dikenalkan kembali dengan Pria.             Bunga menatap Mamanya dan membuat wajah memelas agar Ibunya membantunya, namun sang Ibu hanya tersenyum sambil memberikan jempol padanya yang menunjukkan ' Everything is okay'. Tidak tahukah Ibunya Jika Bunga trauma dengan pria pilihan Bude Mpie?              " Bude, Bunga pusing mau pulang aja deh!'             " Jangan bohong, Bude tahu kamu bohong." delik Bude.             " Bunga engga mau dikenalin lagi Bude, kapok?! "             " Tenang aja yang ini memenuhi klasifikasi kok. Sebelumnya Bude udah cari tahu asal-usulnya dan Bude yakin ini laki cocok sama kamu."             " Dulu juga Bude bilang gitu." gerutu Bunga.             " Yang ini beda Bunga. Memangnya kamu engga mau kayak Dinda jadi ratu sehari dipelaminan? Usia kamu itu sudah 35 tahun, sebentar lagi menopause."             Bibir Bunga mencebik dan memainkan ujung kebayanya dengan kasar.             " Nah ini keponakan saya." ucap Pak Bahrul semangat.             Bunga mendongakkan kepala, seketika matanya melotot. Astaga mengapa pria ini yang dikenalkan padanya?             " Bunga kenalkan ini keponakan saya, Reza."             Bunga menatap Reza si orang ketiga dipernikahan Aldi dengan mata yang hampir keluar. Ia melirik Budenya yang terlihat mengagumi perawakan Reza. 'Astaga Bude katanya sudah mencari tahu tentang Reza, memangnya Bude engga tahu kalau ini laki pacaran sama jandanya Aldi? ' geram Bunga.             " Reza." Reza mengulurkan tangan pada Bunga.             Ragu Bunga membalas uluran tangan Reza, pria itu menggenggam erat tangan Bunga dan menatap wajah Bunga intens seperti yang dilakukan pria itu sebelumnya di cafe.              Bunga menarik paksa tangannya yang ada digenggaman Reza.             " Yasudah kalian ngobrol berdua sana, saling kenal siapa tahu kalian pasangan selanjutnya yang ada dipelaminan." goda Bude Mpie terkikik.             Reza mengendikkan kepalanya meminta Bunga mengikutinya. Pria itu berjalan di samping Bunga dan mereka berhenti di taman belakang hotel.             " Bukannya kamu pacaran sama Cintya ya?" tanya Bunga memulai pembicaraan.             " Ya."             " Terus kok bisa keluarga kamu mau ngedeketin kita?"             " Karena mereka ingin melihat saya menikah."             " Tunggu sebentar, keluarga kamu engga tahu soal Cintya?"             " Mereka tahu tapi tidak menerima."             " Terus kamu engga usaha gitu?"             Reza mengangkat bahunya. " Sulit, keluarga saya termasuk keluarga yang taat dalam agama dan mereka ingin memiliki menantu yang minimal sesuai dengan pandangan mereka. Dan Cintya kamu tahu dia seperti apa, janda anak satu, clubbing, merokok dan pakaian yang terbuka.. "             " Memangnya kamu engga mau ngerubah dia? " sela Bunga.             " Buat apa? Saya engga mau dia berubah karena saya toh saya juga engga keberatan  dia seperti itu."             " Terserahlah, pokoknya saya engga mau lanjut." tegas  Bunga.             " Kenapa? "             Bunga menatap Reza jengkel. " Kenapa? Ya situ pikir aja, situ udah punya pasangan ya biarpun saya perawan tua tapi saya bukan wanita pengemis cinta yang ngebet buat nikah. Pokoknya saya engga mau maksain ya."             Reza tertawa kecil, ini pertama kalinya Bunga melihat si datar ini merubah ekspresi. " Menarik." Reza maju selangkah mendekati Bunga. " Begini saja jika kamu mau nikah dengan saya, saya berjanji akan memutuskan hubungan dengan Cintya bahkan saya tidak akan menemuinya lagi."             " Kenapa?"             " Saya rasa menikah dengan kamu adalah alasan yang tepat."             " Kayaknya kamu kurang minum air putih." ledek Bunga.             " Bukan Bunga, fokus dan pikiran saya mengatakan kalau kita berjodoh." ucap Reza serius.             Bunga menganga,entah mengapa saat ini ia berharap Pak Samsul datang dengan 5 cucunya sehingga Bunga memiliki alasan untuk pergi dari pria ini.             “ Ngomong-ngomong, kamu engga ingat saya?” tanya Reza tiba-tiba.             “ Saya tahu kamu, kita seangkatan.”             Reza terkekeh. “ Ya kalau itu saya juga tahu. Tapi selain fakta kita seangkatan kamu ingat saya?”             Bunga mendadak jengkel. “ Apaan sih?”             “ Kamu benar-benar lupa?”             “ Apaan sih? Bisa engga kalau ngomong yang jelas.”             “ Kamu kan..” belum sempat Reza melanjutkan perkataannya, Mama datang terburu-buru dan menarik tangan Bunga.             “ Cepetan Kak, acara pelemparan Bunga. Siapa tahu kamu dapat!”             Reza tersenyum kecil dan mengikuti Bunga dan Mamanya dari belakang. Ia menahan tawa melihat wajah Bunga yang cemberut sementara Ibunya begitu bersemangat.             “ Yaaaa yang single udah pada kumpul kan? Acara pelemparan Bunga sudah akan dimulai. Ayo siap-siap menghadang didepan siapa tahu habis ini salah satu dari kalian yang akan menyusul ke pelaminan.” Ujar MC. “ Yuk pengantin wanita, silahkan maju ke depan.”             “ Ma, Kakak engga mau ikutan kayak gini!” rengek Bunga menatap sekelilingnya didominasi para ABG.             “ Semangat kak!” ucap Mama mengabaikan keluhan Bunga.             “ Dalam hitungan tiga Buket akan dilempar oleh pengantin ya! Tolong Mba-mba jangan terlalu maju ke depan nanti pelaminannya roboh hahahaha. Ayo kita hitung bareng-bareng ya. Satu…dua.. tiga..!”             Buket dilemparkan, Bunga tersenyum melihat buket menuju arahnya. Ia segera melompat.             Nihil.             Buket tersebut tidak ia dapatkan.             Tepuk tangan meriah terdengar di ballroom.             “ Selamat… Mas ganteng ternyata yang dapat buketnya. Semoga selanjutnya Mas dan calonnya yang ada dipelaminan ya.” Ucap MC tersebut.             Bunga membalikkan badannya dan melotot menatap Reza mengacungkan buket tersebut dengan senyum kemenangan.             “ Hai jodoh, semoga kita pasangan selanjutnya.” Ucap Pria itu memberikan buket pengantin pada Bunga dan berjalan meninggalkannya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN