Dulu Taufik paling suka melihat wanita mungil, imut dan memiliki lesung pipi, terutama jika gadis itu berumur dibawahnya membuat ia merasa di butuhkan dan melindungi gadisnya. Karena itulah Taufik selalu berpacaran dengan gadis yang berusia jauh dibawah umurnya. Terakhir Taufik bahkan memacari gadis SMA yang bernama Aya .
Namun setahun terakhir ini, pandangan Taufiq tertuju pada gadis manis yang setiap pagi datang dengan wajah cemberut, seakan-akan gadis itu setiap paginya terlihat kesal. Berkali-kali berpapasan di lift membuat Taufiq mengetahui jika gadis itu bernama Bunga, staff keuangan lantai 3.
Secara fisik Bunga tidaklah secantik mantan kekasihnya yang suka membentuk rambut menjadi keriting, menggunakan bando dan rok mini. Bunga terkadang menggerai rambutnya, namun lebih sering menggelung rambutnya keatas dan membiarkan beberapa helai rambutnya terjatuh, wanita itu jarang menggunakan rok dan selalu memakai celana panjang yang memudahkannya untuk bergerak kesana kemari. Namun yang membuat Taufik terpesona dengan Bunga adalah senyum gadis itu. Bunga jarang terlihat tersenyum, wanita itu lebih sering memperlihatkan ekspresi bingung dan kesal dan Taufik pertama kalinya melihat gadis itu tersenyum ketika Bunga mendapatkan kue ulang tahun dari teman-teman staff nya di lobby.
Sepuluh tahun jarak usia mereka membuat Taufik ragu untuk mendekati Bunga. Perbedaan usia yang jauh tentu menjadi kendala besar,terutama setelah beberapa kali Taufik mendekati Bunga, Bunga hanya menganggapnya seperti adik.
Taufik tidak menyukai itu. Ia ingin dipandang sebagai pria oleh Bunga dan layak diperhitungkan sebagai kandidat calon suami. Apalagi secara finansial Taufik cukup mapan. Ia memiliki beberapa warisan keluarga salah satunya rumah di kota berasalnya, Surabaya yang rencananya akan ia tempati jika sudah menikah dan akan ia boyong keluarga kecilnya ke Surabaya.
" Kenapa Pik? Pagi-pagi udah galau." tanya Melisa menatap pria yang dipanggil Opik tengah berdiam diri di depan meja resepsionis.
Taufik hanya menghela nafas dan memutar jalannya menuju pintu darurat.
Melissa tersenyum kecil melihat pemandangan yang ditatap taufik dimana gadis yang ditaksirnya tengah berbicara dengan Bos besar, Pak Aldi. Memang saat ini sedang gencar gosip yang menyebutkan jika bos mereka tengah mendekati Bunga. Namun Melissa sendiri melihat reaksi Bunga yang terlihat tidak nyaman jika bersama pak Aldi.
" Nyerah buat dekatin Mba Bunga?" tanya Melissa memperhatikan Taufik yang tengah memainkan HP nya.
Taufik mendengus kesal namun tidak menjawab pertanyaan Melissa. Baginya bermain mobile legend lebih baik daripada mendengar ibu tiga anak disebelahnya ini.
" Kalau orang yang lebih tua ngomong itu dengerin! " kesal Melissa karena tidak direspon Taufik.
" Abis Mba nanyanya begitu. Saya kan lagi berusaha bangkitin percaya diri saya buat deketin Mba Bunga."
Melissa tersenyum jahil pada Taufik yang merengut. " Engga percaya diri gimana? Dengerin gue ya Pik. Lo itu muda, tampang okelah, kantong tebel juga, lo punya warisan, lo punya sawah gede di daerah soreang, lo juga punya tanah di banjaran, dan gue heran dari mana engga percaya dirinya?"
Taufik berdecak. " Percuma saya punya itu kalau sampai sekarang Mba Bunga anggap saya adik! Gimana caranya ya Mba supaya saya kelihatan tua? Saya cat rambut aja ya warna putih?"
Melissa tertawa keras. " Buat ngapain? Buat disangka itu ubanan? Ya Allah Pik, lo kalau kerja aja serius tapi soal beginian cupu! Usia lo sama Bunga itu udah kodratnya jauh. Apalagi sekarang lagi trend cewe pacaran sama brondong. Lo tahu kan songsong couple? Banyak orang yang terinspirasi dari mereka sampai dijadiin drama film gitu."
" Terus saya harus gimana Mba? Masalahnya saingan saya ini Bos kita, Pak Aldi engga tahu deh saya ada saingan lagi apa engga." gerutu Taufiq.
" Gue lihat nih kayaknya Bunga itu tipe yang engga ngerti kode. Lo gentle dong, akuin kalau lo naksir dia terang-terangan, kalau dia engga percaya lo kasih aja sertifikat tanah warisan lo sebagai jaminan buat dia pegang."
Taufiq mengacak rambutnya frustasi. " Ah Mba, nyaranin kayak begitu yang ada Mba Bunga jauhin saya! "
Melissa meringis menatap Taufiq yang terlihat frustasi. " Lo suka banget ya sama Bunga? Sorry nih Pik, kalau boleh jujur lo suka Bunga dari apanya sih! Secara disekeliling kita cewenya udah setara model dan Bunga? Ya ampun sebagai cewe aja gue ngerasa dia itu standar."
" Ya saya juga tahu kalau Mba Bunga secara fisik pasti kalah sama cewe-cewe marketing. Tapi Mba.. Bunga ini beda. Dia cantik dengan caranya sendiri. Tanpa dia dandan pun dia terlihat menarik. Wajahnya yang kelihatan bingung justru bikin saya gemas."
Melissa menghela napas. " Emang ya kalau jatuh cinta logika langsung ditutup." gumam Melissa.
" Saya udah terlalu cinta sama Mba Bunga. Malah setiap hari saya selalu bayangin dia kalau jadi istri saya gimana."
" Jangan-jangan si Bunga juga jadi objek fantasi lo buat mimpi basah lagi?"
" Mba?! " hardik Taufik dengan muka memerah dan beranjak meninggalkan Melissa yang terkejut.
...
" Pempek lagi?" tanya Bunga menatap plastik yang dibawa Taufik.
Taufik tersenyum gugup. " Bukan Mba."
Bunga mengambil plastik itu dan mengintipnya. Senyum lebar keluar dari bibirnya. " Geprek ayam yang di depan itu kan? Makasih ya, kamu tahu aja kalau aku suka itu!"
Taufik ikut tersenyum dan mengusap tengkuknya malu-malu. " Mba." panggil Taufik.
" Ya?"
Taufik berdeham pelan, mendadak ia merasa sangat gugup membuat tenggorokannya terasa kering. " Ka-kalau saya ajak Mba nonton nanti sabtu mau?"
Bunga sedikit terkejut dengan ajakan Taufik, namun senyum kecil ia berikan pada Taufik. " Boleh, tapi aku yang pilih filmnya gimana?"
Taufik mengangguk cepat.
" Oke, makasih ya."
" Mba?"
" Hmm?"
" Saya suka Mba, mau Mba menjadi Ibu dari calon anak-anak saya?"
" Hah?"
" Maaf maksud saya, boleh saya mengejar cinta Mba?"
Dan detik itu juga Taufik terlihat semakin mempesona dimata Bunga.