Bab 4

1119 Kata
  Kara memijit pelipisnya saat ia memperhatikan bikini yang tersedia di sana. Semuanya sangat...sangat seksi. Mondar-mandir ke sana-kemari,bingung menentukan pilihan. "Dian! Kara mengacak-acak rambutnya stres. Di saat bersamaan ponselnya berbunyi. "Oh... its you!" Kara menggeser layar ponselnya. “kak! Jahat banget, sih!" “ hei, kenapa? Gimana di sana enak, kan? “ini acara apa, kak? Semuanya pakai bikini. Seksi. Oh my god, Diandra... “Hahahaha. Nikmati saja, adikku sayang. Gimana cowok di sana? Seksi, ganteng, hot... wow, kan?" “Membuatku tutup mata.” “Kara, kamu harus enjoy di sana. Semua outfitnya sudah aku sediakan. Jadi, kamu harus maksimal. Gaet salah satu dari mereka.” “Kakak yakin... ini jalan yang bener?” “Percaya sama kakak. So... hari ini pakai bikini, kan? Pakai yang paling seksi.” “Semuanya seksi, Kak.” “Oke... pakai saja. Kamu itu cantik dan menawan. Jadilah wanita yang elegan namun menggoda.” “Iya, Kak. Kakak harus bilang sama mama Kalau aku liburan sama Kakak.” “Tenang aja. Mama lagi bulan madu ke seratus. Oke... ingat pesanku. Hubungi kalau ada apa-apa. Sudah dulu, ya. Bye. Kara kembali menatap beberapa bikini di hadapannya. Pilihannya jatuh pada sebuah bikini bewarna peach. Ia harus bergegas, waktunya terbuang begitu saja. Kara telah selesai dengan bikininya. Mengunci kamar dan menuju ruang makan untuk sarapan. "Hai, Kara." Anna yang juga baru saja keluar dari kamar memeluk pundak Kara. Dengan bikini two piece bewarna hitam. "Hai, Anna. Bikini yang bagus," puji Kara. Tubuh Anna memang terlihat sangat proposional. "You look nice too. Ayo kita sarapan." Pandangannya kini tertuju pada pria yang kemarin diajakny berkencan. "Aku,harus menghampiri Jack, Kar," bisik Anna. "Good luck," balas Kara. Ia membiarkan Anna pergi. Mungkin memang seperti ini permainannya. Kita bebas flirtting dengan siapa saja, sebelum malam pemilihan pasangan date. Kara menghampiri meja dimana makanan tersusun dengan rapi dan indah. "Hai, Sweety." Rhayen mengecup pundak Kara. Kara tersentak kaget, nyaris piring di tangannya terjatuh."Oh..  kamu ngagetin aku, Rhay." "Maaf, kamu... cantik sekali hari ini." Rhayen ikut mengambil piring dan mengambil dua buah sandwich. "Terima kasih." "Ayo... kita cari tempat untuk ngobrol," ajak Rhayen. Kara mengangkat kedua bahunya. Pasrah, setidaknya lumayan ada yang mengajaknya bicara. Kalau tidak, itu sungguh bencana. Tidak ada yang menginginkannya di sini. Saat sedang terlibat obrolan panjang, seseorang datang dan memotong pembicaraan mereka. "Rhay?" Rhayen menatap pria di hadapannya."Ya, Harry?" "Boleh kita bertukar tempat? Aku juga ingin mengajak Kara bicara. Kamu bisa ngobrol sama Tania." Harry memberikan penawaran. Rhayen terdiam sejenak, seperti sedang mempertimbangkan."Oke..., ini memang harus kulakukan. Semua harus berjalan dengan fair." Harry tersenyum dan memeluk pundak Rhayen."Thanks,Rhay." "Its oke, Bro. Kara... sampai ketemu nanti." Rhayen mengerlingkan matanya dan kemudian pergi menghampiri Tania. "Hai, Kara... Rhayen benar-benar sabotase kamu, ya." Harry terkekeh sambil menatap Kara. "No... bukan seperti itu, mungkin... dia memang belum bicara sama yang lain aja. Atau..  mungkin beberapa menit setelah ini, dia baru pergi ngobrol sama yang lain. Tapi, kamu keburu datang." Harry tertawa."Kamu ini lucu sekali, Kara. Oh, ya, apa pekerjaan kamu?" "Cuma karyawan biasa di sebuah perusahaan," jawab Kara. Harry menaikkan sebelah alisnya."Tapi aku tidak percaya... hanya sebatas itu." "Oh, ya? Kalau begitu... apa yang bisa kukatakan, Harry." Kara memainkan rambutnya. Ia tak sadar bahwa gerakan seperti itu seperti gerakan sedang tebar pesona. "Ayo kita berenang," ajak Harry. "Ide bagus." Kara berdiri. Sepertinya ia bersemangat sekali. Sudah lama ia tak melakukan aktivitas di luar rumah. Waktunya ia habiskan untuk bekerja dan bersama Rian. Berjam-jam berenang membuat kulit Kara menjadi lebih eksotis. "Guys, waktunya istirahat. Tapi... berkumpul terlebih dahulu sebelum makan siang dan istirahat," teriak Toni. Semua berkumpul di hadapan Toni. Sebagian tubuh mereka basah karena semuanya melakukan aktivitas di air. "Dengar, kalian... harus secara bergantian ngobrol. Jadi, bukan dengan itu-itu saja, ya. Selama belum sampai pada malam pemilihan. Sah-sah saja kalian mau ngedate sama siapa. Hari ini aku ingin memperingatkan padamu, Alexa." Toni melipat tangannya. "Aku? Kenapa denganku?" Alexa pura-pura bingung Toni memutar bola matanya. “Kamu mensabotase Nic. Dari kemarin... sampai hari ini, kamu mengikat Nic." "Come On, Toni... kami sangat cocok. Jadi,kami lupa waktu. Rasanya tidak perlu bicara dengan yang lain." Alexa memberikan alasannya. "Tidak bisa seperti itu, Alexa," protes Mike. "Yupz... setuju," tambah Summer. Alexa tertawa."Oke... oke. What ever." "Jangan jadi egois, Alexa. Biarkan kita semua saling mengenal diri masing-masing. Ini adalah inti dari acara ini bukan?" Jack ikut bicara. "Oke, Alex... aku sudah menyetujuinya." Alexa membuang wajahnya karena kesal. Toni menengahi keributan kecil yang terjadi."Sudah... sudah. Ingat saja pesan saya dan jangan terulang lagi. Waktunya makan siang dan enjoy." "Astaga... wanita itu." Anna menggelengkan kepalanya. "Iya..  sedikit egois. Tapi..  ya aku tidak ada masalah dengan itu." Kara berjalan menuju rest area. "Kamu mau apa setelah ini, Kara?" Anna mengehentikan langkah Kara. "Aku mau mandi, tapi...  kayaknya aku mau makan dulu. Lalu... tidur siang." Kara tertawa. "Ide yang bagus. Tapi, setelah ini aku masih mau snorkling sama jack. Kamu enggak mau ikut? Tadi kencan sama siapa?" "Sama Harry. Aku enggak tahu mau apa setelah ini. Rasanya capek sekali." Kara menguap. "Mungkin setelah mandi capekmu hilang dan bisa bergabung lagi. Ayolah... ini menyenangkan dan pastinya tidak akan terulang kembali." Anna memberikan semangat pada Kara. "Kamu benar. Lets go!" Usai makan siang, Kara memutuskan untuk mandi. Tapi, sayangnya niatnya itu dibatalkan seseorang yang menghadangnya di depan pintu kamar. Kara tertegun menatap pria itu. "Rhay?" Rhayen mengangguk dan tersenyum pada Kara.”Kau mau kemana?” “Mandi.” Rhayen menggeleng."Itu bukan ide yang bagus. Kita harus beraktivitas, sayang. Ayo...." Rhayen membawa Kara ke tepi pantai,di bawah pohon kelapa. Letaknya sedikit jauh dari hotel dan rest area sehingga tempat ini sangat sepi. Di sana ada tempat untuk berbaring. "Ayo di sini." Rhayen naik dan bersandar. "Hanya ada satu, Rhay," balas Kara. Rhayen menarik Kara agar duduk. Tepatnya duduk di pangkuannya."Ya, begini." "Ta... tapi, aku...." Rhayen menatap Kara intens. Tangannya bergerak mengusap bibirnya, ia mencium Kara. Tangannya memeluk pinggang Kara dengan kencang. Kara bingung harus bagaimana jantungnya berdegup kencang,Kara terdiam. Wajahnya pun memanas. "Dari lima wanita yang di sini, aku selalu tertarik padamu, Kara. Sangat tertarik." Rhayen mengecup pundak Kara dengan lembut, sesekali menjilatnya. "Mereka semua cantik dan tubuh mereka proposional." "Tapi, kamu menarik." Rhayen membawa Kara ke dalam pelukannya. Kini posisi mereka sama-sama berbaring. Kara berbaring di atas tubuh Rhayen, berhadapan. "Rhay... jangan sampai kelepasan!" Toni muncul tiba-tiba. Kara hendak bangkit namun Rhayen menahannya. "Semua aman terkendali, Toni." Rhayen mengacungkan jempolnya. Toni mengangguk, kemudian pergi dengan cuek saja. Seolah-olah apa yang ia lihat bukanlah apa-apa. "Jadi, siapa laki-laki di sini yang menarik perhatianmu?" Kara terdiam sejenak."Belum tahu... aku tidak tahu aku tertarik pada siapa." "Oh, ya? Tapi aku laki-laki pertama yang menciummu di sini? Begitu, kan?" Kara mengangguk malu."Ya itu benar." "Kalau begitu mari kita lakukan lagi." Rhayen menangkup wajah Kara dan melumat bibirnya dengan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN