Pagi ini, semua peserta berkumpul di sebuah ruangan untuk sarapan bersama. Mereka telah mengenakan busana yang telah ditentukan. Kara mengambil sarapannya sendirian, sementara yang lain sudah duduk rapi menikmati sarapan sambil berbincang-bincang.
"Hai, bikini yang bagus," puji Nic.
Kara menoleh, seorang pria yang kemarin bersama dengan Alexa. Kara jadi kikuk sendiri. Rasa percaya dirinya justru semakin menurun. Padahal ia sedang dipuji.
"Thanks... tapi, ini kurang nyaman. Aku jarang pakai ini."
"Percayalah... kamu cantik pakai ini. Oh, ya, aku Nic." Nic memperkenalkan diri.
"Kara."
"Ayo makan sama-sama. Kemarin belum sempat ngobrol." Nic tersenyum dan membawa Kara ke tempat yang ada di ujung.
Kara duduk dengan risih. Ia benar-benar tak nyaman. Tapi, sepertinya semua sangat menikmati hal ini. Kara berusaha santai dan menikmati. Ia ke sini untuk mencari cinta sejati atau paling tidak ia berlibur. Anggap saja begitu.
"Gimana selama beberapa hari di sini? Enak?" tanya Nic.
Kara mengangguk."iya... enak. Punya teman baru. Tapi... sepertinya di sini ada persaingan."
Nic mengangguk."Iya. Bener. Oh, ya... nanti malam ada acara ngedate. Sudah ada yang ajak kamu ngedate?"
"Belum. Pagi ini... kamu yang pertama mengajakku bicara, “jawab Kara.
“Kamu bersedia ngedate sama aku nanti malam?" tanya Nic.
Kara tercengang mendengar ajakan Nic. Ia bingung sebab sepertinya Alexa sangat tert aqarik dengan Nic."Gimana dengan Alexa?"
"Kara... di sini kita bebas memilih siapa saja. Selagi tidak melanggar aturan. Boleh berganti pasangan selama belum menentukan pilihan," jelas Nic.
“Sejauh ini aku tidak berjanji dengan siapapun,” jawab Kara. Lagipula sebelumnya ia tak memiliki janji dengan siapapun. Baik dengan Rhayen sekalipun.
Nic tersenyum puas. Setelah beberapa hari ia disabotase oleh Alexa, ia tak bisa mengenal wanita yang lainnya. Usai makan, nic mengajak Kara keliling pantai. Nic memeluk pundak Kara sambil berjalan.
"Jadi, kamu pernah ciuman?" tanya Nic.
Kara tersenyum. “Pernah beberapa kali."
"Sama pacar kamu?"
"Iya. Tapi, itu dulu. Sekarang... dia sudah meninggalkanku." Kara berusaha tersenyum meski pahit.
Nic menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Kara karena terhembus angin."Dia pasti menyesal meninggalkan kamu."
Kara tertawa."Haha... ya sudahlah. Sekarang itu bukan sesuatu yang penting."
Nic menghentikan langkahnya."Iya... itu benar. Karena sekarang kamu ada di Love Island. Banyak yang akan menginginkanmu. Termasuk diriku."
Ucapan Nic membuat Kening Kara berkerut."Hmmm...."
Nic mengecup bibir Kara pelan dan kemudian melumatnya dengan lembut."Bibirmu manis."
Kara menunduk malu. wajahnya terasa panas. Mungkin sekarang sudah seperti kepiting rebus. Nic mengajaknya duduk di balik batu karang yang besar. Nic duduk dan menarik Kara agar duduk di pangkuannya.
"Ahh!" Kara berteriak pelan karena kaget dengan perlakuan Nic.
"Jangan kaget. Ini bukan apa-apa. Duduklah di pangkuanku," bisik Nic terdengar romantis sekali.
Kara menatap mata Nic, ia menjadi kaku. Tapi, Nic justru melingkarkan tangan Kara ke lehernya. Napas Nic memburu, ia memeluk pinggang Kara, merapatkan tubuh mereka.
"N...Nic... ini...," ucap Kara terbata-bata.
Nic tersenyum sambil menyeringai."Its ok. Semuanya baik-baik saja," katanya yang kemudian membuka pengait bra Kara.
"Hei... aku...." ucapan Kara terhenti saat Nic kembali melumat bibirnya.. Kara terbawa suasana, kelamaan ia mengikuti permainan Nic.
"Kamu tahu, Kara, kita tidak boleh melakukan lebih dari ini. Kita bisa dieliminasi." Nic melepaskan ciumannya. Tapi, tangannya masih meremas d**a Kara sambil menghisapnya sesekali.
Kara terdiam, napasnya tersenggal. Miliknya sudah basah akibat ulah Nic.
"Kita harus bersabar di 3 besar." Nic memakaikan bra Kara. Kemudian memeluknya dengan erat.
"Hmm...," desah Kara saat Nic meremas bokongnya.
"Tubuhmu indah sekali,"bisik Nic.
Kara merasa nyaman dalam pelukan Nic yang masih saja meraba-raba setiap lekuk tubuhnya. Senja tiba, semua peserta harus kembali untuk bersiap-siap acara malam ini.
"Hai, gimana tadi kencan kalian?" tanya Summer dengan ruangnya saat semua peserta wanita sedang berkumpul.
"Yeah... tadi aku sama Harry. Dia laki-laki yang baik dan memiliki ciuman yang panas," kata Tania.
"Hari ini aku kencan dengan dua pria sekaligus. Jack dan Alex. Wow... itu luar biasa. Mereka berdua bikin aku basah. Tapi sayangnya... kita enggak bisa lebih," balas Summer.
Alexa terkekeh."Iya... kita harus tahan itu. Laki-laki di sini sungguh menggiurkan. Tadi... aku sama Rhayen. Ehmm... lalu siapa yang pergi dengan Nic?"
Alexa menatap Anna dan Kara yang belum bercerita.
"Aku pergi sama Mike," jawab Anna.
Alexa memandang Kara."Oh... jadi kamu yang pergi sama Nic. Kamu ajak dia?"
Kara menggeleng."Tidak sengaja ... kami bertemu sewaktu makan siang. Terus.. kami ngobrol sampai lupa waktu."
"Nic... sangat tampan. Dia juga sweet," kata Tania.
"Yeah... dia sangat cocok dengan Alexa. Aku lihat kalian sangat mesra di bungalow." Summer terkekeh.
Summer, Tania, dan Alexa terlibat percakapan sendiri.
"Gimana kencan kamu, Kar? Enak?" tanya Anna.
"Iya... menyenangkan. Nic laki-laki yang baik."
Anna mendekat."So... apa yang udah dia lakuin sama kamu? Cium? Atau... sudah yang lain?"
Kara menunduk malu."Iya.. Nic melakukan sesuatu. Aku tak menyangka. Dia menciumku, memelukku."
"Itu bagus. Besok malam... malam pemilihan, Kara. Salah satu dari mereka akan pergi dari love island. Kamu sudah tahu mau pilih siapa?" Anna menatap Kara.
"Aku enggak tahu. Aku masih ngerasa aneh di sini, An. Apalagi... di antara peserta cewek... cuma kamu yang mau ngomong sama aku."
"Hei... jangan gitu. Mungkin aja karena kita masih baru di sini. Nanti juga kelamaan... kita pasti akrab kok," kata Anna.
"Hai, Girls!" Bella dan jane datang.
"Hai!"
"Gimana kencan kalian hari ini?" Tanya Bella..
"So hot,” ucap Summer.
Jane menganguk-angguk."Oke... pastinya menyenangkan bukan? Jadi... malam ini, malam pemilihan."
"Bukannya besok?" tanya Anna.
"Bukan. Pemilihan malam ini dan besok adalah full kencan kalian dengan pasangan yang kalian pilih malam ini. Jadi, siapkan diri kalian. Tunjukkan penampilan kalian sebaik dan seseksi mungkin." Bella bertepuk tangan.
"Kita berkumpul di aula jam delapan. Jangan telat. Daah...."
Jane dan Bella meninggalkan tempat.
"Aw... Oh My God! Aku bakalan pilih Nic," teriak Alexa.
"Ya itu benar. Kamu cocok banget sama Nic," tambah Summer.
"Kara... sebaiknya kita bersiap. Acara tiga jam lagi." Anna memutar pundak Kara dan mereka berdua pergi ke kamar.
Kara merenung di depan lemari."Pakai yang mana?"
Kemudian ia menghubungi Dian via w******p untuk menanyakan Perihal gaun mana yang harus ia pakai. Setelah bertukar pendapat dan sedikit berdepat dengan Dian akhirnya ia bisa memutuskan.
Malam di tepi pantai terlihat begitu romantis. Para peserta menatap keindahan malam itu dari lantai dua sebuah bungalow tempat saat ini mereka berkumpul.
"Hai, An," sapa Kara.
"Hai... aku telat. Kelamaan dandan." Anna merapikan riasannya.
"Cantik," puji Kara.
"You look nice too, Kara." Anna tersenyum lalu pandangannya tertuju pada enam pria yang jaraknya tak jauh dari mereka.
"Apa malam ini ada yang dikeluarkan?" Tanya Kara.
Anna mengangguk."Iya. Dan pastinya itu dari mereka. Karena jumlah mereka lebih banyak. Kamu udah nentuin bakalan milih siapa?"
Kara mengangkat kedua bahunya."aku enggak tahu. Semuanya baik."
"Tapi, pasti ada yang menarik perhatian kamu, kan?"
"Mungkin." Kara tertawa.
"Helo, Guys... selamat malam." Toni datang menarik perhatian. Semua peserta menghentikan obrolan mereka dan kini perhatian mereka terpusat pada Toni.
"Kalian sudah tampak oke..., dan... hari ini minggu pertama pemilihan kalian. Girls... silahkan tentukan pilihan kalian. Yang tidak terpilih... harus keluar dari permainan ini. Tapi, kalian masih bisa menikmati fasilitas di pulau ini. Girls... silahkan memilih dimulai dari Summer." Toni mempersilahkan.
Summer melipat tangannya di d**a, memandang keenam pria di hadapannya dengan serius." Aku pilih... Nic."
Alexa dan Tania bertukar pandang dengan heran."What?"
"Summer... aku mau pilih Nic," protes Alexa.
"Im so sorry, Alexa... tapi aku bebas memilih, kan." Summer tersenyum lalu menghampiri Nic.
"Silahkan, Summer... Nic selamat menikmati kencan kalian. Selanjutnya Anna."
"Aku pilih... Alex," kata Anna
“Silahkan, Tania”kata Toni setelah Anna dan Alex pergi.
"Mike." Tania memilih Mike.
Toni mengangguk. “Selanjutnya... Kara silahkan."
Kara maju satu langkah. Di hadapannya ada Harry, Rhayen dan Jack."aku ... pilih Rhayen."
Rhayen maju mendekati Kara dan kemudian menggandeng Kara pergi.
"Thanks... sudah memilihku." Rhayen tersenyum.
Kara mengangguk dengan canggung. Mereka berdua menuju tepi pantai menikmati kencan pertama mereka sebagai pasangan meskipun ini bukanlah keputusan final.
"Sepertinya Harry harus keluar dari permainan ini," ucap Rhayen sambil menunjuk ke arah bungalow. Di sana ada Alexa bersama Jack.
"Iya... tapi mau bagaimana lagi. Begitu, kan... caranya." Kara tersenyum.
Rhayen mengangguk, lalu menarik Kara mendekat ke tubuhnya. Kara menatap Rhayen. "Jangan tegang begitu, ayo kita makan malam."
Kara tersenyum gugup, menyeka keringatnya yang sempat jatuh di pelipis.
"Rhay?"
"Iya?"
"Apa kegiatan kamu sehari-hari?" Tanya Kara.
"Ya ... biasa, seperti pria pada umumnya. Bekerja... main game dan tidur. Itu yang utama." Rhayen terkekeh.