"Bekerja?” tanya Kara hati -hati. Sebenarnya ia ingin menanyakan pekerjaan Rhayen supaya ada bahan pembicaraan, tapi malah kata membingungkan itu yang keluar dari mulutnya.
"Iya. Tapi, hanya bekerja di usaha milik sendiri. Bukan kantoran," jelas Rhayen.
"Itu bagus, menjadi bos untuk diri sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain," balas Kara.
"Iya. Itu yang aku pikirkan sebelum membuka usaha."
Malam itu dihabiskan peserta untuk berkencan. Kencan dalam makna tak ada yang bisa bertukar pasangan sampai pada hari yang ditentukan. Sekitar pukul 12 malam semua kembali berkumpul di ruang tamu.
"Guys...." Toni datang dengan semangat.
Alex mengangkat tangannya sebelum Toni bicara lebih lanjut.
"Ya, Alex?"
"Hm... aku dan Anna sepertinya sudah menemukan kecocokan. Kami sepakat untuk berhenti dan Melanjutkan kencan kami di luar acara ini," kata Alex membuat semuanya terkejut terutama Kara. Itu artinya Anna akan segera pergi. Tak akan ada yang bisa ia ajak bicara lagi nanti.
"Kalian yakin?" tanya Toni.
"Iya. Kami sangat yakin. Kami sama-sama menginginkan. Kami tidak ingin berkencan dengan yang lain lagi." Anna tersenyum mesra pada Alex. Tampaknya mereka berdua sedang dimabuk cinta.
Toni mengangguk-angguk."Baiklah kalau begitu. Itu berita bagus. Meskipun begitu,kalian masih bisa menikmati fasilitas di sini sampai sebulan ke depan. Selamat untuk kalian berdua."
Semua bertepuk tangan dan memberi selamat pada Anna dan Alex. Setelah itu kini giliran Summer yang mengangkat tangannya.
"Aku rasa, aku juga ingin mengakhiri permainan ini, Ton. Sepertinya kami cocok satu sama lain."
"Kami? Maksudmu? Kamu dan aku?" tanya Nic heran.
Summer mengangguk."Iya. Begitu, kan?"
Nic menggeleng."tidak. Itu tidak benar. Aku belum bisa memberikan keputusan final. Aku masih ingin mengikuti acara ini sampai selesai."
Toni mengangkat kedua bahunya."Maaf, Summer. Kalian hanya bisa berhenti ketika sama-sama merasa saling cocok. Tidak bisa hanya sepihak. Jadi, kamu dan Nic masih ada dalam acara ini sampai kalian tereliminasi atau memutuskan untuk keluar."
"Ya. Itu benar. Aku masih ingin di sini." Nic pun pergi meninggalkan ruangan.
Summer mengumpat,mengeluarkan kata-kata kasar yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Alexa tertawa puas melihat Summer yang ia anggap pengkhianat itu ditolak oleh Nic. Summer menatap Alexa dengan tatapan permusuhan. Alexa pun membalasnya dengan tajam sebagai jawaban bahwa ia telah siap berperang.
"Selamat istirahat semuanya. Besok kita akan kedatangan peserta baru. Siapkan diri kalian!" ucap Toni yang perlahan suaranya menghilang sebab ia bicara sambil berjalan keluar.
Kara mendesah lega. Acara hari ini berjalan dengan lancar. Meskipun kini ia harus sendiri.
"Kara!"
Kara menoleh, dan ternyata itu adalah Anna. Ia berlari ke arah Kara dan mereka berpelukan.
"Besok pagi-pagi sekali aku out dari sini. Tapi, tenang saja... kami masih ada di pulau ini. Kamu masih bisa kontak aku."
"Aku sedih kamu pergi, An. Tapi, aku juga seneng akhirnya kamu nemuin pria yang juga mencintai kamu. Semoga kalian cocok dan bisa sampai ke pernikahan." Kara tersenyum tulus.
"Ohhh... thanks, Kara. Walaupun kita baru kenal sebentar... rasanya kita itu sudah seperti kenal bertahun-tahun. Semoga lancar acaranya. Segera temukan pria idaman kamu." Anna mengerlingkan matanya.
Kara mengangguk."Thanks, Ann. Selamat istirahat. Jangan lupa berbagi cerita cintamu padaku, ya."
"Pasti. Aku juga pasti akan mengabarimu kalau aku sudah mau keluar dari pulau ini. Bye." Anna melambaikan tangannya dan kemudian masuk ke kamar untuk berkemas.
Kara masuk ke kamarnya. Tapi, baru saja ia hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan muka, pintu kamarnya terdengar diketuk. Kara bergegas membukanya karena ia pikir itu Anna yang membutuhkan bantuan.
"Hai, Kara?"
Kara mematung di tempat. Menatap seseorang dari ujung sepatunya hingga ke kepala dan menatap wajahnya. Wajah Kara jelas sangat bingung. Ada perlu apa orang ini datang ke kamarnya.
"Boleh aku masuk? tanyanya.
"Tapi, ini sudah malam... dan kita semua harus istirahat." Kara berusaha menolak karena ia sudah sangat lelah dan ingin tidur.
"Sebentar saja.” Orang itu memaksa.
Kara merenung sejenak, demi menghormati orang tersebut akhirnya ia mengalah."Silahkan masuk."
Kara menutup pintunya setelah mereka berdua masuk. Kini mereka bertatapan.
"Maaf mengganggu malam-malam begini." Summer duduk di sofa dengan santai.
Kara mengikutinya."Iya. Tidak apa-apa."
"Apa kamu menyukai Rhayen?" Tanya Summer langsung.
Kara tersenyum tipis. “Maksudnya bagaimana? Ya tentu aku menyukainya. Aku menyukai semuanya sebagai teman. Sebagai... sesama manusia di sini."
"Sebagai pasangan. Aku pikir Rhayen sangat menginginkanmu." Summer melipat kedua tangannya di d**a.
"Lalu?"
"Kalau kalian sama-sama cocok, sebaiknya ... kalian ikutin Jejak Anna dan Alex. Toh, kalian masih bisa menikmati waktu kalian berdua di pulau ini," kata Summer yang membuat Kara gagal paham.
"Oke... tapi, apa maksudmu sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kamu datang ke kamarku, mempertanyakan Rhayen... dan menyuruh kami untuk menghentikan keikutsertaan kami. Bukankah... acaranya juga masih panjang?" Kara mencium sesuatu yang mencurigakan di sini.
"Ya supaya... acara ini menjadi simpel aja," jawab Summer santai.
Kara melihat wajah Summer yang sepertinya saat ini sedang dipenuhi aura kelicikan. Kara mendecih dalam hati. Ia paling tidak suka hal-hal seperti itu. Ia ke sini untuk bersenang-senang, menambah teman dan menghilangkan kepenatan. Bukan untuk menuruti kemauan seorang yang sombong.
"Maaf... tapi, aku belum menemukan belahan jiwaku di sini. Mungkin saja Rhayen, tapi.. aku rasa terlalu cepat untuk memutuskan kalau kami berdua sangat cocok."
"Memangnya apa yang kamu cari? Apa Rhayen itu bukan orang kaya?" Summer tertawa sinis dan bahkan terkesan mengejek.
"Aku bukan cari kekayaan di sini, Summer." Rasa amarah mulai memenuhi d**a Kara. Ia mulai mengerti, sepertinya Summer tidak menyukainya. Tapi, kenapa? Bukankah mereka baru mengenal satu sama lain.
"Ya... kamu kan bukan dari kalangan kita-kita. Bukan artis, model, pengusaha atau pejabat. Lalu kamu bisa dapat tiket masuk ke sini darimana? Atau... jangan-jangan kamu ini simpanan?" Tanya Summer sarkatis.
"Aku tidak semua dari yang kamu sebut. Aku hanya orang biasa. Pekerjaanku hanya karyawan biasa di sebuah kantor kecil. Masalah tiket, aku dapat dari kakakku. Rasanya... apapun urusan pribadiku, itu bukan urusanmu. Kamu tidak punya hak untuk menjudge aku."
Summer tertawa."santai saja, Kara. Jangan pakai emosi."
Kara bangkit dari duduknya dan segera membuka pintu lebar-lebar. "Aku mau istirahat. Besok banyak kegiatan."
Summer berjalan dengan santainya keluar dari kamar Kara. Setelah keluar, Summer membalikkan badannya."Asal kamu tahu, untuk ukuran orang biasa seperti kamu... mendapatkan Rhayen itu sesuatu yang luar biasa. Aku beri tahu, Rhayen itu pengusaha properti. Dia masuk dalam jajaran pengusaha muda yang disegani."
"Kenapa bukan kamu saja yang bersama dia?" Kata Kara kesal.
"Bukan dia targetku. Dia bukan tipeku. " Summer pergi meninggalkan Kara.
Kara menggeram dalam hati. Yang ia bingungkan adalah kenapa Summer seakan menekannya harus bersama Rhayen. Atau sebenarnya Summer ingin dirinya segera keluar. Bukankah ia hanya orang biasa.
Seharusnya yang Summer takutkan adalah Tania dan Alexa yang memang berasal dari kalangan sederajatnya. Kara merasa sangat lelah ditambah dengan kedatangan Summer yang sangat tidak ia inginkan. Akhirnya ia memutuskan beristirahat masalah Summer, biarlah ia pikirkan esok hari.