Bab 7

1009 Kata
Pagi ini terlihat sedikit mendung. Seluruh peserta sarapan pagi bersama. Tak ada yang berubah dari kemarin-kemarin. Hanya saja satu peserta sudah berkurang. Toni datang di tengah-tengah kesibukan mereka sarapan. "Hello, guys... selamat pagi!" Perhatian seluruh peserta terpusat pada Toni. "Hari ini, kita kedatangan peserta baru. Wanita tentunya. Ini Jessica." Toni memperkenalkan seorang wanita berambut sebahu itu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, kulitnya putih, wajahnya imut. Bahkan sangat imut seperti gadis-gadis korea. "Hai, semuanya!" Jessica melambaikan tangan. Beberapa membalas dengan lambaian tangan. Beberapa hanya tersenyum, dan ada yang sama sekali tak bereaksi. "Selamat bergabung, Jes. Silahkan nikmati sarapanmu. Semoga menemukan pasanganmu." Toni menepuk pundak Jessica lalu pergi. "Kara." Nic menghampiri meja Kara yang kebetulan sedang sendiri. "Hai." Kara tersenyum setelah sebelumnya terkejut. Nic terlihat berbeda hari ini. "Aku punya sesuatu untuk kamu." Nic menatap Kara dengan misterius. "Oh ya? Apa itu? Kok... aku jadi penasaran." Kara tertawa. "Ada. Setelah ini, kita jalan berdua, ya. Karena aku mau kasih sesuatu sama kamu." Nic menyesap tehnya yang ikut ia bawa ke meja Kara. Kara mengangguk lalu menghabiskan sarapannya."Kamu enggak kenalan sama Jessica?" Nic menggeleng."Nanti juga kenal. Saat ini... aku mau jalan sama kamu." Kara hanya ber-oh-ria saja. Sekilas ia teringat dengan kencan mereka tempo hari. Peristiwa di balik batu karang. Mendadak tubuhnya merinding. Kara menatap Nic diam-diam. Semakin dilihat, wajah Nic tidaklah asing. Mungkin saja ia pernah bertemu dengan orang yang mirip dengan Nic sebelumnya. Setelah menghabiskan sarapannya,Nic langsung membawa Kara pergi tepat sebelum Summer menghampirinya. Nic bernapas lega. Kara sepertinya tidak menyadari hal itu. Nic membawa Kara ke sebuah butik yang ada di sana. "Butik?" Kara mengerutkan dahinya. "Iya. Benar. Kamu pilih mana yang kamu suka." Nic mendorong Kara masuk. Kara terkekeh."Kenapa suruh pilih sendiri. Katanya kamu mau kasih kejutan sama aku." Nic merenung beberapa saat."Sebenarnya aku udah pilihin, sih, tapi... aku takut kamu enggak suka." Kara melipat tangannya sambil menatap Nic dengan geli."Kamu terlalu repot-repot-repot kasih aku hadiah, Nic." "No... aku memang pengen kasih kamu hadiah. Please, jangan ditolak ya." Nic mengambil paper bag dari meja kasir. Sebelumnya ia sudah membelikan dua buah pakaian untuk Kara. Namun, ia takut tak sesuai dengan selera Kara. Kara tersenyum."Apapun itu... aku terima, Nic. Terima kasih... dan aku percaya ini hadiah yang baik buat aku." "Aku mau... kamu pakai itu kalau kita dipertemukan sebagai pasangan nanti." "Ya... itu kalau tidak ada yang pilih kamu terlebih dahulu." Kara tertawa kecil. "Kamu coba dulu pakaiannya. Kalau ukurannya enggak sesuai bisa ditukar." Nic menyerahkan paperbag yang sedari tadi belum diraih oleh Kara. Kara meraih paperbag dari tangan Nic lalu menuju ruang ganti."Sebentar ya." "Oke. Tunjukkan padaku kalau kamu udah pakai gaunnya," kata Nic. Kara mengangguk. Nic menunggu Kara dengan sabar. Tak lama kemudian Kara keluar dengan gaun yang super seksi. "Nic...." Kara berdiri di hadapan Nic. "Aku tahu... kamu akan terlihat seksi saat pakai ini. Cocok buat kamu. Tapi, pakai ini... hanya saat bersamaku. Sudah coba yang satu lagi?" Mata Nic sulit berkedip dari Kara. "Sudah. Aku suka. Tapi, yang ini menurutku terlalu seksi. Apa boleh ditukar?" tanya Kara. Nic menggeleng, ia berdiri di hadapan Kara. Tangannya menelusuri wajah Kara, dirinya tak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir Kara. Keduanya saling melumat beberapa detik. "Aku mau... kamu pakai ini, di kencan kita. Hanya berdua," bisik nic. Kara menundukkan wajahnya,tatapan Nic."Ya... ya sudah, aku... ganti lagi, ya." Nic melepaskan sentuhannya, membiarkan Kara kembali ke dalam. Kara kembali dengan paperbag yang tadi. "Sudah." "Kita titipkan saja dulu di sini. Nanti, mereka akan antarkan itu ke kamar kamu. Sekarang kita pergi."Nic menyerahkan paperbag pada salah satu pelayan di sana. Nic memeluk pundak Kara, dan membawanya ke tepi pantai. Sepanjang langkah mereka Nic tak pernah melepas rengkuhannya meski Kara terus berusaha lepas. Ia ingin berjalan biasa saja tanpa harus bersentuhan. "Kara! Nic!" Kara dan Nic menoleh ke arah sumber suara. Mike melambaikan tangan. Kara dan Nic pun menghampiri mereka yang sepertinya sedang berkumpul di dalam satu meja. Nic masih saja memeluk pundak Kara. "Ada apa, nih?" "Sini dong, kita main game," kata Jack meletakkan sesuatu di atas meja. "Kartu?" Nic berekspresi datar. "Iya kartu. Kita semua harus ikut. Karena.... yang kalah dapat hukuman, menang juga dapat kejutan." Jessica menunjukkan dua botol berisi kertas. Di permukaan kedua botol itu tertulis 'Win' dan 'Lose' "Gimana, Kar?" tanya Nic pada Kara. "Kita ikut aja. Biar seru." Kara tersenyum. "Nah... gitu dong. Ayo duduk." Rhayen menambah dua kursi. Permainan pertama dimenangkan oleh Jessica, sementara Jack berada di urutan terakhir. "Jessica... aku akan ambil kejutannya." Tania mengambil botol 'Win' dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas, lalu menyerahkan pada Summer. "Kejutannya adalah... Kamu berhak meminta salah satu peserta pria menyuapi kamu. Termasuk menyuapi melalui mulut." Summer membacakan kejutan untuk Jessica. "What?" Jessica memegang kedua pipinya. "Silahkan, pilih...." Alexa menepuk pundak Jessica. "Rhayen... aku mau makan anggur. Suapin pakai mulut," kata Jessica. Mereka semua berseru, apalagi ketika Jessica memilih anggur berukuran kecil. Otomatis bibir mereka pasti bersentuhan. Rhayen sedikit ragu, tapi karena ini adalah suatu keharusan maka ia harus melakukannya. Ia mengulum anggur itu, menyuapkan pada Jessica. Bibir mereka bersentuhan yang kelamaan berubah menjadi suatu ciuman. Mereka berciuman meskipun entah siapa yang memulai duluan. Mereka semua bertepuk tangan. "Jack... ini hukumanmu." Alexa mengambil gulungan kertas dari botol bertuliskan 'lose',"Jack... coba jawab pertanyaan ini. Harus jujur. Dari kelima wanita ini, siapa yang paling kamu inginkan dan apa alasannya. "Harus jujur? Astaga... baiklah. Aku... suka Tania. Karena dia... begitu 'hot'. "Wow... kamu suka yang Hot ya, Jack." Nic terkekeh. "Tentu, Brother. Ayo kita lanjutkan." Permainan kartu dilanjutkan. Kali ini Nic memenangkan game dan Kara berada diurutan terakhir. Oke, Nic. Kamu memenangkan game ini. Kita ambil hadiah kamu." Summer mengambil gulungan kertas. Sebuah gulungan kertas keluar. Summer membuka dan segera membacakannya. "Membuat kissmark di d**a salah satu peserta wanita di depan semua peserta." Semua tertawa mendengar ucapan Summer. "Wow... Hadiah menyenangkan, Nic." Mike tertawa. "Yeah... sangat menyenangkan." Nic terkekeh. "So... siapa yang kamu pilih? Kami sangat siap." Alexa terkekeh. Nic menatap semua wanita di hadapannya."Kara... kemarilah." "Maksudnya? Kamu... pilih Kara?" tanya Jessica. Nic mengangguk."Iya... aku akan buat kissmark di dadanya. Di hadapan kalian." "Oh..., Men! Aku tutup mata saja." Jack menutup matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN