Kara menatap Nic tak percaya. Apa Nic akan benar-benar melakukan itu.
"Ayo... perlihatkan belahan dadamu saja. Jangan buka semua...." Nic sedikit menyibak kaos Kara.
"I... ini susah."
"Baiklah... kamu membelakangi mereka saja. Oke, guys... aku akan lakukan ini di depan kalian."
Kara membelakangi yang lainnya, kemudian Nic menaikkan kaos bagian depan dan memegang d**a Kara. Kara memejamkan matanya sekilas.
"Kamu siap?"
Kara terdiam. Ia tak yakin dengan semua ini. Nic menurunkan wajahnya ke d**a Kara. Nic menghisap d**a Kara dengan kuat, agar meninggalkan bekas. Ia memastikan bekas itu akan hilang dalam waktu yang cukup lama. Kara mengigit bibirnya, menahan gejolak yang langsung timbul.
"Sudah, Nic? Jangan terbawa suasana." Rhayen terkekeh.
Nic mengangkat kepalanya. Menatap hasil perbuatannya dengan puas. Lalu menurunkan kembali kaos Kara."Kita bisa lihat hasilnya besok. Besok... pakailah bikini yang memperlihatkan tandaku di sini."
"Wow... posesif!" Mike bertepuk tangan.
"Oke... sudahlah. Kita lanjutkan permainan," kata Tania.
Jantung Kara masih berdegup kencang, apalagi saat ini Nic menatapnya dengan mesra. Dan kadangkala tatapannya seolah ingin menerkam. Kara jadi malu sendiri dan tak lagi berani menatap Nic.
"Kara... giliran kamu." Jack mengambil sebuah botol berisi hukuman.
"Oh, My God!" Kara menepuk jidatnya.
"Ini menarik!" Kata Alexa.
"Ayo.. jalani hukumanmu, Kara. Kamu pasti bisa." Jessica memberi semangat.
Jack menyerahkan gulungan kertas pada Mike. Mike membuka kertas."Hukuman untuk Kara adalah... menari striptis di depan kami semua."
"What?" Kara tak percaya harus menjalankan hukuman memalukan seperti itu.
Jessica menyela, "Aku ada ide. Kara... awal menari kamu harus memakai pakaian lengkap. Terus... sambil nari pake musik, kamu buka tuh pakaian kamu satu persatu."
"Ide bagus," timpal Summer.
"Mati!" Kara berteriak dalam hati. Ia tak tahu menari stripstis itu bagaimana. Melihatnya saja belum pernah.
Summer dan Jessica bertukar pandang dengan tatapan yang penuh arti. Kara mengambil pakaiannya.
"Sudah? Aku akan menyalakan musiknya. Kara menarilah." Summer menyalakan musik dari ponselnya.
Kara terdiam beberapa saat.
"Ayo, Kara... menari apa saja. Yang penting hukuman bisa dilewati." Jack memberi semangat.
Volume musik semakin kencang, Kara mulai menari secara perlahan sembari membuka pakaiannya satu persatu. Para lelaki sampai meneguk saliva mereka sendiri. Mata mereka tak berkedip. Semuanya mematung. Hingga akhirnya tersisa dalaman di tubuh Kara. Musik terhenti.
"What?" Protes Rhayen pada Jessica yang menghentikan musik.
"Sudah cukup. Kita harus melanjutkan permainan ini. Benar, kan?" Jessica tersenyum.
"Hello, Guys... sepertinya kalian sedang asyik." Toni datang dengan pakaian celana renangnya.
"Iya... kami sedang bermain kartu. Sekaligus untuk mempererat pertemanan kami," jelas Jack.
Toni mengangguk."Oke... kalau begitu aku rasa permainan kalian sudah cukup. Boys... kita bermain Volly.
"Tapi... hanya ada empat orang pria di sini." Nic mengingatkan.
"Tidak masalah. Ayo! Girls... kalian akan dipandu oleh Bella dan Jane." Toni melangkah menuju lokasi dimana mereka akan bermain volley.
**
Ponsel Kara berbunyi saat menjelang malam.
"Kakak," kata Kara heran sambil mengangkat ponselnya.
"Haloo Kara...." ucapnya dari sana dengan nada suara yang riang.
"Iya,kak? Ada apa?"
Terdengar pekikan dari sana, terdengar sangat senang."Nic keren banget, ya. Terus tanda di d**a kamu itu... pasti sudah berbekas ya sekarang."
Secara spontan Kara melihat ke dadanya. Benar saja, sebuah tanda warna merah gelap akibat permainan tadi."Hmm.. kakak kok tahu?"
"Hei... kegiatan kalian, kan disiarkan di salah satu siaran tv lokal. Jadi, tahu dong." Dian terkekeh.
"Kakak serius?" Mata Kara terbelalak. Ia sungguh tak percaya kalau aktivitas mereka selama ini direkam. Tapi anehnya selama ini ia tak pernah melihat kamera.
"Iya. Tapi, santai aja... itu siaran tv khusus. Mama sama Papa enggak mungkin nonton kok," jelas Dian.
Kara bisa bernapas dengan lega."Aku ingin pulang, kak."
"Loh kenapa?"
Kara sedikit membuka jendela kamarnya dan melihat pemandangan di luar."Tidak apa-apa. Aku bosan di sini."
"Padahal di sana itu asyik banget. Kamu... menarik banyak perhatian orang loh. Sejak kamu dan Nic berpasangan, banyak yang daftar tuh. Pengen masuk." Ucapan Dian kali ini sepertinya menarik perhatian Kara.
"Kenapa kakak tahu?"
"Iya... kan Toni kasih tahu ke kakak. Jadi, kamu tuh jangan keluar dulu, ya... soalnya banyak yang pengen ketemu kamu nantinya. Tunggu aja laki-laki berikutnya yang datang." Dian terkekeh senang. Setelah ini jobnya pasti akan bertambah, sebab Kara sedang naik daun di kalangan mereka sendiri. Sebagai kakak, ia juga terciprat nama baiknya.
"Hmm... aku enggak punya temen cewek di sini. Kayaknya mereka pada enggak suka sama aku. Kemarin ada, sih, Anna. Tapi dia sudah keluar." Kara kembali menutup jendela kamarnya dan memilih berbaring di tempat tidur.
"Itu karena... kamu paling cantik, seksi... dan paling diinginkan pria-pria kece di sana. Oh...ya... Nic itu hot banget, ya, kan?" Dian menggoda Kara.
Bicara tentang Nic, Kara jadi teringat peristiwa siang tadi. Saat Nic menghisap dadanya dan meninggalkan tanda yang mungkin akan lama hilangnya. Kemudian saat akan pergi ke kamar beberapa waktu yang lewat, ia juga sempat berpapasan dengan Nic.
Pria itu tak segan-segan merapatkan tubuhnya hingga ia bisa merasakan hembusan napasnya. Bahkan Nic sempat menenggelamkan wajahnya di leher Kara, memeluk dan mengecup bibir Kara. Kemudian ia pergi sambil tersenyum.
"Kara... are you okay?" Panggil Dian karena sedari radi Kara tak menanggapi ucapannya.
"Hmm... kakak nanya apa tadi?"
"Nic. Kamu suka sama dia?"
"Aku enggak tahu, kak. So... soalnya semua pria di sini baik padaku," jawab kara dengan polosnya.
Dian tertawa."Ya memang seperti itu. Tapi kamu harus menetapkan pilihan kamu pada satu pria aja, Kara. Harus konsisten. Nikmati liburanmu dan jadilah pemenang."
Kara hanya bisa garuk-garuk kepala."iya... iya, Kak."
"Oke. Semoga sukses, ya. Dahhh...." Dian memutuskan sambungan telepon.
Kara memutuskan untuk mengganti pakaian yang dikenakannya selesai kegiatan tadi. Diambilnya sebuah lingerie bewarna merah maron. Baru saja ia selesai mengganti pakaian, pintu kamarnya diketuk. Dengan cepat ia meraih kamisolnya dan membuka pintu.
"Selamat malam, Nona." Seorang pelayan berseragam datang membawa meja dorong berisi makanan.
"Iya, selamat malam. Ada apa?"
"Saya mengantarkan makanan, Nona," katanya sambil menunduk.
"Tapi, saya tidak pesan makanan, Pak. Mungkin peserta yang lain," kata Kara.
"Ini pelayanan khusus dari acara ini, karena pihak kami tahu anda tidak sempat makan malam tadi," katanya lagi.
Kara mengangguk, tadi ia memang tidak sempat makan malam sebab menemani Jessica berbelanja. Entah kenapa Jessica mengajaknya berbelanja, padahal awalnya Jessica terlihat tak bersahabat.
"Ya, Pak. Silahkan masuk." Kara masuk ke kamarnya.
Pelayan hotel itu membawa makanan ke dalam, dan menutup pintu. Tanpa sepengetahuan Kara, ia mengunci pintu kamar Kara dari dalam dan mengantongi kuncinya. Kara menyadari pintu tertutup dan sudah tidak ada kunci di sana langsung mendorong pria itu.
"Hei! Apa ini?" Hardik kara.
Tubuh pria itu bergerak sedikit, justru Kara yang hampir terjatuh karena mendorong pria dengan badan yang sangat kuat.
Pelayan hotel itu membuka topinya, lalu tersenyum." Ini aku."