Bab 9

1010 Kata
Kara melotot tak percaya."Nic... kamu ngapain kayak gini." Nic terkekeh."Enggak apa-apa. Aku pengen aja anterin makanan buat kamu dengan menyamar. Kamu belum makan, kan? Ayo makan." Perut Kara keroncongan melihat makanan yang sangat menggiurkan di sana. Nic tampak melepas seragam pelayan itu. Di dalamnya ia tampak mengenakan kaos ketat yang membentuk tubuhnya bewarna abu-abu. Bawahannya seperti sebuah boxer.  Nic duduk sambil meletakkan makanan ke meja di depan sofa. Di sana terdapat makanan untuk dua porsi. Ia pun belum makan malam sebab tadi, waktunya habis bersama Tania dan alexa. Secara bergantian hingga ia tak diberi waktu untuk mengambil makanan. "Sini duduk," perintah Nic. Kara duduk di sebelah Nic, secara alami tangannya bergerak mengambil makanan dan memakannya. Ia sangat lapar. Bahkan tak ada percakapan apapun selama mereka makan. Tampaknya keduanya sama-sama kelaparan. Hingga akhirnya mereka sampai di menu dessert. "Kamu kelaparan banget. Tadi ngapain aja?" Tanya Nic sambil menikmati dessertnya. "Belanja sama Jessica. Lumayan lama milihnya," jawab Kara. Nic mengangguk-angguk."Lain kali... ingetin Jessica bahwa kamu itu manusia. Butuh makan, bukan shopping aja." Kara tertawa."Oke... lalu kamu sendiri juga,kan belum makan. Kenapa? Padahal kamu di bungalow terus." Nic menggeleng geli."Enggak tahu... selera makan hilang aja. Bolak -balik nemenin mereka. Belanja juga, berenang... ya gitulah. Ganti-gantian." "Seru dong, banyak yang ngerebutin." Kara menghabiskan dessertnya, kemudian bersandar di sofa kekenyangan. "Enggak juga, sih." Nic menata piring-piring yang sudah kosong itu kembali ke meja dorong, lalu meletakkannya di area pinggir kamar ini. "Aku pikir... kamu mau keluar." Nic menggeleng."Aku sudah enggak bisa keluar, Honey. Soalnya penjaga sudah berkeliaran. Kalau aku keluar, bakal ketahuan dan di diskualifikasi." " Nah loh... terus kamu gimana? Tidur dimana?" tanya Kara spontan. Nic terkekeh."Aku tidur di sini." "What?" "Enggak usah kaget gitu, deh. Enggak apa-apa, kan... cuma satu malam. Kan, yang penting sekarang kamu kenyang." Nic mengusap perut Kara. Tanpa sengaja ikatan kamisol Kara tersangkut di jarinya hingga saat ditarik justru menjadi terbuka. Membuat lingerie di dalamnya terlihat. Apalagi lingerie itu sangat pendek, beberapa senti saja di bawah b****g Kara. Paha mulusnya kelihatan. Kara menutupkan kamisolnya perlahan. Tapi, tangan Nic menahannya. Kara menoleh ke arah Nic dengan kaget. Tapi, ternyata Nic juga tengah menatapnya. Kara beringsut mundur, ia masih ingat apa saja yang terjadi saat ia berduaan dengan Nic. Nic merapatkan tubuh Kara ke badan Sofa hingga Kara tak bisa bergerak lagi. Nic melepaskan kamisol dari tubuh Kara, hingga tersisa lingerie di tubuh Kara. Kara menelan ludahnya. Wajah Nic semakin dekat, bibir mereka bersentuhan, aroma tubuh Nic sungguh membuat Kara terhipnotis. Aroma yang membuatnya menginginkan lebih dekat lagi dengan Nic. Kini bibir mereka saling bertahut. Tangan Nic mengusap paha Kara, lalu menelusup ke dalam lingerienya mencari sesuatu yang diinginkannya. Sebuah daging kenyal yang sudah ia beri tanda kepemilikan. Keduanya sudah terhanyut dalam suasana. Desahan-desahan kecil keluar dari mulut Kara saat Nic menyentuh setiap inchi tubuhnya. Kini mereka berdua seperti telah sama -sama siap dengan apapun yang akan terjadi selanjutnya. "Kara... kamu harus tahu satu hal bahwa aku... menyukaimu," bisik Nic di tengah-tengah desakan dalam dirinya untuk segera ada di dalam diri Kara. Kara hanya bisa mendesah tak karuan karena Nic masih terus menyentuh titik-titik sensitifnya. Lalu, di luar terdengar rintik-rintik hujan yang kelamaan menjadi deras. Suasana yang benar-benar sangat mendukung.Nic tengah menatap Kara yang sudah lemas tak berdaya. Meski keinginannya sudah berada di puncak, Nic melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Kara. Napas keduanya terengah-engah. "Nic, apa yang kamu lakukan? Apa yang terjadi denganku?" Nic menggeleng."Tidak apa-apa, Kara. Maaf. Mari aku bantu menghilangkannya." Nic menarik Kara ke kamar mandi. Di sana, ia menyiram kaki mereka dengan air dingin. Perlahan rasa keinginan itu berkurang dan kelamaan menghilang. "Hufh... hampir saja." Nic mendesah lega. Kara  menatap Nic dengan intens. Nic menyadari tatapan Kara dengan heran. "Kenapa menatapku seperti itu?" "Aku... seperti mengenalmu. Apa... kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Kara. "Mungkin." Nic bergegas keluar dari kamar mandi dan segera naik ke tempat tidur. Kara mengikutinya dengan sejuta pertanyaan. Mendadak ia seperti pernah melihat Nic. Tapi ia lupa dimana dan kapan ia pernah melihat Nic. "Aku serius, Nic." Nic menatap Kara."Ya. Kita pernah bertemu beberapa kali. Tapi, aku tidak akan memberitahumu kapan dan dimana." "Kenapa?" Nic mengangkat kedua bahunya."Entahlah, seharusnya kamu mengingatku tanpa harus aku ingatkan." Kara terdiam, tak paham apa yang dimaksudkan oleh Nic. "Sudah malam. Ayo tidur." Nic menarik tubuh Kara agar posisinya terbaring di tempat tidur. Kara mengikutinya dengan kaku."Ba... baiklah." Nic meletakkan kepala Kara di lengannya. Kemudian ia terpejam dan kelamaan terlelap.   ** Pagi harinya Kara terbangun. Tapi, Nic sudah tidak ada di sampingnya. Sepertinya ia sudah pergi sebelum dirinya terbangun. Kara membuka jendela kamar, kemudian menghirup udara segar dalam-dalam. Rasanya hari ini ia tak ingin melakukan aktivitas apapun. Ia ingin di kamar seharian. Terdengar suara pintu kamar diketuk.  Kara memakai kamisolnya dengan cepat lalu membuka pintu. Ternyata seorang pelayan yang tengah berdiri membawa sebuah kotak besar bewarna ungu dengan hiasan pita di atasnya. "Selamat pagi, Nona Kara." "Selamat pagi," jawab Kara heran. "Saya datang ke sini ingin mengantarkan undangan pada anda." Pelayan itu menyerahkan sebuah undangan bewarna silver dan juga menyerahkan kotak tersebut. "Apa ini?" Tanya Kara dengan menunjuk kotak tersebut. "Ini... gaun yang harus anda pakai malam nanti, jika anda setuju untuk menghadiri undangan tersebut. Kalau anda ingin menghadirinya, anda bisa melapor pada kami di resepsionist. Terima kasih." Pelayan tersebut menjelaskan dengan detail lalu membungkukkan badannya sebelum pergi. Kara menutup pintu kamar dengan segera. Meletakkan kotak tersebut di atas tempat tidur dan membaca undangan. "Undangan Perjodohan." Kara mengerutkan dahinya,"apa maksudnya." Masih dengan rasa bingung, Kara meraih kotak ungu dan melihat isinya. Sebuah gaun yang sangat indah dan tentunya terlihat mahal. "Aku tanya saja sama Toni, atau... Bella." Kara mengabaikan rasa penasarannya sementara sebab ia harus mandi dan beraktivitas di love island ini tentunya. Kara menuju dimana biasanya mereka sarapan pagi. Tapi, tidak ada apapun dan siapapun. Diliriknya jam dinding yang ada di sana. Ia rasa, ia tak salah jam ataupun salah ruangan. "Hai, Kara? Kau butuh sesuatu? Kelihatannya lagi kebingungan?" tanya Jane yang kebetulan lewat. "Apa aku melewatkan sarapanku?" tanya Kara. Jane tersenyum."Tidak. Hmm... mungkin pelayan lupa memberi tahumu, khusus untuk hari ini sarapan ada di balkon pinggir pantai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN