Bab 10

1019 Kata
Kara terbelalak tak percaya, cukup jauh jika berjalan kaki ke sana sendirian. "Tidak masalah, Kara... jangan terburu-buru. Sarapan belum dimulai. Dan kamu melewatkan satu hal juga. Bisakah kamu mengganti pakaianmu dengan yang lebih seksi?" Jane memerhatikan penampilan Kara yang terkesan biasa saja. Tema hari ini memang casual, tapi tetap harus terkesan 'hot". "What?" Kara melotot tak percaya. "Hari ini kita kedatangan tamu, so... aku mohon gantilah." Nadine tersenyum penuh arti. "Tapi, aku...." "Aku menunggumu di sini. Lima menit." Nadine duduk di sofa yang ada di sana. Tanpa bicara apa-apa lagi Kara kembali ke kamar, mencari pakaian seksi. Setelah yakin dengan penampilan Jane, ia segera menemui Jane. "Jane... ayo. Aku sudah lapar," kata Kara. Jane tersenyum puas dengan penampilan Kara."Oke." Jane dan Kara berjalan bersamaan menuju balkon di tepi pantai. Tak seperti biasanya, kali ini terlihat sangat ramai. "Apa mereka tamu penting?" Tanya Kara. "Bisa jadi."  Nadine kembali tersenyum. Penuh misteri. Dari kejauhan beberapa pria menyadari Kara yang tengah berjalan ke arah balkon. Semua mata lelaki memandangnya membuat Nic menjadi geram. "Kenapa kau memakai pakaian seperti itu di depan umum, Kara," umpat Nic. Bagaimana ia tidak kesal, lelaki manapun yang melihatnya pasti langsung mengeras. Rasanya ingin sekali memasuki gadis itu dalam-dalam. Hari ini adalah hari yang tidak begitu menyenangkan bagi Nic khususnya. Tamu yang datang ke sini adalah pria-pria yang menginginkan semua wanita di love island. Berita buruknya adalah, wanita dengan angka tertinggi sebagai wanita paling diminati adalah Kara. Tentunya yang mengetahui angka tersebut hanyalah para pria, agar mereka tahu seberapa besar pesaing mereka. Kabar buruk di pagi tadi. Yang menarik dari Kara adalah tubuhnya yang padat berisi, size dadanya besar, wajahnya yang menggairahkan meski sedang terdiam. Nic kembali mengatur strategi agar Kara tak jatuh ke tangan lelaki manapun. "Hai, Kara," sapa seorang pria yang entah itu siapa. Mereka seperti orang-orang biasa yang kebetulan mendapatkan keajaiban bisa masuk ke pulau ini. Nic sendiri merasa kesal dengan program dadakan seperti ini. Bagaimana bisa tiba-tiba berubah. Tangan Nic mengepal keras saat ia melihat ada beberapa pria mengerumuninya. "Nic? Are you okay?" tanya Jesica. Nic menoleh pelan."Ya. Aku baik-baik saja." "Apa kamu ikut acara malam ini?"  Tanya Jessica lagi. Nic mengernyit."acara apa?" Jessica menyodorkan undangan yang sama persis seperti yang didapatkan oleh Kara. "Undangan perjodohan? Perjodohan apa?" Nic melotot. "Dengan tamu spesial hari ini. Mereka-mereka itu. Sepertinya kami... semua wanita mendapatkannya. Tidak sangka, acara ini membuat kami terkenal dan diinginkan para lelaki." Jessica terkekeh. "Sial! Siapa yang rencanain ini. Kenapa aku enggak dapat undangannya." Nic mengembalikan undangan tersebut pada Jessica. Nic menghampiri Kara."Aku mau bicara." "Hei, apa anda tidak punya sopan santun? Kami sedang bicara." Pria berambut keriting itu menahan Nic dengan tangannya. Nic tak memedulikan orang tersebut.Ia hanya menatap Kara dengan tajam. Kara menunduk, lalu beralih pada pria berambut keriting itu. "Aku... pergi sebentar. Nanti aku kembali." Kara berjalan keluar dari kerumunan dan berjalan menuji sudut yang agak sepi. Nic mengikutinya dari belakang. "Ada apa, Nic?" "Apa kau mendapat undangan perjodohan malam ini?" Tanya Nic dingin. "Iya. Aku mendapatkannya pagi tadi. Lengkap dengan sebuah gaun. Ada apa, Nic?" "Jangan datang!" Ucap Nic tegas. "Kenapa?" "Karena kau milikku," desis Nic. Kara terlihat sangat kaget dengan ucapan Nic. Ia adalah milik Nic, apa maksudnya. "Nic ... acara ini belum final, jadi aku rasa aku belum tahu harus memilih siapa," jelas Kara. "Aku akan memilihmu. Bukan kau yang akan memilihku." Nic terlihat sangat marah. Matanya memerah. Kara menutup mulutnya karena shock."Nic, kamu kenapa?" "Jangan berani-berani datang ke acara malam ini. Kalau tidak... aku akan menghancurkan usaha keluargamu," ancam Nic. "Apa yang kamu bicarakan, Nic? Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu harus membawa-bawa nama keluargaku." Kara terlihat emosi. Tapi, ia masih bisa menekan volume suaranya agar tak terdengar oleh yang lainnya. "Kalau kamu ingin tahu... datang ke kamarku malam ini. Dan ingat, jangan coba-coba datang ke acara malam ini. Aku tidak main-main. Setelah bicara seperti itu, Nic pergi dengan santai seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan ia bergabung dengan yang lainnya kemudian tertawa. Sepertinya ia langsung bisa melupakan semuanya. Mata Nic masih terus mengawasi pergerakan Kara. Kara merasa tatapan Nic seolah ingin membunuhnya. "Apa mungkin Nic itu orang jahat? Tadi... dia mengancamku." Kara terlihat resah. Rasanya ia ingin berteriak minta tolong. Atau mungkin salah satu orang di sini bisa menolongnya. Langit sudah gelap, tanda malam mulai menjelang. Jantung Kara berdegup kencang, ia harus menemui Nic malam ini. Kara pergi ke resepsionist untuk mengatakan bahwa ia tidak bisa menghadiri undangan yang diberikan padanya. Tak lupa pula ia mengembalikan gaun tersebut. Kara melirik jam dinding, sepertinya semua orang tengah bersiap untuk pergi ke acara tersebut. Kara kembali ke kamarnya. Ponsel Kara berbunyi. Aku tunggu di kamarku pukul 9. Jangan sampai orang lain tahu. Kara tersentak, itu pasti Nic. Ia membalas pesan dari Nic. Aku tidak tahu dimana kamarmu! Seseorang akan menjemputmu nanti. Kara memutar bola matanya setelah membaca balasan dari Nic. Bagaimana bisa lelaki itu memiliki kontaknya. Mungkin saat Nic menyelinap ke kamar, diam-diam mengambil kontak Kara. Dalam hati Kara menyesal mengapa harus menjadi wanita yang terperangkap dalam masalah ini. Kenapa tidak Tania, Alexa atau bahkan Summer yang memiliki paras paling cantik di antara mereka.  Kara mondar-mandir di dalam kamar. Cemas memikirkan apa yang akan terjadi. Mungkinkah Nic mencoba menyakitinya atau Nic akan mengancamnya lagi. Kara bersiap-siap, mandi dan berpakaian. Kali ini, Kara mencoba untuk berpakaian lebih tertutup. Tapi, sayangnya pakaian paking tertutupnya tetap saja itu adalah pakaian yang seksi. Kara mengembuskan napas berat. Berharap semuanya baik-baik saja. Pintu kamarnya diketuk, jantung Kara berdegup lebih kencang lagi. Siapakah yang mengetuk pintu kamarnya. Kara membuka perlahan, ternyata pelayan. "Saya ingin menjemput nona atas perintah Tuan Nic," katanya. Kara menoleh ke sana ke mari."Apa semuanya aman?" Ia mengangguk."Semua sudah pergi ke pesta, Nona. Ikuti saya." Dengan cepat Kara mengikutinya, masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap dan penuh debu, Pelayan tersebut menggunakan senter hingga tiba di sebuah pintu besar. Ia memerintahkan Kara masuk. Ternyata itu seperti sebuah lift yang sudah tidak digunakan lagi. Tapi, masih berfungsi dengan baik.  Mereka tiba di lantai 2 yang mana saat pintu lift terbuka, kembali. ruangan gelap. Kemudian, mereka keluar dari ruangan tersebut dan akhirnya menemukan lorong-lorong yang memiliki beberapa kamar. Persis seperti lorong kamar Kara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN