Bab 11

1029 Kata
 Kamar Nic terletak di sebelah kiri ruangan gelap tadi. Kamar Nic tidak menyatu/ menempel dengan kamar lainnya. Kamar Nic menyendiri di sudut dengan balkon yang lumayan lebar.Pelayan tersebut mengetuk pintu kamar Nic. Pintu terbuka, Nic menarik Kara dengan cepat agar masuk ke dalam. Kara terlempar ke dalam, hampir terjungkal. Untungnya ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Nic dan pelayan itu berbincang sebentar. Kara melonjak kaget saat terdengar Nic mengunci pintu kamar dan merapatkan tirai."Welcome, Honey." Kara menyipitkan matanya."Honey?" Nic menghampiri Kara dan mengelilingi tubuhnya. Ia berhenti saat berada di belakang Kara, lalu melingkarkan kedua tangannya di perut Kara."Kamu, selalu terlihat menggiurkan, Kara." Dikecupnya leher Kara dari belakang. "Sebenarnya apa tujuanmu memanggilku ke sini, Nic?" Tanya Kara mengabaikan rasa sengatan yang menggelenyar di tubuh saat Nic mengecup lehernya. Nic tersenyum."Jangan terburu-buru, sayang. Kemarilah." Nic menarik Kara agar duduk di sofa lebih tepatnya duduk di pangkuan Nic,dengan paksaan. "Aku lebih suka to the point, Nic!"  Kara menyingkir dari pangkuan Nic dan duduk di sudut sofa. Nic bersikap santai meskipun Kara menolak perlakuannya."Sikapmu ini tidak baik, Kara. Tapi, baiklah... aku akan membuatmu mengerti. Aku menyukaimu, aku menginginkanmu." Kara menatap Nic dengan sinis." Tapi, aku belum menentukan siapa yang aku pilih. Masih ada empat lelaki lagi di luar sana yang memungkinkan aku bersama dengan salah satu di antara mereka." "Kamu tidak akan melakukan itu, sayang." Nic terkekeh. "Kenapa tidak?" "Jika kamu tidak memilihku, aku akan menarik sahamku di perusahaan Papamu. Kamu tahu, kan, apa akibatnya jika aku lakukan itu?" Nic tersenyum penuh kemenangan. Kara menatap Nic tak percaya. Jadi, Nic memiliki saham besar di perusahaan Papanya. Kara jadi ingat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, saat Papanya mengalami masalah di kantor. Perusahaannya hampir bangkrut. Susah tidak ada harapan. Mereka hidup susah, Mama Kara masuk rumah sakit dan hampir gila dengan keadaan tersebut. Dian sempat berhenti kuliah. Papa Kara berusaha keras mengembalikan keadaan. Yang Kara tahu, beberapa minggu kemudian perusahaan milik Papanya kembali normal. Hidup mereka kembali ke sedia kala. Tapi, ternyata Nic adalah orang di balik semua itu. Nic yang membantu keluarganya. Tapi, ia tidak mengenal Nic. Kenapa pria itu bersikap seperti ini padanya. Kara terdiam."Ya. Aku tahu. Lalu, apa maumu sekarang?" Nic tersenyum puas karena kerasnya hati kara mulai melunak."Aku menginginkanmu." Nic merapatkan tubuhnya pada Kara. Kara bisa merasakan embusan napas Nic, beraroma mint. Mungkin Nic baru saja selesai mandi tadi. Tangan Nic menelusuri setiap inchi tubuh Kara. Menjangkau bagian terdalam, hingga terdengar suara desahan dari mulut Kara. Kara meneguk salivanya."Apa kau akan melakukan 'itu' padaku?" "Iya. Tentu saja. Aku ingin memakan seluruh tubuhmu yang selalu membuatku mengeras setiap waktu. Aku tak akan membiarkanmu pergi dari pelukanmu." Ucapan Nic membuat seluruh tubuh Kara merinding. Itu artinya Nic akan menyentuhnya malam ini. "Hei,tenanglah,sayang. Aku tidak akan melakukannya itu di pulau ini." Nic menyadarkan lamunan Kara. "Maksudnya?" "Di malam pemilihan nanti,aku akan memilihmu. Setelah itu aku meminta mundur dari acara ini dengan alasan kita sudah saling cocok. Aku ingin kamu mengatakan ha yang sama. Hingga kita bisa mundur dari acara ini dan melanjutkan apa yang belum selesai dari kita berdua di luar," kata Nic dengan nada memaksa. "Tapi, kenapa harus keluar, Nic. Di sini,kita juga masih bisa bertemu dan terus bersama." Kara mencari alasan lain. Nic mendekatkan wajahnya ke wajah Kara."Itu benar! Tapi, aku tidak suka melihatmu berciuman atau pun disentuh pria lain. Bahkan aku tidak suka kamu berpenampilan seksi di hadapan mereka. Oleh karena itu kita harus keluar." Kara terdiam, berusaha mencerna kata-kata Nic yang begitu memaksa seolah-olah diri ini adalah milik Nic. Masih asyik dengan lamunannya, Nic mengangkat tubuh Kara ke atas tempat tidur. Kemudian, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Suasana remang-remang membuat suasana semakin mendukung. "N...Nic." Nic menurunkan dress yang dipakai oleh Kara,sampai sebatas d**a. Mata Kara terpejam, ada rasa takut yang menghampiri. Tapi, ada rasa nikmat yang memang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini membuat tubuhnya seakan melayang. Nic mengangkat wajahnya, napasnya tersengal-sengal. Ditatapnya wajah gadis yang ada di bawah tubuh kekarnya itu. Wajah Kara bersemu merah. Sempat merasakan kenikmatan sebelum menolak perlakuan Nic membuatnya kini lemas dan pasrah. Ingin merasakan lebih. Nic memegang dagu Kara dengan jari telunjuk dan jempolnya. Bibir mereka bersentuhan, terasa hangat dan lembut. Mereka saling memagut. Ciuman Nic membuat Kara melupakan segalanya, kini ia justru semakin merapatkan tubuh mereka. Jemari Kara menelusup di rambut Nic, menjambaknya pelan hingga menimbulkan sensasi yang luar niasa bagi Nic. Membuatnya semakin b*******h. "Kamu masih virgin?" Kara mengangguk lemah."Itu barusan sakit sekali. Jangan teruskan." Nic turun dari atas tubuh Kara, mengecup keningnya."Tapi, aku belum selesai, sayang." Kara menatap ke bawah. "Bantu aku." Nic menarik Kara ke kamar mandi." Lakukan seperti ini berulang-ulang." "Pakai ini." Nic menuangkan lotion ke telapak tangan Kara. Kara mulai paham lalu melakukan sesuai perintah Nic. "Kamu milikku,Kara. Malam ini kamu aman, tapi tidak untuk seterusnya," bisik Nic dengan nada suara menggoda.   **   "Dimana wanita sialan itu!" Summer berkacak pinggang. "Sepertinya... dia tidak datang, Summer," kata Tania. "Sialan! Aku sudah merencanakan semua ini dengan baik. Seharusnya ia tengah bersama pria-pria baru itu. Kemana dia sekarang." d**a summer naik turun karena emosi yang meledak-ledak. "Sepertinya ada yang menggagalkan rencanamu, Summer. Sudahlah jalani saja semua ini apa adanya." Tania terkekeh lalu meninggalkan Summer yang masih kesal. Summer menenggak tequilla dalam genggamannya sampai habis. Lalu membiarkan dirinya, semenyara larut dalam kekesalan. Pukul dua dini hari, Nic mengantarkan Kara ke kamarnya. Nic ikut masuk ke dalam kamar. "Jadi, kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan besok?" Tanya Nic. Kara mengangguk."Apa jaminannya kalau kamu tidak akan melakukan hal-hal yang tidak baik pada keluargaku?" Nic tersenyum."Kamu bisa hubungin Papa kamu. Termasuk juga kakak kamu yang karirnya sedang berada di puncak. Semuanya akan baik-baik saja, jika kamu mau menuruti keinginanku." "Kakakku? Kamu mengenalnya?" Kara menutup kedua mulutnya. Nic menggeleng-gelengkan kepalanya."Kamu terlalu polos dan cuek. Besok kita tidak ada kegiatan sama sekali karena semuanya lelah setelah berpesta. Malam nanti adalah malam pemilihan. Kamu harus memilihku." Kara mengangguk-angguk. "Aku harus kembali ke kamar." Nic memeluk Kara dan melumat bibir Kara sekilas. "Selamat tidur, my Sugar," bisiknya mesra. Kara memutar bola matanya saat Nic mengerlingkan mata sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangannya. Meskipun sebenarnya Nic terlihat sangat seksi saat melakukan hal itu. Rasa kantuk yang menyerang, akhirnya memaksa Kara langsung tidur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.         
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN