Bab 12

1040 Kata
Kara terbangun saat ponselnya berbunyi. Kara mengerjapkan matanya berkali-kali karena sinar matahari memasuki jendela kamar. "Jendela? Terbuka?" Kara mematung tak percaya. Ponselnya yang terus berbunyi membuat Kara mengabaikan kebingungannya sejenak. "Halo?" "Hei, Girl, lama banget ngangkatnya?"suara Dian terdengar ceria sekali dari seberang sana. "Oh, kakak... iya aku kesiangan." Kara mengucek matanya sambil menguap. "What? Itu tidak baik, adikku. Oh ya, aku sangat merindukanmu," ucap Dian membuat Kara tertawa geli. "Rindu? Serius?" tanya Kara dengan nada mengejek. "Ya! Tentu saja. Hari ini aku dapat kenaikan gaji dua kali lipat. Aku heran, karena aku merasa tidak melakukan sesuatu yang terlalu berpengaruh pada perusahaan travel ini. Tapi, ya... aku bersyukur. Aku ingin merayakannya bersamamu." Dian terdengar antusias sekali. Kara terdiam. ini semua ada hubungannya dengan Nic, atau hanya kebetulan saja. Bisa saja Nic berbohong, kan. "Kalau begitu tunggu aku kembali, kakak. Aku ingin merasakan traktiranmu." "Oke. Oh, ya, apa kamu sudah menemukan pujaan hatimu?" Selidik Dian. Kara mengembuskan napas berat. Ia harus mengatakan apa pada Dian. Masa iya harus menceritakan tentang Nic pada Dian."Mungkin. Malam ini kami akan menentukan." "Semoga berhasil. Oh,ya, sudah dulu. Aku harus kerja. Bye." Dian menutup teleponnya dengan sedikit kecupan hangat. Kara hanya bisa tersenyum kecut. Ditatapnya layar ponselnya saat Dian memutuskan sambungan. Ada sebuah pesan masuk. Aku ke kamarmu tapi kamu masih tidur. Lain kali jangan lupa mengunci pintumu. Aku meletakkan gaun di atas meja. Pakai untuk acara pemilihan malam ini. Jangan lupa perjanjian kita. I love u, My Sugar. Kara menepuk jidatnya dengan rasa heran sekaligus kaget dengan sikap Nic yang suka mengatur dirinya. Berhubung hari ini kegiatan ditiadakan, Kara memutuskan untuk memesan agar makanannya dibawa ke kamar. Ia tak ingin bertemu siapapun yang mungkin saja akan bertanya ini itu. Apalagi ia tidak jadir semalam. Kini, ia hanya bisa menunggu malam sambil menyiapkan mental kembali bertemu dengan monster pemaksa. Kara mematut dirinya di depan cermin untuk terakhir kali sebelum ia keluar dari kamar. Gaun yang diberikan Nic kali ini cukup membuatnya heran. Sebab Nic memberikan gaun yang panjang dan tertutup, tidak seperti gaun yang pernah ia berikan sebelumnya. Bahkan, Nic melarang Kara memakai gaun yang sebelumnya ia beri dengan alasan terlalu seksi. Setelah yakin penampilannya sudah rapi,Kara keluar dari kamar menuju tempat pemilihan pasangan. "Hai, Kara? Apa Kabar?" Summer menghadang kara di pintu masuk gedung. "Hai, Summer. Kabar baik," jawab Kara santai dan tak ingin berbasa-basi. Saat ini ia susah menentukan posisi perasaannya karena terus terpikirkan oleh ancaman Nic. "Kemarin kamu tidak hadir, apa kamu tidak diundang?" Tanya Jessica. "Aku sedang tidak enak badan, jes. Tapi, aku sudah mengembalikan gaun dan undangannya ke resepsionist." "Hei... hei... kenapa kalian berkumpul di sini. Menghalangi jalan." Nic, Rhayen dan Mike berjalan beriringan. Kara tak menjawab apa-apa, ia berlalu begitu saja sebelum Summer dan yang lain melontarkan pertanyaan yang akan sulit ia jawab. Nic terus menatap Kara sampai ia benar-benar masuk. "Hai, Nic. Kemana semalam?" tanya Jessica. "Ada pekerjaan yang harus aku urus. Itu sangat penting,jadi aku tidak bisa hadir," jawab Nic dengan santai. Summer mengangguk-angguk."Iya, tentu sebagai direktur, kamu banyak kesibukan." "Direktur?" Tania mengerutkan dahinya. "Sudah saatnya masuk." Nic berjalan diikuti Rhayen dan Mike. "Nic beneran direktur?" Selidik Tania. Summer terkekeh."Kamu baru mengetahuinya?" "Sepertinya acara sudah dimulai. Ayo kita ke sana." Jessice memberi kode agar masuk ke dalam. Semua peserta sudah berkumpul, termasuk Toni dan Bela. "Helo, Guys... selamat datang di acara penentuan pasangan." Bela memulai pembicaraan. "Langsung saja, silahkan menentukan pilihan pasangan dimulai dari Nic," sambung Toni. Nic maju dua selangkah, merapikan kemejanya sedikit lalu berkata,"terima kasih, Toni, Bela. Saya memilih Kara sebagai pasangan date saya kali ini." "What the hell!" umpat Alexa. "Dia memilih wanita sialan itu?" Bisik Jessica pada Summer. "Dia pasti bercanda." Summer terlihat tak senang. "So, Kara... apa kamu menerima Nic sebagai pasangan date kamu?" Tanya Bela. Kara terdiam, tapi, di saat itu juga Nic menatapnya dengan tajam seolah mengingatkan semuanya. Kara menunduk sejenak, lalu berkata,"iya, saya menerima Nic." "Selamat, Nic," kata Toni. "Hmm... selain itu juga kami ingin menyatakan bahwa kami mundur dari acara ini."Ucapan Nic tersebut membuat semua terkejut. "Hei, kenapa?" tanya Mike pada Nic. "Seperti Anna dan alex, kami sudah yakin dengan perasaan kami masing-masing. Kami menemukan kecocokan," jelas Nic dengan santainya "Ini tidak lucu!" Geram Summer. "Kara, apakah itu benar?" tanya Toni memastikan. Kara mengangguk cepat agar prosesnya segera selesai."iya. Apa yang dikatakan Nic adalah benar. Kami merasa sudah menemukan kecocokan dan ingin melanjutkan hubungan kami secara real di luar dari love island." Bela dan Toni mengangguk-angguk mengerti. "Kami sangat menghargai keputusan kalian. Selamat atas hubungan kalian." Toni dan Bela memberi selamat. Nic menggenggam tangan Kara, lalu membawanya keluar dari aula. Nic berjalan dengan cepat menuju tepi pantai, di sana sudah ada sebuah kapal menunggu. "Nic, kita mau kemana?" Tanya Kara bingung. "Pergi dari pulau ini. Sekarang juga," jawab Nic terus berjalan. Tangannya masih menggenggam tangan Kara. "Tapi barang-barangku masih di kamar, Nic," kata Kara lagi. "Orang-orangku sedang merapikan barangmu dan akan segera mengirimkannya padamu," jawab Nic lagi. Mereka tiba di depan kapal. Kara terlihat panik. "Kita mau kemana?" Nic sedikit menundukkan badannya dan berkata," ke tempat dimana tak akan ada yang mengganggu kita berdua. Mata kara terbelalak."Ta... tapi, aku tak membawa pakaian apapun." Nic kembali menggenggam tangan kara dan berjalan perlahan. "Nic," panggil Kara kesal karena pria itu tak menjawabnya. Langkah Nic terhenti. Mata tajamnya menatap Kara."Kamu tidak akan membutuhkan pakaian saat bersamaku. Percayalah." Saat itu juga seluruh bulu kuduk Kara terasa berdiri. Kapal telah membawa Nic dan Kara pergi dari Love island. "Ayo masuk!" kata Nic. Kara mengikuti Nic, lalu duduk di sofa yang ada di dalam. Nic duduk di sebelahnya. "Bagaimana perasaanmu?" "takut," kata Kara. Nic membelai wajah Kara dengan lembut."Jangan takut, Kara. Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya. Aku menginginkanmu." Kara menyingkirkan tangan Nic dari wajahnya dengan pelan."whatever, Nic. Aku masih bingung dengan semua ini. kenapa kamu begitu memaksaku,Nic. Apakah keluargaku memiliki masalah denganmu?" Nic menggeleng."Tidak, sayangku. Bukan keluargamu. Tapi,kamu yang mencari masalah denganku." Mereka bertatapan, wajah Nic terlihat begitu menyejukkan sekaligus membuat kepanasan. Kara mengabaikan isi pikirannya "Hah? benarkah? apa yang aku lakukan padamu?" Nic melepaskan jasnya, lalu sambil menggulung lengan kemejanya ia berkata,"Kamu membuatku menegang sepanjang malam, membuatku tersiksa. Kamu tidak pernah pergi dari pikiranku." Kara Terkekeh."Aku tidak butuh puisi, Nic. aku butuh jawaban." "Itulah jawabannya." Nic mengerlingkan matanya. Dan sekali lagi! Itu membuatnya terlihat 'menggiurkan'.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN