Bab 13

1037 Kata
Kara menepuk kepalanya berkali-kali dengan pelan agar otaknya tak berpikir kemana-mana. Pikirannya mulai kotor. Itu sama sekali bukanlah dirinya."No! itu gombal lelaki." "oke ... tidak percaya... tidak masalah. Aku sudah jujur." Nic mengangkat kedua bahunya. "So... kalau semua ini salahku, kenapa kamu membawa-bawa keluargaku? itu sangat tidak gentelman. Itu seperti sebuah ancaman." "Hmm itu bukan sebuah ancaman, My Sugar. Aku akan membuat semuanya semakin membaik. Sudah terbukti dengan kenaikan gaji Diandra. Aku benar, bukan?" Nic menatap Kara dengan lembut. Hati Kara berteriak dan justru mengakui kalau Nic itu adalah-lelaki-yang-sangat-seksi. Satu hal yang harus Kara ingat kembali adalah Nic hanya menginginkan tubuhnya. "Dasar lelaki!"umpatnya dalam hati. Kara menatap Nic dengan curiga. Siapa Nic sebenarnya, ia tahu tentang keluarganya dan seolah-olah sudah lama mengenal dirinya. Kara merasa lelah berdebat dengan Nic, lelaki itu tetap saja akan punya seribu jawaban dan kata-kata mesumnya itu. Kini Nic justru meletakkan kepalanya di pangkuan kara dengan santai. "Mau apa lagi ini orang," keluh Kara. "Sebentar lagi, hanya ada aku dan kamu, Sugar. Kamu bersedia?" "Aku bilang tidak ... juga tidak berpengaruh, bukan? Bisakah aku menolak?" Nic tersenyum."Tidak. Kamu harus bersamaku malam ini. Tidak ada penolakan. Kamu tahu akibatnya bukan?" Kara memutar bola matanya."lalu kenapa bertanya padaku lagi?" Nic kembali ke posisi semula."Agar kamu mempersiapkan dirimu." "Aku tidak melakukan s*x sebelum menikah." Nic menoleh."Ya ... itu prinspmu sejak dulu. Aku tahu. Tapi, kali ini kau pasti berubah pikiran." "jangan sok tahu. Aku enggak akan melakukannya apalagi dengan 'pria random'." Kara melipat kedua tangannya di d**a. "Bukankah kamu bisa mencari wanita lain yang lebih cantik dan tentunya dengan suka rela mau bersamamu, Nic?" "Aku bisa meminta wanita manapun untuk tidur denganku, sayang. Bahkan ... mereka sendiri yang akan datang padaku untuk menawarkan tubuh mereka. Tapi, aku hanya ingin dirimu,"jawab nic. "Itu hanya alasanmu saja, Nic," balas Kara kesal. Nic tak menanggapi ucapan Kara karena ponselnya berbunyi. Ia tampak berbincang-bincang sejenak di telepon. Kara melihat ada buah-buahan yang tersaji di atas meja. Perutnya yang lapar, mau tak mau mengambil sebuah apel dan langsung mengigitnya. Tak peduli dangan lipstiknya yang mungkin berantakan,biarkan saja Nic ilfeel melihatnya. Itu akan semakin bagus.   ** Kapal mulai mendekati daratan. Nic segera menghentikan pembicaraannya di telepon. Kara terduduk dengan santai setelah mengabiskan sebuah apel. Kini perasaannya membaik meskipun ia tak tahu apakah setelah ini keadaannya akan baik-baik saja. "Ayo, Kara." Nic meraih jemari Kara dan membawanya ke arah mobil yang sudah menunggu. Kara mengikuti dengan sedikit tergesa-gesa. "Ke villa." Nic mengucapkan kalimat singkatnya pada sang supir. Sang supir mengangguk dengan hormat. "Villa? what? Kamu benar-benar ingin meniduriku?" Nic tersenyum."Bukan menidurimu, sayang. Tapi, bercinta. Aku akan membuatmu melayang... kamu pasti akan suka." "Aku enggak mau." "Tapi, kamu sudah berada di dalam mobilku, Sugar. Kita sudah berangkat." Nic tersenyum. Sikapnya yang santai tanpa terlihat kesal ataupun marah dengan jawaban Kara membuat Kara was-was. "Sabar, sayangku. Nanti kamu juga akan tahu siapa aku," ucap Nic dalam hati. Sebuah Villa di daerah pegunungan yang bersuhu dingin. Kara sendiri tak tahu ini ada dimana. Sekeliling gelap, hanya ada sebuah Villa megah dua lantai yang sepertinya menjadi satu-satunya pemandangan indah di sini. Seorang pria dengan jaket tebal dan syal di lehernya tergopoh-gopoh membukakan pintu. "Selamat datang, den," ucapnya dengan hormat. Dari mulutnya keluar asap petanda betapa dinginnya udara di sini. Nic keluar dengan pembawaan dirinya yang selalu terlihat santai, menyenangkan, namun mematikan. Mematikan Kara tentunya. "Sudah siap semuanya?" Orang tersebut mengangguk."Iya, sudah, Den." "Sugar... ayo masuk," kata Nic memberi kode. "Stop manggil aku Sugar," kesal kara sambil keluar dari mobil dan mengikuti nic. Villa itu sangat besar dengan ruang tamu yang dilengkapi sofa-sofa empuk dan mahal. Begitu juga dengan ruang tengah, namun di sana terdapat tambahan sebuah tv LCD berukuran besar. Nic menuju tangga dan naik ke lantai dua. Kara masih mengikuti dengan bodohnya. "Kara... ini kamar kita." Nic membuka sebuah pintu kayu bewarna cokelat. Sebuah kamar berukuran besar dengan lantai kayu.Tentunya dengan fasilitas lengkap dan mewah. "Kita?" Kara tersentak. Nic mengangguk, kali ini sedikit cuek."Masuklah... bersihkan diri kamu." "Aku lapar," kata Kara. Nic mengangguk."Oke. Kita makan dulu aja." Saat makan, Nic tak banyak bicara. Bahkan tak pernah menatapnya saat Kara bertanya sesuatu. Kara melirik ke arah Nic dengan heran. Ada apa dengan nic, lelaki m***m dan agresif di kapal tadi kini menjadi lelaki yang 'dingin'. "Aku sudah selesai," kata Kara. "Masuklah ke kamar. Di sana sudah tersedia keperluan kamu. Bersihkan diri kamu sebelum tidur. Nanti aku menyusul." Nic berkata sambil mengerjakan sesuatu di ponselnya. "Oke. Thanks." Kara berjalan ke kamar dengan senang hati. Sikap dingin Nic mungkin akan membatalkan segala pikiran m***m nic. Ia bisa tidur dengan tenang. Kara masuk ke kamar, mendadak ia ingin memanjakan dirinya dengan mandi air hangat di bathup. Tubuhnya menjadi relaks saat merendamkan seluruh tubuhnya, ditambah aroma lavender yang berasal dari sabun yang ia pakai. Cukup sepuluh menit saja Kara berendam.Ia memutuskan untuk mengakhirinya karena merasa mengantuk. Kara mengenakan handuk kimono yang tersedia, lalu memeriksa walk in closet, mencari pakaian yang bisa ia pakai. Di dalam sana ia bisa mendapatkan under ware baru. Tapi, sayangnya ia tak menemukan pakaian tidur atau sejenisnya. "Kara... kamu sudah selesai?" Walk in Closet terbuka. Nic ada di sana, dengan memakai handuk putih yang kepingkar di pinggang. "Aku tidak menemukan apapun, Nic. Hanya under ware." Kara masih sibuk memerhatikan isi lemari yang sebagian besar adalah pakaian Nic. Nic berdiri di hadapan cermin besar. Ia menyentuh cermin tersebut, dan ternyata itu adalah sebuah lemari."Pilihlah sesukamu." Kara melotot, lalu menutup mulutnya karena ia nyaris berteriak."semuanya...lingerie." Nic mendekati Kara dan berbisik,"sudah aku katakan bukan, selama bersamaku... kamu tak memerlukan pakaian." "What?" Nic mengecup leher Kara, dan beralih ke pipi. Kemudian, ia masuk ke kamar mandi. Kara memutar bola matanya."Astaga. Apa-apaan ini." Setelah pusing menentukan pilihan, sebab semuanya sangat terbuka dan  ia sedang bersama Nic si pria m***m. Maka, Kara memutuskan memakai lingerie hitam. Setidaknya inilah yang tidak begitu seksi dibandingkan yang lainnya. Setelah selesai,ia memheringkan rambut di depan kaca rias. Tak lama kemudian, Nic keluar dari walk in Closet. Ia hanya mengenakan boxer. Tubuhnya dibiarkan terkespose. Dadasix packnya itu membuat Kara menganga. Meskipun selama di love island ia sering melihat Nic betelanjang d**a bersama pria lainnya, entah kenapa kali ini terlihat lebih menggoda. "Kara... aku ingin bicara padamu. Kemarilah." Nic duduk di meja bar yang ada di dalam kamar tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN