Bab 14

1028 Kata
Kara duduk di hadapan Nic sambil meneguk salivanya. Ia memandang Nic yang terlihat segar dan menebarkan aroma mint dari tubuhnya. "Memangnya pria ini tidak kedinginan?"pikir Kara. Sebenarnya saat ini ia sudah sangat ingin tenggelam di balik selimut tebal yang sedari tadi memanggil-manggilnya. "Kara, aku ingin mengatakan sesuatu. Bahwa... aku sangat menginginkanmu. Sekarang." "Apa ini sebuah pernyataan permohonan izin?" Kara menutup mulutnya tak percaya. Nic mengangguk."Yes, Sugar. Aku meminta izin. Aku bertanya apakah kamu bersedia bercinta denganku?" "Bukankah kamu berkuasa? Kenapa harus meminta izin padaku terlebih dahulu?" Nic menyeringai."Jadi, kamu lebih senang kalau aku... memaksamu? Atau lebih tepatnya memperkosamu?" Kara mendesah napas panjang. Kali ini ia menganggap Nic benar-benar laki-laki tidak waras. Baru kali ini ia mendengar ada seorang pria meminta izin terlebih dahulu jika ia ingin bercinta dengan orang tersebut. "Tapi, bukankah itu sesuatu yang manis. Nic mencoba bersikap manis, tidak memaksa dan berusaha membuatku nyaman." Kara menepuk kepalanya pelan. Ia merutuki apa yang ia katakan barusan meski itu adalah ucapan dalam hati. Nic mendekati Kara, perlahan ia meraih tangan Kara dan menciumnya. Seluruh tubuh Kara berdesir, terlebih lagi aroma tubuh Nic menyeruak ke dalam hidung dan membuatnya nyaman. Nic meraih pinggang Kara, lalu merapatkan tubuh mereka. Mereka saling bertatapan. Tak ada ucapan apapun yang keluar dari mulut Kara. Kali ini ia benar-benar terpesona. Nic mencium bibir Kara dengan perasaan yang sangat dalam, menuntut tapi tetap lembut. Kara sudah kehilangan akal sehat. Kini kedua tangannya justru melingkar di leher Nic. Nic memegang kedua b****g Kara lalu mengangkatnya ke atas meja bar. "I love u, My Sugar," bisik Nic saat ia melepas ciumannya. Napas Kara terengah-engah, tubuhnya terasa dingin. Setiap sentuhan Nic membuat tubuhnya seakan disengat aliran listrik. Tangan kiri Nic menelusup di antara dua paha Kara dan mengusap titik paling sensitif dengan perlahan. Namun, membuat Kara nyaris berteriak. Sebuah rasa ingin dipuja pun tumbuh begitu saja. "Nic... Ah!" Nic terus mengusapnya hingga Kara berteriak pelan. Dirinya seakan melayang. Cairan kenikmatan Kara kini sudah membanjiri tangan Nic. Nic meraih tisu yang ada di meja bar, mengeringkan tangannya. Kemudian, ia menurunkan lingerie Kara sambil mengecup leher dan pundaknya dengan sangat intim. Kepala Kara menengadah dan kedua tangannya menelusup di antara helaian rambut Nic saat Nic menghisap, memainkan sekaligus meremas payudaranya. "Mendesahlah, sayang, jangan ditahan." Kara menatap Nic dengan lemah. Ia sungguh tak berdaya membuat Nic semakin b*******h. Ia sangat menyukai wajah 'permohonan' tersebut. Nic meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di d**a Kara. Ia sangat suka melakukan itu. Nic mengangkat tubuh Kara ke tempat tidur. Dirinya sudah sangat mengeras. Selama ini ia menahan hasratnya pada Kara. Sekian lama dan itu sangat menyakitkan. Kali ini ia akan melepaskannya. Disingkirkannya lingerie yang sedari tadi masih nyangkut di tubuh Kara, lalu ia membuka boxernya. Mereka sama-sama polos. Nic menindih tubuh Kara. Berciuman sekali lagi. Kemudian, Nic mengarahkan miliknya. "Nic," cegah Kara sambil mendorong tubuh Nic. "Kenapa?" Kara menggeleng."Itu sakit." "Tapi, kamu ingin ini berlanjut bukan?" Tanya Nic dengan nafsu yang semakin bertambah. "Iya." Wajah Kara bersemu merah. Kali ini ia tak peduli lagi Nic tahu bahwa dirinya menginginkan Nic. Nic bangkit dari posisinya. Ia tak ingin menyakiti Kara. Lalu ia menuju meja bar. Menuangkan alkohol ke dalam gelas lalu menyerahkannya pada Kara. "Minumlah." "Untuk apa?" tanya Kara heran. "Ini akan mengurangi rasa sakitnya." Kara meraih gelas tersebut lalu menenggaknya. Pahit dan terasa panas di tenggorokan. Nic meraih gelas di tangan Kara dan meletakkannya di atas nakas. Beberapa saat,kara merasa dirinya berbeda. Ia seperti sedang melayang layang. Nic kembali menyerang Kara memainkan p******a sambil mencium bibirnya. Kara kehilangan sedikit kesadarannya akibat pengaruh alkohol. Kara tidak pernah minum, oleh sebab itu satu gelas kecil alkohol mampu membuatnya mabuk. "Sayang... aku akan memasukimu. Bersiaplah," bisik Nic. Kara masih sadar seutuhnya tapi sudah tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terasa melayang dan nafsunya semakin bertambah. Ia mengangguk lemah. Nic menarik napas panjang, sejujurnya ia deg-degan sebab sekarang ia akan memenuhi wanita yang sangat ia inginkan sejak dulu. "I love u, My Sugar," bisik Nic di telinga Kara. Setelah kupu-kupu terasa terbang di peurt Kara. Nic menatap Kara yang langsung terlelap. Nic tersenyum bahagiaNic menyelimuti Kara, memeluknya dengan posesif. "Akhirnya... aku bisa merasakanmu, sayang. I love you, Sugar." Kecupan Nic menutup malam panjang itu.   ** Udara pagi terasa begitu segar. Kabut-kabut asap menyelimuti puncak pepohonan. Nic terbangun dengan suasana hati yang begitu menyenangkan. Masih tetap dalam posisi semalam, tidur sambil memeluk Kara. Nic tersenyum, mengecup kening Kara sekilas, kemudian bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. setelah cuci muka, sikat gigi dan mengenakan boxer serta kaos bewarna putih, Nic pergi ke teras kamar. Nic memejamkan matanya , menghirup udara segar perlahan-lahan serta menikmatinya. Ia membiarkan posisinya seperti itu beberapa menit. Hal tersebut biasa ia lakukan setiap mengunjungi tempat ini. Sementara itu, Kara mulai terjaga dari tidur nyenyaknya. Kepalanya terasa sakit, begitu juga dengan badannya seperti habis melakukan pekerjaan berat. Ia mulai menormalkan pandangan dan kondisi tubuhnya. Mulai ia sadari bahwa ia berada di tempat asing. Pikirannya kembali ke adegan yang terakhir kali ia ingat. Saat Nic membawanya ke Villa, mencoba merayu, lalu mereka berciuman dan bergumul di atas tempat tidur dan kemudian Ia merasakan tubuhnya terasa melayang-layang. Kara yakin betul, Nic sudah melakukan hal tersebut padanya. Kara menarik selimut dan menggulung ke tubuhnya, kemudian pergi ke kamar mandi. Kara terperanjat saat mendapati tubuhnya penuh dengan bercak-bercak merah di d**a. Kara mengabaikan hal itu sejenak karena ia ingin buang air kecil. Di saat itulah ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya sudah kehilangan mahkotanya. Miliknya terasa perih sekali, Kara sampai harus mengigigit bibir bawahnya menahankan sakit. "Nic," gumam Kara yang kemudian air matanya menetes. Bertahun-tahun ia menahannya atas prinsip yang ia buat sendiri. Bahkan, kekasihnya sampai selingkuh karena ia tak bisa memberikan tubuhnya. Tapi, sekarang apa yang ia pertahankan hilang dengan mudah. Ia berikan pada lelaki yang baru ia kenal dalam sebuah reality show. Kara menangis meratapi dirinya. "Kara! Kamu di dalam? kenapa lama sekali?" Nic mengetuk pintu kamar mandi. Kara masih di dalam, menangis. Kara menghapus air matanya, berusaha berdiri dengan tegar. Bukankah ia sudah tahu sebelumnya bahwa Nic menginginkan ini. Ikut bersama Nic adalah sama dengan merelakan mahkotanya. Kara membuka pintu,  Nic berdiri di hadapannya. "Sayang... kamu nangis?" Nic menangkup wajah Kara dan menghapus sisa air mata yang tersisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN