Kara terdiam, kemudian menjauhkan wajahnya dari tangan Nic. Nic mengerti apa yang dirasakan Kara. Gadis itu pasti terpukul. Nic membuka salah satu lemari kemudian mengambil kemejanya dan memakaikannya pada Kara. Kemeja itu mampu menutupi tubuh Kara hingga di atas lutut. Kara membiarkan apa yang dilakukan Nic,sambil terus terisak.
Nic menatap Kara."Semuanya baik-baik saja.Oke? Sekarang kita pulihkan tenaga kamu. Ayo."
Kara mengikuti Nic perlahan. Nic menuju teras kamar. Kara tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Pemandangan luar biasa. Hamparan pohon pinus yang puncaknya ditutupi kabut asap. Di bawah sana ia bisa melihat sejenis rerumputan hijau. Ia juga bisa melihat bukit-bukit yang terlihat samar. Sejenak ia melupakan kesedihannya karena takjub.
Nic tersenyum saat melihat Kara tengah berdiri memegang pagar pembatas sambil memejamkan mata. Angin berembus perlahan membuat rambutnya terbang ke arah belakang memperlihatkan keindahan wajahnya. Ia membiarkan Kara melakukan itu beberapa menit sambil menikmati sandwichnya.
"Nic...," panggil Kara.
"Ya?" Nic sedikit kaget saat Kara memanggilnya.
"Aku suka tempat ini."
Nic meletakkan sandwichnya, lalu menghampiri Kara."Kamu tidak kedinginan?"
Kara menggeleng."Aku suka dingin."
Nic mengangguk.Dipeluknya tubuh Kara dari belakang. Perasaannya menghangat."Semua akan baik-baik saja, Kara.Jangan mengkhawatirkan apapun. Aku ada untukmu."
"Aku tidak tahu, Nic, tapi... entahlah.Perasaanku terasa datar saja saat ini."
Nic mengangguk sambil melepaskan pelukannya."Kita sarapan dulu."
Nic menyerahkan segelas s**u untuk Kara agar kondisinya membaik. Tak banyak yang mereka bicarakan karena keduanya makan dengan serius. Sepertinya mereka memang sangat kelaparan.
Matahari sudah sedikit naik dan menyinari teras dimana mereka sedang duduk. Terasa hangat, namun Kara tidak menyukainya. Ia memilih untuk masuk ke dalam.
Nic mengikutinya.
"Nic... bagaimana kalau aku hamil?" tanya kara spontan.
"Kita menikah," jawab Nic.
"Oh ya? Tapi... bisa saja setelah pertemuan ini,kamu pergi. Menghilang entah kemana." Kara menatap Nic dengan tatapan tak suka.
"Iya. Itu benar. Setelah ini... aku akan bawa kamu ke rumah. Jadi, kalau misalnya kamu takut aku kabur. Kamu bisa datengin aku ke rumah," jelas Nic lebih lanjut.
Kara menggeleng."Aku tidak mau."
Nic mengangkat kedua bahunya. Ia naik ke atas tempat tidur, menarik selimut sebatas perut dan meraih remote di atas nakas. Kara memperhatikan Nic tanpa berkata apa-apa.
"Sayang... kemarilah. Kamu masih capek,kan?" Nic menepuk sisi tempat tidur yang kosong di sebelahnya.
Dalam hati Kara membenarkan ucapan Nic. Dirinya butuh istirahat sebab tubuhnya terasa lemah. Masih tersisa sedikit sensasi 'melayang'. Kara naik ke atas tempat tidur, menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.
"Kapan ... aku bisa dipulangkan?"
"Kamu tidak suka ada di sini?" tanya Nic.
"Suka tempatnya, suasananya... tapi tidak dengan orangnya," jawab kara Santai. Tak peduli dengan ekspresi Nic.
"Hei, Sugar... kenapa kamu tidak menyukaiku?"
"Pemaksa."
"Tapi, kamu menyukainya, kan? Kita bercinta semalam."
Kara memutar bola matanya."Aku tidak tahu bagaimana rasanya. Begitu bangun ... hanya perih dan sakit."
Nic tertawa dengan keras."Semalam kamu setengah sadar bukan. Itu kulakukan agar kamu tidak merasakan sakitnya saat aku merobek selaput dara kamu. Kamu bilang sakit. Iya, kan?"
Kara tak menjawab ucapan Nic. Ia justru bersikap cuek sambil merebut remote dari tangan Nic.
Nic mendekati wajah Kara,meraih dagu lalu melumat bibirnya dengan sangat lembut. Kara tersentak, sempat meronta dengan mendorong tubuh Nic. Nic membalas Kara dengan menggenggam kedua tangannya dengan hangat. Tubuh Kara melemah karena sudah tersihir oleh ciuman Nic. Ia bisa mengingat kembali rasanya sama seperti semalam.
Nic melihat nama di layar ponselnya. Ia tersenyum, melirik ke arah Kara yang tengah berlari ke kamar mandi. Nic memakai boxernya lalu menuju teras kamar agar pembicaraannya tidak didengar oleh Kara.
"Ya, Di?"
"Nic!! Are you crazy? Lo kemanain Kara?" Omel Dian dari seberang sana.
Nic tertawa."lo tahu darimana? Ada kok. Aman...."
"Gue liat di tv, lah. Lo sama Kara keluar karena menemukan kecocokan. Entah kenapa gue enggak percaya. Ini pasti ulah lo," marah Dian.
"Hei... hei, kakak iparku yang cantik. Jangan khawatir. Kara aman. Besok juga sudah kembali. Nikmati saja liburan dengan kekasihmu." Nic tersenyum licik.
"What? Darimana lo tahu gue punya pacar?" Pekik Dian dengan takjub.
"Aku tahu, lah semuanya. Lo mau tour keliling eropa sama Tom, kan?" Nic terkekeh.
"What the f*ck, Nic. Oke... oke... itu bener. Tapi, jangan sampai Kara tahu kalau gue lagi liburan."
"Tapi, gue boleh sama Kara, kan, kakak ipar?" Goda Nic.
Dian tengah memutar bola matanya dengan kesal."Iya. Tapi, jaga dia baik-baik. Jangan sakiti hatinya."
"Everything for Kara, Di. Aku mencintainya, jangan lupa itu. Terima kasih atas bantuanmu. Sekarang aku memilikinya."
"Memilikinya? Maksudmu? Jangan bilang kalau kau...." Dian hampir berteriak.
Nic mengangguk."Yupz... aku sudah tidur dengannya. Aku merusaknya."
"I dont belive you, Nic. Kara tak semudah itu."
"Tapi aku sudah melakukannya, Di. Aku akan menjaganya. Jangan khawatir. Ya sudah... kami sedang bulan madu. Jangan ganggu." Nic tertawa.
"Sial lo, Nic!" Diandra memaki-maki Nic dari posisinya di sana. Ia tak percaya bahwa laki-laki seperti Nic bisa merubuhkan kekuatan hati dan prinsip adiknya itu.
Nic memutuskan sambungan di tengah-tengah makian Diandra. Kemudian ia melihat Kara belum keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kamu ngapain di dalam?"
"Perutku sakit!" Teriak Kara dari dalam.
"Oke," jawab Nic. Dalam hati ia bersyukur wanita itu sudah mau diajak bicara.
Sekitar lima belas menit kemudian Kara keluar dengan handuk kimono serta handuk putih yang membungkus kepalanya. Ia sudah mandi. Nic menoleh dan tersenyum penuh arti.
"Aku mau bajuku," kata Kara.
"Sudah aku kirim ke rumah kamu," jawab Nic.
"Tapi, aku butuh sekarang," balas Kara.
Nic mendekati Kara dan memegang kedua pundaknya."Sudah kukatakan... selama bersamaku, kamu tidak butuh pakaian. Kalau kau ingin berpakaian, pakailah lingerie yang ada di lemari."
"Aku tidak mau," tolak Kara sambil berjalan menjauh dari Nic. Ponselnya berbunyi,sebuah email masuk.
Kara terbelalak saat membacanya. Email dari Hrd kantor yang menyatakan bahwa pengajuan resignya ditolak sebab ia masih dalam status kontrak. Sesuai dengan perjanjian, sebelum masa yang telah ditentukan yaitu dua tahun, Kara tidak boleh resign. Apabila resign, maka ia harus mengganti rugi sesuai dengan jumlah yang tertera di dalam kontrak.
"Oh, My God!" Kara terlihat stress.
"Kenapa, sayang?" tanya Nic yang tiba-tiba sudah di belakang dan memeluknya begitu saja.
Kara mengenyahkan pelukan Nic dengan bahunya."Apa, sih!"
"Kamu enggak mau berbagi dengan kekasihmu ini?" Nic menunjukkan muka manjanya. Sebenarnya itu semakin membuatnya 'hot', tapi Kara langsung menyembunyikan isi pikirannya itu.
"Kekasih? Sejak kapan?" Kara melotot.
"Sejak malam pemilihan. Sejak... aku memasukimu," kata Nic dengan pedenya. Sepertinya Nic memang orang yang tidak punya hati. Sebab sekasar apapun Kara padanya ia hanya tersenyum dan memandang Kara dengan mesra. Atau mungkin Nic sudah gila.