Bab 1. Dia Istriku
"Ceraikan dia! Mama tak rela kamu menikah dengan gadis kampung macam dia!" ucap tegas Hani pada Kale, anak semata wayangnya sambil menunjuk ke wajah Amel—istri sah yang baru dinikahi putranya itu.
Wajah polos Amel yang cantik, nampak kecewa. Ia melirik Kale, pria tampan yang lembut yang berada di sampingnya.
Kale langsung melindungi istrinya. "Ma, aku tahu Mama kecewa karena aku tiba-tiba nikah dengan Amel, tapi aku tak bisa bawa Amel keluar kota kalau tidak menikahinya, Ma. Itu permintaan pamannya, dan aku harus menghormatinya." Suara pria muda berwajah indo itu membujuk ibunya. Suaranya tenang dan meyakinkan. Ia menyugar sedikit samping rambutnya dengan memiringkan kepala.
"Tapi apakah harus dengan melewati mama? Kamu menikah tanpa memberi tahu orang tuamu, Kale. Apa itu pantas? Di mana kedudukan mama sekarang di matamu?" Terdengar kecewa. Nada suara Hani sedikit rendah setelah mendengar suara bariton anaknya yang begitu lembut. Kadang suara lembut Kale bisa membuat ia bisa mengendalikan dirinya dengan cepat.
"Apa kalo diberi tahu, Mama setuju?" Kale menjeda sambil menatap ibunya. Ia tahu ibunya wanita seperti apa. Pastinya menginginkan wanita yang sederajat dengan dirinya, seorang milyuner yang masih muda. "Sekarang sudah terjadi, Ma. Biarkan Kale hidup bahagia dengan Amel, ya Ma, ya?" rayu Kale lagi.
Hani melirik tajam ke arah Amel dengan tangan terkepal erat, lalu kembali menatap anaknya dengan wajah sendu. "Tidak bisa, Kale. Dia ...."
Kale berdiri dan menarik tangan Amel hingga gadis itu ikut berdiri. "Kalau gitu, Kale akan bawah Amel tinggal di vila saja. Ini tidak akan mengganggu Mama, kan?" Ia melangkah pergi tanpa menoleh.
Hani mengepal erat kedua tangan dengan wajah kesal. "Kale! Kalee ...!!" teriaknya.
Hanya Amel yang menoleh sebentar sambil mengikuti suaminya. Ujung kerudung segitiganya sedikit melayang mengikuti gerak tubuhnya yang bergerak cepat meninggalkan ruangan itu. Ia tak tahu apa keputusan suaminya sudah tepat, tapi yang ia tahu, mulai sekarang hidupnya takkan bisa berjalan mulus ke depannya. Ada Orang tua yang tengah tersakiti.
"Mas, apa kita harus begini?" tanyanya saat di dalam mobil menatap pria tampan berbrewok tipis itu.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kita kan sudah menikah. Nanti juga pelan-pelan Mama luluh. Mama hanya butuh waktu aja, kok." Kale, pria berwajah indo dengan kulit putih, kontras dengan rambutnya yang hitam. Tubuh jangkungnya dibalut jas hitam tanpa dasi. Gayanya begitu santai dengan wajah rupawan sedang sibuk memperhatikan stir dan menggerakkan rem tangan, pelan. Ia sepertinya tidak menganggap penolakan ibunya hari itu adalah masalah besar.
"Mas, apa kamu yakin?"
Bola mata pria itu berhenti bergerak saat menoleh ke arah Amel. Sudut bibirnya terangkat dan seketika mencondongkan tubuhnya ke depan. Sebuah keccupan singkat mendarat di kening istrinya. "Kamu cukup cintai aku hari ini dan seterusnya."
Wajah gadis itu tersipu. "Ih, gombal!"
Pria itu terkekeh.
***
Kale membuka pintu. Sebuah pemandangan kamar besar dan mewah terpampang di depan mata. Ia melepas kopernya di tangan ketika sudah masuk. "Ini kamar kita, Sayang." Ia menoleh ke samping.
Didapatinya Amel, gadis bertubuh kurus, kecil dengan gamis yang longgar, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan takjub. Bahkan sejak membawa gadis itu ke rumahnya hingga vila itu, gadis itu tak henti-hentinya terperangah melihat kemegahan bangunan yang ia lihat.
Gadis itu tiba-tiba dikejutkan oleh pelukan mesra suaminya dari belakang. "Mas, ah ...." Ia tersipu sambil menepuk tangan kokoh pria itu pelan. Pelukannya begitu hangat.
Kale terkekeh. Ia meletakkan dagunya di bahu istrinya sambil mengeratkan dekapan. Ia berbisik di telinga Amel. "Bikin anak, yuk!"
Seketika wajah Amel memerah. Kale tentu saja tak bisa melihat wajah istrinya, tapi ia yakin Amel setuju.
"Eh!" Amel kembali kaget. Tubuhnya yang kurus digendong dan dibaringkan di atas ranjang oleh sepasang tangan kokoh milik suaminya. Pemilih tangan itu kemudian merangkak di atas Amel yang mulai salah tingkah menantinya.
***
Kakinya sudah kelelahan berlari tapi Amel tak bisa begitu saja berhenti. Kedua matanya berkaca-kaca. Beberapa orang sempat tertabrak dan terpaksa minta maaf sambil buru-buru pergi. Napasnya terengah-engah tapi ia belum mau menyerah. Pikirannya kacau. Wajahnya cemas sambil matanya terus memindai tiap pintu di lorong itu sejak keluar dari lift. "Ya Tuhan, selamatkan dia. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya ...." Air mata yang berjatuhan segera dihapusnya.
Lorong itu terasa sangat panjang. Matanya kemudian terhenti pada kumpulan orang yang berdiri jauh di depan. "Itu pasti di sana!" Dengan mempercepat langkah ia mendatangi tempat itu, lalu memberanikan diri untuk bertanya. "Benarkah ini kamar Kalendra Erlington?"
Orang-orang itu malah makin memperketat penjagaan. Salah seorang bergerak maju. "Kamu siapa? Ini ruang VVIP. Tidak sembarang orang boleh masuk."
"Saya istrinya." Wajah cantik itu tampak harap-harap cemas.
Pria itu menatap sang gadis dari ujung rambut hingga ujung kaki memastikan siapa yang diajak bicara. "Sebentar, Saya tanya Nyonya dulu." Ia kemudian masuk.
Tak lama seorang wanita paruh baya keluar. Hani tampak tersenyum penuh misteri. "Aku tak suka banyak bicara. Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Aku hanya minta satu hal darimu. Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari sini." Ia menyodorkan selembar kertas pada Amel beserta pulpennya dengan suara tegas.
"Apa?" Amel hanya menatap kertas yang disodorkan. "Mama ...." Kepalanya terangkat.
"Aku tidak suka kau panggil "Mama". Sejak awal aku tak pernah menganggap kamu menantuku." Wajah wanita paruh baya itu terlihat kesal.
"Tapi ...."
"Tandatangani ini! Aku akan memberikan uang satu miliar asalkan kau tinggalkan putraku. Cari orang kaya lain yang bisa memenuhi keinginanmu, asalkan bukan Kaleku!" ucap Hani dengan penuh penekanan. Ia mengeluarkan cek dan menyatukannya dengan kertas tadi.
"Ibu, aku tidak pernah ...."
"Apa pun alasanmu, aku tidak peduli!! Tandatangani saja surat ini dan pergi! Aku tidak mau lagi melihatmu ada di sini atau mencari Kale lagi, mengerti!?" Hani semakin geram saja.
Hati terasa pilu. Bagaimana caranya Amel bisa bertemu dengan suaminya, sedang sudah di depan pintu saja ia sudah dihalangi. Namun, kalau ia harus pergi, apakah Kale akan mencari?
Tapi kalau sudah menandatangani surat cerai ini, ibunya bisa saja mengarang cerita bahwa ia yang berniat meninggalkan suaminya. Adakah ia punya pilihan? Orang tua yang tidak merestui, terasa menyulitkan bila berada di situasi seperti saat ini. Haruskah ia menyerah? Apa suaminya akan marah atau akan menerima keputusan ibunya yang berat sebelah ini?
"Tapi bisakah aku bertemu dengannya untuk terakhir kali?" Wajah sendu itu begitu berharap.
"Tidak bisa! Kale hidupnya baik-baik saja sebelum bertemu denganmu, tapi semenjak mengenalmu, hidupnya jadi banyak masalah. Ia bahkan banyak mengabaikan aku demi kamu. Kamu pembawa sial di keluarga ini! Sebaiknya kamu pergi meninggalkan Kale atau keluarga ini akan hancur! Cepat tandatangani surat ini!" Hani dengan sarkasnya.
"Tapi dia baik-baik saja, kan, Bu?" Amel masih mengkhawatirkan suaminya.
"Dia tidak ada masalah, jadi tandatangani saja surat ini, cepat!! Jangan bikin aku menunggu terlalu lama!" Amarah Hani sudah memuncak.
Dengan hati pilu, Amel mengambil kertas itu. Ia menandatangani kertas itu dan Hani mengambilnya dengan cepat. Hani juga meletakkan cek itu di tangan Amel.
"Ibu ...."
"Cepat pergi dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!"
Bersambung ....