BAB 1 : PERTEMUAN TAK TERDUGA
BAB 1 : Pertemuan Tak Terduga
1. Kembali ke Kota yang Sama
Alya memandangi bayangannya di kaca mobil saat ia melewati jalan-jalan yang dulu begitu akrab dengannya. Jakarta tetap bising dan padat seperti biasa, tetapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa lebih ramai—sebuah gejolak yang tak bisa ia jelaskan.
Sudah lima tahun sejak ia meninggalkan kota ini bersama Adrian, suaminya. Kepindahan mereka ke Surabaya adalah keputusan Adrian demi kariernya. Namun kini, pekerjaan membawa mereka kembali.
“Bu, kita sudah sampai,” ujar sopir pribadi mereka, Pak Sarman.
Alya menghela napas panjang sebelum turun dari mobil. Rumah baru mereka berdiri megah di kawasan elite, tetapi entah mengapa, rasanya tidak seperti rumah baginya.
2. Seorang Pria dari Masa Lalu
Hari itu, Alya harus menghadiri sebuah acara peluncuran bisnis rekan suaminya di hotel bintang lima. Ia melangkah masuk ke ballroom dengan elegan, mengenakan gaun biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna.
Ketika Adrian sibuk berbicara dengan para kolega, Alya berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan. Ia butuh udara. Tapi tepat saat ia hendak memesan minuman, suara bariton yang sangat ia kenal menggetarkan tubuhnya.
“Espresso satu,” suara itu begitu familiar.
Jantungnya mencelos. Perlahan, ia menoleh—dan di sanalah dia.
Reza.
Lima tahun, dan pria itu masih tampan seperti dulu. Rahangnya yang tegas, sorot matanya yang selalu tampak misterius, dan senyum tipis yang pernah membuat hatinya luluh.
Mata mereka bertemu.
“Alya…” Reza berbisik, seolah ia sendiri tak percaya.
Alya ingin berkata sesuatu, tapi tenggorokannya terasa kering. Tiba-tiba, dunia di sekitarnya seakan menghilang, menyisakan hanya mereka berdua dalam ruangan itu.
3. Luka yang Belum Sembuh
“Sudah lama,” suara Reza lebih tenang, tetapi ada ketegangan di sana.
Alya mencoba tersenyum, meski ia merasa tubuhnya bergetar. “Ya… sudah lama.”
Reza mengamati dirinya, seakan mencari perubahan dalam diri Alya. Mata itu, yang dulu penuh dengan cinta, kini menyimpan sesuatu yang lebih dalam—sebuah luka yang belum sepenuhnya sembuh.
“Kamu… baik-baik saja?” tanyanya pelan.
Alya mengangguk. “Tentu. Aku sudah menikah.”
Ada kilatan di mata Reza, tapi dengan cepat ia menyembunyikannya.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
Tentu saja dia tahu. Dunia mereka dulu begitu dekat, dan meskipun Alya mencoba melupakan masa lalu, bayangan Reza masih sering muncul di pikirannya.
Sebelum percakapan mereka bisa berlanjut, suara Adrian memecah momen itu.
“Alya, sayang.”
Alya menoleh, melihat suaminya berjalan mendekat. Adrian menjabat tangan Reza dengan senyum formal.
“Adrian. Reza,” kata Reza memperkenalkan dirinya tanpa ragu.
“Oh, aku tahu. Kamu mantan pacarnya Alya, bukan?” Adrian tertawa kecil, tapi di balik nada suaranya, ada sesuatu yang dingin.
Reza hanya tersenyum tipis. “Benar.”
Alya merasa tenggorokannya semakin kering. Ia tak tahu apakah pertemuan ini adalah kebetulan atau permainan takdir yang kejam.
Satu hal yang pasti—pertemuan ini hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.
Bersambung ke Bab 2…
---