Salah satu dari pimpinan dari cabang perusahaannya di Indonesia menelpon, tetapi Ardika sangat ragu menerima panggilan darinya sore ini. "Ah, sudahlah kalau memang penting dia akan mengirim pesan. Aku yakin saat ini berkomunikasi dari pesan saja dengannya adalah pilihan yang terbaik. Jangan sampai dia tahu aku akan ke Amsterdam." Ardika meletakkan kembali ponselnya, lalu melanjutkan langkah serta niatnya untuk mandi. Dering ponsel kembali berbunyi tetapi diabaikan pemiliknya. Padahal itu panggilan dari negara yang sangat ia rindukan untuk menetap di sana. Bukan apa-apa, hanya saja Ardika tahu mereka semua meragukannya kembali ke Amsterdam untuk meluruskan segala masalah yang selama ini dia diamkan. Dulu ia berpikir terserah saja apa yang orang lain pikirkan tentangnya, ia tak akan pe

