bc

SILAN, EX PRINCE MAFIA

book_age18+
463
IKUTI
2.4K
BACA
possessive
family
arrogant
scandal
drama
sweet
bxg
kicking
secrets
affair
like
intro-logo
Uraian

"Aku tau, dunia tak selamanya gelap, begitu juga dengan hidupku. Masih pantaskah aku mendapatkan sedikit maaf untuk kekhilafan ku di masa lalu?"

_Mahardika Silan Alexander.

"Matilah kau pembunuh! Matilah kau seperti orang-orang yang telah kau bunuh dengan kejam! Tanpa belas kasihan."

_Kyana Cattor.

Memiliki masa lalu yang kelam, ternyata menjadi boomerang untuk masa depan Dika. Serapat-rapatnya ia menyembunyikan kejahatan di masa lalu, pada akhirnya semua harus terbongkar karena persaingannya dengan Zeen yang menjadi rival bisnis sekaligus rival dalam kisah cintanya.

Masa lalunya yang kelam itu membuat gadis yang akan dinikahi Dika dalam waktu dekat, berubah benci padanya.

Akankah kisah cintanya harus berakhir tragis karena dendam masa lalu?

Bisakah Dika memberikan alasan pada Kyana sehingga mereka bisa melanjutkannya kisah cinta mereka lagi, sementara ada Zeen yang terus menjadi provokator demi mendapatkan Kyana?

Semuanya ada di cerita SILAN, EX PRINCE MAFIA.

chap-preview
Pratinjau gratis
Episode 1
Screet.. Brughh.. Suara sayatan pisau terdengar ngeri, merobek kulit, memancarkan aliran darah segar dari robekannya. Seorang pria terkapar lemas akibat rasa sakit di bagian perutnya, pengelihatannya perlahan mengabur seiring jatuhnya ia ke lantai yang sudah berhiaskan darahnya. "Ahhh... Apa aku berhasil membunuhnya?" Seorang perempuan yang berdiri di dekatnya menutup mulut karena shock melihat pria di depannya yang sudah tak sadarkan diri. Dari tangan gadis itu, pisau kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi, terjatuh dan menimbulkan bunyi. Ia mundur beberapa langkah, hingga suara seseorang di belakangnya membuatnya terkejut. "Apa yang kamu lakukan Kyana!!! Kenapa kamu membunuhnya!!!" teriak wanita itu dengan tangisnya yang pecah. "I..Ibu.. maafkan aku... Ibu...." Di belakang wanita yang ia panggil ibu itu, beberapa orang berbaju hitam datang dan langsung menolong pria yang terkapar lemas bersimbah darah. Tatapan tajam mereka menusuk hati Kyana. Bahkan ibunya sendiri tak menghiraukan dirinya yang sedang dalam ketakutan luar biasa. Mereka semua peduli hanya pada pria yang ditusuk oleh Kyana. Mereka bahkan meninggalkan Kyana sendirian di gudang tua yang menjadi saksi perbuatannya tadi. Setengah jam lalu, pria itu masih ia dengar suaranya, sangat khawatir ketika Kyana mengatakan dirinya diculik dan dibawa ke gudang tua itu. Kyana tau, pria itu sangat mencintainya, sama seperti cinta Kyana padanya. Namun, kebencian yang ada dalam hati Kyana, berhasil mengalahkan rasa cintanya pada sang kekasih. Kebencian yang tumbuh dari kesalahan pria itu di masa lalunya. "Ibu.... Ibu bahkan meninggalkan aku sendirian di sini. Kenapa Ibu malah menolongnya? Kenapa Ibu..hiks..hiks.. padahal siapapun tau bahwa dia adalah pembunuh ayahku. Apa aku salah membalaskan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada ayahku..hiks.." tangis Kyana pecah. Ia berlari ke hutan karena takut polisi akan mengecek tempat itu dan menemukannya di sana nantinya. Bagaimanapun, Kyana tak ingin masuk penjara karena perbuatannya yang ia anggap benar. Sekarang, gadis itu duduk memeluk lututnya di bawah pohon. Tak dipedulikannya kegelapan malam dan suara-suara binatang yang menghiasi. Dalam pikirannya, hanya Ingatannya tentang sang ayah yang berputar. Bagaima dulu hidupnya bahagia bersama kedua orang tuanya, hingga suatu ketika, dia merasa hancur karena berita bahwa ayahnya terbunuh oleh prince mafia, tempatnya bekerja. "Ayah.... Tolong Kyana, Ayah.. Kyana takut... Kyana tak ingin di sini sendiri, tapi Kyana tak bisa kembali ke sana dan harus mendekam di penjara. Hiks.. tolong Kyana..." Sementara itu, pria yang sudah bersimbah darah tadi, segera dibawa ke ruangan gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan secepatnya. Yasmine, ibu dari Kyana, menangis di depan UGD. Ia takut terjadi sesuatu pada pria di dalam sana, pria yang suaminya jaga hingga mengorbankan nyawanya sendiri. "Dika..." Seorang wanita datang dengan tangisnya yang semakin menyayat hati Yasmine. Wanita itu adalah ibu dari pria di dalam sana. "Nyonya Devita, maafkan saya... Maafkan anak saya... Hiks.. saya menyesal tak mendidiknya dengan baik sehingga dia melakukan ini pada putra Nyonya." Plak!!! Satu tamparan keras mendarat di pipi wanita paruh baya itu. Devita menamparnya karena rasa sakit setelah tau putranya meregang nyawa di dalam sana karena anak wanita ini. "Mami, sudahlah. Tak perlu dengan kekerasan seperti ini. Kita berdo'a saja supaya putra kita kuat dan selamat." "Tapi, Pi! Anak wanita ini yang menyebabkan Dika masuk rumah sakit! Dia mau membunuh anak kita!!" "Maafkan saya, Nyonya. Maafkan anak saya yang sudah salah paham tentang Tuan Muda dan masa lalu Ayahnya." Wanita itu berlutut di kaki Devita. Alexander mengangkat bahu Yasmine dan memintanya berdiri. "Jangan begini, Bu. Ini adalah kesalahan saya. Semua yang Dika lakukan di masa lalu adalah kesalahan saya. Seharusnya saya yang menanggung ini semua, karena apapun yang saya berikan pada kalian, tak akan bisa kembalikan nyawa seorang ayah yang rela meninggalkan anak istrinya demi anak saya." Devita yang tak tau apa yang terjadi di masa lalu Silan, menatap suaminya keheranan. Seperti paham kebingungan istrinya, Alexander meminta dua wanita itu duduk dan menceritakan kisah di masa lalu yang belum selesai hingga saat ini. 16 tahun lalu, saat masa jayanya Steven sebagai mafia di negaranya. Mahardika Silan Alexander, adalah seorang pemuda yang menjabat sebagai prince of mafia yang sangat kejam pada siapapun yang dianggapnya sebagai penghalang dan pengganggu rencananya. Pria yang kemudian dipanggil Dika itu, kala itu ingin membalaskan dendamnya pada seseorang. Ia tak mengenal belas kasihan dan perasaan manusiawi. Tua, muda, bahkan anak kecil sekalipun yang dianggapnya penghalang, harus mati di tangannya. Salah satu di antara mereka adalah Jordan, ayah kandung Kyana, gadis yang membuatnya terkapar lemah di rumah sakit saat ini. Alexander bahkan tak menyalahkan sedikitpun apa yang gadis itu perbuat pada putranya saat ini. Ia tau bagaimana perasaan gadis itu. Kyana pasti sangat terpukul setelah ia tahu bahwa pria yang dicintai dan menjalin hubungan dengannya, tak lain adalah seorang pembunuh ayah kandungnya sendiri. Hal yang Kyana lakukan, percis seperti apa yang dahulu Dika lakukan sebelum ia keluar dari lingkaran hitam yang pamannya ciptakan untuknya. Ketika orang itu berdiri saat polisi datang dan menanyakan perihal kejadian. Tadinya, Alexander tak ingin kasus ini tembus ke kepolisian. Tapi, istrinya kelewatan protektif pada Silan dan tak ingin siapapun yang menyakiti putranya bebas berkeliaran. Devita yang melaporkan kasus ini ke jalur hukum. Dia sangat menyayangi Silan, meskipun pria itu adalah anak sambungnya saja. "Selamat malam, Pak Alex. Kami ingin menanyakan tentang kronologi sebelum kejadian. Apakah salah satu dari kalian bersedia untuk memberikan keterangan secara jelas sehingga kami bisa memproses kasus ini lebih lanjut, meskipun pelaku berhasil meloloskan diri." Tangis Yasmine kembali pecah, ia tau, putrinya pasti sangat ketakutan di luar sana. Dia menyesal tak membawa putrinya tadi. Namun, ia tak menyesal karena menyelamatkan nyawa Dika. "Tolong maafkan putri saya, Tuan..." mohon Yasmine pada Alexander. "Pak Polisi, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya tidak tau kapan istri saya melaporkan ini pada kalian. Saya hanya ingin mengatakan kalau kasusnya tolong dihentikan saja. Kami bisa menyesuaikannya secara kekeluargaan." "No, Papi! Dika di dalam kesakitan. Kita belum tau keadaannya bagaimana. Itu semua karena gadis itu, jika anak saya sampai kenapa-kenapa, akan dipastikan dia mendekam di penjara." "Mami, papi sudah jelaskan pada Mami, kenapa Kyana melakukan hal ini. Kenapa Mami masih bersikeras?" "Mami hanya tak ingin Dika kenapa-napa. Dia anak Mami juga, dan bukan hanya anak Papi. Kalau Papi mau hentikan masalah ini, Mami yang akan bawa ke jalur hukum lagi jika terjadi sesuatu pada anak Mami." Devita menatap tajam pada Yasmine yang menunduk merasa bersalah. Alexander memohon maaf pada polisi dan meminta mereka meninggalkan rumah sakit untuk saat ini agar suasana tidak semakin memburuk. Mahardika Silan Alexander, pria itu tak menyangka jika gadis yang amat dicintainya adalah anak dari orang-orang di masa lalunya yang menciptakan penyesalan mendalam dalam diri pria itu. Kekejamannya di masa lalu, membuat siapapun akan sulit memaafkan dirinya. Bahkan gadis cantik yang menemaninya di Indonesia pun yang tak ada sangkut pautnya dengan masa lalu pria itu, tega meninggalkannya begitu saja setelah tau masa lalu Dika yang kelam. Lalu, bagaimana dengan Kyana, gadis yang jelas-jelas menjadi korban kekejaman pria itu di masa lalu. "Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?" Alexander langsung bertanya pada sang Dokter begitu pria dengan pakaian putih itu keluar dari ruangan yang siapapun tak ingin masuk ke sana sebagai pasien. "Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik. Syukurlah, putra Anda segera di bawa ke rumah sakit. Jika tidak, kami tak tau bagaimana jadinya karena lukanya cukup dalam." "Syukurlah... Apakah saya bisa menjenguknya sekarang?" "Untuk saat ini, jangan dulu, Tuan, biarkan dia beristirahat dahulu sebentar sebelum kami memindahkannya ke ruang rawat inap," jelasnya dengan sopan. "Owh, baiklah, Dokter. Terima kasih telah menangani putra saya dengan baik." "Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu." "Silahkan." Sang Dokter berjabat tangan dengan Alexander sebelum meninggalkan ruangan UGD. Alexander sudah meminta anak buahnya membawa Yasmine pulang agar wanita itu lebih tenang. Sementara, Devita, wanita itu sedang ada di salah satu ruang rawat karena tadi sempat pingsan setelah marah-marah pada Yasmine. Alexander menghela napas berat. Semua yang dilewati putranya tak jauh-jauh dari masalah turun temurun yang tiada hentinya. Pangkal masalah adalah kedua orang tuanya yang mempunyai konflik keluarga. Lalu, berlanjut pada dia dan adiknya yang kemudian menciptakan konflik pada anak-anak mereka, hingga sekarang, putranya harus menanggung semua itu. *** Flashback on. Kyana sedang asyik berbalas pesan dengan kekasihnya yang mengajaknya makan malam. Ia sangat mencintai sang kekasih. Namun, seseorang menelponnya. Pria di seberang sana mengajaknya bertemu dan membicarakan sesuatu hal yang sangat penting untuk Kyana ketahui. Awalnya, gadis itu malas menanggapi ucapan teman laki-lakinya itu karena dia sedang ada janji dengan sang kekasih, bahkan ia berniat memutus sambungan telepon. Namun, ucapan pria itu selanjutnya, membuatnya mengurungkan niatnya. "Tentang Ayahku? Kamu tau?" Kyana bertanya serius. "Tentu saja. Menurutmu, apa ada hal yang sulit dilakukan seorang Zeen? Terlebih ini hanya mencari berita atas meninggalnya ayahmu 17 tahun silam. Sangat mudah, Kyana. Jadi, sekarang kamu boleh memilih, mau datang menemuiku dan akan ku ceritakan, atau...mau masa bodoh aja?" Sungguh, Kyana tak pernah sedikitpun tertarik berbicara lebih lama dengan pria itu. Namun, yang dibahasnya kali ini, mampu membuat Kyana seantusias itu. "Kamu serius, Zeen?" "Kamu masih ragu? Astaga...." "Bukan begitu, aku hanya ingin memastikan sebelum memutuskan akan menemui mu atau tidak, itu saja." Terdengar pria di seberang sana menghela napas berat. Lalu, ia terkekeh. "Begini saja, Ky, kalau kamu mau datang temui aku, temani aku makan malam. Aku akan menceritakan semuanya dengan bukti-bukti yang ku punya. Setelah itu, terserah saja, kamu masih menganggap ku berbohong atau sebaliknya. Aku berjanji tak akan mengganggumu lagi setelahnya, jika aku berbohong padamu kali ini." Kyana terdiam sejenak, ada keraguan dalam hatinya pada ucapan Zeen. Siapa tau ini hanyalah akal-akalan Zeen saja supaya bisa dinner dengan Kyana. Tapi, Kyana tak bisa menyampingkan rasa penasarannya. Dia selama ini tak tau ke apa yang menyebabkan ayahnya meninggal. Yang dia tau, ayahnya meninggal saat bertugas menjaga prince of mafia yang sampai detik ini ia tak tau siapa orangnya. Sambungan telepon sudah terputus. Kyana mondar-mandir bagai setrikaan di dalam kamarnya. Zeen sangat yakin kalau Kyana akan menemuinya. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk mengirimkan alamatnya pada Kyana. "Ahh, Zeen sialan!" Kyana mengumpat membaca alamat itu. Pede sekali Zeen dirinya akan ke sana menemui pria itu. Kyana mendengar kesal. Ia melemparkan ponselnya ke kasur. Namun, sejenak kemudian, ide cemerlang masuk ke otaknya. "Zeen bilang, dia tak akan menggangguku lagi jika dia berbohong kali ini," Kyana berpikir sembari terus mondar-mandir, "oke, Ky, sebaiknya kamu temui saja dia. Kalau memang benar dia tau semuanya, itu akan lebih baik. Tapi, kalau dia berbohong, itu akan baik juga karena kamu tak perlu repot-repot mengusir dia lagi setiap mengganggumu." Gadis berambut coklat itu meraih ponselnya dan segera mengirim balasan pesan pada Zeen. 'Oke, tunggu aku. Aku terima undanganmu.' Gadis itu buru-buru menuju kamar mandi, masih ada satu jam sebelum dia benar-benar pergi. Di sisi lain, Zeen tersenyum senang sembari memutar-mutar ponselnya. Balasan pesan dari Kyana membuat hatinya berbunga-bunga. Gadis itu akan menemuinya, dan dia akan dengan senang hati memberitahukan apa yang ia ketahui. Informasi ini sangat menguntungkan baginya. Dia tak akan susah-susah menjauhkan Kyana dari kekasihnya, karena ceritanya kali ini akan otomatis memantik api dendam Kyana pada sang kekasih. "Kamu harus jadi milikku, Kyana. Tak ada yang boleh miliki kamu selain aku." Pria itu berkata pada dirinya sendiri. Zeen menepuk tangannya tiga kali, dua orang berbaju serta hitam datang mendekat. "Siapkan tempat makan yang paling romantis untukku malam ini, di sini." "Baik, Tuan Muda." ____ Setelah selesai melaksanakan ritual di pembuka malam, Kyana langsung pergi ke lokasi yang sudah Zeen kirimkan. Itu adalah lokasi sebuah rumah. Dengan diantar oleh taxi daring, gadis itu sampai di rumah milik keluarga Zeen. "Selamat datang, Nona Kyana. Tuan Muda sudah menunggu anda di dalam." Kyana hanya melemparkan senyum pada bodyguard yang ramah itu. Ia kemudian berjalan ke arah belakang rumah dengan ditemani pria tadi. "Silahkan, Nona." Kyana tertegun melihat hiasan yang begitu bagusnya di sana. Sepanjang jalannya menuju pinggir kolam tempat meja disediakan, lilin-lilin kecil menyala dengan indah. Bunga mawar bertaburan di mana-mana. Kyana berjalan dengan kikuk. Dika saja belum memberikannya kejutan seperti ini meskipun mereka sudah menjalin hubungan selama setahun. "Astaga, Kyana!! Apa yang kamu pikirkan. Jangan membandingkan kekasihmu dengan pria b*****h itu!" Kyana menggelengkan kepalanya dan langsung berjalan lebih cepat ke meja. "Akhirnya, kamu datang juga, Ky..." Zeen menyambutnya. Pria itu menarik kursi untuk Kyana dan mempersilahkannya duduk. "Ayo, katakan segera, apa yang kamu ketahui tentang masa lalu Ayahku!" cecarnya. "Ups, ternyata kamu sangat ga sabaran ya, Ky. Aku ke memintamu ke sini untuk menemaniku makan malam, setelah itu baru ku ceritakan. Bukan cerita dulu baru makan." Zeen mengerlingkan matanya. Mungkin bagi gadis lain, itu sangat tampan, tetapi tidak sama sekali bagi Kyana yang seketika ingin mual melihatnya. "Terserah kamu saja, Zeen. Tapi, aku tak punya banyak waktu." Zeen kembali tersenyum, menampilkan smirk nya pada Kyana. Pria itu mengangkat tangannya dan menepuk tiga kali. Kyana dibuat ternganga karena beberapa gadis cantik dengan pakaian pelayan, mendatangi mereka dengan makanan-makanan berbagai jenis. Mereka membungkuk hormat dan menata makanan dengan sopan. "Kau janjikan apa pada gadis-gadis itu sehingga mereka mau menjadi pelayanmu du sini?" Kyana mengejek. "Mereka yang memohon-mohon untuk bisa bekerja di sini. Siapapun pasti butuhkan uang, bukan?" Zeen tersenyum manis, "ayo, Tuan Putri, silahkan di makan." Zeen mempersilahkan Kyana. Sejujurnya, gadis itu tak lapar. Namun, ia harus makan agar Zeen segera bercerita dan dia bisa pergi secepatnya. Saat makan, Kyana bisa melihat Zeen beberapa kali tersenyum sambil menatapnya. Kyana tak mau ambil pusing, dia terus melahap makanannya hingga sepiring spaghetti spesial di piringnya sudah tandas. "Kamu mau nambah?" tanya Zeen lembut. "Tidak, terima kasih." Zeen tersenyum, pria itu menyantap spaghetti di piringnya dengan pelan. Ini ia lakukan supaya bisa berlama-lama duduk bersama Kyana. Gadis itu sudah berhasil menyandra hatinya sejak lama. Sayangnya, Silan sudah lebih dulu menjadikannya kekasih. Itulah yang membuat Zeen membenci Silan sehingga rela mencari tau masa lalu pria itu demi mendapatkan kelemahan Silan. Siapa sangka, dia bisa mendapatkan sebuah kejutan dari masa lalu pria itu. Zeen sudah selesai makan, Kyana menatap tak suka pada pria itu yang sepertinya sengaja memperlambat waktu. "Ayolah, Zeen. Aku ada janji dengan Dika. Kamu jangan buang-buang waktuku terlalu lama," cecar Kyana kesal. Zeen terkekeh, pria itu kemudian bangkit dan mendekat ke meja bangku Kyana. "Kamu seriusan mau tau sekarang, Cantik?" Zeen menarik dagu Kyana dengan lembut. Kyana langsung menepisnya. Kyana merasa dirinya sedang dipermainkan oleh Zeen. Gadis itu bangkit dan berniat pergi. "Mau ke mana?" "Sepertinya aku hanya buang-buang waktu di sini. Ingat kata-katamu sore tadi, kamu tak akan menggangguku lagi jika kamu berbohong malam ini!" Kyana kesal. Ia membalikkan badannya saat Zeen kemudian menarik pergelangan tangannya. "Lepas!!" "Kenapa buru-buru sekali, Cantik. Aku tak sedikitpun berniat bohong padamu. Ayo ikut aku ke sini." Zeen menarik tangan Kyana, menjauh dari meja makan. Pria itu membawanya ke ayunan yang ada di pinggir kolam. "Duduklah, aku akan menunjukkan sesuatu," ucapnya. Kyana menurut, ia duduk di ayunan, menunggu apa yang akan Zeen tunjukkan padanya. Zeen menyentikan jaringan, seseorang datang menemui mereka dengan membawa sebuah map berwarna coklat. Kyana heran, di mana orang-orang ini bersembunyi. Kenapa setiap kali Zeen memberi kode, mereka langsung datang? Sungguh sangat menyedikan diperbudak pria menyebalkan ini. Zeen mengambil map coklat dari tangan pria itu, pria itu segera pamit. "Bacalah!" Zeen menyerahkan pada Kyana. "Apa ini?" "Bukankah itu tujuanku mengundang kamu ke sini? Baca isinya, dan kau akan tau sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikan." Di dorong rasa penasarannya. Kyana langsung membuka map coklat itu, mengeluarkan isinya dan langsung membacanya. Seketika, matanya melotot melihat susunan jabatan mafia yang ia tau menjadi penyebab dirinya menjadi anak yatim. Meskipun kabarnya anggota mafia itu sudah terpecah dan sebagian membubarkan. Namun, dendam seorang anak yang kehilangan ayahnya di sana tak akan berhenti seiring berhentinya mereka. Di sana tertulis nama Steven sebagai ketua mafia, dan .. nama Silan sebagai prince of mafia. "Ga! Ga mungkin!" "Itulah kenyataannya, Cantik. Pria yang kamu banggakan sekarang adalah pria yang sama dengan dia yang sudah menghabisi nyawa Ayahmu. Dika, alias Mahardika Silan Alexander." "Ga!!! Kamu pasti sedang membohongiku! Dika bukan bagian dari mereka! Dika bukan seorang mafia!!! Namanya Ardika Maulana, bukan Mahardika Silan Alexander!" Zeen terkekeh melihat amarah Kyana yang menyala. Bahkan gadis itu sudah berdiri tepat di hadapannya. "Kalau kamu tak percaya, terserah saja. Aku hanya mengatakan apa yang harus ku katakan. Urusan percaya atau tidak, itu ada di tanganmu." Kyana menatap tajam pada Zeen, sungguh, ia benci pria ini. "Sekarang, silahkan kau tanyakan pada ibumu. Di daerah mana tempat markas para mafia yang dulu membunuh Ayahmu. Jika Ibumu menjawab sesuai apa yang tertulis di sana, maka aku, sama sekali tak berbohong. Kamu harus tau, aku mendapatkan ini dengan susah payah dari seseorang yang juga pernah tergabung menjadi bagian dari mereka. Bahkan orang itu adalah tangan kanan seorang pangeran sendiri." Tak ingin banyak pikiran, Kyana menuruti permintaan pria itu. Ia menelpon sang ibu, tetapi wanita itu tak menjawab. Lalu, ia mengirim pesan pada ibunya, tetap tak ada balasan. "Sepertinya, ada yang belum kamu lihat di dalam sana, Ky," ujar Zeen dengan tenang. Kyana menatapnya tajam. "Apalagi?" "Cari saja di dalam map coklat itu." Kyana lagi-lagi menurut, jika Zeen berani membohonginya dan juga memfitnah kekasihnya sebagai bagian dari para mafia, Kyana akan langsung membunuh pria itu. Tangannya merongrong lagi ke dalam map coklat. Ia menarik isinya keluar, ada beberapa foto di sana. Lagi-lagi, Kyana tercengang melihat foto-foto itu. Foto di mana Dika sedang duduk ditempat kebesarannya, dengan beberapa orang duduk di bawah, dan salah satunya adalah Jordan, ayah kandung Kyana. "Ayah..." Kyana sendu. "Sekarang kamu bisa percaya, kan? Ayahmu adalah seorang penasihat pangeran mafia, yang mana pangeran mafia itu adalah dia, Dika. Nama lengkapnya bukan Ardika Maulana sebagaimana yang kita ketahui, tetapi dialah Mahardika Silan Alexander yang sesungguhnya." Tangis Kyana pecah, bukti adanya foto sang ayah bersama para mafia dan juga ada Dika di sana, sungguh mencabik-cabik hatinya. Tak ada celah untuk ia tak percaya kali ini. "Kenapa..hiks..kenapa ada Dika dan Ayah di sana...hiks.." Zeen mengambil kesempatan. Ia memeluk Kyana untuk menenangkan. Dari Zeen lah dia mendapatkan rencana busuk untuk membunuh Dika sebagaimana yang dilakukannya malam itu. Flashback off. Kyana termenung sendirian di pinggir kali di tengah hutan. Semalam ia tidur di bawah pohon sambil memeluk tubuhnya sendiri. Dinginnya malam dan ketakutan akan hewan buas, membuatnya beberapa kali terjaga. Namun, Kyana bernapas lega setelah sinar matahari menyapa matanya dari balik dedaunan yang rindang. Ia terus berjalan hingga menemukan aliran sungai di tengah hutan itu. Ia membasuh wajahnya dan juga tangannya yang ternyata masih membawa darah kekasihnya yang ada di pisau kemarin. Tangis gadis itu seketika pecah mengingat kejadian semalam. Setelah puas menangis, ia duduk memikirkan, ke mana kiranya ia akan pergi setelah apa yang dilakukannya. Kyana yakin, orang tua Silan tak akan melepaskannya begitu saja. Mereka pasti akan memenjarakan Kyana, cepat atau lambat. "Ayah...apa yang harus kulakukan sekarang? Aku takut...bawa aku menyusulmu Ayah..." Gadis itu kembali menangisi keadaannya. Hatinya sangat kacau. Biasanya, saat ia sedih, Silan akan menghiburnya dengan segala cara sehingga Kyana melupakan kesedihannya. Tetapi, saat ini, kenyataan dari pria itulah yang membuat Kyana benar-benar hancur. "Aku menyesal menaruh harapan dan memberikan hatiku untuk kamu, Silan! Aku menyesal!!!!" Kyana merintih. Namun, beberapa saat kemudian, akal sehatnya kembali berkumpul. Kyana tau, dia tak mungkin harus diam di sini terus-terusan. Gadis itu membasuh kembali wajahnya dan berjalan menyusuri arah sungai. Ia yakin, biasanya ada perkampungan di ujung sungai yang memanfaatkan air sungai sebagai sumber air mereka. Setidaknya, Kyana bisa bersembunyi di sana dulu untuk sementara, sementara ia mendengar kabar tentang kekasihnya. Namun, semua yang ia harapkan, lagi-lagi harus hancur seketika karena... Saat berjalan di tepi sungai, dua orang berpakaian serba hitam langsung menghadangnya. "Siapa kalian!!" teriaknya takut. Kyana berniat lari, saat salah seorang dari mereka langsung menangkapnya. Lepas!! Lepaskan aku!!!" "Diam! Jangan banyak bicara dan jangan melawan!!!" bentak salah seorang dari pria yang menangkapnya. Kyana terus berontak, hingga pria itu memutuskan untuk memukul tengkuk Kyana dan berhasil membuat gadis itu tak sadarkan diri. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Kyana berpikir, apakah ini akhir dari hidup dan kisah cintanya dengan Silan? Gadis itu terisak dalam hati hingga pandangannya benar-benar gelap.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

My Sweet Enemy

read
49.2K
bc

Pengantin Pengganti

read
85.9K
bc

Perfect Marriage Partner

read
821.3K
bc

Secret Marriage

read
949.4K
bc

Hate You But Miss You

read
1.5M
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Long Road

read
148.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook