Episode 2

1617 Kata
Yasmin tak kuasa menahan air matanya saat melihat foto sang suami yang sudah lama sekali meninggalkan ia dengan seorang anak, hasil dari buah cinta mereka. Rasa sakit akibat rindu, sakit karena rasa bersalah pada sang suami karena merasa gagal mendidik anak mereka, semua itu berkecamuk dalam hatinya. "Hiks..hiks.." Hanya isakan tangis yang terdengar dari salah satu ruangan di dalam rumah yang sederhana, tetapi cukup layak ditempati. Beberapa kali ia mendapatkan tawaran untuk renovasi rumah dari Alexander agar rumah yang ia tempati dengan putrinya itu bisa menjadi rumah yang luas dan membuat si kecil yang aktif itu bisa puas bermain ke manapun. Namun, sekarang si kecil itu sudah bebas, bahkan terlalu bebas bermain sehingga dia malam ini juga, telah melukai seseorang yang sangat disayangi oleh suaminya. Si anak kecil yang tak tau apa-apa dan disayangi dengan tingkah polosnya, kini entah siapa yang menjadikan ia bak singa liar. Malam semakin larut, wanita paruh baya itu hanya mampu memeluk tubuhnya sendiri sembari menangisi kejadian malam ini. "Di mana kamu sekarang, Nak... Kenapa kamu menjadi seperti ini, hiks.." "Siapa yang memanipulasi kamu sehingga tega melakukan semua ini pada nak Dika." Belasan tahun dia menyembuhkan rahasia besar itu dari putrinya. Tak sedikitpun ia ingin hal ini terjadi karena dendam berkelana tidaklah baik karena salah paham tentu saja membarengi. Alexander terlalu baik kepada keluarga mereka sehingga tak ada sedikitpun celah bagi Yasmin untuk membencinya. Terlebih sang suami juga sangat menghormati keluarga itu. Kini, semuanya menjadi tabu karena kesalahpahaman yang tercipta pada putrinya. Ia memeluk foto keluarganya yang masih lengkap, seorang pria di dalam foto, dengan seragam kebanggaannya, sedang menggendong seorang bayi dengan tawa lepas menghiasi kebahagiaan mereka. Selain khawatir di mana keberadaan putrinya, wanita itu juga khawatir sekali dengan keadaan pemilik darah segar di baju yang ia kenakan sekarang karena belum sempat dibersihkan dari tadi. "Bagaimana keadaannya sekarang? Aku tak akan bisa memanfaatkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu padanya." Amanat terakhir sang suami dituliskan dalam surat yang datang bersama jenazahnya, jangan pernah membenci siapapun di kemudian hari karena semua yang terjadi adalah resiko yang sudah siap ia ambil sejak masuk ke dalam pekerjaannya sebagai penasihat pangeran yang terkenal akan kekejamannya di ranah lingkaran hitam tersebut. Harapnya, semoga saja korban kejahatan putrinya tadi, baik-baik saja. Sehingga hukuman yang putrinya dapat juga tidak terlalu berat. Jangan sampai pria itu meregang nyawa dan rasa bersalah seumur hidup akan dia rasakan bersama putrinya ** Sementara itu, di dalam sebuah mobil yang melaju kencang di jalan raya pagi-pagi buta, seorang gadis duduk lemas tak sadarkan diri akibat pukulan pria yang kini menjaganya di kursi belakang. Drt..drt..drt.. "Hallo, Tuan?" "Cepat bawa dia ke sini!" "Baik, Tuan. Kami sedang berada dalam perjalanan. Sepuluh menit lagi kami sampai." "Oke, saya tunggu." "Baik." Klik! Pemutusan sambungan sepihak dilakukan pria di seberang sana yang pastinya sangat tak sabar menunggu kedatangan gadis yang mereka bawa ini. Benar saja, sepuluh menit terasa begitu lama bagi pria yang menunggu kedatangan tamu terhormatnya itu. Di rumahnya yang begitu luas dan hanya ditempati oleh dia dan anak buahnya saja, para pelayan sudah siap sedia mengerjakan tugas masing-masing. "Kenapa dia tak sadarkan diri?! Apa yang kalian lakukan!?" Raut kemarahan langsung muncul saat dua pria yang keluar dari mobil memberitahukan kondisi gadis yang ditunggu-tunggu itu. "Maaf, Tuan muda, kami terpaksa melakukannya agar dia tak berontak. Tapi saya pastikan dia akan sadar dalam waktu dekat." "Kalau sampai terjadi apapun padanya, kalian berdua akan mendapatkan bonusnyan!" "Ba-baik, Tuan." Balasan macam apa itu. Mereka berdua sudah berjuang masuk ke dalam hutan pada gelapnya malam, demi mendapatkan si gadis. Nyamuk yang mengganggu tak dirasakan lagi, hingga mereka menemukan yang dicari saat pagi hari. Tak ingin dibantu, bos mereka mengangkat tubuh itu ke dalam rumah. Sudah ada kamar yang dipersiapkan untuk gadis itu setelah ada kabar bahwa ia telah ditemukan. "Miranda!!" "Iya, Tuan." Seorang gadis yang dipanggil namanya, langsung menghadap pria itu. "Siapkan baju untuknya dan gantikan pakaiannya." "Baik, Tuan." Dengan tatapannya yang penuh kemenangan, pria itu mengelus lembut rambut rambut panjang gadis itu dan berlanjut ke wajahnya yang basah karena air mata. "Tenang, Sayang. Aku tak akan biarkan siapapun mengusik kamu di sini. Kamu aman denganku." Dia berucap sembari tersenyum licik. Miranda hanya bisa diam saja tanpa berani berkomentar, karena berkomentar sebelum ditanya-tanya adalah jalan menuju kesengsaraan. "Lakukan sekarang. Lalu siapkan sarapan untuknya. Kurasa pagi ini dia tak bisa sarapan denganku." "Baik, Tuan, saya akan melaksanakannya." "Sekarang!!" "Ba-baik, tapi..." Arumi takut-takut. "Tapi apa?" "Apa Tuan akan tetap di sini selama saya menggantikan pakaian nyonya?" Wajah gadis itu bersemu merah ketika bertanya. Tak hanya dia, pria yang dipanggil tuan pun demikian. Ia jadi salah tingkah seketika. "Ya sudah, saya keluar dulu. Panggil saya kalau sudah siap." "Baik, Tuan." Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria itu keluar dengan langkah gontai. Hawa panas seketika menjalar di tubuhnya setelah sadar bagaimana bisa dia akan tetap diam di sana menyaksikan Miranda menggantikan pakaian wanita yang sudah diincarnya sejak lama. Jangan sampai fantasi liarnya bangkit pagi-pagi gini. "Huhhh..." Pria itu duduk di kursi dekat taman untuk menenangkan pikirannya yang sedikit kacau di pagi hari. Dia tersiksa idenya sendiri. Salah satu dari anak buahnya datang menghampiri sembari membawakan kopi pesanan tuannya. "Selamat pagi, Tuan Zeen." Pria yang sedang memijit kepalanya yang pening tersebut mengangkat wajahnya untuk melihat sumber suara. "Pagi," balasnya lirih, "duduk lah." Pria itu menurut. Dia adalah tangan kanan dari sang tuan. "Bagaimana keadaannya? Apa dia mati?" "Tidak, Tuan. Dia hanya mengalami lupa tusuk yang cukup dalam, dan diperkirakan dia tak sadarkan diri sampai beberapa hari ini." "Ah, sayang. Seharusnya dia mati saja sekalian. Hidupnya sungguh tak berguna sekali di muka bumi ini." "Tapi, yah.. tak apa. Yang penting, orang yang membuat dia terbaring tak berdaya di rumah sakit saat ini adalah orang yang sangat dia cintai. Hahahaha, tak bisa dibayangkan bagaimana reaksinya nanti saat bangun. Apalagi dengan gadis itu kini ada dalam genggamanku." Tangan Zeen mengepal dengan senyum penuh kemenangan di bibirnya. Untuk sampai ke titik ini, dengan posisi si gadis yang membencinya setengah mati karena telah mengkroyok kekasihnya, mulai detik ini, gadis itu pasti akan berterima kasih dan tak bisa jauh darinya. "Semalam ada polisi juga yang datang ke sana." Si pria yang baru datang melanjutkan laporannya. "Apa? Terus gimana?" Zeen yang tadi tersenyum seketika berubah serius mendengar kata polisi. Dia lupa kalau kasus ini bisa saja tembus ke kepolisian. "Sekarang sudah tidak lagi, Tuan. Semalam Mr. Alexander mencabut tuntutan yang istrinya lakukan pada nyonya Kyana. Mereka akan menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan." "Baguslah kalau memang seperti itu. Artinya Kyana aman denganku." Senyum penuh kemenangan itu lagi-lagi terbit. Dia jadi penasaran bagaimana reaksi rivalnya nanti ketika sadar nanti, kekasihnya sudah ada dalam genggaman orang lain. Dan bagaimana nanti reaksinya saat ingat kalau yang melakukan itu semua padanya adalah gadis yang mati-matian ia jaga selama ini. "Bhahaha mampus kau, Dika!" "Tapi, Tuan. Satu hal yang perlu kita ingat. Mr. Alexander tidak akan tinggal diam setelah ini karena rahasia yang Tuan bocorkan pada nyonya Kyana adalah rahasia besar yang selama ini mereka sembunyikan. Saya tidak yakin kalau mereka tidak akan mencari tahu siapa yang membocorkannya, dan jika sampai itu terjadi, Tuan juga dalam bahaya." "Tenanglah Ameer, semua sudah kupikirkan dengan matang sebelum melangkah. Jadi, kau hanya perlu melakukan apa saja yang aku perintahkan." "Iya, Tuan. Saya hanya menghawatirkan Anda." Sebagai seorang tangan kanan tuan muda pemegang warisan Gernaldforn Corporation, Ameer adalah orang terdekat dengan pria itu di antara sekian banyak pekerja yang dimilikinya. Gernald, ayah kandung dari pria di depannya ini telah mempercayakan putranya kepada Ameer untuk dijaga dan diingatkan ketika salah mengambil langkah. Jadi, dia yang berperan penting dalam setiap hal yang akan dilakukan atau telah dilakukan Zeen dalam hidupnya selama jauh dari kedua orangtuanya. Orang tua pria itu ada di negeri seberang, menghabiskan masa tua nya bersama sang istri tanpa mau diganggu putra mereka yang kini sudah memegang penuh kekuasaan perusahaan. "Kau sudah makan?" Zeen bertanya pada Ameer yang terlihat meringis. Dengan nyengir kuda, pria itu menggeleng. Dia Mering karena cacing-cacing di dalam perut sudah protes sedemikian rupa. Namun, ia sungkan untuk berpamitan lebih dulu makan. "Kalau begitu ayo makan denganku. Hari ini kita harus rayakan pencapaiannya kita ini." "Baiklah jika Tuan memaksa." "Hah?" Pria itu berjalan lebih dulu dibandingkan tuannya karena dia memang lapar, sejak kemarin belum ada apapun yang masuk ke perutnya. Hanya dengan dia Zeen bisa begitu, jika dengan yang lain, sikap formalitasnya sangat tinggi. Tapi dengan pria yang sudah dengannya sejak kecil ini, dia tak menggunakan formalitas, mereka bagai teman, meskipun usia Ameer jauh lebih tua darinya. Saat hendak duduk di kursi yang sudah Ameer tarik untuknya, Zeen melihat Miranda berjalan menuju tangga dengan nampan di tangannya. "Tunggu!!" Gadis itu langsung diam di tempat. Zeen menghampiri ia bagai orang mengitimidasi. "Apa itu?" Tunjuknya pada mangkuk di atas nampan. "Ini bubur, Tuan." "Bubur? Kenapa bubur?" "Saya rasa ini cocok untuk nyonya ketika dia bangun dari pingsannya. Saya akan menyimpankan di penghangat yang ada di kamar itu." Pria itu mangut-mangut. Di dalam kamar, tak hanya pendingin makanan yang tersedia, tetapi alat untuk menjaga makanan tetap hangatpun ada "Boleh saya lanjutkan langkah, Tuan?" "Silahkan!" Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju kamar nyonya baru yang tuannya kenalkan sebagai kekasih. Miranda bersyukur dirinya yang terpilih sebagai orang yang akan mengurusi keperluan dari gadis yang terbaring di kamar tersebut. Selain mendapatkan pekerjaan baik, tentunya upah yang diterima akan lebih besar dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Dia baru tahu, di balik sikap keras kepala dan kasarnya sang tuan, pria itu bisa menjadi b***k cinta untuk seorang gadis yang penghuni rumah anggap beruntung. Mereka tidak tau saja bagaimana perjuangan Zeen sehingga bisa membawa gadis itu ke rumahnya. Dia bahkan rela menghabiskan banyak uang dan waktu demi mendapatkan informasi yang bisa ia pergunakan untuk mengadudombakan si gadis dengan pujaan hatinya yang kini masih bertahan hidup dengan peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN