Episode 7

1721 Kata
"Saat ini kondisinya sudah membaik. Jadi kalian datang saja menjenguknya. Dia pasti senang sekali." Alexander berbicara pada dua orang di depannya. Mereka adalah orang-orang hebat yang menyatukan perusahaan dengan kerjasama yang saling mengaitkan satu sama lain. "Tentu saja kami akan menjenguknya, Tuan. Kami sangat rindu," ucap salah satu dari mereka. "Benar sekali, sudah lama sekali kami tidak bertemu." "Heheh, saya bersyukur anak saya bisa memiliki teman-teman seperti kalian ini. Tetaplah saling mendukung dalam segala hal." "Tentu," jawab keduanya dengan pasti. Setelah berjabat tangan sebagai bentuk dealnya kesepakatan kerja mereka, ketiga orang tersebut turun ke parkir area untuk menuju rumah sakit, di mana orang yang mereka bicarakan tadi berada. Hari sudah memasuki siang, Alexander harus mengingatkan istrinya untuk beristirahat juga. Jika tidak begitu, wanita itu pasti akan kekeh menjaga putra mereka meskipun sebenarnya dia sendiri masih dalam keadaan kurang sehat karena sebelumnya dia mengalami demam selama dua hari ini. Mungkin karena dia terlalu kepikiran putranya membuat wanita itu drop. Namun, begitu tau putra kesayangannya itu sudah bangun dari tidur panjangnya selama tiga hari terakhir, ia langsung sembuh dan semangat ke rumah sakit. Perjalanan dari kantor menuju rumah sakit memakan waktu setengah jam ketika melewati jalanan yang landai saat jam istirahat kantor belum dimulai. Di bagian kota paling utara negara Belanda ini, orang-orang memang masih banyak yang menggunakan kendaraan untuk bepergian. Berbeda dengan di kota-kota besar seperti Amsterdam dan kota-kota lainnya yang sudah sedikit orang menggunakan kendaraan bermesin untuk menunjang kegiatan mereka. Di sana lebih banyak menggunakan sepeda dan berjalan kaki untuk sampai ke tempat yang mereka tuju. Amsterdam, tempat yang memiliki cerita tersendiri bagi hidup seorang Mahardika Silan Alexander. Tempat yang ia rindukan tetapi tak ingin ia kunjungi karena kenangannya. Cornelia Hospital, salah satu nama dari rumah sakit di kota tersebut yang memiliki fasilitas cukup lengkap. Di sanalah putra dari pemilik perusahaan De Tweeling Corporation yang berdiri di tengah kota Groningen itu berada. "Ayo lewat sini," Alexander mengarahkan. Nicols asistennya tak ada di sini mendampingi karena memiliki tugas lain dari sang majikan, yakni menemukan Kyana untuk sang ibu yang terus menangisi putri satu-satunya yang tak kunjung pulang setelah perbuatannya yang tak bisa dianggap baik tetapi juga tak bisa dikatakan salah. Sementara di dalam sana, pria yang akan mereka kunjungi itu tengah melamun. Ia teringat kejadia sebelum dirinya berada di tempat ini. Sejak pagi hari, dia memang merasakan ada yang salah dengan hatinya. Dia sangat malas keluar rumah. Mungkin jika dia menuruti kata hatinya, tak akan begini jadinya. Flashback on Menjadi seorang Ceo di sebuah perusahaan ternama, apalagi didominasi dengan wajah yang tampan. Mungkin menjadi sebuah kebanggaan untuk kebanyakan pria. Terlebih, dengan begitu, banyak gadis akan suka rela memberikan apapun untuk mereka. Namun, semua itu tak berlaku untuk Ardika, seorang pria blasteran Indonesia-Belanda yang memiliki wajah tampan dengan bola mata hitam pekat yang ia dapatkan dari titisan sang ibu. Pria itu bahkan sangat ingin menjauh dari kehidupan anak orang kaya sebagaimana biasanya. Dia lebih senang menjadi orang biasa yang mau ke manapun bebas dan tak perlu memikirkan beban apapun itu. "Tuan muda, sarapannya sudah siap." Seorang pria yang usianya sebaya dengan Dika, membungkuk hormat pada pria bermata hitam itu. Ini salah satu hal yang sebenarnya tak disukai oleh Dika, tak suka diperlakukan bak seorang pangeran. "Makasi," balasnya singkat. Dika melangkah meninggalkan kamarnya, satu-satunya tempat untuk mengasingkan diri dari kehidupannya saat ini. Berada dalam posisinya sekarang, sungguh membuat Dika merindukan kehidupannya di Indonesia yang kemana-mana bebas dan lepas tanpa dibebani pikiran tentang bisnis dan pekerjaan. Namun, dia harus ingat, kenapa dia bisa berada di titik saat ini. Orang tuanya yang sudah berumur, ingin menikmati masa tua mereka, dan Dika tak boleh egois. Dia tak bisa menolak permintaan kedua orangtuanya saat mereka meminta Dika kembali ke tanah kelahirannya di Groningen untuk melanjutkan bisnis keluarga. "Papi-mami di mana, Bri?" tanyanya saat berada di lantai bawah dan tak menemukan kedua orang tuanya. "Tuan dan nyonya sudah berangkat ke luar kota tadi pagi, Tuan muda. Salah satu teman nyonya mengadakan pesta." "Kenapa ga ada yang ngomong ke gue?" 16 tahun hidup di Indonesia, logat bahasanya begitu mendarah daging, bahkan saat bicara pada anak buahnya yang begitu formal, dia tak menggunakan bahasa seperti mereka. Kadang ia kesal sendiri pada asistennya ini yang selalu dengan keformalannya. Pasalnya, dia sudah pernah hidup di bagian ibu kota negara tempat Ardika mengasingkan diri selama ini. Seharusnya dia bisa saja diajak bicara dengan bahasa gaul itu, terlebih di sini hanya dia dan ayah Ardika saja yang mengerti bahasa gaul Jaksel, salah satu bagian dari daerah ibu kota Negara Garuda Jadi, Khusus untuk Brian, Ardika memang sering menggunakan bahasa lo-gue karena menurutnya, mereka nyambung. Meskipun Brian dua tahun lebih tua darinya dan tetap saja mengunakan bahasa formal dengannya. "Maaf, Tuan muda. Tadi pagi, nyonya ingin membangunkan Tuan muda. Tapi, beliau mengurungkan karena nyonya melihat Tuan muda tidur begitu pulas." Brian menjelaskan. Dika mangut-mangut. Dia menyantap sarapan dengan ditemani asistennya itu. Memiliki asisten yang mengikutinya ke mana-mana awalnya membuat Dika risih. Namun, seiring bejalan nya waktu, pria itu mulai terbiasa dengan kehidupannya di negara sang ayah. Dia sendiri yang memilih siapa yang menjadi asistennya sesuai dengan izin sang pemilik tahta. "Jadwal gue hari ini apa aja?" Dika bertanya setelah menghabiskan isi piringnya. Dengan sigap, Brian membuka tablet dan membacakan jadwal tuan muda pagi ini. "Pukul sembilan nanti, ada meeting dengan pihak Bramasta Group selaku pemberi tender, dan juga dengan pihak Gernaldforn Corporation yang akan menjadi pesaing kita dalam tender ini, Tuan." Mendengar nama perusahaan pesaingnya, Dika menghela napas berat. Bukan takut bersaing, hanya saja dia malas bertemu dengan pimpinan dari perusahaan itu. Menurut Dika, pimpinan mereka sangat menyebalkan. Ini semua karena Kyana, gadis yang berhasil membuat Dika kembali jatuh cinta setelah memutuskan menjomblo lama akibat kandasnya kisah cintanya dengan gadis asal Negara Garuda. Kyana yang begitu polos, berhasil menarik perhatian Dika. Memang ya, pilihan orang tua tak pernah salah. Dika mengenal Kyana karena kedua orang tua mereka sepakat menjodohkan dua insan itu. Tapi, ada saja yang ingin merebut Kyana dari Dika. Pria yang yang juga mencintai Kyana, adalah ceo dari Gernaldforn Corporation, dan Dika, harus siap bersaing di dunia bisnis dan juga dunia percintaan. Sampailah ia pada waktu debat tender atas siapa yang lebih unggul nilainya dan berhak mendapatkan proyek besar dari perusahaan Bramasta Group yang terkenal tak main-main dalam memilih partner bisnisnya. Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur, pemasaran dan distribusi barang konsumen tersebut ada di bawah pimpinannya saat ini, dan dia harus mampu membuat perusahaan yang sudah maju dan memiliki beberapa partner di luar negeri seperti Indonesia dan lainnya itu harus semakin maju. "Ayo berangkat," ajaknya pada sang asisten. Di dalam meeting room milik salah satu hotel besar di Kota Groningen, tiga perusahaan itu menjadi satu. Membentuk kubu-kubu untuk mendengar bersama keputusan sang pemberi tender setelah mereka berhasil mempresentasikan nilai jual perusahaan masing-masing. "Baiklah, setelah mendengarkan dan menimbang dengan sebaik-baiknya pertimbangan, saya selaku CEO dari Bramasta Group memutuskan bahwa kontrak kerjasama ini jatuh kepada...." Deg! Deg! Deh! Dua pasang mata saling beradu pandang dengan tatapan sama-sama tajam. Mereka sama-sama saling beradu ejekan dalam tatapan. "De Tweeling Corporation!!!!" "Yes!!!!" Salah satu dari dua pemilik mata tadi berteriak girang. "Bagaimana bisa mereka yang menang, Tuan? Saya yakin perusahaan saya lebih unggul kualitasnya dibandingkan perusahaan mereka. Saya juga lebih lama terjun di dunia bisnis dibandingkan dia yang baru seumur jagung di dunia bisnis. Saya rasa Anda keliru Tuan Devin." Protesan tak setuju keluar dari perusahaan pesaing, Gernaldforn Corporation. "Maaf Tuan, Gernald, keputusan sudah saya buat berdasarkan hasil pertimbangan dengan tim saya, baik daring maupun luring. Dan mereka semua menyetujui statement yang dikeluarkan oleh pihak De Tweeling Corporation. Saya rasa ini cukup jelas. Dalam pertarungan, pasti ada yang kalah dan menang. Saya berharap pihak dadi Gernaldforn Corporation bisa menerima keputusan perusahaan kami dengan bijak." Senyum penuh kemenangan merekah dari bibir pria yang baru saja diremehkan kinerjanya oleh CEO dari perusahaan pesaing yang menganggap dirinya lebih senior. "Terima kasih sudah percaya kepada perusahaan kami, Tuan Devin. Saya memang belum lama di dunia bisnis, tetapi saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kerjasama perusahaan kita ini." "Sama-sama Tuan Alexander, senang bekerjasama dengan Anda." Kedua petinggi perusahaan itu berjabat tangan sebagai pengesahan mereka. Sementara salah satunya dari yang hadir dalam rapat tersebut sudah kabur lebih dahulu dengan amarahnya yang tak terbendung. Bagaimana bisa dia kalah dari seorang anak baru dalam dunia bisnis. Dia benar-benar tak terima keputusan final ini. "Sialan! Aku tidak terima semua ini!" "Harusnya Anda lebih lapang d**a memberikan panggung kepada anak baru di dunia bisnis ini. Kenapa Anda begitu marah dan merasa terzholimi seperti ini, Tuan Gernald?" Baru saja ia mengeluarkan suara kekesalannya pada seseorang di dalam sana, kini orang tersebut sudah muncul di belakangnya. "Jangan senang dulu, Tuan Alexander. Anda bisa saja menang di sini. Tapi kita lihat saja apa yang bisa Anda lakukan saat saya sudah begerak." "So? I'll be waiting." Puk! Puk! Puk! Dengan tangan kanannya, Dika menepuk bahu si pria sombong yang selalu menganggap ia remeh ini. Setidaknya dia sudah bisa membuat pria ini kesal sampai ke ubun-ubun. "Kau hebat, Tuan muda." "Berkat bantuanmu." Ardika tersenyum pada sang asisten yang selalu sabar menghadapi dia yang kadang malasnya kumat. Dia yang masih baru memang butuh bimbingan dan arahan bagaimana ia bisa melangkah. Senyum pria itu merekah ketika ia ingat akan membagikan kabar bahagia ini pada sang kekasih. Namun, tak pernah sekalipun terbayang bahwa yang akan pria itu lakukan benar-benar bisa membuat dia merasa hancur. Seharusnya dia akan membagikan berita bahagia ini kepada sang kekasih. Namun, endingnya tak sesuai rencana. Flashback off. Mengingat kejadian beberapa hari waktu lalu, Ardika menghela napas dalam-dalam. "Jangan lemah, kau di sini Silan, bukan Dika." Dia menyemangati dirinya sendiri. Seorang Silan tak pernah menyerah dalam segala urusan. Seharusnya dia bisa menjadi dirinya yang dulu, pria yang tak memiliki hati ketika berhadapan dengan hal seperti ini. Namun, sebagai seorang Dika, dia mempunyai sifat baik dan berbalas kasih yang tinggi. Bagaimana bisa dirinya menjadi dua pribadi yang berbeda dalam satu jiwa. Silan adalah dia yang penuh ambisi, penuh dendam dan penuh strategi. Kemudian Dika, adalah dirinya yang baru, dia yang lebih senang hidup tanpa berurusan dengan siapapun, dia yang bebas, dia yang menganggap semua hanyalah lelucon. Menyebut dirinya sebagai Silan membuat sekelebat memory masa lalunya itu berputar kembali. Dia seolah melihat orang-orang di masa lalunya itu hadir di sini, terutama orang yang putrinya membuat dia berbaring di tempat ini. Senyum itu berubah sendu seketika. Dia tak sanggup membayangkan mereka semua ada di sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN