Dibalik jendela kamar yang terbuka lebar, Kyana duduk termenung seorang diri. Sejak makan siang tadi, dia merasa tak enak pada Zeen. Terlebih ia tahu sebelumnya bahwa Zeen menyukainya karena pria itu pernah mengatakan hal tersebut dan dianggap bercanda oleh Kyana meski ia tahu Zeen sedang serius. Itu salah satu cara agar mereka tetap berteman. Itu sebenarnya sudah lama juga diakui Zeen, tetapi Kyana tetap tak meresponnya karena dia telah memberikan hatinya untuk putra pria yang sudah baik pada keluarganya. Lalu, tadi siang, Zeen mengatakan lagi hal tersebut. Memang dia hanya dengan nada bercanda, tetap tetap saja Kyana merasa tak enak hati padanya. Ingatan Kyana kembali bermain pada kejadian tadi siang di meja makan. "Kau cantik sekali, kau manis, kau baik, dan itulah sebabnya aku menyuk

