Part 2 - Kalung Kura-Kura

1343 Kata
Riana hanya duduk di bangku taman yang ada di sekolahnya. Sekarang waktunya jam istirahat. Ia menatap beberapa teman seusianya yang bermain di halaman sekolah. Riana menundukkan kepalanya, ia selalu berpikir apa yang menjadi masalah pada dirinya hingga tidak ada yang mau berteman dengannya. "Nana!" Riana pun menoleh ke sumber suara. Senyum Riana pun mengembang kala melihat Kalandra datang menghampiri dirinya. 'Nana' adalah panggilan dari Kalandra untuk Riana. "Kenapa Andra di panggil sama Bu Desy?" tanya Riana ketika Kalandra sudah duduk di samping Riana. "Gak papa, cuma di tawarin jadi model majalah sekolah." "Waahh Andra keren! Selamat ya Andra!" ucap Riana dengan tulus dan ia pun memberikan senyuman kepada Kalandra. Inilah yang Kalandra suka ketika berteman dengan Riana. Gadis di depannya ini sangat baik. Riana adalah orang yang tulus. "Enak ya jadi Andra." ucap Riana lagi. "Hmm, kenapa?" tanya Andra. "Andra punya banyak teman, dan mereka datang sendiri untuk mengajak Andra berteman. Sedangkan Riana, gak ada yang mau ngajak main." ucap Riana sambil menunduk lesu. Andra pun merangkul bahu Riana. "Jadi Nana gak suka main sama Andra?" Riana pun menatap Andra dan menggelengkan kepalanya. "Bukan gitu Ndra. Riana cuma pengen ngerasain gimana punya banyak teman walaupun itu cuma sehari." Andra pun terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu. "Lupain aja ucapan Riana ya Ndra. Riana cuma bercanda aja. Karna bagi Riana, punya sahabat seperti Andra aja udah buat Riana seneng banget. Setidaknya Riana punya temen. Riana terlalu banyak maunya ya Ndra. Padahal kata pak ustadz kita harus tetap bersyukur dengan apapun yang kita punya." "Enggak kok. Riana kan punya ke inginan. Jadi menurut Andra wajar aja kalau kalau Riana pengen sesuatu." "Andra." "Hmm." "Janji yaa jangan tinggalin Riana. Riana cuma punya Andra. Kalau Andra pergi ninggalin Riana, Riana gak akan punya temen lagi." ucap Riana dengan serius sambil menatap mata gelap milik Kalandra. Kalandra pun mengangguk dan tersenyum menatap Riana. "Heem... Andra janji gak akan ninggalin Riana. Andra akan menjadi teman Riana terus sampai kita besar nanti." Riana pun tersenyum mendengar jawaban Kalandra. Mereka pun saling mengaitkan jari kelingking mereka. "O iyaa ini bekal yang dibuatin Bunda. Kata Bunda, ini untuk kamu dan yang ini untuk aku. Kita makan bareng-bareng yaa." Riana pun menerima kotak bekal itu. Matanya berbinar bahagia ketika melihat nasi goreng buatan Bundanya Kalandra. Nasi goreng buatan Bundanya Kalandra adalah makanan favoritnya setelah masakan Mamanya. Walaupun Mamanya jarang memasak, tapi masakan Ratna sangat enak bagi Riana. Apapun yang berkaitan dengan Mamanya akan menjadi favoritnya juga. "Waahhh terimakasih banyak Andra." "Iyaa sama-sama, ayo cepat makan, sebentar lagi bell masuk berbunyi." Riana pun mengangguk patuh. *** Sore harinya, Riana pun bersiap pergi mengaji. Setelah pulang sekolah ia membereskan semua pekerjaan rumah. Walaupun umurnya masih sembilan tahun, tapi Riana sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Walaupun tidak terlalu rapi dan sempurna, setidaknya ia bisa melakukannya. "Nana!" panggil Kalandra dari depan rumah Riana. "Iyaa sebentar Ndra!" sahut Riana. Riana pun segera memasukkan mukena dan Iqro'nya ke dalam tasnya. Ia segera pergi keluar, ia tak mau Kalandra menunggunya terlalu lama. Riana pun mengunci pintu rumahnya. Mamanya selalu pulang larut malam. Terkadang ia harus memasak sendiri, dan terkadang Bunda Kalandra lah yang memberinya makanan. Riana memang baru duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, tapi ia harus mandiri karna keadaannya. Raina bisa memasak karna ia minta di ajari oleh Bunda Aisyah, Bundanya Kalandra. Walaupun belum maksimal tapi ia bisa memasak. Hanya bisa memasak biasa saja. Seperti menggoreng telur, tahu atau tempe, tumis-tumis sayur, memasak mie, dan lain-lain. Setelah selesai mengaji, Kalandra dan Riana pun segera pulang. Riana memasukkan kembali mukena dan iqro'nya kedalam tas. "Ayo Na!" ajak Kalandra. Riana pun mengangguk. "Eh, tunggu sebentar Ndra." Riana pun mendekati kotak infak dan memasukkan uang kedalamnya. Memang sudah rutinitas Riana selalu begitu, ia menyisihkan uang pemberian Mamanya untuk ia infakkan. Kalandra pun menghampiri Riana, ia juga memasukkan uang yang ia sisihkan kedalam kotak infak. Setelah itu, mereka pun pulang kerumah. "Na, kerumah aku dulu aja. Mama kamu pasti belum pulang." ajak Kalandra. Rumah Kalandra tepat berada di samping rumah Riana. "Riana pulang aja Ndra, Riana mau belajar." "Kita kan bisa belajar bareng Na. Kenapa gak di rumah aku aja? Kamu juga di rumah sendirian nanti." "Gak papa, Riana di rumah aja. Riana mau nunggu Mama pulang. Riana juga mau masakin Mama makanan. Nanti kalau Mama pulang terus gak ada makanan gimana? Kan kasian Mama Ndra, Mama pasti capek bekerja." Kalandra pun mengangguk mengerti. Riana tidak mau merepotkan keluarga Kalandra trus menerus. "Nanti Andra sama Bunda kerumah kamu aja." "Gak usah Ndra, nanti ngerepotin kamu sama Bunda." "Kamu beneran gak papa di rumah sendirian?" tanya Kalandra untuk memastikan. Riana mengangguk mantap. "Riana kan udah terbiasa Ndra. Andra gak usah gak khawatir ya." Kalandra mengantar Riana sampai ke depan rumahnya. Setelah itu ia pun langsung pulang. Untung saja rumahnya hanya bersebelahan dengan Riana. Setelah masuk ke dalam rumah, Riana pun mengganti pakaiannya dengan piyama. Setelah itu, ia pergi ke dapur untuk memasak. Walaupun ia masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar, tapi ia sudah bisa memasak. Walaupun hanya masakan biasa. Seperti menumis sayuran, menggoreng telur, tahu/tempe, mie, dan lain-lainnya. Keadaanlah yang menuntutnya menjadi mandiri. "Sebentar!" Riana meletakkan pisau yang ia gunakan untuk memotong bawang di atas telenannya. Riana segera pergi ke depan untuk membukakan pintu yang sejak tadi terus di ketuk. "Papi Marcell!" pekik Riana dengan senang. Ia pun langsung memeluk pria yang ia panggil 'Papi Marcell' itu. "Nana kangen sama Papi!" ucapnya. Pria itu membalas pelukan Riana sambil mengusap rambutnya. "Papi lebih kangen sama anak kesayangan Papi." Riana semakin mempererat pelukannya. "Papi punya sesuatu untuk anak kesayangan Papi." Riana melepas pelukannya dan menatap Marcell dengan binar bahagia. "Beneran?" Marcell tersenyum hangat dan mengangguk mantap. Perlahan senyum Riana pun mengembang. Ia tersenyum manis menatap Papinya. "Taraaa!!!" Riana menatap pemberian Papinya sambil mengerjapkan matanya. Marcell pun gemas dengan tingkah putrinya itu. "Kenapa? Nana gak suka sama pemberian dari Papi?" tanya Marcell dengan nada di buat sedih. Selain Kalandra, Marcell juga memanggil Riana dengan sebutan 'Nana'. Riana pun menggelengkan kepalanya. "Bukan Pi. Tapi itu kan mahal." ucap Riana dengan wajah polosnya. Hal itu berhasil membuat Marcell tergelak. "Ayo masuk, udara malam mulai dingin." mereka pun segera masuk kedalam rumah. Marcell mengambil benda yang ia bawa tadi dan memakaikannya untuk Riana. "Kalung kura-kura ini cocok untuk kamu nak." ucap Marcell dengan tersenyum tulus. Riana menatap kalung kura-kura itu dengan berbinar. "Cantik banget anaknya Papi." ucap Marcell dengan bangga. "Kenapa Papi pilih kura-kura?" tanya Riana tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung itu. Riana suka kalung itu. "Karna menurut Papi, kura-kura itu mempunyai banyak makna. Kura-kura itu hewan yang gak pernah mengeluh. Karna ia selalu membawa tempurungnya kemanapun ia pergi. Kamu tau artinya?" Riana pun menggelengkan kepalanya. "Seberat apapun beban atau ujian yang telah diberikan Tuhan oleh kita, jangan pernah mengeluh. Karna itu akan menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik lagi. Karna itu Papi berikan kalung itu untuk Nana, karna Nana itu anak yang kuat, hebat, tangguh. Sama seperti kura-kura. Nana anak yang baik." ucap Marcell sambil mengusap rambut Riana. "Terimakasih banyak Papi, Nana suka sama hadiahnya. Nana janji akan jaga pemberian Papi. Karna hadiah dari Papi itu sangat berharga untuk Nana." Marcell ikut tersenyum melihat senyuman Riana. "Oh iya Papi, Nana belum masak. Nana masak dulu yaa. Nanti Mama kelaparan karna gak ada makanan di rumah." Marcell menghela napasnya. Ia kadang prihatin melihat keadaan Riana yang di paksa mandiri dan kuat oleh keadaan. Dimana seharusnya anak seusianya masih bermain dengan teman-teman sebayanya. Tapi tidak dengan Riana. Marcell hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putrinya. Walaupun bukan putri kandungnya, tapi Marcell menyayangi Riana seperti putri kandungnya. "Ayo! Masak sama Papi!" ajak Marcell. "Ayoo!!!" ucap Riana dengan semangat. Marcell dan Riana pun memasak dengan penuh canda ria. Hal ini sudah hal biasa yang di lakukan oleh Riana dan Papinya. Riana senang melakukan banyak hal bersama dengan Papinya. "Ya Allah, walaupun Riana belum pernah liat Papa, Riana berharap semoga Papa sayang sama Riana. Seperti Papi menyayangi Riana. Tapi Riana gak akan banyak meminta, cukup Papi yang selalu ada di dekat Riana aja, Riana udah seneng banget. Terimakasih ya Allah. Riana selalu bersyukur dengan apa yang engkau beri." batin Riana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN