10 Tugas Pacar

1563 Kata
“Bell, jangan lupa weekend ntar lo ikut nemenin gue pemotretan ke Bali!” ujar Juna disela-sela makan malamnya mengingatkan Ara. “Hah? Bali? Aku harus ikut?” tanya Ara tak percaya. “Iyalah! Lo kan pacar gue,” jawab Juna yakin. “Gak ah, gak mau!” “Kontrak Bell. Semakin orang yakin kalau kita beneran pacaran, semakin kuat posisi kita dimata publik.” “Tapi gak harus ikut ke Bali juga, kan?” Ara kukuh membantah. “Pasti nginep disana!” “Itu yang bikin lo khawatir?” tanya Juna dengan dahi yang berkerut dan dibalas Ara dengan anggukan. “Tenang aja! Kita nginep di resort gue!” “Resort?” Ara membeo. “Lo gak tahu gue punya kerjaan lain selain jadi artis?” Gadis didepan Juna itu menggeleng. “Iya juga sih. Lo aja gak kenal sama gue, gimana bisa tahu kerjaan gue yang lain?” “Mas Juna punya kerjaan lain?” Ara mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas. “Kalau gue bilang gue pembunuh bayaran gimana? Atau tukang santet?” “Haha, lucu!” Ara tertawa garing sambil memutar kedua bola matanya. “Lo tahu Asmaraloka resort, gak?” “Yang cabangnya hampir tiap kota ada itu?” Juna mengangguk. “Itu punya gue. Cuma managemennya yang jalanin temen gue.” “Oohh.” Meski hanya satu kata respon Ara, namun terlihat jelas betapa kagumnya ia pada pria dihadapannya itu. Sebagai pegawai yang bergerak dalam bidang pariwisata, Ara tahu betul seberapa suksesnya resort chain tersebut. Dan mengetahui ia sedang bersama pemiliknya membuat Ara takjub. Terlebih ia tahu jika resort itu masih belum lama didirikan namun cabangnya sudah ada dimana-mana. “Kenapa lo mandangin gue segitunya sih Bell? Bikin ngeri!” Untuk pertama kalinya Juna menyaksikan betapa tulusnya senyum seorang Arabella. Manis. Hanya itu yang terlintas dalam benak Juna. Ia juga tanpa sadar berharap jika gadis dihadapannya mau terus tersenyum seperti itu saat bersamanya. “Gak apa-apa, cuma kagum aja mas Juna bisa bikin usaha yang berkembang dengan pesat dalam waktu kurang dari sepuluh tahun.” Ara memuji dengan jujur. “Tim gue yang hebat. Gue cuma terima jadi,” balas Juna merendah. Jarang-jarang pria itu tak terlihat sombong didepan Ara. “Jadi gimana? Mau ikut, kan? Cuma dua hari kok, sekalian liburan.” “Oke deh kalau gitu.” Ara tersenyum tulus. “By the way, lo mau terus panggil gue Mas? Gak ada panggilan lainnya gitu?” “Kenapa? Mas Juna kan emang lebih tua tiga tahun dari aku, wajar dong?” “Lo membangkitkan fantasy gue,” balas Juna datar. “Fantasy?” “Dulu gue sempat pengen dipanggil mas kalau udah nikah. Dan sekarang lo manggil gue begitu!” “Terus maunya dipanggil apa?” “Sayang, darling, honey, love, baby,-” BRAKK Ara menghentakkan gelas minumannya dengan agak keras untuk menghentikan ucapan Juna yang terdengar konyol ditelinganya. Matanya memandang Juna dengan sengit, seolah kekagumannya tadi menguap entah kemana? “Kenapa? Wajar kan pacar manggil begitu? Gue aja pakai panggilan spesial buat lo!” “Tetep aja itu bagian dari nama aku,” sungut Ara yang membuat Juna terkekeh. Tampan. Itu yang ada dibenak Ara saat ini. Ia ingin melihat Juna lebih banyak tertawa daripada merengut kesal. “Tetep panggil mas aja gak apa-apa. Asal jangan terlalu sering biar gak bikin fantasy gue makin liar, atau lo harus tanggung jawab dengan nikahin gue!” “Gila!” “Malah ngatain?” “Ngelunjak sih!” Setelah makan malam yang diselingi perdebatan hingga membuat orang lain beranggapan mereka sedang saling menggoda, keduanya melanjutkan rencana awal untuk berbelanja. Untung saja masih belum terlalu malam, sehingga supermarket di kawasan mall tersebut masih belum tutup. Seperti yang diperkirakan Juna sebelumnya, kehadiran mereka yang berbelanja bersama langsung menarik perhatian banyak pasang mata. Mereka tak hanya mengagumi keserasian visual keduanya, namun juga interaksi yang terlihat manis. Mulai dari Ara yang seringkali meminta pendapat Juna mengenai produk yang akan ia beli, sampai Juna yang dengan sukarela mengambilkan barang dari rak yang cukup tinggi. Belum lagi Juna yang cukup posesif dengan menjauhkan Ara yang menjadi objek pandangan liar para pria. Sejujurnya perlakuan itu bukan hanya untuk konsumsi publik semata, Juna benar-benar tidak menyukai pandangan para pria itu pada kekasih pura-puranya. Alhasil kebersamaan mereka kembali menjadi bahan perbincangan di media sosial karena orang-orang berburu mengabadikan kebersamaan mereka. Selesai dengan berbelanja, Juna membantu Ara membawakan kantong-kantong belanja itu ke apartemen yang baru ia sewa. Setelahnya ia langsung pergi meninggalkan Ara untuk kembali pada dunianya. Dunia malam para selebriti. ===== Suara debuman musik yang dimainkan oleh DJ memenuhi seluruh penjuru ruangan. Hilir mudik orang-orang yang tengah mabuk pun tak bisa terelakkan. Bau Alkohol bercampur parfum para pengunjung pun menguar memenuhi atmosfer club malam yang hampir tak pernah sepi. Seperginya dari apartemen Ara, Juna memang langsung menuju tempat ini karena ia sudah membuat janji dengan teman-temannya. “Kemana aja lo baru dateng?” tanya salah seorang teman Juna, Dave sambil mengacungkan botol whiskey ditangannya ke udara. Pria itu sudah setengah mabuk. “Abis kencan sama pacarnya, nih lihat! Lagi rame di medsos.” Teman Juna lainnya yang bernama Yongki menunjukkan foto-foto Juna bersama Ara saat berbelanja bersama beberapa menit sebelumnya. “Deuileh yang udah go public, menomor duakan kita sekarang!” Dave mengerucutkan bibirnya berpura-pura sedih. Juna merebut botol whiskey dari Dave dan menenggaknya sedikit. “Sialan!” Kedua sahabat Juna tersebut tahu dengan pasti posisi Ara serta Juna. Bagaimanapun Dave lah yang menemukan identitas Ara sebelum Juna. Sehingga tak mungkin pria dua puluh delapan tahun tersebut menutupinya dari Dave. Sementara Yongki, adalah manager penanggung jawab Asmaraloka resort miliknya yang mengetahui kebenaran ini dari Dave. “Kenapa gak lo rayu aja cewek itu? Dari segi kualitas, dia versi upgradenya Hanifah, loh,” saran Yongki kemudian. Juna terduduk di sofa dengan pandangan kosong. Ucapan Yongki barusan seolah membawanya kembali menapak ke bumi. Selama beberapa hari ini nama Hani seolah terhapus dari ingatannya tanpa ia sadari. Dan semua itu terjadi sejak Ara hadir dalam hidupnya. “Kenapa respon lo begitu?” tanya Dave penasaran. “Gue lupa pernah ada Hani disini,” jawab Juna lirih sambil menunjuk d**a kirinya, tepat dimana jantungnya berada. Kedua sahabat pria itu memicingkan mata penuh selidik. Seumur mereka mengenal Juna, belum pernah sekalipun pria itu tidak memikirkan Hani, mantan kekasihnya yang menghilang bertahun-tahun lalu. “Lo gak lagi sakit atau amnesia kan, Bro?” Dave menempelkan punggung tangannya pada Dahi Juna yang dibiarkan saja oleh pria itu. Juna tiba-tiba saja merasa kosong. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan. Juna tak tahu. Hanya saja ia memang cukup merasa nyaman bersama Bella-nya hingga nama Hani terlupakan begitu saja. “Lo beneran suka sama si Ara itu?” tanya Yongki meyakinkan. “Cepet banget? Baru berapa hari loh, Jun!” “Sembarangan kalau ngomong! Mana mungkin gue sama cewek kampung kayak dia!” elak Juna seraya kembali menenggak whiskeynya. “Jangan mabok! Lo nyusahin kalo udah teler,” Dave mengingatkan dengan merebut kembali botol whiskey yang semula memang miliknya. “Bella tuh bisanya cuma ngajakin gue berantem sampek pusing nih kepala kalau lagi ngeladenin berisiknya dia. Mana baperan pula! Ngeselin lah pokoknya,” lanjut Juna dengan wajah kesalnya. “Tapi dengan begitu, dia bisa ngusir nama Hani dari otak lo,” seloroh Dave mengingatkan yang diangguki oleh Yongki. “Lo bahkan semangat banget ceritain tentang Bella,” tambah Yongki. “Ara! Jangan panggil dia Bella, cuma gue yang boleh!” seru Juna mengingatkan. Kedua sahabat Juna malah terkekeh dengan respon pria itu yang terkesan posesif dan berlawanan dengan kalimat yang diucapkan oleh bibir tipisnya. “Bilangnya gak suka, tapi ada cowok lain masuk ke area sana langsung lo usir! Suka mah bilang aja suka, gak usah ngelak!” Yongki menepuk bahu Juna seraya terbahak, begitupula Dave. Sementara Juna sendiri hanya menatap tajam kedua orang itu secara bergantian. “Sialan.” Juna mengumpat. “Oh ya Ki, tolong siapin satu resort di Nusa Penida weekend ntar. Gue ada pemotretan kesana dan Bella setuju buat ikut.” “Oke. Satu kamar?” Yongki menaik turunkan kedua alisnya menggoda. “Gila lo! Enggak lah,” bantah Juna seraya melemparkan gelas kosong yang langsung ditangkap oleh Yongki sambil terkekeh. “Gue emang single bertahun-tahun, tapi bukan berarti gak bisa jaga diri!” “Iya, iya, perjaka yang saking perjakanya sampek pernah dikira gay,” Dave mencebik yang malah membuat Yongki semakin terbahak. “Capek gue ngobrol sama kalian,” Juna mendengus kesal. “Mau berapa hari?” tanya Yongki kemudian. “Cuma weekend doang. Bella kan kerja seninnya,” jawab Juna tanpa pikir panjang. “Mulai perhatian, nih?” Dave tak mau kalah menggoda Juna yang sayangnya hanya dibalas pria itu dengan memutar kedua bola matanya malas. “Oke. Ntar gue bilangin ke staff buat siapin semuanya termasuk sekotak karet buat jaga-jaga kalau lo berubah pikiran.” Lagi-lagi Yongki menggoda sahabatnya yang sudah terlalu lama sendiri itu. Awalnya Juna sempat tidak langsung paham, namun setelah ia mengerti jika yang Yongki maksud tersebut adalah pengaman, Juna langsung melemparinya dengan kotak tissue yang ada diatas meja. “Kan kasian adek lo kalau harus main sendiri terus,” Dave menambahkan tanpa berhenti menertawakan sahabatnya. “Otak kalian gak pernah disapu kayaknya! Ngeres banget,” Juna mendengus kesal. “Kita cowok normal, wajar dong?” balas Yongki. “Terus kalau gue gak mau ikutan m***m kayak kalian artinya gue gak normal, gitu? Gila! m***m gak usah ngajak-ngajak, woy!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN