Sebelum Annisa sampai di rumah, Reyhan sudah lebih dulu menunggunya di ruang tamu dalam keadaan lampu dimatikan, ia duduk di sofa, lalu menarik tangan Annisa, begitu ia masuk. "Dari mana kamu?" tanya Reyhan dengan tatapan mengintimidasi, tanpa melepaskan genggamannya. "Bukan urusan kamu. Lepaskan tanganku!" balas Annisa penuh keberanian. Wanita pendiam yang selalu patuh terhadap semua perintah sang suami, tutur kata lembut yang selalu ia ucapkan, kini berubah dalam sekejap sesaat setelah mendengar pengakuan sang suami yang ternyata mencintai wanita lain, bahkan ingin menikahinya. "Sejak kapan kamu pergi tanpa izin dariku?" Reyhan bertanya, kesal. "Haruskan aku lakukan itu? setelah kamu menyakiti perasaan aku." "Bagaimana pun aku ini suamimu, Nisa. Kamu harus menghormatiku." "Aku sela

