Wajahnya terlihat masih sangat muda, membuat Annisa sedikit ragu akan menerimanya atau tidak sebagai asisten rumah tangga. Karena penasaran, ia pun bertanya langsung untuk memastikan.
"Usia kamu berapa?"
"Dua puluh tahun, Nyonya." Alya menjawab tentu dengan senyum palsu di depan Annisa.
"Dua puluh tahun? baru lulus sekolah?" tanyanya lagi.
Alya mengangguk. "Iya, Nyonya, saya lulus dua tahun lalu."
Untuk sejenak wanita berusia tiga puluh tahun itu terdiam, ia melirik wajah sang suami seraya menautkan tangan pada lengannya, sebelum akhirnya kembali melihat ke arah Alya dengan perasaan was-was, karena usia Alya yang masih terbilang sangat muda. Terlebih dia yang memiliki ijazah sekolah menengah atas, bersedia menjadi asisten rumah tangga.
"Kenapa?" tanya Reyhan kepada sang istri yang terlihat kebingungan.
"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Annisa.
"Hhmm ..." jawab Reyhan tanpa berkata, lalu mereka pun pergi ke ruang kerja untuk bicara, membuat Alya bisa menghela nafas lega saat Annisa dengan pria yang begitu ia benci pergi meninggalkannya bersama Bram.
"Semoga Wanita itu tidak mau menerima aku menjadi pembantu di sini," gumamnya pelan. Namun, ucapan Alya masih terdengar di telinga Bram, dia pun tersenyum meledek, Alya yang mengetahui hal itu langsung melayangkan protes. "Kenapa anda tertawa?"
"Kamu pikir istri tuan Rey tidak akan menerima kamu di sini?"
Alya bergeming, menautkan ke atas kedua alisnya.
"Anda salah besar, Nona. Tidak akan ada perintah tuan Rey yang bisa dibantah, sekali pun oleh istrinya sendiri.
Mendengar perkataan Bram membuat perasaan leganya kembali menegang, apa lagi saat mereka kembali, Alya melihat senyum penuh kemenangan di wajah Reyhan, mengisyaratkan kalau kabar buruk akan segera ia dengar. "Sial, sepertinya pria itu berhasil merayu istrinya," batin Alya.
"Maaf sudah menunggu," ucap Annisa, berdiri di depan Alya sambil bergandengan tangan sangat mesra dengan sang suami.
Alya meresponnya dengan senyum, sambil memainkan lionton yang melingkar di lehernya.
"Saya setuju kamu kerja di sini. Kamu bisa mulai kerja hari ini kan?"
Tidak bisa berkata, Alya hanya bisa mengangguk pasrah, karena saat ini Reyhan sedang menatapnya tajam ke arahnya, mengisyaratkan kalau tidak ada pilihan lain selain mengiyakan semua perintahnya.
***
Malam hari. Saat tiba waktu untuk makan malam, Annisa keluar dari kamar menuju ruang makan hendak memastikan kalau semua makanan sudah tersaji rapih di atas meja. Namun, ia malah terkejut saat tidak mendapati satu menu pun di atas meja makan, juga asisten rumah tangga yang biasa memasak tidak terlihat di sana. "Ko nggak ada apa-apa? biasanya udah siap semua. Ke mana mereka?" gumamnya pelan.
"Kenapa?" tanya Reyhan yang baru saja datang, berdiri di samping sang istri.
"Ini loh, Mas. Mbok Darmi belum siapin makan malam. Ke mana ya dia?" matanya berkeliling mencari seseorang, lalu memanggil bi Lastri yang kebetulan melintas. "Bi Lastri!"
"Iya, Nyonya?" Lastri pun menghentikan langkahnya, menghampiri sang majikan seraya menunduk hormat.
"Mbok Darmi ke mana ya? tumben belum siapin makan malam," tanya Annisa
"Mbok Darmi ..." Sekilas Lastri nampak melirik ke arah Reyhan dengan wajah tertunduk, sebelum akhirnya ia harus melanjutkan ucapannya. "Mbok Darmi berhenti kerja, Nyonya."
"Berhenti bekerja?" Sontak hal itu membuat Annisa terkejut. Asisten rumah tangga yang sudah cukup lama bekerja dengannya, tiba-tiba berhenti kerja tanpa sepengetahuan dirinya, bahkan tanpa penjelasan.
Seakan tidak percaya, Annisa megambil handphone di dalam saku dres yang ia kenakan coba menghubungi mbok Darmi, lalu dengan cepat Reyhan merebut ponsel yang sudah diletakkan di dekat telinganya.
"Kenapa, Mas?" tanya Annisa.
"Tidak ada waktu untuk menghubungi mbok Darmi, aku sudah kelaparan," ujar Reyhan masih memegang ponsel Annisa.
"Biar saya yang memasak, Nyonya." kata Lastri.
"Jangan!" sambar Reyhan cepat.
"Kenapa, Mas? mau aku aja yang masak?" tawar Annisa.
"Jangan, tugas kamu itu menemaniku, dan tugas kamu, Lastri. Pergi ke belakang, cuci pakaian, atau apa pun kegiatan di luar." Perintah Reyhan langsung mendapat anggukan dari Latri
"Permisi, Tuan, Nyonya." Lalu ia pun bergegas pergi setelah melihat tatapan aneh dari sang majikan, Reyhan.
"Mas. Kalau kamu larang aku sama bi Lastri masak, kamu mau makan apa? mau makan di luar?" tanya Annisa.
"Tidak. Kita kan punya pembantu baru, kenapa harus kamu yang masak?"
"Alya maksud kamu?"
"Hhmm..." sautnya tanpa berkata, ia pun mendudukan diri di atas kursi sambil meraih buah apel yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Cepatlah perintahkan dia untuk memasak, aku sudah kelaparan."
"Bukannya tugas dia menemani Abiyu?"
"Tidak apa-apa, kita jangan terlalu memanjakan pembantu. Cepat suruh dia ke sini."
Untuk sejenak Annisa terdiam, menatap penuh keanehan, lalu ia pun pergi ke kamar tamu menemui Alya. Ya, di kamar tamulah Reyhan menempatkan Alya, membuat semua terkejut tanpa kecuali Annisa. Bahkan para pekerja di sana mulai membicarakan kedatangan Alya yang tiba-tiba, juga tempat spesial yang tuannya berikan kepada pembantu muda itu.
"Kamu bisa masak?" tanya Annisa berjalan di depan Alya yang mengekor di belakngnya.
"Bisa, Nyonya," saut Alya terus mengikuti langkah kaki sang majikan kemana pun ia melangkah.
"Kalau begitu kita masak," ajak Annisa sambil melirik ke belakang dengan senyum.
"Baik, Nyonya," jawab Alya.
Tiba di ruang makan, sedikit terkejut melihat sang suami sedang mengupas buah apel dan kulitnya berserakan di lantai. "Kenapa kulitnya dibuang di lantai, Mas?"
"Kenapa? terserah aku mau buang ke mana."
"Iya tau, tapi kan..." ucapannya terhenti saat Reyhan menarik tangan sang istri untuk duduk di sebelahnya.
"Cepat bersihkan!" titah Reyhan kepada Alya yang saat ini berdiri tepat di belakang Annisa.
"Sumpah ya, pengen gue bunuh orang kayak gini," batin Alya mendengus kesal.
"Mas..." Annisa mengusap lengan sang suami atas sikap kasarnya terhadap Alya, pembantu baru, yang tanpa sepengetahuan dirinya adalah tawanan suaminya sendiri.
Selesai mengupas, sambil menggigit buah apel Reyhan meraih tangan Annisa mengajaknya untuk berdiri, lalu bicara kepada Alya. "tiga puluh menit semua makanan harus tersedia di atas meja. Mengerti?"
"Tiga puluh menit? apa saja yang harus saya masak, Tuan?" tanya Alya berusaha biasa saja.
"Saya mau nasi kebuli, daging kambingnya harus empuk."
"Nasi kebuli prosesnya banyak, Mas. Mana bisa dimasak dalam waktu setengah jam?" sambar Annisa dengan kening mengerut.
"Aku tidak mau tau. Aku mau itu."
"Tapi kan, Mas ..."
"Nisa. Aku ini sedang memerintahkan pembantu kita. Kenapa kamu yang repot? sudah, pokoknya saya mau itu. Cepat kerjakan!" perintah Reyhan kepada Alya.
Sumpah demi apa pun, saat ini Alya sama sekali tidak takut dengan semua perkataan yang keluar dari mulut jahat seorang Reyhan, dan tertunduknya pandangan Alya saat ini bukan karen kalah, akan tetapi karena di sana ada Annisa yang tidak tahu apa-apa mengenai dirinya, sehingga Alya pun hanya bisa mengiyakan semua perintahnya.
"Baik, Tuan."
Puas mengerjai Alya, Reyhan pun akhirnya pergi meninggalkan ruang makan bersama sang istri, sedangkan Alya yang masih kesal, hanya bisa berteriak tanpa suara. Mau tidak mau, ia itu pun mulai membersihkan kulit apel yang berserakan, lalu mulai memasak, karena waktu yang diberikan hanya sedikit.
"Dasar orang sinting, mana bisa buat nasi kebuli dalam waktu setengah jam? mana dagingnya masih mentah." Terus menggerutu sambil mengeluarkan bahan untuk dimasak dari dalam kulkas.
Setelah mengumpulkan apa yang dibutuhkan, ia pun mulai memasak, dan waktu tiga puluh menit yang diberikan rasanya terlalu lama. Alya bisa menyelesaikan masakannya kurang dari waktu yang diberikan.
"Lihat aja, sampai kapan kalian akan mempertahankan aku bekerja sebagai pembantu di rumah ini," ucap Alya sambil tersenyum ketir menatap menu makanan yang sudah ia buat dengan cepat.
Tidak lama, terdengar suara langkah kaki seseorang menuju ke arahnya, siapa lagi kalau bukan Reyhan. Dia datang tanpa sang istri, berdiri di depan Alya menatap wajahnya dari jarak yang cukup dekat, lalu sedikit menunduk. "Jangan bersikap kurang ajar di rumah ini, dan kamu seharusnya banyak berterima kasih kepadaku, karna kamu bisa tidur di kamar tamu, bukan kamar pembantu yang kumuh nan menjijikan itu," desis Reyhan di dekat telinga Alya.
"Saya tidak pernah memintanya, dan hidup di jalanan bagi saya lebih baik dari pada hidup satu rumah dengan anda, Tuan Reyhan," balas Alya tidak kalah menantang.
"Kamu!" geram. Kedua tangan Reyhan meremas bahu Alya sampai sang pemilik pun meringis kesakitan.
"Aaww.."
"Mas Rey," suara Annisa tiba-tiba terdengar di tengah-tengah perdebatan mereka.