Zello pov Ting .. tong.. Terdengar bunyi bel apartemenku. Tanpa membukanya, aku sudah tahu siapa gerangan yang membunyikannya. Aku enggan menerimanya, tapi si Mbak warnen-ku yang berinisiatif membuka pintu. Mungkin telinganya gatal mendengar bunyi bel berkepanjangan. Aku menghela napas berat. Sebentar lagi terpaksa aku harus menerima benda menyebalkan itu! "Tuan.." "Taruh saja di meja," potongku cepat, "atau buanglah di tong sampah!" "Tuan bercanda kan? Masa undangan nikah sebagus ini dibuang ke tempat sampah?" sahut si Mbak geli. Lalu matanya membesar menatap ke tumpukan undangan pernikahan yang telah kuterima selama enam hari berturut-turut. "Wah, sepertinya teman-teman Tuan banyak yang mau menikah. Kapan Tuan menyusul?" Aku mendengus kasar mendengar godaan si Mbak war

