Kami benar-benar kembali ke rumah. Dengan menebalkan muka kami.. eh, sepertinya aku doang yang begitu, menekan bel rumah. Paman mudaku nampak santai seakan tak punya beban. Dia bersiul-siul sambil memainkan rambutku untuk mengisi waktu sebelum pintu terbuka. Cukup lama kami menunggu diluar, tapi pintu tetap tertutup. Oh Kam Pret mulai kehabisan kesabaran. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. "Paman muda, lu mau ngapain?" tanyaku curiga. "Membuka pintu," jawabnya santai. "Dengan mencongkelnya?!" sindirku tajam. "Woi, Chacha maricha. Apa lu enggak tahu ada cara yang lebih mudah dari mencongkel pintu?" Dia menunjukkan serenteng anak kunci di tangannya. "Astaga, apa itu kunci maling?" cetusku spontan. Paman muda mencebik sebal mendengarnya. "Chacha, kok mikirnya aku jelek

