Boss Mantan menatap kami dengan pandangan kelam. Ya setelah terlunta-lunta di jalan, dengan menahan malu kami menerima tawaran Boss untuk menumpang tidur di apartemennya yang mewah. "Sebenarnya tawaran saya hanya berlaku buat Chacha," cetus Boss Mantan. Jelas sekali sindirannya ditujukan buat siapa, tapi Paman muda emang tebal muka. "Terima kasih buat pengertiannya, kami ini sepaket. Jadi kalau Om menerima Chachaku berarti siap menampungku juga," sahut Oh Kam Pret cuek. Boss Mantan mendengus kasar. Pada dasarnya dia malas berdebat kalau gak perlu, apalagi debat kusir dengan makhluk sebangsa Oh Kam Pret yang pintar bersilat lidah! "Jadi, Om punya makanan apa? Kami lapar!" Tanpa rasa malu Oh Kam Pret berjalan mendekati kulkas. "Tak ada apapun disana!" ketus Zello. Tanpa mempedul

