Sasi berbaring lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Bukan hanya tubuhnya yang lelah tapi jiwanya juga. Belum cukup dengan sedikit guncangan tadi pagi, berlanjut dengan permainan takdir yang membawanya bertemu kembali dengan seseorang dari masa lalunya ditambah dengan ketegangan yang terjadi kini.
Permintaan Vincent agar berhenti dari pekerjaannya membuat Sasi benar- benar terganggu sehingga sulit baginya untuk berfikir jernih dan berbicara tenang saat ini. Daripada mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan disesalinya dikemudian hari maka lebih baik dirinya tidur saja.
Vincent menatap pergerakan Sasi sambil berdecak kesal.
Decakan Vincent tentu saja bisa didengar oleh Sasi dengan jelas tapi dengan susah payah diabaikannya.
Tak lama kemudian Sasi mendengar langkah Vincent yang menjauh dan suara pintu yang dibuka dan ditutup.
Dengan rasa kesal yang kian bertambah Sasipun membuka selimut yang menutupi wajahnya.
Matanya menatap intens pada pintu kamar seolah Vincent masih berada disana.
Dadanya bergerak lebih cepat dari biasanya akibat menahan gejolak perasaannya sendiri.
Sasi marah karena sepertinya Vincent lebih kesal dibandingkan dengannya.
Kenapa mereka jadi gampang sekali tersulut emosi?
Cukup lama diam terpaku membuat Sasi tidak bergeming saat pintu terbuka dan sosok Vincent muncul bersama seorang art yang Sasi lupa namanya.
" Taruh saja di meja,mbak." suruh Vincent sambil menunjuk meja di dekat jendela.
Dengan patuh asisten rumah tangga yang bernama Yatinem itu menuruti perintah sang majikan. Lewat ekor matanya dia melirik pada Sasi, isteri sibos muda yang sudah ditahbiskan sebagai majikan barunya. Jauh hari bos besar sudah memberitahukan pada mereka semua tentang kehadiran Sasi.
Namun hingga malam ini dirinya belum pernah menerima perintah apapun dari Sasi. Belum pernah berkomunikasi secara langsung juga. Sekali lihat saja, Yatinem tahu kalau nyonya muda sedang dalam kondisi mood yang kurang baik. Oleh karena itu, setelah meletakkan nampan yang dibawanya, iapun buru- buru pamit.
Sepeninggal art tersebut, Vincent berjalan kearah Sasi. Ditatapnya wanita yang baru menjadi isterinya itu sejenak lalu berkata," Makan dulu ya, ntar kamu masuk angin." ucapnya lembut sehingga tak urung Sasi jadi melongo dibuatnya. Sasi menggeleng sekilas. Pria dihadapannya ini benar- benar player sejati! Darimana datangnya sikap tenang dan taktik jitunya dalam menjinakkan Sasi kalau bukan dari pengalamannya selama ini?? Sasi yang garang saja bisa jadi tenang dibuatnya.
Sikap Vincent sekarang sama persis dengan Rizal dalam menghadapi emosinya yang cenderung labil dan diatas rata-rata.
Astaghfirullah....
Buru- buru Sasi mengucap dalam hati. Dirinya bukanlah korban gagal move on tapi kenapa nama pria itu malah melintas begitu saja.
" Sayang... ayo, ntar nasinya keburu dingin."
Ini lagi! Apa-apaan tadi itu?!
Panggilan sayang yang barusan diucapkan Vincent mampu mengalihkan perhatian Sasi, bahkan sampai membuatnya merinding!
" Mau aku suapin?"
Sasi menggeleng dan cepat beranjak kearah meja.
Permainan peran yang dilakukan oleh Vincent harus segera dihentikan sebelum nafsu makannya semakin menghilang!
Kalau saja dalam kondisi yang lebih santai pasti Sasi membuka gorden dan melepaskan pandangannya ke luar jendela. Bisa juga ke keluar sekalian untuk menikmati pemandangan malam dari balkon kamar Vincent. Sebelumnya Sasi sudah beberapa kali melakukannya dan jujur ia menyukainya. Kamar tidur di rumah orang tuanya juga ada balkon tapi tidak seluas dan sebagus di rumah mertuanya. Pemandangannya juga mentok pada atap rumah tetangga. Berbeda dengan di sini yang mengarah pada taman dan kolam renang. Malam hari dihiasi oleh lampu temaram yang indah.
Sasi makan dalam diam. Dihadapannya Vincent duduk mengawasi.
" Kamu nggak makan?" tanya Sasi akhirnya.
Vincent menggeleng," aku sudah makan tadi sama mama papa."
" Mereka maklum kalau kamu tidak bisa makan bersama soalnya seperti yang kamu tahu jadwal makan malam dirumah ini memang agak cepat."jelas Vincent demi melihat tangan Sasi yang tiba-tiba berhenti menyuap.
Lagi, Sasi merasa sedikit tersudut dengan jawaban dari Vincent.
Kalau dirinya tidak bekerja Sasi pasti bisa makan bersama dijam berapapun,kan?
Tbc