Prolog
Tak peduli kicau burung mulai berisik menyambut sang fajar, maupun bunyi alarm yang memenuhi ruangan sepetak. Anastasya, memilih tetap bergelung di bawah selimut tebal dan enggan membuka mata. Namun, suara berisik alarm yang tidak kunjung berhenti cukup mengganggu, membuat satu tangannya refleks menggapai jam beker di atas nakas dan mematikan alarm sialan itu, lalu kembali tidur, menyambut mimpi indah yang belum usai.
Weekend, jadwal tidur seharian untuk seorang Anastasya. Kesibukannya sebagai sekretaris CEO di kantornya, membuat hari-harinya melelahkan dan kurang istirahat. Itu kenapa Anastasya lebih memilih menghabiskan hari liburnya untuk tidur. Bahkan ia memilih tetap melajang di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, ketika teman-teman seusianya sudah menikah dan punya anak. Ana tidak punya waktu walau sekedar untuk menjalin sebuah hubungan. Hari-harinya benar-benar sibuk.
Namun, keinginan untuk tidur seharian itu nyatanya selalu pupus, ketika suara dering telepon menggema memenuhi ruang kamar kosnya. Tanpa perlu melihat, Ana sudah tahu siapa yang menelepon di pagi hari begini. Memangnya siapa lagi kalau bukan, Reynaldi Stronghold! Bos narsis, super duper rese, tidak berperikekaryawanan dan selalu mengganggu waktu liburnya.
"Apa dia tidak punya kerjaan selain merusak hari libur orang lain!" gerutu Ana dengan suara serak parau, ketika ponselnya terus berdering tanpa henti.
Ana memilih mengabaikannya, berusaha tetap memejamkan mata dan berharap mimpi indah segera menjemputnya. Tapi sialnya suara dering ponsel yang terus berbunyi mengacaukan usahanya, Ana sontak membuka mata dan memaksa tubuhnya beranjak bangun. Meski kesal setengah mati, mau tidak mau Ana mengangkat panggilan telepon yang sempat ia abaikan sampai lima kali panggilan tidak terjawab.
"Halo." Dengan suara pasrah, Ana mengangkat panggilan dari bosnya dan detik berikutnya Ana refleks menjauhkan genggaman ponsel dari telinganya saat suara bariton keras berpotensi membuat gendang telinganya pecah, disusul dengan ocehan berkecepatan 160km/menit. Telinga Ana seketika berdengung dan ia refleks mengumpat. "Sial!"
"What? Kamu bilang apa Ana?" Dan apesnya si bos mendengar umpatan Ana. "Kamu baru saja mengatai saya?"
Astaga! Ana memejamkan mata, mengembuskan napas kasar, sembari otaknya bekerja merangkai kalimat pembelaan sebagai alibi. Meskipun gondok, Ana tidak boleh menunjukkannya secara terang-terangan pada sang atasan. Ia tidak mau bunuh diri dengan hal konyol seperti itu!
"Enggak pak Rey, pak Rey kayanya salah dengar. Saya nggak bilang sial, tapi saya bilang siap." Walaupun sadar jawabannya tidak nyambung, Ana tetap berusaha tenang menghadapi bosnya yang sedang murka.
"Alasan!" Seperti yang Ana perkirakan, bosnya akan menyahut dengan format seperti biasanya. Alasan! Kata andalan yang sering bosnya katakan. "Kamu lupa ini hari apa?"
"Em, hari sabtu, 'kan, pak? Weekend?" Ana menjawab dengan suara rendah, mati-matian meredam emosinya. Weekend, waktunya saya libur dan seharusnya pak Rey nggak ganggu hari libur saya! Ingin sekali Ana melontarkan kalimat itu, tapi hanya tertahan sampai tenggorokan. Ia tidak punya nyali untuk menyuarakan isi hatinya, mengingat segalak apa bosnya.
"Terus kenapa kamu belum ke sini juga!" Suara bariton Rey kian meninggi, terdengar begitu kesal karena Ana yang tidak kunjung datang ke penthouse-nya.
"Kan, saya libur Pak. Ini weekend, waktunya semua karyawan libur." Ana meringis, keceplosan. Haruskah dirinya sejujur itu?
"Sejak kapan kamu bisa atur hari libur sendiri, Ana? Kamu lupa? Yang bisa menentukan kamu libur atau tidak itu saya, atasan kamu! Dan hari ini kamu nggak libur! Kamu lupa? Hari ini saya ada undangan ke pesta anniversary pernikahan pak Hutomo, jadi cepat kamu datang ke sini, sekarang juga!"
What the hell!!!
Ana menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan diri untuk tidak meneriaki bosnya dengan sumpah serapah dan penghuni kebun binatang. Namun, seakan tidak punya kuasa, Ana tidak mampu merealisasikan keinginannya, memilih tetap sabar menghadapi bosnya yang menyebalkan!
"Tapi, pak Rey," Ana berusaha protes, mengingat ia semalam habis lembur dan badannya masih terasa pegal semua. Ana butuh istirahat. Lagian cuma ke acara kolega saja, kenapa harus melibatkan dirinya! Ana tidak habis pikir, sebenarnya job-nya sebagai sekretaris atau baby sitter!
"Nggak ada tapi-tapian Ana!" Suara tegas Rey membuat Ana nyaris jantungan. "Ke sini sekarang juga, atau kamu mau bayar denda karena melanggar perjanjian kerja!"
Ana memejamkan mata, satu tangannya mengelus d**a. Sabar, sabar, sabar. Menghadapi bayi tantrum memang harus banyak-banyak sabar!
"Kamu dengar tidak, Ana!" Suara bariton Rey kembali memekakkan telinga Ana.
"Baik pak Rey. Saya akan segera meluncur kesan---" Ana melongo, menatap nanar layar ponselnya. Ketika ia sadar saat sambungan telepon itu langsung di putus sepihak padahal ia masih berbicara.
What the hell. Bos sialan! "Emang dia siapa??" Ana membanting ponselnya, segera loncat dari kasur. "Nggak bisa apa, bos sialan itu nggak ganggu wekeend gue?" gerutu Ana, sembari berjalan menuju kamar mandi.
Hanya butuh lima belas menit untuk mandi dan bersiap-siap. Karena ini bukan hari kerja ataupun ke kantor, maka Ana tidak perlu repot-repot memoleskan make-up ke wajahnya yang bisa memakan waktu lama. Cukup pakai bedak tipis, serta liptint berwarna peach, sudah membuat Ana terlihat cantik dan menarik. Resiko cewek cantik.
Jarum jam terus berputar, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Ana tergesa-gesa menuruni tangga, kamar kosnya ada di lantai dua. Ia setengah berlari, berharap langkah kakinya bisa secepat kilat untuk tiba di halte. Bosnya hanya memberikan waktu satu jam untuk Ana sampai di penthouse-nya, sementara jarak dari kos Ana cukup jauh. Bosnya memang tidak punya hati! Mengingat Ana seharusnya sedang menikmati mimpi indah, bukan malah berlarian berpacu dengan waktu.
"Pagi Ana." Langkah Ana harus terhenti ketika cowok-cowok yang sedang berkumpul di dekat gerbang menyapanya.
Meski enggan, demi kesopanan Ana membalas sapaan mereka dengan senyum tipis, lalu berlalu meninggalkan kediaman kosnya. Sementara gerombolan cowok-cowok itu pun lanjut membicarakan Ana, yang memang jadi primadona di kos-kosan. Padahal Ana sendiri jarang berinteraksi dengan mereka, tapi paras ayunya berhasil membuat hampir seluruh penghuni kos menyukainya.
"Diem aja, kapan ajak kenalannya?" Salah satu dari gerombolan cowok itu menyikut seseorang yang masih setia memandangi kepergian Ana.
"Dilihatin doang, keburu dipatok yang lain." Yang lain ikut nimbrung.
"Kalau lo nggak maju-maju, biar gue aja yang maju, langsung gue pepet ke pelaminan tuh si Ana." Bahkan saling mengompori.
"Jangan gitu, masa gebetan temen mau diembat."
"Ya, lagian kaga ada pergerakannya, masa cuma nongkrongin si Ana doang tiap pagi, ya sekali-kali diajak kenalan, ajak jalan, abis itu ajak nikah."
Sementara cowok yang dimaksud hanya bisa geleng-geleng kepala melihat teman-temannya saling mengompori agar ia segera ambil tindakan untuk mendekati Ana, bukan sekedar diam-diam memperhatikan Ana seperti saat ini.
Merasa kian panas dikompori, cowok itu pun menyahut, "Tenang saja, semua ada waktunya, nanti juga kalian terima undangannya."
"Ciyeelah, mau langsung gas pelaminan aja."
"Suit-suit!"
"Tapi ngomong-ngomong, emang Ananya mau?"
Pertanyaan yang cukup mengusik, tapi ditanggapinya dengan sambil lalu. "Lihat aja nanti." Ana pasti jadi milik gue.