Aku terbangun dengan keadaan telinga sedikit berdengung karena tak sengaja aku menindih ponselku saat tertidur. Dan terbangun saat ada notifikasi pesan masuk di ponsel yang tepat berada di bawah telingaku.
“Bisa-bisanya tidur nindihin ponsel tapi gak berasa” kataku pada diriku sendiri sambil menggosok-gosok telingaku.
Aku pun mengecek pesan masuk barusan.
Sophie…
Jumat ada acara gak? Gue sama Rayyan mau mampir ke apt.
Aku pun segera membalas pesan singkat dari Sophie.
Ada. Mau ngapain ke apt gue mulu? Bawa makanan sekalian kalau jadi.
Send!
Sambil menunggu pesan balasan dari Sophie, aku bersiap-siap untuk praktek sore di klinik dekat tempat tinggalku. Dan saat selesai aku mendapati pesan balasan dari Sophie diponsel.
Mau denger cerita lo yang abis makan malem sama keluarganya Damar. Cepet juga gerak lo, Sha.
Disertai emoticon penasaran di akhir pesan singkatnya.
“Darimana Sophie tau gue abis makan malam sama keluarganya Damar?” tanyaku pada diri sendiri yang tengah bingung mengenai siapa gerangan informan Sophie.
Aku memutuskan untuk tak membalas pesan dari sahabatku dan segera memesan ojek online untuk berangkat menuju klinik.
Saat aku sampai di klinik, aku tak melihat satupun pasien di ruang tunggu. Jadi aku memutuskan untuk menuju ruangan istirahat sambil menunggu pasien datang.
Di sana aku teringat kembali tentang mimpi aneh yang sering mendatangiku. Dalam mimpi itu aku kerap bertemu dengan wanita yang sama. Wanita itu memiliki paras yang mirip mendiang mama saat muda dulu. Selain wajah yang mirip mereka juga memiliki nama yang sama. Namun mereka memiliki sikap yang sangat bertolak belakang.
Wanita dalam mimpiku itu memiliki sikap yang hangat dan ceria. Yang membuatku merasa nyaman setiap kali berada di dekatnya. Kami banyak berbagi cerita tentang kehidupan dan mimpi-mimpi kami kedepan.
Wanita yang selalu bersemangat dan tidak pantang menyerah dalam menjalani hidupnya yang penuh rintangan. Tapi tak sekalipun ia menyerah. Ia terus berjuang untuk mendapatkan cita-cita dan mimpinya.
Serta seorang wanita pemberani dan pekerja keras. Ia berani mengambil satu-satunya kesempatan untuk mengubah hidupnya serta keluarganya agar menjadi lebih baik. Jauh dari dekap hangat keluarga dan tetap bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya selama di perantauan.
Sedangkan mama, aku tak mengetahui banyak hal tentangnya. Yang aku tau mama seorang wanita yang sangat pendiam dan penyendiri. Ia tak banyak bicara dan jika seseorang mengajaknya berbicara ia hanya akan menjawabnya dengan satu atau dua kata saja.
Dan saat aku sedang memikirkan banyak hal tentang mama dan wanita misterius dalam mimpiku, seorang suster memberitahuku kalau ada pasien yang harus ditangani. Aku pun segera ke ruang pemeriksaan untuk memeriksa pasien tersebut.
“Asha!” seru mama Rita dengan wajah sumringah saat aku membuka pintu ruangan pemeriksaan.
“Mama Rita…” sapaku lalu mencium tangan beliau tanda hormat. “Mama Rita sakit?” tanyaku sedikit khawatir.
Mama Rita memelukku hangat seperti memeluk anak perempuannya sendiri.
“Enggak. Kan kata kamu mama harus cek gula darah rutin tiap bulan. Mama ikuti saran dari kamu, Sha. Sedikit demi sedikit Mama sudah ganti cemilan Mama dengan buah dan makanan yang direbut-rebus. Pelan-pelan mengurangi makan goreng-gorengan sama mulai rutin jalan-jalan tiap pagi. Deket sih keliling pekarangan rumah aja” kata ibunda Damar itu padaku menceritakan kebiasaan barunya.
“Ok, kita periksa dulu ya, Ma” ucapku lalu mulai memeriksa kesehatan Mama Rita sambil mendengarkan ceritanya yang sedikit demi sedikit sudah mulai menjalankan kebiasaan sehat sesuai yang dianjurkan padanya satu bulan lalu.
“Sudah mulai bagus hasil pemeriksaannya, Ma. Diteruskan ya kebiasaan sehatnya” ucapku saat sudah selesai memeriksa kesehatan Mama Rita.
“Tapi Mama masih boleh makan gorengan kan? Bosan soalnya kalau sayur dan rebusan atau yang di kukus-kukus terus” tanya mama Rita padaku.
“Masih boleh kok, Ma. tapi jangan banyak-banyak dan jangan terlalu sering. Sama makanan yang manis juga dikurangi ya, Ma” jawabku. “Oya Mama kesini sama siapa?” tanyaku yang baru menyadari kalau mama Rita masuk seorang diri ke ruang pemeriksaan.
“Naik taksi. Itu lagi nunggu di depan” jawab mama Rita sambil menunjuk ke arah taksi yang sedang menunggunya di luar klinik.
“Kamu sampai jam berapa kerjanya?” tanya mama Rita saat aku mengantarnya menuju taksi yang menunggunya di luar klinik.
“Jam sebelas, Ma” jawabku.
“Malam banget. Pulangnya sama siapa nanti?” tanya mama Rita terlihat khawatir setelah mendengar jawaban dariku.
“Sendiri, Ma” jawabku.
Mama Rita menatapku dengan tatapan yang menyiratkan rasa khawatir seorang ibu pada anaknya.
“Aman kok, Ma” kataku berusaha menenangkannya.
Ia pun mengangguk dan setelah basa basi sebentar mama Rita pun berpamitan pulang. Aku memperhatikan mobil yang ditumpanginya sampai menghilang dari jarak pandang.
Ada perasaan haru saat ibunda Damar mengkhawatirkan keadaanku, karena selama ini hanya papa dan kedua sahabatku yang mengkhawatirkan keadaanku. Seumur hidupku aku belum pernah merasa dikhawatirkan oleh seorang ibu.
Aku pun kembali ke klinik untuk meneruskan pekerjaanku karena sudah ada beberapa pasien yang menunggu untuk aku periksa kesehatannya setelah mama Rita.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima puluh menit. Itu tandanya sepuluh menit lagi shift kerja hari ini di klinik akan segera berakhir. Aku pun membereskan beberapa barang yang berada di ruangan istirahat para nakes untuk bersiap-siap pulang.
“Dok, ada yang nyari” kata suster Maia saat masuk ke ruang istirahat.
“Ada pasien lagi?” tanyaku.
Suster Maia menggeleng. “Bukan. Laki-laki. Ganteng. Pacar baru ya, Dok?” ucapnya sambil melemparkan senyum ingin tau padaku.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum menanggapi ocehan Suster Maia.
“Orangnya nunggu di depan, Dok. Di ruang tunggu” ucap suster Maia lagi memberitahuku.
Aku yang penasaran segera keluar melihat siapa laki-laki yang mencariku di jam segini. Di ruang tunggu aku hanya melihat para suster yang sedang berjaga malam. Tak tampak ada laki-laki di sana. Dan saat aku melihat ke arah parkiran klinik aku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri membelakangiku sambil menelpon.
Tak lama laki-laki itu membalikkan badannya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Damar? Ngapain dia malem-malem cari gue sampai ke klinik segala? Mudah-mudahan gak ada apa-apa sama Mama Rita.
Aku segera menghampirinya.
“Damar!” sapaku saat jarak kami sudah dekat.
Damar yang tadinya hendak masuk ke mobilnya berhenti sejenak dan menatapku.
“Kata suster tadi lo nyari gue. Ada apa?” tanyaku pada Damar karena bingung dengan kedatangannya.
“Sudah selesai kan kerjanya?” tanyanya sambil melihat jam di tangannya.
Aku menganggukan kepala sebagai jawaban.
“Ya sudah, ayo!” katanya tanpa menjawab pertanyaanku.
“ Mama Rita gak kenapa-kenapa kan? Tadi habis dari sini tapi sendiri” tanyaku yang semakin penasaran dan khawatir karena Damar belum menjawab pertanyaanku.
Damar tidak menjawab. Ia malah hendak masuk ke dalam mobilnya.
“Tunggu. Gue ambil tas dulu” kataku segera berjalan masuk ke dalam klinik untuk mengambil tasku.
Damar hanya diam mengamati kepergianku tanpa berkata sepatah kata pun. Sedangkan aku, kepalaku dipenuhi berbagai macam pertanyaan dan rasa khawatir tentang keadaan ibunda dari Damar.
*****