“Damar, Mama Rita gak apa-apa kan?” kataku mengulangi pertanyaan yang sedari tadi belum dijawab oleh Damar.
“Mama gak kenapa-kenapa. Pakai seatbelt” jawabnya lalu mulai menjalankan mobilnya.
“Terus lo ngapain kesini?” tanyaku saat mobil mulai berjalan perlahan meninggalkan klinik.
“Mama nyuruh saya jemput kamu. Katanya kasian kamu pulang sendiri malem-malem” jawab Damar.
Aku terdiam dan merasa tak enak setelah mendengar jawaban dari Damar.
Seperti ini rasanya dikhawatirkan oleh seorang ibu. Kataku dalam hati sambil tersenyum.
“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Damar ketus.
Ternyata ia melihatku tersenyum barusan.
“Selama dua puluh delapan tahun gue hidup, gue baru ngerasain rasanya dikhawatirin sama seorang ibu. Rasanya semenyenangkan itu ternyata. Biasanya cuma Papa aja yang khawatir sama gue. Lo kan tau keadaan Mama gue dulu kayak gimana. Jadi lo jangan galak-galak sama gue” kataku menjawab pertanyaan Damar.
Damar terdiam setelah mendengar jawaban dariku. Tak lama kemudian kami pun sampai di apartemenku.
“Makasih ya, Mar” ucapku sebelum turun dari mobilnya.
Damar mengangguk. “Tolong kabarin Mama saya dan bilang kalau kamu sudah sampai” katanya lalu pergi.
Aku mengangguk dan memandangi mobilnya hingga hilang dari pandangan.
“Orang tuanya baik dan perhatian banget. Tapi sayang anaknya nyebelin kayak gitu” ucapku sebelum berjalan meninggalkan area parkir.
Mama, Asha sudah sampai rumah. Terima kasih sudah khawatir kalau Asha pulang praktek malam.
Send!
Aku menepati janjiku pada Damar untuk memberi tahu mamanya kalau sudah sampai rumah. Setelahnya aku pun beristirahat.
Tok… Tok… Tok…
Terdengar ketukan pintu dari luar. Aku pun berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
“Ben, ada apa?” tanyaku pada Ben yang sedang berdiri di depan pintu kamarku.
“Sudah tidur? Maaf ya aku ganggu” tanyanya padaku.
“Belum. Aku baru saja sampai” jawabku.
“Mau jalan-jalan sebentar gak?” tanya Ben padaku.
“Boleh” kataku setuju dengan ajakan Ben yang mengajakku untuk mencari udara segar.
Aku dan Ben berjalan kaki sambil bergandengan tangan menyusuri pinggir pantai. Malam itu suasananya masih cukup ramai. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk duduk tak jauh dari bibir pantai.
“Maaf ya malam-malam ganggu istirahat kamu” kata Ben merasa tak enak padaku.
“Kamu lagi mikirin sesuatu ya?” kataku menebak situasi Ben saat ini.
Ia menarik nafas panjang.
“Aku takut kalau usahaku mencari keberadaan keluarga ibuku akan gagal lagi seperti kemarin” jawabnya sambil menunduk memainkan pasir yang berada di dekat kakinya.
Terdengar kekhawatiran dan keputusasaan dari suaranya. Ben bahkan tak mau menatapku saat berbicara tadi.
“Kita gak kan pernah tau hasilnya akan seperti apa kalau belum mencobanya, bukan? Apapun hasilnya nanti setidaknya kita sudah berusaha. Dan kamu gak akan menyesal karena sudah mencoba mencarinya lebih dari satu kali, Ben” kataku mencoba memberikan semangat pada Ben.
Ben menatapku. “Thanks, Asha” katanya sambil tersenyum.
“Gimana tadi girls night kamu?” tanyanya mengubah topik pembicaraan.
Aku menceritakan makan malamku dengan Yennie yang berlangsung sangat seru. Kami juga membahas rencana kepergian kami ke Yogyakarta esok sore.
Beep… Beep… Beep…
Alarm ku berbunyi tepat pukul lima tiga puluh pagi. Aku pun segera bangun dan bersiap untuk menjalankan rutinitas seperti biasa.
Sebelum berangkat menuju rumah sakit aku mengirim pesan singkat pada papa kalau aku akan mampir ke kontakannya setelah aku selesai bekerja. Karena semenjak papa pindah aku belum pernah mengunjunginya.
Saat sampai di rumah sakit ternyata sudah ada beberapa pasien yang sudah menunggu untuk diperiksa kesehatannya. Hari ini cukup banyak pasien yang harus aku tangani. Hingga tak terasa waktu praktekku hampir habis. Aku mengecek ponsel ternyata ada pesan masuk dari papa yang belum sempat aku baca.
Sekalian makan malam di sini ya. Papa masak makanan kesukaan kamu.
Membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes. Terlebih aku belum sempat makan siang. Aku pun semakin tak sabar untuk segera sampai di rumah papa.
Aku memarkir kendaraan di rumah kontrakan yang papa tinggali selama satu bulan terakhir. Tapi di sana terlihat sepi. Aku pun melanjutkan menuju ruko yang sedang di renovasi. Letaknya tak jauh dari kontrakan.
Dan benar saja. Aku melihat papa sedang berbincang dengan seseorang di sana. Aku pun segera turun untuk menemuinya. Papa tersenyum lebar saat melihatku berjalan ke arahnya.
“Langsung ke sini dari rumah sakit?” tanya papa.
“Tadi aku ke kontrakan tapi sepi. Jadi coba ke sini. Ternyata benar” kataku setelah mencium tangan papa.
“Papa lupa bilang kalau mau lihat progres ruko” jawab papa.
Aku pun ikut melihat-lihat sudah sejauh mana progres renovasi ruko. Saat sedang melihat-lihat ada sebuah mobil hitam memasuki halaman ruko.
“Damar!” seru papa memanggilnya untuk ikut berkumpul bersama kami.
Ia menyalami papa dan menyapa ku. Papa dan Damar membahas beberapa hal mengenai renovasi ruko.
“Asha, besok ada di rumah?” tanya Damar setelah selesai membahas renovasi ruko dengan papaku.
“Ada. kenapa?” tanyaku heran karena tumben sekali ia menanyakan keberadaanku.
“Ada yang mau saya kasih ke kamu. Tapi saya gak bawa sekarang” jawabnya.
Aku mengangguk namun penasaran apa yang ingin diberikannya padaku.
“Besok sepulang kerja saya mampir” katanya. Dan tak lama ia pun pamit pada kami karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Aku dan papa makan malam bersama di kontrakan. Ia bercerita banyak hal termasuk pengalaman barunya tinggal bersama beberapa karyawan. Papa merasa senang karena ia merasa rumahnya tidak sepi. Terutama setelah kepindahanku.
“Pa, Papa dan Mama ketemu dimana?” tanyaku saat makan malam.
“Kami bertemu di salah satu restoran tempat mama kamu kerja. Dulu Mama kamu kuliah sambil kerja untuk mencukupi kebutuhannya selama kuliah. Mama kamu itu perempuan tangguh dan pekerja keras. Tapi biarpun kuliah sambil kerja Mama kamu juga mahasiswa yang berprestasi. Ia salah satu mahasiswa dengan nilai terbaik saat lulus” kata papa menceritakan sedikit kisahnya dengan mama sambil tersenyum.
Ia seperti mengenang kembali saat-saat bersama mama setiap kali menceritakan kisah mereka. Aku yang mendengarnya pun ikut senang melihat senyum bahagia di wajahnya.
“Pa, aku boleh tanya sesuatu gak?” kataku sebelum melanjutkan pertanyaanku.
Papa melihat ke arahku.
“Mama… “ ada jeda sebelum aku bertanya. “Sebenarnya apa yang terjadi sama Mama?” pertanyaan yang kupendam selama bertahun-tahun lamanya akhirnya berani aku tanyakan pada papa. Orang yang semasa hidupnya selalu berada di sisi mama.
Papa terdiam lama.
“Sudah malam, Nak. Kamu besok praktek pagi kan?” katanya. Ia tak menjawab pertanyaanku.
Aku terdiam. Namun sepertinya papa mengerti akan perasaanku.
“Suatu saat nanti Papa akan cerita. Tapi bukan sekarang” katanya.
Lalu aku pun pamit untuk kembali ke apartemen. Dan selama perjalanan aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mama. Aku tak punya tempat untuk bertanya selain padanya. Papa dulu pernah berkata kalau ia dan mama sama-sama hidup sebatang kara tidak mempunyai keluarga. Jadi mereka saling menjaga satu sama lain.
Keesokan harinya setelah sesi praktek di rumah sakit selesai, aku menerima pesan singkat dari Sophie.
Nanti kita jadi mampir. Lo mau titip makan apa?
Aku segera mengetik pesan balasan.
Ayam bakar, nasi uduk sama air jeruk. Gue mau restock isi kulkas. Kalau sampai duluan tunggu di lobby dulu ya.
Send!
Aku segera menyalakan mesin mobil dan melaju menuju supermarket yang letaknya tak jauh dari apartemen tempatku tinggal. Sesampainya di sana aku langsung mengambil barang-barang sesuai list yang sudah kubuat sesaat sebelum pulang tadi. Untuk mempercepat kegiatan belanja bulananku.
Untungnya saat aku sampai, kedua sahabatku masih terjebak macet di jalan.jadi aku masih sempat membereskan unit apartemenku yang sedikit berantakan dan membereskan barang-barang yang aku beli.
Saat tengah beristirahat terdengar ketukan pintu dari luar. Aku pun segera berlari untuk membuka pintu karena aku sudah tidak sabar untuk menyantap makan malamku.
“Damar!” kataku terkejut saat membuka pintu. Aku sempat celingukan. Berjaga-jaga takut kalau kedua sahabatku melihat Damar ada di sini.
Damar yang melihatku seperti sedang mencari seseorang sempat bingung. Aku pun segera mengajaknya masuk sebelum ada yang melihatnya.
“Mau minum apa?” tanyaku
“Gak usah. Saya gak lama” katanya lalu memberikan sebuah paper bag kecil berwarna baby blue padaku.
“Ini apa?” tanyaku bingung.
“Waktu itu kamu pernah minta sesuatu ke saya” jawabnya seolah memberikan kode tentang isi didalam paper bag itu.
Karena penasaran, aku pun segera membukanya. Dan cukup terkejut setelah menemukan gantungan kunci bebek di dalamnya.
“Ini lo berapa kali nyoba buat ngambil?” tanyaku penasaran.
“Dua” jawabnya singkat.
“Jago juga lo. Makasih ya” kataku lalu segera memasang gantungan kunci yang didapatkan Damar dari mesin capit yang ada di pasar malam dekat rumahnya.
Setelahnya Damar pamit pulang. Sebagai ucapan terima kasih aku pun hendak mengantarnya sampai ke parkiran. Dan saat aku membuka pintu di sana sudah berdiri Sophie dan Rayyan hendak mengetuk pintu.
Mereka terkejut menemukan Damar berada dalam apartemenku. Dan mereka memandang kami dengan tatapan usil serta penuh curiga. Dan pastinya di kepala mereka banyak sekali pertanyaan tentang keberadaan Damar di sini.
*****