Chapter 18

1164 Kata
“Damar? Lo ngapain di sini?” tanya Sophie pada Damar dengan mata penuh selidik. “Ada urusan sama Asha” jawab Damar tampak tidak peduli dengan tatapan curiga kedua sahabatku, Sophie dan Rayyan. “Urusan apa?” tanya Sophie semakin menyelidik. “Urusan saya sudah selesai” kata Damar sambil sedikit menyingkir untuk memberi jalan agar Sophie dan Rayyan bisa masuk. Namun dengan sigap Sophie menggamit tangan Damar dan memaksanya masuk kembali ke dalam apartemenku. Dibantu oleh Rayyan yang mendorongnya dari belakang. Tanpa perlawanan Damar pun terpaksa masuk kembali ke dalam. Dan aku hanya mampu melihat adegan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. “Udah makan belum, Mar?” tanya Sophie. Damar menggeleng. “Makanya mau pulang sekarang” jawab Damar dengan gayanya yang cuek. “Gak usah. Kita bawa makanan banyak. Makan bareng aja di sini” jawab Sophie sambil mulai membuka makanan yang dibawa olehnya dan Rayyan satu per satu. Kami berempat makan dalam diam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku sibuk memikirkan jawaban apa yang akan aku berikan pada Sophie dan rayyan tanpa menimbulkan pertanyaan lain dan membuat mereka berdua semakin curiga dengan kedatangan Damar. Sedangkan Sophie dan Rayyan sibuk menghabiskan makan malam mereka dan saling menyenggol tangan satu sama lain sambil mengawasi aku dan Damar. Sementara Damar, tampaknya ia tidak terpengaruh sama sekali dengan keadaan sekitar. Ia tampak menikmati makanannya dan makan dengan tenang sambil sesekali memainkan ponselnya. Sophie mengeluarkan ponselnya setelah ia menghabiskan makan malamnya. Ia tampak menghubungi seseorang dan menyalahkan pengeras suara. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan itu pun terhubung. “Babe, coba lihat ada siapa disini…” ucapnya sambil memutar kameranya ke arah Damar. “Damar?! Ngapain lo di tempat Asha??” tanya Gerry kaget mengetahui keberadaan sepupunya malam ini. “Makan, Ger” jawab Damar sambil mengangkat sepotong pizza yang sedang dimakannya dengan santai pada Gerry. “Heh, lo ngapain di sana??” kata Gerry mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Damar. “Asha, dia ngapain di tempat lo?” kali ini Gerry bertanya padaku. “Makan” kataku singkat mengikuti jawaban Damar. “Kompak banget. Pacaran gih lo berdua” ucap Rayyan yang membuat aku dan Damar melotot ke arahnya. “Pas aku sama Rayyan mau ngetuk pintu, Asha buka pintu kayaknya mereka mau keluar” kata Sophie memberitahu sang kekasih tentang kronologi ia bertemu dengan sepupu sang pacar. “Damar, gue bilangin Tante Rita ya lo di apartemen Asha” ancam Gerry pada sepupunya itu. “Lagi ada urusan sama Asha, Ger. Pas mau pulang kebetulan Sophie dan Rayyan datang” jawab Damar setelah diancam kalau kedatangannya ke apartemenku akan dibocorkan Gerry pada sang mama. “Oohhh… Urusan…” jawab Sophie, Rayyan dan Gerry berbarengan dengan nada tak percaya dengan jawaban Damar. “Penting banget kayaknya urusan lo sama Asha sampe nyamperin ke tempatnya malem-malem” ucap Gerry yang sepertinya mewakili apa yang ada di kepala kedua sahabatku. “Urusan apa sih, Sha?” kali ini pertanyaan itu tertuju padaku. “Bisnis” jawabku asal. “Bisnis apa?” tanya Rayyan yang sepertinya penasaran dengan jawabku. Entah ia percaya atau tidak. Tak lama Damar bangun. “Mau kemana?” tanya aku, Sophie, Rayyan dan Gerry berbarengan. “Pulang. Udah kenyang. Makasih makan malamnya ya. Next time saya yang traktir” ucap Damar sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan aku yang harus menjawab rasa penasaran mereka bertiga. Sophie dan Rayyan terus menerus menatapku semenjak kepergian Damar. Aku pun akhirnya duduk di depan mereka. “Mau nanya apa lagi sih lo berdua?” tanyaku karena sudah sangat risih diperhatikan kedua sahabatku terus menerus. “Ada urusan apa si Damar sampai nyamperin lo ke sini?” tanya Sophie mengulang pertanyaan sang kekasih yang jawabannya belum memuaskan rasa ingin tahunya. “KTP gue ketinggalan di mobilnya” jawabku asal. “Kok bisa?” tanya Rayya heran. “Ikutan jatoh pas dompet gue jatoh waktu itu” jawabku Sophie dan Rayyan mengangguk-angguk. Sepertinya mereka percaya dengan jawabanku. Dan untuk sementara waktu aku cukup aman dari pertanyaan tentang kedatangan Damar. “Staycation yok. Suntuk gue” ajak Rayyan padaku dan Sophie. “Kemana?” tanyaku antusias dengan ajakan Rayyan. “Yang dekat-dekat aja. Susah kita, Yan kalau mengajukan cuti barengan” kata Sophie yang kebetulan mereka bekerja di satu rumah sakit. “Jalannya Jumat sore balik Senin sore atau malam. Besok masih sempat kerja kan?” kata ku mencoba memberi usul pada kedua sahabatku. “Sebentar banget ya cuma tiga harian. Kira-kita jalan kemana kalau cuma empat hari?” kata Rayyan bertanya padaku dan Sophie. “Singapore mau gak? Deket. Banyak tempat yang bisa dikunjungi juga” ucap Sophie mencoba memberi usul. “Nah! Boleh tuh. Bertiga aja?” tanyaku pada kedua sahabatku. “Ramean dong. Lo bisa sharing kamar. Lebih murah sewanya. Gue sendiri masa” kata Rayyan yang sepertinya keberatan jika harus menyewa kamar sendiri. “Ya sudah nanti gue ajak Gerry deh” usul Sophie memberi jalan keluar untuk permasalahan Rayyan. “Nah! Kalau gitu gue ajak Sandra juga ya. Biar tambah ramai” kata Rayyan yang langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kekasih. “Jadi nyamuk dong gue?!” ujarku cepat terhadap usul Rayyan barusan. “Udah biasa kan” balas Rayyan sambil melirik ke arahku Sophie geleng-geleng kepala melihat aku berdebat dengan Rayyan. “Ujung-ujungnya gak jadi nih kalau ribut begini” ujar Sophie. Tak lama Sophie dan Rayyan saling pandang dan mereka tersenyum berbarengan. Dan kalau sudah begini biasanya ada saja yang sedang mereka rencanakan. “Gak usah ngerencanain macem-macem deh” kataku pada mereka berdua. “Enggak…” jawab Sophie dan rayyan berbarengan. “Gak usah ngelak lo berdua. Apapun yang mau lo berdua rencanain gue gak bakal setuju” ucapku tegas. “Apa yang kita rencanain tuh untuk kebaikan bersama selama liburan nanti” ujar Rayyan berusaha menyangkal ucapanku. “Suudzon aja lo, Sha sama kita. Jadi mau jalan tanggal berapa?” kata Sophie berusaha mengalihkan pembicaraan. “Minggu depan aja” ujar Rayyan. “Dadakan banget. Emang pada bisa semua? Pastiin dulu” kataku. Sophie dan Rayyan untuk memastikan jadwal semua orang yang akan ikut liburan bersama. Termasuk jadwal Gerry dan Sandra. “Baik juga dia ternyata sama gue” kataku setelah mengantar kedua sahabatku pulang. Aku mengamati gantungan kunci boneka bentuk bebek berwarna kuning yang tadi diberikan oleh Damar. Aku menggantung gantungan kunci pemberian Damar di tas yang biasa dipakai sehari-hari. Termasuk untuk bekerja. Dan saat akan meletakkan tas itu kembali ke tempatnya, toples permen yang biasa ku bawa-bawa itu jatuh menggelinding. Aku pun mengambil toples tersebut. Tak lupa mengeluarkan satu permen coklat Dream Candy untukku makan malam ini sebelum menggosok gigi. “Papa beli dimana sih permen ini? Enak” ujarku yang penasaran tentang asal usul permen tersebut yang akhir-akhir ini sering aku nikmati manisnya. Setelah selesai melakukan rutinitas sebelum tidur, aku menyalakan televisi untuk menonton series yang belum sempat aku tonton kemarin-kemarin. Aku yang ketiduran saat itu merasakan usapan yang membelai kepalaku dengan lembut. Dan terdengar seseorang memanggil namaku. “Asha, kamu ketiduran ya?” ucap seseorang padaku. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN