“Davin!!” teriakan Derry beserta gebrakan meja yang di lakukan oleh tangannya membuatku kaget dan refleks mengalihkan tatapanku dari ponsel.
“kenapa sih Der, pake gebrak meja segala?” tanyaku heran.
“lo tuh ya, kenapa sih? Dulu aja suka ngamuk-ngamuk kalo kita ketemu tapi pada sibuk sama hp nya, sekarang lo yang begini” komentar Derry sebal.
Ku dengar suara tawa Farhan yang duduk tepat disampingku. “maklumin aja sih, Der. Gak tau ya, abang Davin kan sekarang punya ‘monyet’ wajar dong gak bisa jauh dari ‘Monyet’nya” ejek Farhan padaku.
“oh, yang lamaran gak bilang-bilang itu ya?” sindir Rian sambil melirik padaku.
“udah sebulan yang lalu kali. Masih aja di bahas” dengusku sedikit sebal.
“bukan masalah sebulan yang lalu nya, dav. Tapi sebagai teman, gue ngerasa gak di hargain tau” omel Derry.
“ya sorry deh. Abis itu juga dadakan. Gue gak bilang dan gak ngajak juga karena takut malu karna di tolak. Mangkanya gue gak ngomong-ngomong” jelasku pada mereka.
“oke kita maafin. Awas aja nikah gak bilang-bilang” sahut Rian sepertinya dia masih sedikit kesal.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala sambil meminum black coffee ku. Setelah jam kerja ku habis, Farhan memberitahuku bahwa Derry dan Rian mengajak makan malam yang tentu saja tidak ku tolak.
Jadi lah kami berkumpul di Opera Blanc di daerah SCBD yang kebetulan dekat dengan kantorku. Memang aku tidak memberitahukan acara lamaranku pada ketiga teman yang sudah ku kenal sejak SMA ini. Alasannya, ya karena itu tadi. Aku takut kalau keluarga Alya menolak lamaranku. Maka dari itu aku sengaja tidak memberitahu mereka. Hanya Farhan yang tahu karena, Farhan adalah sepupu dari calon suami Karen.
Dunia memang tidak seluas daun kelor ternyata.
“kenalin dong sama kita calon istri lo ini” pinta Rian.
“liat ntar deh. Dia masih UAS” jawabku.
“calon istri lo masih SMA?” tanya Derry kaget.
Aku mendengus kesal. “kuliah, bro.”
“kuliah dimana? Jurusan apa? namanya panjangnya Alya siapa?” tanya Derry membuat kepalaku pening.
“dikampus gue yang lama. Temenan sama Windy. Jurusan komunikasi. Nama panjangnya rahasia. Nanti lo stalker-in dia lagi.”
“ya ngga lah. Gila lo, gue gak bakal makan temen kali” dengus Derry tidak terima dengan tuduhan asalku.
“ye kok jadi berantem sih lo pada?” seru Farhan jengkel.
“nih, abang Davin lagi sensi kayaknya. Kenapa sih lo?” tanya Rian yang sadar dengan mood ku yang sedang tidak baik.
Bagaimana mau baik? Alya tadi siang memberitahu bahwa dia beserta teman-temannya pergi jalan-jalan ke taman wisata mangrove. Aku tentu tidak mempermasalahkan dia mau pergi kemana saja, toh selama ini dia selalu melapor padaku.
Yang membuat mood ku memburuk adalah kenyataan bahwa Alya belum menceritakan perihal lamaranku kepada teman-temannya termasuk kekasih Windy – Revan- yang itu berarti lelaki yang naksir Alya yang merangkap sebagai sahabatnya a.k.a Raka pasti berfikir bahwa dia masih punya kesempatan untuk mendekati Alya.
“woi, malah bengong lagi” seru Derry kesal membuatku tersentak kaget dan menghela nafas.
“gue lagi bete aja. si Alya lagi jalan sama temen-temennya” jelasku pada mereka.
“masalahnya apa?” tanya Rian tidak mengerti.
“masalahnya, temen-temen si Alya ini cowok semua. ada ceweknya dua sih” seru Farhan sambil terkekeh pelan. Sialan.
“oh, yang pacarnya Windy itu?” tanya Derry.
“iya. Ada 4 cowok lagi. Dan salah satunya naksir berat sama Alya dari SMA” tambah Farhan lagi. kini benar-benar tertawa.
“serius?” tanya Rian dan Derry kompakan yang ku jawab dengan anggukan super malas dan setelahnya di sahuti Rian, Derry dan Farhan dengan tawa mereka.
“kata Windy sih sampe nembak Alya 5 kali trus di tolak gitu” seru Farhan membuat Rian dan Derry sukses melongo kemudian tertawa kembali.
“Gila. kuat juga si Alya gak sampe beneran jatuh cinta sama sahabatnya itu” Derry geleng-geleng kepala tanda dia kagum dengan Alya.
“ya ngga lah, kan ada bang Davin yang udah bikin neng Alya jatuh cinta” sahut Rian yang lagi-lagi di sambut tawa dari Farhan dan Derry.
“masalahnya Alya belum cerita ke temen-temennya itu kalo gue udah lamar dia” kataku muram.
“gue yakin kok, walaupun temennya ini naksir Alya, dia bakal miliih lo. Lo udah mapan, ganteng, pinter, alim lagi. Kurang apa coba?” seru Derry sakartis.
“kurang cinta sama Alya. Hati nya masih nyangkut gitu” sindir Farhan padaku.
“oh, gagal move on ternyata” gumam Rian.
“heh, gue masih ada disini. Enak aja lo pada ngomongin gue” seruku ketus.
“ya abisnya, wajar sih kalo Alya jadi beneran suka nanti sama temennya. Daripada sama lo disayang ngga. Cuma dikasih materi doang, emang dia cewek apaan” ujar Farhan.
“lo serius kan sama dia? Kasian, bro. Anak orang, jangan di mainin” Derry menatapku lekat-lekat.
Duh, siapa juga yang mau mainin Alya. Aku beneran serius sama dia. Mungkin memang belum cinta, tapi aku ngerasa udah mulai sayang sama dia. Dan tentang gagal move on, well, kayaknya ucapan ku dulu mengenai kisah cintaku yang adem ayem harus sedikit direvisi.
“tuh kan ngelamun lagi. parah deh lo, dav” Rian menggelengkan kepalanya.
“sorry, sorry. Gue lagi bener-bener gak fokus nih” gumamku.
“sampe dari tadi si Alya nelfon juga, lo gak sadar? Astaga” komentar Farhan yang membuatku langsung menatap layar hp dan meneemukan 5 panggilan tak terjawab dari Alya.
“tunggu ya gue telfon dia dulu” kataku kemudian langsung melesat keluar dari tempat kami makan.
-------------------------
Aku menunggu dengan gusar di dalam mobil. Sudah pukul 9 malam dan mobil teman Alya belum juga sampai. Tadi Alya menelfon dan berkata bahwa kalau aku tidak sibuk dan tidak jauh dari tempat pertemuan kami ini, dia minta tolong untuk di jemput karena seperti yang udah di ceritakan Alya beberapa waktu lalu bahwa semua teman-temannya bertempat tinggal di daerah Tangerang dan tidak mungkin mengantar Alya kerumah neneknya di Kebayoran Lama.
Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobilku. Aku segera mematikan mesin mobil dan turun untuk menghampiri mobil hitam tersebut.
“sorry ya lama. Macet tadi” sesal Revan yang duduk di balik kemudi.
“iya gak apa-apa. gue juga baru sampe kok” kataku bohong.
Pintu belakang kemudian terbuka dan muncul Alya yang menggunakan celana jeans dan kaos lengan panjang bergaris. Aku tentu bersyukur mengenal Alya. Selain bersikap sopan, dia juga tidak pernah menggunakan pakaian yang terlalu terbuka, apalagi disaat dia dikelilingi oleh para lelaki.
“udah?” tanyaku padanya yang hanya di balas anggukan kecil.
“thanks ya, hati-hati dijalan” seru Alya sembari melambaikan tangannya sampai mobil yang dikemudikan Revan menjauh.
“yuk, udah malem” ajakku sembari menggiringnya menuju mobil.
“maaf ya, ngerepotin” suara Alya menginterupsi konsentrasiku pada jalanan.
“kaya sama siapa aja sih, al. Lagian kalau aku gak jemput kamu malah aku yang keliatannya gak bertanggung jawab” sahutku.
“tapi tetep aja gak enak. Kebon Jeruk kan jauh dari mana-mana. Dari kantor kamu jauh, dari rumah kamu jauh, dari rumah aku juga.”
Secara reflek aku mengelus puncak kepalanya. Selama sebulan ini, Alya tidak pernah meminta pertolong padaku. Sebagai seorang perempuan, dia cukup mandiri. Alya bukan tidak bisa mengendarai mobil, tapi dia lebih suka menaiki angkutan umum dari satu tujuan ke tujuan lainnya.
Sejujurnya aku cukup ngeri setiap mendengar pengalaman Alya menaiki angkutan umum. Namun melihatnya bercerita seperti melihat anak SD yang menceritakan hari pertamanya masuk sekolah.
“secara gak langsung kamu itu tanggung jawab aku, al. Mama papa kamu udah nitipin kamu ke aku. Jadi gak usah ngerasa gak enak. Aku juga bakal bilang ‘gak bisa’ kalo aku beneran sibuk. Dan akan bilang ‘bisa’ kalo memang aku bisa. Jadi santai aja, oke?!”
Alya menganggukan kepalanya. “makasih ya, sayang udah jemput malem ini. Capek banget” keluh Alya padaku.
“iya, gak apa-apa kok” kataku sembari mengelus puncak kepalanya.
Tunggu dulu. Tadi dia bilang apa? sayang?