Bagian 4

1736 Kata
Setelah peringatan kecil yang diberikan Alya, kami segera beranjak dari kantin kampus menuju mobil ku yang terparkir cukup dekat dengan kampus. Setelah lelah karena selalu dijawab Alya dengan kata ‘terserah’ setiap aku bertanya kemana sebaiknya kami pergi, akhirnya aku memutuskan untuk ngopi-ngopi di sebuah restaurant merangkap kafe di daerah senopati. Tempatnya yang nyaman dan cenderung sepi membuatku memutuskan untuk memilih kafe itu.             Kami sampai 30 menit kemudian. Jalanan Jakarta tidak terlalu padat sehingga kami tiba dengan cepat. Aku segera memilih sebuah sofa panjang di sudut ruangan. Alya duduk berhadapan denganku. Setelah memesan makanan kami memulai obrolan.             Yang dapat ku simpulkan dari Alya adalah, gadis ini cerewet. Ya, dia cerewet. Dia selalu mencoba untuk membuka suatu obrolan. Sepertinya dia tidak suka dengan aura canggung jika kami sama-sama terdiam. Bahkan sepertinya lebih banyak dia yang bertanya ketimbang aku.             Obrolan yang berjalan selama hampir lima jam, membuatku dapat dengan mudah mengetahui bagaimana seorang Alya sebenarnya. Dia seperti buku yang terbuka. Mudah sekali di baca, tetapi dia hanya terbuka kepada orang yang menurutnya sudah dikenalnya. Dia tipe orang yang lebih banyak diam jika berkumpul ramai-ramai dengan teman-temannya ataupun keluarga besarnya.             Intinya, memang benar apa yang di katakan Windy waktu itu. Tidak akan ada kata menyesal karena mengenal Alya. Dia terlalu peduli dengan teman ngobrolnya sehingga selalu membuka pembicaraan. Dia bahkan sempat menolak untuk aku antar pulang karena tidak enak setelah aku membayar pesanannya tadi.             Aku tipe lelaki yang bertanggung jawab, tentu saja. Aku wajib membayar pesanan nya karena aku yang mengajaknya. Aku juga wajib mengantarnya pulang karena aku sudah menahannya di kafe selama lima jam, sehingga ketika kami keluar dari kafe, yang dapat kami lihat adalah sinar lampu jalan, lampu mobil dan langit yang sudah gelap.             Seumur hidupku, belum pernah aku bertahan mengobrol dengan seseorang untuk membahas hal-hal tidak penting selama itu, apalagi bersama seorang perempuan. Bahkan dengan Karen dan Windy saja maksimal hanya dua jam karena setelahnya pasti aku langsung bosan setengah mati.             Ini mungkin karena mereka hanya membahas orang populer di i********:, makeup, fashion, hingga artis-artis hollywood. Berbeda sekali dengan perbincangan ku tadi bersama Alya. Kami banyak membahas mengenai pekerjaan karena Alya akan memasuki tahap magang. Sebagai seseorang yang belum pernah bekerja, Alya memiliki wawasan yang cukup luas mengenai perusahaan yang memiliki peluang bagus untuk menjadi tempat bekerja.             Aku seperti merasa sedang berbicara dengan orang yang seumuran denganku. Sulit di percaya. Dan aku mulai berfikir untuk benar-benar berhubungan seriusn dengan Alya.             ----------------------------             Pagi ini aku sudah berdiri didepan cermin setinggi 2 meter didalam kamarku. Hari ini, seperti rencana, aku beserta keluargaku akan bertandang ke rumah Alya untuk melamarnya.             Entahlah, rasanya aneh. Baru bertemu beberapa hari, tiba-tiba aku langsung melamarnya. Rasanya seperti aku benar-benar di kejar deadline untuk menikah. Padahal aku rasa umurku masih terbilang wajar dan cukup baik jika bersanding dengan status single.             “mas, cepetan. Lama banget sih!” teriakan Karen membuatku segera merapihkan baju batik berwarna merah tua yang sudah melekat sedari tadi ditubuhku. Setelahnya aku segera keluar dari kamar dan melihat bunda, ayah, dan karen yang sudah berdiri di ruang tamu.             Harus ku akui aku sedikit syok karena melihat bunda, ayah dan Karen menggunakan batik dengan motif ya sama.             Sebegitu niatkah bunda hingga sempat-sempatnya membeli atau  bahkan meminta penjahit untuk membuat baju batik kembar seperti itu?             “loh, kok aku doang yang beda bajunya?” tanyaku pura-pura kesal.             “iya lah, mas. Biar keliatan mana yang mau ngelamar” sahut Karen.             “udah rapih kan? Yuk jalan, Mas Anto, mba Hanum sama Windy udah nunggu kita di jalan” seru bunda sambil mendorongku keluar dari rumah.             Aku menghela nafas, sedikit bersyukur bahwa bunda menuruti keinginanku untuk hanya mengajak keluarga om Anto, bukan seluruh keluarga besar bunda. Kenapa? Karena aku rasa ini dadakan dan entah kenapa aku yakin sambutan keluarga Alya tidak akan sama seperti sambutan keluarga ku saat calon suami Karen datang waktu itu.             Memang kontras sekali acara lamaran Karen dengan lamaran yang akan aku lakukan. Kalau saat lamaran Karen, orangtua ku dan orangtua Haris –calon suami Karen- sempat bertelefon untuk mengkonfirmasi  bahwa benar mereka akan melamar Karen secara resmi. Sedangkan aku? Aku bahkan baru dua hari lalu mengantar Alya ke rumah aslinya di Tangerang dan bertemu orangtua nya. Aku juga memberitahu perihal kedatanganku hari ini. Jadi jika sambutan yang kami dapat tidak seantusias pertunangan Karen, aku tidak heran.             Sepertinya fikiranku melayang selama satu jam ini, karena tiba-tiba saja mobil yang aku tumpangi sudah sampai di depan gerbang komplek perumahaan Alya. Dibelakang mobilku sudah ada mobil om Anto.             Tiba-tiba saja aku merasa gugup. Bagaimana kalau lamaranku tidak diterima? Apa yang akan keluarga ku lakukan? Apa keluargaku terlalu terburu-buru untuk melamar Alya?             “mas, tenang. semuanya baik-baik aja. kalau emang kamu ditolak, bunda sama ayah bilang mereka bakal nunggu sampai keluarga Alya nerima kamu” suara Karen mengagetkanku.             “iya udah, mas tenang aja. bunda sama ayah udah memikirkan hal terburuknya kok. Bunda tau kita emang terlalu gegabah. Tapi umur kamu bisa jadi alasan yang baik kenapa kita cepat ngelamar dia” seru bunda yang entah kenapa membuatku perasaanku menjadi lebih baik.             “atau menjadi alasan utama mereka menolak lamaran kita, bun. Karena mereka gak mau punya menantu yang terlalu tua kaya Davin” tambah Ayah sambil tertawa yang sukses membuat mood ku terjun bebas.             “ayah!! Jangan godain Davin” seru bunda sedikit kesal.             Senangnya ada yang membela.             Beberapa menit kemudian, mobilku berhenti beberapa meter dari rumah Alya. See? Bahkan tidak ada tenda didepan rumahnya. Jelas sepertinya keluarga Alya tidak terlalu menganggap acara ini spesial.             Setelah keluar dari mobil dan berkumpul sebentar dengan keluarga om Anto, kami segera berjalan menuju rumah Alya.             Demi Tuhan aku gugup sekali. Gugupnya seperti saat dulu pertama kali melakukan interview untuk bekerja di london. Bahkan aku yakin gugupnya lebih dari itu.             Oke, dav tenang. tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan. Lo pasti bisa lewatin ini semua, semangatku dalam hati, dan sukses membuatku merasa lebih baik.             Seorang bapak-bapak menggunakan batik menyambut keluarga ku dan segera mengajak kami untuk masuk ke dalam. Cabut pemikiran ku tadi bahwa keluarga Alya menganggap acara ini tidak spesial. Kenapa? Karena ternyata keluarga Alya menempatkan acara lamaran ini di taman belakang rumahnya.             Aku dan keluarga ku segera diajak untuk duduk di sebuah gazebo, sedangkan om Anto dan keluarga duduk disebuah kursi yang menghadap Gazebo. Beberapa menit kemudian Alya muncul beserta orangtua nya dan juga kakaknya. Alya memiliki kakak kembar bernama Gemas dan Bagas yang berumur satu tahun di bawahku.             Alya hari ini menggunakan kebaya berwarna silver berlengan sampai siku dengan bawahan batik. Rambutnya di gelung rapih dan hanya menggunakan riasan natural. Dia cantik.             Segera keluargaku dan keluarganya bersalaman. Begitu juga dengan Alya yang menyalami keluargaku dan disambut pelukan hangat oleh bunda. Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Ayah menjelaskan kedatangan kami kerumah Alya.             “pak Irvan dan bu Dewi, sebelumnya kami mohon maaf karena kedatangan kami yang mendadak. Namun seperti yang kita tahu bahwa niat baik tidak boleh ditunda-tunda, jadi begitu kami bertemu Alya kami ingin segera meminangnya dengan anak kami, Davin. Jadi, kedatangan kami kesini adalah untuk meminta Alya kepada bapak dan ibu untuk menjadi isteri Davin, anak kami.”             Aku tidak sadar bahwa selama ayah berbicara, aku tidak bernafas. Aku gugup menanti jawaban yang dikeluarkan dari bibir ayah nya Alya. Walaupun Alya sudah memperingatkan padaku mengenai lamar ini, tapi tetap saja aku gugup.             Om Irvan berdeham. “sebenarnya kami juga cukup kaget saat bertemu Davin beberapa hari lalu dan diberitahu bahwa dia akan melamar Alya. Memang niat baik tidak boleh ditunda-tunda. Namun, seperti yang bapak tau bahwa puteri saya masih berstatus mahasiswa dan masih berumur 20 tahun. Dan bukan kami sepenuhnya yang harus memberikan jawaban karena ini menyangkut masa depan Alya. Jadi, semua keputusan ada di tangan Alya. Apapun keputusannya kami selaku orangtua akan mendukungnya.”             “jadi bagaimana, al? Kamu nerima Davin?” kini tante Dewi bersuara sambil menatap Alya.             Sekarang aku tahu darimana Alya mendapatkan wajah yang tidak bosan di pandang. Tante Dewi –mama Alya- memiliki wajah yang serupa dengan Alya. Perbedaannya hanya tante Dewi memakai kerudung dan lebih tua, sedangkan Alya tidak. Wajah tante Dewi pun tidak terlihat seperti orang asli Indonesia. Hidungnya mancung sekali, astaga.                         Kulihat Alya menggigit bibirnya, dan aku gugup setengah mati menunggu jawabannya. “aku nerima lamaran ka Davin” jawaban Alya membuatku menghela nafas lega. Rasanya seperti ribuan ton beban di bahu ku terangkat. Kulihat juga bunda sepertinya sudah gatal ingin memeluk Alya.             “tapi aku belum bisa menikah dalam waktu dekat. Aku ingin lulus kuliah dulu, baru memikirkan pernikahan. Bagaimana?” tanyanya dengan pelan.             “gak apa-apa, sayang. kami ngerti kok. Yang penting kamu udah nerima Davin” sahut bunda dengan cepat membuat ayah, om irvan, tante dewi dan orang-orang yang menjadi saksi lamaran keluarga ku tertawa.             Akhirnya suasana menghangat. Terima kasih Tuhan!!             --------------------             “jadi kita udah official sekarang?” tanyaku sembari duduk disamping Alya.             Dia tertawa kecil. “sumpah ya, aku gak pernah kepikiran untuk dilamar. Kita bahkan udah ngacak tahap-tahap untuk ke pernikahan.”             “maksud kamu?”             “ya temenan, pendekatan, nyaman, pacaran, lamar, nikah deh. Nah kalau kita?”             Aku berfikir sejenak. “temenan kita udah, pendekatan juga seminggu ini, nyaman apalagi. Tinggal pacaran aja yang belum. Gimana sambil nunggu kamu selesai kuliah kita pacaran dulu?”             Alya menatapku lekat-lekat. “kamu nembak aku ceritanya?” tanyanya yang ku jawab dengan anggukan kepala.             “jadi abis dilamar, baru diajakin pacaran? Lucu juga” katanya sambil tertawa.             “eh, pokoknya mulai sekarang aku tunangan kamu, bukan pacar kamu. Ini setahap lebih serius dari pacaran” ujarku tiba-tiba. Pemikiran bahwa mungkin ada pria diluar sana yang menginginkannya membuatku mengucapkan kalimat itu.             “iya kak, tenang aja. lagian ada ini”, dia menunjukan cincin berlian yang ku berikan sebagai tanda dia sudah terikat padaku tadi. “jadi pasti orang udah tau deh kalo aku udah ada yang punya.”             Aku langsung mengangukan kepala mengerti dan memeluknya. Lega rasanya Alya mengerti maksudku.             “aduh enak ya udah lega. Bisa peluk-pelukan. Gue dapet apa nih?” tiba-tiba suara Windy menginterupsi momen ku dengan Alya. “udahan dulu pelukannya. Ada keluarga Alya tuh, banyak banget sampe 5 mobil, baru dateng” tambah Windy.             Aku sukses bengong. Perasaan tadi aku sudah bertemu dengan kakak-kakak dari om Irvan beserta sepupu-sepupu Alya, lalu sekarang siapa lagi?             “welcome to my big family. When i said big, it means really really big. Semoga kamu cepet hafal nama-nama mereka, ya. yuk aku kenalin” Alya segera menarikku menuju rumah sembari tertawa.             Alright, mari menjadi calon menantu idaman, Davin. Semangat!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN