Kembali ke malam sebelumnya di Tianjin.
Sosok lelaki berhoodie hitam berjalan sendirian di jalanan yang gelap kota Tianjin, waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 3 pagi dan di sekitaran hotel hanya sedikit pertokoan dan cafe yang masih buka saat itu. Salju memang sudah berhenti turun dari langit tapi udara dingin dini hari terasa menusuk ke tulang. Timbunan salju terlihat berkumpul dipingir jalan, sebagian menutupi atap-atap gedung dan lapisan esnya membuat jalanan licin. Cuaca ekstrim seperti ini biasanya membuat orang malas berkeliaran dan memilih untuk berbaring di tempat tidur yang hangat, tapi tidak dengan Greg sekarang.
Lelaki berperawakan jangkung itu menghembuskan nafasnya ke udara, uap panas dari mulutnya terlihat jelas sebelum kembali berubah menjadi kabut dingin. Greg menyebarkan pandangan ke sekelilingnya, kabut yang menyelimuti pikirannya lebih gelap dan tebal daripada kabut malam di kota ini. Ponsel di saku celananya bergetar berulang kali namun hanya dia acuhkan. Cukup dengan melihat user ID-nya Greg sudah tahu apa maksud si penelepon itu. Siapa lagi jika bukan Gito, sang asisten manajernya yang menyuruhnya untuk kembali ke hotel.
Greg jelas tidak mempedulikan manajer bertubuh gemuk itu. Dia terus berjalan tanpa arah mengikuti kemana kaki panjangnya melangkah di kota negara asing ini. Tianjin di musim salju sangat jauh berbeda dengan Jakarta tempat tinggalnya sekarang. Greg tidak tahu apakah suatu saat nanti bisa melangkahkan kakinya lagi di kota ini atau tidak. Dia memutuskan untuk mengabadikan keindahan kota ini lewat kamera saku yang memang sengaja dibawanya dari rumah.
Memotret pemandangan adalah salah satu dari sekian hobinya. Berprofesi sebagai model orang awam mungkin mengira dirinya adalah lelaki narsis karena halaman instagramnya dipenuhi foto selfie dan bahkan foto seksi hampir telanjangnya di dalam majalah. Jika harus memilih sebenarnya Greg ingin lebih orang mengagumi bakat artistiknya sebagai fotografer daripada sekedar mengagumi fisik, terus terang kadang Greg lelah untuk dijadikan sebagai objek.
Beberapa foto pemandangan kota dia ambil dan cukup puas dengan hasilnya. Dia mengupload foto tersebut ke i********: berharap seseorang atau siapa saja merespon. Mungkin terdengar bodoh tapi dia berharap sesuatu mungkin bisa menghilangkan moodnya yang kacau balau saat ini.
No message.
Sudah tiga hari tidak ada balasan pesan Line, WhatssApp ataupun DM di i********: Cheryl padanya. Gadis itu seperti yang sudah benar-benar memblokirnya dari kehidupannya. Greg tahu dirinya yang salah tapi dia merasa reaksi gadis itu berlebihan. Sekali lagi Greg memandang kosong ke langit Tianjin yang gelap, tidak ada bintang berkilauan di atas sana. Hanya ada bulan yang menggantung di balik awan hitam. Suasana malam yang mendung ini persis seperti suasana hatinya.
Cheryl apa yang sedang dia lakukan saat ini? Apa dia memikirkanku? Masih menangisiku? Apa hubungan kita benar-benar sudah berakhir? Begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya namun pertanyaan itu malah dijawab dengan bayangan gadis cantik yang menatapnya dengan mata merah dan pipi yang basah dengan air mata.
"Kak Greg... " Suara parau yang memilukan itu kembali terngiang di telinga Greg. Mendengarnya membuat hatinya serasa tertusuk ribuan pisau tajam dan seketika wajah Cheryl kekasihnya buyar dalam ingatan.
Tanpa sadar pikiran Greg kembali berputar ke kejadian beberapa saat lalu di kamar hotel.
Oh Tuhan! Apa yang sudah kulakukan? Perasaan Greg saat itu campuraduk saat melihat Brie yang terbaring di ranjangnya dan tak sadarkan diri. Luka di seluruh tubuh gadis itu terlihat jelas dan mungkin akan tampak lebih jelas di keesokan hari. Rasa bersalah, penyesalan dan ketakutan perlahan muncul dalam benak Greg.
Oh God! What the f**k was wrong with me? I’m such a bastard! Greg menggertakkan giginya gelisah dan tanpa sadar meninju dinding tembok di depannya, saat itu juga menatap bayangannya sendiri di kaca etalase sebuah toko. Raut wajahnya mengeras, menahan keluh kesah yang ingin ia teriakkan dari dalam dadanya.
Hingga saat ini Greg tidak pernah bisa menjelaskan pada dirinya sendiri perasaan apa yang dimilikinya terhadap Brie. Terutama malam yang telah mereka lalui bersama sejak syuting hingga saat ini. Dia benci mengakuinya tapi ada sensasi lain yang dia rasakan saat menghabiskan waktu bersama Brie dibanding dengan Cheryl. Bukan sekedar sensasi di ranjang tapi ada hal lain yang membuat Greg gelisah. Tanpa sadar Greg menyentuh bibirnya sendiri, pikirannya kembali teringat momen pertamanya mengecup pemuda itu pertama kali. Satu ciuman kecil yang awalnya canggung dan innocent seperti dalam film entah bagaimana berakhir menjadi seperti ini.
‘Get real Greg! That’s not love! f**k! Nope! You just a jerk!’ Greg menggelengkan kepala dan tertawa dalam hatinya namun kemudian senyuman di wajahnya berubah menjadi ketir. Dia sadar hidupnya penuh dengan ironi dan perbuatannya penuh dengan kontradiksi. Mungkin kedengarannya seperti munafik, selama ini Greg selalu menganggap petualangan liar yang dia lakukan adalah pengalaman menantang namun semakin kesini yang dia rasakan hanya sesuatu yang hampa, dia tidak lagi merasakan kesenangan yang sama.
***
Keesokan harinya waktu bergulir dengan cepat, secara keseluruhan acara jumpa fans di Tianjin berjalan lancar sesuai skrip yang ada. Dengan fanservice seadanya Greg berusaha bersikap seperti biasa meskipun sedikit menjaga jarak dengan para staff dan aktor lainnya terutama Brie. Greg sendiri memang pribadi yang introvert dan benci berbasa-basi. Dia merasa tak perlu bersikap terlalu akrab dengan para kru dan staff karena baginya pekerjaan ini hanyalah bisnis. Sikapnya yang seperti ini sebenarnya adalah ajaran Melanie, bos manajernya itu memang selalu mengingatkan Greg untuk bersikap profesional. Lagipula agensinya telah mengatur agar Greg bisa secepatnya terjun di industri film yang lebih mainstream bersama aktor papan atas bukan bermain dalam film indie yang budget-nya terbatas atau drama webseries lagi.
Saat ini sepertinya bukan Greg saja yang berpikiran untuk menjaga jarak. Seolah bisa saling membaca pikiran masing-masing Brie pun melakukan hal yang sama. Sejak pagi gadis itu mengacuhkan Greg seolah pria bertubuh tinggi besar itu tidak ada. Aneh, ada rasa geram dalam hati Greg saat dirinya merasa diacuhkan oleh Brie yang lebih memilih untuk berinteraksi dengan rekan aktor atau kru film yang lain. Greg heran bisa-bisanya gadis itu tetap tersenyum manis dan bersikap ceria di hadapan para fans setelah apa yang terjadi semalam.
‘Sialan! Apa tangisnya kemarin hanya akting? Bakatnya boleh juga! Benar-benar gadis murahan!’ Greg tersenyum sinis. Senyuman dan wajah ceria Brie malah membuat rasa penyesalan atas perbuatan biadabnya semalam sirna dan sekarang malah berubah menjadi rasa kecewa dan gelisah.
‘Tapi baguslah! Lebih baik dia melupakannya daripada terus menggangguku hidupku!’ Begitulah pikir Greg yang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Saat dia larut dalam pikirannya sendiri tanpa dia sadari seseorang selalu mengawasi setiap gerak geriknya.
***
"Eh, Kak Simon! Ada apa?" tanya Greg dengan nada ramah saat mereka berdua kebetulan berpapasan di pintu toilet.
"Tidak kenapa-napa..." jawab Simon ketus. Pria kurus dengan segudang lelucon itu biasanya selalu berceloteh tanpa henti, namun saat ini dia hanya diam seribu bahasa. Dia berdiri di pintu toilet wanita seperti satpam sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a, matanya menatap Greg begitu tajam seperti ingin membolongi kepalanya. Dari sikapnya itu Greg merasakan suasana di dalam toilet ini mendadak tegang dan juga canggung.
"Kak Simon..." Suara lembut dan feminin yang akrab terdegar muncul dari balik pintu toilet.
“AKH!” Brie yang baru sejengkal melangkah keluar terbelalak kaget saat menyadari Greg berada di hadapannya. Kehadiran lelaki ini di ruangan yang sama ini sontak membuat tubuh Brie gemetar. Kejadian semalam tanpa bisa dia hentikan kembali berputar dalam ingatannya, matanya kembali berkaca-kaca.
"Apa kau sudah baikan, Brie?" Simon memanggil dengan nada khawatir. Dia menarik tubuh Brie yang masih mematung untuk mendekat ke sisinya. Dengan penuh perhatian dia juga membetulkan syal di leher Brie, memastikan luka biru lebam di lehernya itu tertutup sempurna dibalik helaian kain.
"Aku sudah tidak apa-apa Kak, hanya sakit sedikit..." jawab Brie lirih dengan senyum lemah.
Dari percakapan dan gerak-gerik Brie yang gugup dan seperti ketakutan itu Greg bisa menebak apa maksudnya, senyuman kecil tanpa sadar mengembang di wajahnya. Greg pikir gadis ini tak akan berani menceritakan kejadian semalam pada siapapun. Ya, tentu saja apa yang bisa dilakukan seorang gadis kecil yang datang dari desa terpencil, industri hiburan itu kejam dan tidak akan ada yang percaya apa yang diucapkannya. Fakta bahwa Brie tidak langsung melaporkannya pada pihak yang berwajib membuat Greg merasa berada di atas awan. Namun senyuman itu langsung hilang dan kegelisahannya datang saat dia melihat reaksi Simon dan tatapan tajamnya kembali. Jika tatapan bisa membunuh maka Simon seperti yang sedang melakukannya sekarang. Dari sikapnya itu Greg bisa tebak jika Simon sepertinya sudah mengetahui sesuatu di antara mereka.
"Ayo cepat Brie! Kita harus packing..." ajak Simon sembari membawa Brie pergi berlalu. Ekspresi tak bersalah pemuda arogan bernama Greg itu membuatnya muak namun demi Brie dia berusaha mengendalikan emosinya untuk tak menghajarnya. Dengan protektif dia mengalungkan lengannya ke pundak Brie dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya
Raut wajah Greg berubah menggelap saat melihat kedekatan dua orang itu. Saat mereka berdua sudah pergi dari ruangan, Greg masih belum beranjak dari posisinya. Kepalan tangannya gemetar, dia hanya bisa terdiam tanpa sepatah kata. Perasaannya kini berkecamuk antara resah, gelisah dan juga amarah.
***
Dua minggu sudah berlalu sejak acara jumpa fans di Tianjin, semua kru film sudah kembali ke tanah air. Semenjak saat itu juga tidak ada lagi komunikasi yang terjalin diantara Greg dan Brie. Mereka berdua disibukkan dengan aktivitas individual masing-masing terutama Greg yang kini disibukkan dengan schedule-nya yang padat. Sebagai aktor yang baru naik daun hari-hari Greg diisi dengan pekerjaan dari mulai pemotretan majalah, syuting iklan dan juga persiapan untuk syuting film barunya. Sebuah film bergenre romance comedy dengan lawannya para aktor papan atas, meskipun di sana Greg hanya mendapatkan peran figuran tapi dia merasa film barunya itu akan menjadi jalan agar dia bisa dikenal lebih luas. Dia muak dengan kolom komentar dan tag di akun sosial medianya yang selalu mengkaitkan dirinya dengan film roman picisan yang dibintanginya dengan Brie. Film itu memang meledak di pasaran tapi Greg sama sekali merasa tidak bangga dengan pencapaian itu, dia justru merasa terganggu. Baginya kepopuleran film itu justru menyebabkan hubungan cintanya dengan Cheryl kandas.
TBC