Brittany’s POV
Some people said that s*x can cure the stress. Kalimat itu memang terdengar bodoh dan sepertinya hanya diucapkan oleh orang berpikiran m***m yang putus asa. Tapi ironisnya itulah yang terjadi padaku saat ini.
"Anh~..."
Suara desahan keluar begitu saja dari mulutku. Entah bagaimana caranya sekarang aku sudah terbaring di tempat tidurku. Terlentang dan telanjang, membiarkan seseorang menciumi setiap jengkal tubuhku seolah aku adalah hidangan makanan yang lezat baginya.
"I do love you..."
Itu yang Kak Josh katakan padaku, lagi-lagi hanya dengan kalimat sederhana, aku terbuai oleh kata-kata manisnya. Dulu Kak Greg dengan hanya mengatakan kata 'suka', aku memberikan malam pertamaku padanya. Dan saat ini seseorang mengatakan 'cinta' padaku, meskipun aku masih belum begitu percaya, tapi aku seperti kelinci bodoh membiarkan diriku terjatuh kembali ke perangkap yang sama.
Aku memang seorang gadis yang cengeng, mudah terharu dan menangis di setiap jumpa fans, dan malam ini pun aku menangis terisak-isak di pelukannya seperti anak kecil. Aku membiarkan pria ini mengusap air mataku dengan jemarinya dan mencium wajahku lembut sampai tangisku reda dan akhirnya membiarkan dia melucuti pakaianku.
Aku sendiri tidak tahu kenapa aku menangis tapi mendengar dia mencecar hubunganku dengan Kak Greg membuatku teringat perlakuan pria itu padaku yang membuatku merasa sangat hina dan tidak berharga. Ya tidak berharga, tapi persetan dengan harga diri, mungkin Kak Greg benar I'm just a little slut yang dengan mudahnya membiarkan diriku ditiduri oleh sembarang pria.
Is it my faults if I just want someone to love me, to need me?
Sejak kapan aku menjadi seperti ini, melupakan semua nilai moral dan hal penting yang orang tuaku ajarkan sejak kecil. Aku tenggelam dalam kenikmatan sesaat hanya karena rayuan manis lelaki. Apa karena mereka begitu tampan hingga aku tak berkutik? Aku tidak mengerti dengan perasaanku pada Kak Josh, namun selama ini pria yang ada dalam pikiranku hanya Kak Greg.
Aku tahu ini tidak adil bagi Kak Josh, sejak awal aku hanya menjadikannya sebagai seorang pengganti karena sosoknya yang mirip dengan Kak Greg. Saat pertama kali bertemu dengannya, wajahnya yang tampan, senyuman yang mempesona dan tubuhnya yang tinggi maskulin dan gagah diam-diam mengingatkanku pada Kak Greg.
Tapi malam ini berbeda, aku ingin benar-benar melupakan Kak Greg, melupakan wajahnya, suaranya, sentuhan tangannya, dan semua perlakuan kejam dan biadabnya padaku yang membuatku trauma.
"Brie baby what's wrong? Kau sangat pendiam malam ini..." bisik lembut Kak Josh di telingaku seketika membuyarkan lamunanku.
Kening Kak Josh berkerut saat aku menatap wajahnya. Pria ini entah sejak kapan sudah berada diatasku, berbaring diantara kakiku. Tubuhnya yang kekar berotot dan warna kulitnya yang sawo matang sangat kontras dengan tubuhku yang lembek dan kulitku yang putih pucat.
Tenggorokanku rasanya masih tercekat sehabis menangis. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan malah memalingkan wajahku darinya, memejamkan mata berharap malam ini cepat berakhir, tapi sepertinya Kak Josh menyadari kegelisahanku.
"Don't close your eyes baby... look at me, lihat wajahku..." bisiknya lagi padaku.
Aku merasakan jarinya menarik daguku, memintaku untuk melihat langsung ke kedua bola mata hitamnya. Aku mengerjap dan sedikit sesak melihat tatapannya yang intens. Alisnya yang tebal, rahangnya yang tegas, ototnya yang seksi dan aroma parfum maskulin yang menguar kuat dari tubuhnya. Aku tidak bisa berbohong jika bagian tubuhku yang sensitf tidak bereaksi pada pesonanya. Sedikit demi sedikit bagian tubuhku menghangat meskipun hatiku masih tetap membeku.
"And don't forget to say my name…" ucapnya lagi sambil tersenyum penuh makna. Dia mengklaim kembali bibirku dengan ciuman lembut yang kemudian berujung panas. Aku membiarkan lidahnya menginvasi mulutku, mendominasi sampai aku merasa kehabisan oksigen di paru-paruku. Tanpa sadar aku mendesah dalam ciumannya. Tubuhku rasanya seperti terbakar api saat tangannya mulai menggerayangi ke setiap titik sensitifku dan membangunkan semua syarafku.
"Kak... Kak Josh!" Mataku setengah terpejam melihat langit-langit kamar, aku menggeliat, menggelinjang. Aku bisa merasakan gigitan kecilnya di leherku, dadaku, perutku dan bagian dalam pahaku yang aku yakin akan meninggalkan tanda di keesokan hari.
Aku bukan miliknya, bukan milik siapa-siapa, aku bahkan belum memutuskan untuk memberikan hatiku padanya, tapi malam ini aku tidak peduli. Salahkan pada hormon remajaku dan sifat submissive-ku, maybe I sound needy membiarkan Kak Josh melakukan apapun sekehendak hatinya pada tubuhku, semuanya hanya agar aku bisa melupakannya, Kak Greg.
Selanjutnya aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi selain desah nafas dan detak jantungku sendiri yang menggebu. Beberapa saat kemudian aku merasa kedinginan dan sedikit kecewa saat tubuh hangat Kak Josh tiba-tiba menjauh dariku. Kak Josh menatapku sebentar dan tersenyum sebelum bergegas bangkit dari tempat tidur, tangannya meraih ke laci meja disamping tempat tidurku, seperti mencari sesuatu.
"s**t! I can’t hold it anymore! I want to be inside you right here right now..." Dia kembali berbisik padaku, dengan senyuman menggoda dia mengecup lembut keningku.
Mataku melebar dan aku hanya bisa menelan ludah melihat kejantanannya yang sudah tegang dan keras berdiri di depanku. This is not my first time jadi aku tahu apa yang dia maksudkan dan yang akan dia lakukan.
Dengan terburu-buru dan tampak tak sabaran dia mencari secarik alat kontrasepsi dari celana jeansnya. Sepertinya dia sudah mempersiapkannya sejak awal karena bisa menebak hal ini akan terjadi. Aku masih terpaku melihat kejantanannya yang tampak begitu mengintimidasi. Oh Kak Josh, wajahnya yang tampan dan lekuk otot di tubuhnya begitu gagah seperti pahatan dewa Yunani, aku yakin siapapun akan dengan mudah bertekuk lutut di hadapannya, atau setidaknya melebarkan kaki dengan pasrah di hadapannya seperti yang ku lakukan saat ini. Namun detik kemudian jantungku rasanya berhenti berdetak saat tersadar saat tangannya kembali menyentuh dan melebarkan pahaku.
“Dengar Baby... Aku akan membuatmu tak bisa dipakai siapapun lagi! Setiap kali kau tidur dengan orang lain, yang kau ingat nanti hanya aku, mengerti?!"
Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur, keringat dingin mengucur di pelipisku dan wajahku pucat saat melihat senyuman menawan Kak Josh berubah menjadi seringai iblis Kak Greg. Suara Kak Greg bergaung ditelingaku, kata-katanya yang penuh kebencian terngiang di kepalaku tanpa henti seperti mantra.
"Hen-hentikan Kak! STOP IT! DON’T TOUCH!"
Tiba-tiba saja aku merintih, dengan spontan menepis tangannya untuk menghentikan aksinya. Mataku yang masih merah karena habis menangis kini kembali berair. Rasa sakit di area intimku membuat mimpi buruk itu secara otomatis berputar kembali di ingatanku.
"M-maafkan aku Kak Josh, I can't do this! Aku tidak bisa melakukannya!"
Aku terisak, menggelengkan kepalaku seperti anak kecil. Tanpa peduli reaksinya yamg masih kaget aku segera berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Menyalakan shower membiarkan air dingin membasuh tubuhku sekali lagi, berharap air bisa mendinginkan tubuh, hati dan pikiranku.
"Baby?! Brie!! What's wrong? What’s going on?! Brie! Hey, Brie! Buka pintunya! BRIE!!"
Terdengar suara Kak Josh samar-samar berteriak memanggil namaku dan menggedor pintu kamar mandi dengan keras. Saat ini dia pasti sangat marah dan kecewa. Tapi aku tidak bergeming, aku hanya terduduk bersimpuh di lantai kamar mandiku sebelum memeluk erat lututku, berharap suara air shower bisa menyamarkan isak tangisku.
Lagi-lagi aku memang gadis cengeng dan bodoh. s*x is not the answer, never be! Dan semua yang Kak Greg katakan benar, aku tidak akan pernah bisa berhubungan intim dengan lelaki lain tanpa melupakan trauma mendalam yang disebabkannya padaku. Kak Greg, aku sangat membencinya, tapi yang paling aku benci adalah diriku sendiri yang masih tetap tidak bisa menghilangkannya dirinya dari hati dan pikiranku, bahkan hingga detik ini.
*AUTHOR'S POV*
Cukup lama Josh hanya terdiam meratapi nasibnya, menatap kosong pintu kamar mandi yang terkunci. Hasratnya untuk bercinta sudah hilang seketika.
"Arrgh, s**t! Fuckin Dammit!" gerutunya sambil mengacak rambutnya frustasi, tapi kemudian dia tertawa miris akan kebodohannya.
"Baiklah Brie, jika kau tetap keras kepala tidak mau bicara denganku, aku akan pergi sekarang!"
Josh menarik nafas dalam sebelum berbalik, mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan kembali memakainya. Sepertinya saat ini dia harus menyerah, Josh berpikir tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membujuk gadis itu. Tentunya dirinya sangat kesal, kecewa dan juga marah, tapi dia tidak ingin membuat keributan dan membangunkan tetangga di sekitar apartemennya. Bagaimanapun mereka berdua adalah publik figur, akan berbahaya jika orang lain terutama media mengetahui hubungan mereka saat ini. Dengan langkah gontai Josh meninggalkan apartemen gadis itu, perasaannya kini begitu hampa, usahanya malam ini sepertinya sudah sia-sia.
Tanpa Josh ataupun Brie ketahui sebuah mobil audi hitam terparkir di tempat yang sama. Seseorang bertubuh tinggi memakai hoodie hitam terduduk diam di dalam mobil, menatap nanar ke jendela sebuah kamar yang masih terang. Ya siapa lagi orang itu jika bukan Greg, dia menarik nafas dalam sebelum menenggak botol bir di tangannya. Waktu di jam tangannya menunjukkan sudah pukul 2.30 pagi tapi lampu kamar apartemen seseorang yang sangat dihafalnya masih terang benderang. Greg hanya menggigit bibirnya, merasakan batinnya mulai berkecamuk, haruskah dia naik menemuinya ke atas atau tidak. Tapi beberapa saat kemudian hatinya rasanya mencelos saat melihat orang yang paling tidak ingin ditemuinya malam ini malah keluar begitu saja dari lobby apartemen.
"f**k!" umpatan kasar keluar dari mulutnya. Seketika darah disekujur tubuhnya terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Serta merta Greg memukulkan tinjunya ke dashboard sebelum bergegas keluar dari mobilnya.
"Josh, apa yang kau lakukan disini?" Dengan nada dingin menahan emosi dan tanpa basa-basi Greg meraih bahu pria yang berjalan santai di depannya dan melabraknya. Josh yang dipanggil namanya spontan menoleh dan tersentak kaget.
"Oh, Kak Greg! Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini di jam segini?" Josh malah balik bertanya, memasang senyum ramah yang dibuat-buat di wajahnya.
"Apa kau sedang berburu hantu?" lanjut Josh lagi mencoba bercanda, menahan diri untuk tidak tertawa karena ekspresi Greg yang marah saat ini membuatnya geli.
"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain, katakan saja apa yang kau lakukan disini?"
Greg, pria yang diajak bercanda malah menatap Josh dengan serius, mencengkeram bahunya erat. Melihat ekspresi wajah Josh yang tersenyum meremehkan malah membuatnya semakin emosi tidak karuan.
"Ah, kenapa kau tidak coba tebak saja Kak Greg?" Dengan santai Josh hanya menggidikkan bahu dan tersenyum, melepaskan cengkeraman dibahunya, mengambil satu langkah mendekatkan jarak mereka berdua.
"Aku baru saja menemui kekasihku yang tinggal di apartemen ini, we just had a great s*x tonight... dan sepertinya kau pasti sudah sangat mengenalnya..." bisik Josh ditelinga pria yang lebih tinggi hanya 1 cm darinya itu. Senyuman sinis penuh kemenangan terukir di sudut bibirnya sebelum dia melangkah pergi.
Josh tahu benar dirinya telah berbohong, gadis itu Brittany baru saja menolaknya mentah-mentah. Tapi tidak ada yang lebih menarik dan menggelikan dari melihat ekspresi Greg. Lelaki seniornya dalam dunia modeling yang terkenal sangat arogan kini hanya terdiam mematung di tengah halaman parkir, seolah jiwanya sudah pergi dari tubuhnya.
TBC