Gregorio’s POV
'I promise that I’m not gonna hurt you..'
Kata-kata itu kembali terngiang di kepalaku, betapa aku sudah mengkhianati ucapanku sendiri. Sampai saat ini aku tidak pernah mengatakan jika aku mencintai Brie dan yang aku lakukan padanya hanyalah menyakiti hatinya. Aku sendiri hingga saat ini tidak mengerti apa arti gadis itu bagiku. Tapi aku akui kata-kata yang ku ucapkan padanya saat itu adalah benar dari lubuk hatiku terdalam. Aku tak pernah bermaksud melukainya.
Aku mengepulkan asap rokok ke udara, menatap langit kota Jakarta sendirian di balkon apartemenku. Langit hitam yang kelam sudah berubah warna menjadi biru cerah. Aku bukanlah seorang perokok, meskipun aku sudah minum sejak remaja tapi baru-baru ini saja aku mulai merokok. Berharap nikotin yang menyebar ke paru-paru dan seluruh sistem sarafku bisa membuatku lebih tenang, tapi tetap saja rasa pahitnya tidak bisa membuatku melupakan rasa manis ciuman bibirnya. Dan melihat seseorang mengklaim apa yang seharusnya menjadi milikku membuatku murka. Tidak ada cinta yang terucap dan tidak ada ikatan diantara kami berdua tapi kenapa rasa sakit ini lebih parah dari rasa sakit saat aku putus cinta.
Brittany, aku adalah seorang pengecut. Aku bahkan tidak berani mengungkapkan perasaanku sesungguhnya padanya, setiap aku melihatnya meskipun hatiku mendambanya tapi yang aku lakukan malah kebalikannya, aku selalu saja menyakitinya. Aku terlalu b******k untuk mengakui jika aku jatuh cinta padanya, aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Mungkin aku terdengar egois tapi melihatnya tersenyum dan tertawa bahagia saat bersama orang lain rasanya membuatku sangat menderita.
***
Joshua's POV
Sejak pertemuan dengan Greg di klub malam itu, aku tidak bisa berhenti melupakan kata-katanya.
'...Apapun rencana mu, kau tidak akan berhasil...'
Apa itu adalah peringatan atau ancaman? Apa yang Greg ketahui tentang rencanaku? Merebut karakter Adonis di sekuel film Fever of Love atau merebut hati dewi cinta dalam filmnya, Brittany? Dia pasti hanya mengarang saja kan?
Aku jadi ingin tertawa saat mengingat ekspresi wajahnya. Dia seperti seseorang yang cemburu dan ketakutan karena kekasih kecilnya hendak direbut. Sangat mengerikan dan sekaligus menggelikan. Tapi aku bukanlah Josh Wayne jika hanya bisa diam menanggapi ancaman bodohnya.
Tanpa kusadari mobilku sudah terparkir di halaman sebuah gedung apartemen, perjalanan ternyata lebih cepat dari yang kuduga. Satu buket bunga berisi 99 tangkai mawar merah dan boneka anjing laut berwarna putih berukuran besar terduduk diam di sebelahku. Untuk siapa lagi jika bukan untuk seseorang yang sudah mengganggu pikiranku beberapa hari ini. Setelah puas mengecek tatanan rambut dan wajahku di kaca spion, aku memutuskan untuk naik ke atas. Jam tanganku menunjukkan sudah pukul 9.00 malam, semoga saja gadis itu belum tidur, batinku berharap saat menekan bell pintunya.
Aku menunggu beberapa saat di depan pintu, ada sedikit keraguan dan rasa khawatir melanda hatiku. Aneh aku tidak pernah segugup ini, bahkan di saat kencan pertamaku dengan seorang gadis cinta pertamaku di masa SMA saat aku masih bocah lugu. Tapi malam ini sangat berbeda, aku sadar kemungkinan besar gadis incaranku saat ini akan menolakku. Ya, tentu saja selain karena dia cantik dan sedang populer saat ini, aku juga punya saingan berat yaitu Greg.
"Kak Josh?! Kenapa Kakak disini?"
Wajah Brie yang imut dan manis mengintip di balik pintu, mata indahnya membulat tampak kaget saat melihatku. Berbeda dengan diriku yang sengaja memakai setelan rapi lengkap dengan jas, Brie hanya memakai t-shirt putih kebesaran dan celana pendek yang memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku memang tidak memberitahunya jika aku akan datang berkunjung malam ini, jadi tentunya kehadiranku saat ini adalah kejutan baginya.
"Brie! Boleh aku masuk?"
Aku memberinya senyumanku paling menawan yang biasanya dengan mudah membuat fansku menjerit dan meleleh. Namun, ada sedikit kekecewaan di dalam hatiku karena dari responnya yang membalas dingin senyumanku, aku bisa merasakan kalau dia tidak mengharapkan kehadiranku saat ini. Tapi bukanlah Joshua Wayne namanya jika aku mudah menyerah. Dengan gerak cepat aku memegang daun pintu, menghalangi jalan masuk dengan kakiku agar dia tidak bisa menutup pintu.
"Aku sedang sibuk, Kak!" Brie berkata lirih sambil memalingkan muka dan menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang sudah aku hafal setiap kali dia gugup atau sedang menutupi sesuatu.
"Oh... Jadi kau mau mengusirku begitu saja setelah aku jauh-jauh datang kesini?" tanyaku dengan nada kecewa, memberinya tatapan memelas seperti anak anjing yang baru dibuang tuannya.
Brie terdiam sebentar dan hanya menatapku tanpa ekspresi, tapi tidak perlu menunggu lama aku bisa bernafas dan tersenyum lega. Dia membukakan pintunya lebar dan mempersilakan aku masuk. Seperti dugaanku gadis ini hatinya terlalu lembut untuk menolakku.
"This is for you, baby..." Aku menyerahkan sebuket bunga mawar dan boneka anjing laut ke tangannya, dia hanya menerimanya ragu dengan tatapan penuh curiga.
"Untuk apa ini semuanya Kak? Dan kenapa Kak Josh datang tanpa memberitahu?" Alisnya berkerut penuh tanya. Dia berbalik untuk menyimpan bunga dan boneka itu di atas rak buku.
Aku perhatikan raknya penuh dengan koleksi komik dan CD lagu rock tahun 90-an favoritnya, sungguh selera yang unik untuk gadis remaja seusianya.
"Baby..." Aku mendekatkan jarak kami dan menarik tubuhnya yang lebih mungil dariku ke dalam dekapanku dan memeluknya dari belakang. Dia spontan menggeliat protes tapi aku malah mempererat pelukanku, menyandarkan daguku di pundaknya.
"Baby... do you know how much I miss you? Sudah hampir satu bulan kau tak pernah membalas chat, email ataupun mengangkat teleponku. Kenapa, hm? Apa kau sedang menghindariku, hm?" ucapku lembut ditelinganya.
Wangi citrus manis segar tercium dari leher dan tubuhnya, sepertinya dia baru saja mandi. Pikiran kotorku mengatakan ingin segera menidurkannya di ranjang dan menjamah tubuhnya kembali malam ini. ‘Calm down Josh!’ batinku mencoba menahan diri.
"Jangan panggil aku baby, Kak! Aku benci mendengarnya dan tolong lepaskan!" perintah Brie seraya melepas tanganku yang melingkar di perutnya. Dia mendorongku untuk menjauh.
Aku menarik nafas dalam, sikapnya yang dingin malam ini membuat senyumanku hilang dari wajahku dan mood-ku menjadi buruk.
"Why not? Apa ini karena Greg?" Aku memicingkan mataku tajam saat menatap wajahnya, senyuman sarkastik terukir disudut bibirku.
"Tahu apa kau soal Kak Greg?" Wajahnya kini bersemu merah, entah malu atau marah karena aku menyebut nama pria idamannya. Ekspresinya itu membuatku ingin tertawa sekaligus murka.
"Aku tahu semuanya Brie, kau pikir bisa mengelabuiku, huh? Apa karena kau tahu Greg sudah putus lalu kau pikir memiliki kesempatan dengannya, huh?" Cecarku terus menyudutkannya.
"APA?! Kak Greg sudah putus?!"
Mata indah Brie terbelalak lebar dan wajahnya yang awalnya bersemu merah emosi kini memucat, sungguh reaksi yang tak terduga.
"Oh, baby... Memangnya kau belum tahu?" Aku hanya bisa tersenyum geli. Bagaimana dia belum mengetahuinya? Rupanya mereka tidak sedekat yang aku kira.
"Itu bukan urusanku! Pulanglah Kak dan terimakasih bunga dan bonekanya!"
Brie menggidikan bahunya dan membelakangiku seolah tak peduli. Dari sekilas ekspresi wajahnya aku tahu dia berbohong. Aku tahu betul yang ada dipikiran oleh gadis ini hanyalah pria itu, tidak mungkin berita dia putus tidak berpengaruh apapun padanya. Ditambah lagi sikapnya yang mengacuhkanku membuatku jadi naik darah. Aku tidak bisa lagi menahan diriku berpura-pura bersikap lembut. Dalam hitungan detik aku menarik lengannya dan memutar tubuhnya untuk menatapku face to face.
"Sayang, jangan berpura-pura bodoh..." ujarku masih dengan senyuman sarkastik. Ekspresi wajahku menjadi gelap dan jantungku berdebar kencang.
"Kau selalu memanggil namanya saat tidur denganku, and I don't come here for nothing..." Seringaiku sebelum tiba-tiba mendaratkan ciumanku di bibir mungil cantiknya, tidak sabar mengklaim tubuhnya sebagai milikku. Lagipula adalah hal yang biasa bagi kami untuk b******u setiap kali bertemu tapi kali ini reaksinya sungguh berbeda.
"KAK! Hmmph..." Brie meronta dari pelukan dan ciumanku, kurasakan tangannya mencengkeram keras otot lenganku sebelum memukul-mukul d**a bidangku meminta menjauh. Tapi nafasku malah semakin menderu dan jantungku semakin menggebu untuk melumat habis bibirnya.
Brie ku akui bukanlah gadis yang bertubuh seksi seperti gadis model yang biasa ku kencani, dia gadis remaja yang bisa dibilang masih dalam masa pertumbuhan. Hanya saja wajah cantik polosnya menggemaskan, terutama bibir merah mudanya yang manis seperti zat adiktif dan sekaligus perangsang, selalu dengan mudah membangkitkan gairahku.
PLAAK!! Tamparan keras mendarat di wajahku, cap tangan merah mewarnai pipi kiriku, rasanya tidak sakit tapi cukup membuat hatiku semakin panas. Seketika aku tertegun dan hanya berdiri mematung, mengelus pipiku dan menatapnya dengan emosi yang tak terbendung.
"M-maafkan aku Kak Josh..." ucapnya lirih dengan mata merah yang mulai berair. Dia memejamkan mata sebentar sebelum melanjutkan ucapannya dan kembali menatapku dengan tatapan sendu.
"Tapi sejak awal tidak ada perasaan apa-apa diantara kita kan? I really enjoy your companion but I guess it's should be over... Sebaiknya kita gak usah ketemu lagi, Please!" Lanjut Brie sambil merengek, tapi berbeda dengan rengekan manja yang biasanya karena saat ini air mata mulai mengalir di pipinya. Dia menangis, dan aku heran apa yang membuatnya menangis dan terlihat frustrasi seperti itu. Kenapa dia harus merasa sedih jika dia yang mencampakkanku? Akulah yang biasanya mencampakkan orang bukan dicampakkan. Situasi ini membuat harga diriku terluka dan terus terang ini membuatku gila!
"It's over? Ha?" Aku spontan mendengus dan tertawa keras. Darahku rasanya mendidih, belum pernah aku diperlakukan seperti ini oleh siapapun.
"Begitu mudahnya kau mengatakan itu? WHAT IF I SAY NO? Aku belum puas main denganmu!" Aku tersenyum manis tapi nada suaraku menggeram menahan emosi.
"Kak JOSH!" Brie memanggil namaku dengan nada membentak, matanya sekarang memancarkan panik dan ketakutan.
"Dengar Brie! Hentikan dengan sikapmu yang sok jual mahal padaku! Sebelumnya kau juga tak pernah menolak untuk tidur denganku! Aku bersumpah akan membuatmu hanya melihatku dan memanggil namaku!" Aku kembali mencengkeram tangannya erat dan menatapnya matanya tajam. Aku bisa melihat refleksi wajahku dari matanya yang sudah basah.
"Untuk apa? Kau tidak ada bedanya dengan Kak Greg, You guys just want to have s*x with me! It's NOT like that you guys love me, right?" Kali ini dia membentakku, air matanya sudah tidak terbendung lagi membasahi wajahnya. Entah kenapa melihatnya menangis rasanya membuat tenggorokanku kering dan hatiku sakit seperti ditusuk ribuan pisau.
"I do! I do love you, Brie!"
Aku bahkan tidak percaya dengan kalimat yang baru saja aku ucapkan, begitu mudah terlontar dari mulutku. Aku mungkin sudah 'bermain' terlalu jauh, manajer dan agensiku akan menghukumku nanti jika mereka tahu soal hal ini. Tapi saat ini aku tidak bisa membiarkan gadis ini menangis di hadapanku dan mencampakkanku.
"Brie, baby... aku sayang padamu... aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu..." ucapku lagi lirih. Tanpa menunggu jawaban darinya aku meraih tubuh mungilnya untuk kudekap erat dan membiarkannya menangis di pelukanku. She so fragile and vulnerable, seperti boneka porselain yang rapuh dan bisa hancur dengan hanya disentuh.
Terus terang aku belum yakin jika perasaanku padanya ini adalah murni cinta, tapi rasa ingin memiliki dirinya begitu besar sudah mengalahkan akal sehatku. Mungkin aku terdengar egois, tapi saat ini aku tidak bisa membiarkan Brittany jatuh ke pelukan lelaki lain. Jika aku tidak bisa menjadi Adonis di Sekuel film yang dibintanginya, maka aku memutuskan untuk menjadi Adonis dalam hatinya.
TBC