Gregorio's POV
Tiga tahun berlalu, aku sudah terbiasa bekerja di bawah didikan agensi Melanie dan sudah hampir melupakan pelecehan s*ksual yang dilakukannya padaku. Aku pikir karir modelingku akan berjalan lancar di bawah arahan Melanie, ternyata aku salah.
"b*****t! YOU FUCKIN b***h! Apa yang kau lakukan? Kau sudah janji tidak akan menyebarkannya!" Teriakku murka yang dengan brutal menendang pintu kantornya. Aku berlari dan bersiap untuk melayangkan tinju dan menghajarnya habis-habisan, melupakan sejenak jika dia sudah merubah gendernya menjadi perempuan. Beruntung baginya saat itu Eddy dan Gito menghalangiku untuk menghajarnya.
Video sialan itu, dia janji hanya akan dijadikan sebagai konsumsi pribadi, bahkan pacarku Cheryl saat itu saja tidak mengetahuinya. Sialnya video itu sudah tersebar di internet tepat saat namaku sedang meroket karena terpilih sebagai pemeran dalam film Fever of Love. Sekarang aku menjadi bahan caci maki dan bulian warganet, sebagian dari mereka bahkan menjadikan diriku sebagai lelucon.
"Sabar sayang, semua akan aku bereskan!" jawab Melanie santai sambil menepuk pipiku. Tidak ada rasa khawatir, bersalah ataupun takut di matanya saat dia balas menatapku.
"Kau tahu? Saat ini namamu sedang di puncak, Greg! Semua orang penasaran dengan mu. Kau butuh lebih banyak expose. Kau tahu? Kadang rumor negatif juga bisa mengantarkanmu ke popularitas dan kesuksesan, percayalah padaku hahaha..." Wanita pirang itu tertawa seolah ada yang lucu sebelum terdiam dan menatapku dengan senyuman licik.
"Kau tidak percaya? Cek saja followers akun sosialmu bertambah drastis! Fans yang penasaran dan tergila-gila padamu bertambah, lupakan haters mereka tidak penting! Tapi satu hal yang harus kau ingat, sebaiknya kau jaga sikapmu, ingat kau sudah tekan kontrak, aku adalah guru dan boss mu, kau bukan siapa-siapa tanpaku, mengerti?!" Dia tersenyum penuh percaya diri, menghisap rokoknya dan mengebulkan asapnya ke wajahku.
***
Itulah kata-kata Melanie yang masih terpatri diingatanku. Dunia showbiz sama halnya dengan politik, sungguh kotor, penuh lika-liku dan kepura-puraan. Tubuhku tinggi besar tapi otakku bodoh, bisa-bisanya hidupku diatur oleh wanita jalang itu dan aku tidak bisa mengelak. Aku berusaha membuang rasa maluku dan berpikir bahwa masalah pribadiku sudah cukup tapi kehadiran gadis itu justru menambah masalah baru dalam hidupku.
Brittany Jasmine Sinclair, gadis berwajah cantik dan imut dengan senyum manis kawat gigi dan tatapan matanya yang polos. Aku pikir mataku membohongiku saat pertama kali melihatnya di audisi, dia seperti boneka Barbie yang berjalan keluar dari bungkusnya. Dia seperti cahaya kecil yang menyinari lorong gelap kehidupanku dan sekaligus membutakan mataku.
Usianya saat itu masih 17 tahun saat kami pertama kali berkenalan. Usia yang hampir sama saat aku memulai pekerjaan di dunia modeling, tapi dia sangat berbeda denganku ataupun model wanita yang pernah kukenal dan kencani sebelumnya. Dia begitu apa adanya, dia gadis yang cantik alami tanpa polesan. Meskipun saat itu Melanie memintaku untuk lebih akrab dengan Janette, rekan satu agensiku agar nanti kami berdua yang terpilih dalam audisi pemeran film Fever of Love, tapi mata dan hatiku tidak bisa terbohong jika aku sudah terpikat oleh Brittany.
Di antara semua peserta audisi, menurutku dia adalah yang terindah, bahkan Naura yang notabene seorang influencer terkenal dengan follower yang besar tidak mampu mengalahkan pesona alami Brie saat voting. Brie, gadis itu membuat semua orang dengan mudah jatuh hati padanya. Tidak hanya karena kecantikannya tapi juga kepribadian dan tingkahnya yang menggemaskan. Aku tidak tahu sejak kapan aku terjatuh kedalam pesonanya yang membuatku jadi seperti orang gila.
Beberapa bulan kemudian...
"Mmmhph... Kkh! Kak! KAK GREG STOP!" bentak Brie tiba-tiba dengan nada panik, tangannya mendorong bahuku agar menjauh.
"Hm, kenapa dek?" Alisku terangkat, sedikit kecewa karena dia begitu saja menghentikan ciuman kami saat sedang panas-panas nya. Saat itu kami berdua sedang duduk selonjoran ruang tamu apartemenku, satu hari sebelum syuting untuk adegan terakhir dalam film yaitu kissing scene.
"Di skrip nya kan gak pakai lidah, kenapa Kakak tadi masukan lidahnya ke mulutku?! HUEEKK!" Protes Brie sambil mencekik lehernya pura-pura muntah, aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Memangnya kenapa? Jangan bilang kau tidak tahu namanya french kiss!" Godaku sambil memijit hidungnya yang lucu.
Aku sendiri heran kenapa bisa begitu terbawa nafsu saat menciumnya tadi. Padahal kami berdua tadi hanya sedang latihan chemistry dan berakting saja tidak lebih. Tapi bibir merah mudanya yang lembut dan lipbalm rasa cherry-nya yang terasa manis begitu menggoda, membuatku ketagihan dan begitu berhasrat menciumnya.
"Kak Greg... itu... itu kan tadi ciuman pertama Brie!" ucapnya lirih sambil menundukkan kepala pertanda malu. Jemarinya memainkan ujung roknya menunjukkan betapa dia sangat gugup dan gelisah. Atmosfer ruangan di sekitar kami cangung seketika, dan itu membuatku sadar akan apa yang sudah aku lakukan.
"Ciuman pertama? Apa aku tak salah dengar?" Aku mengernyitkan alis tidak percaya. Bagaimana mungkin gadis cantik sepertinya belum punya pengalaman pacaran.
"Iya!" Lagi-lagi Brie mengangguk lemah dan wajahnya bersemu merah. Tingkahnya sangat imut dan menggemaskan, membuatku tanpa sadar tersenyum lebar dan tertawa.
"Ugh! Kau jangan tertawa, Kak! MEMANGNYA ANEH, HUH?” Dia yang marah memukul punggung dan bahuku dengan tinju kecilnya. Rasanya tidak sakit dan reaksinya yang lucu justru malah membuatku semakin senang mengodanya. Tidak ada terbersit sedikitpun perasaan bersalah karena mencuri ciuman pertamanya.
"Memangnya kau belum pernah pacaran?" Aku tanya lagi dan gadis itu hanya menjawabku dengan gelengan kepala.
“Dulu aku gendut dan jelek tidak ada yang mau jadi pacarku!“ gerutu Brie sambil memanyunkan bibirnya. Ekspresi wajahnya yang sedih entah kenapa membuatku semakin gemas. Usianya sudah 18 tahun tapi dia sangat berbeda dengan gadis lain seusianya. Dia begitu polos dan ‘pure’ seperti malaikat, aku merangkul pundaknya dan merapatkan tubuh kami berdua.
“Benarkah? Bohong! Mungkin itu hanya anggapanmu saja! Mungkin kau yang terlalu jual mahal! Lihatlah sekarang kau ini sangat cantik! Lelaki yang menolakmu atau mengejekmu di masa lalu pasti akan menyesal!” Aku berusaha sedikit menghiburnya tapi Brie masih saja menekuk wajahnya. Perubahan sikapnya yang biasanya petakilan dan menjadi pendiam membuat suasana mendadak canggung.
Saat itu hubungan kami memang cukup dekat, dia sudah menganggapku sebagai kakak, sama seperti aktor dan kru film Fever of Love lainnya. Kami semua sudah tidak ragu lagi untuk bercanda dan hampir sudah tidak ada lagi rahasia diantara kami. Brie bukanlah tipe anak introvert, dia gadis periang dan hiperaktif yang tidak bisa diam. Dia bisa membicarakan apa saja bahkan dengan orang yang baru dikenalnya.
"Kalau begitu, biar aku beri tahu rahasiaku, ya! Ini juga ciuman pertamaku..." Bisikku ditelinganya dengan senyum kecil.
"BULLSHIT!! BOHONG!" Dia meninju manja lenganku tapi dengan refleks segera kugenggam erat tangannya.
"Baiklah, maaf aku memang bohong! Lalu apa kau merasa jijik?" balasku mengakui sambil kembali bertanya. Lagi-lagi dia menjawab pertanyaanku hanya dengan gelengan kepala sebelum menunduk dan menggigit bibirnya. Aku tidak mengerti kenapa tingkahnya yang imut saat ini sungguh sangat menggoda.
"Lalu apa kau suka?" Alisku naik satu menatapnya penuh tanya. Brie tidak menjawab dia hanya menatapku dengan pipi yang merah merona. Semua ekspresi dan tingkahnya saat ini jauh lebih menggemaskan daripada aktingnya sebagai kekasihku dalam film.
"Mau coba latihan lagi?"
Awalnya niatku bercanda tapi reaksi paniknya yang lucu membuatku keterusan menggodanya. Mungkin kedengarannya gila tapi rasa penasaran membuatku mendekatkan wajahku padanya, bibir kami hanya berjarak beberapa milimeter saja.
"T-tapi K-kak Greg! Kenapa?" dengan panik dia mendorong wajahku untuk menjauh darinya.
"Karena aku suka... aku suka padamu, Brie!" Itulah jawabanku saat itu.
Tanpa peduli reaksi penolakannya aku menarik dagunya untuk mendekat, mengecup bibirnya lagi, lagi dan lagi.
Keberuntungan sepertinya berpihak padaku karena ajaibnya aku tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari Brie. Aku memejamkan mataku, memusatkan seluruh konsentrasiku untuk mencium bibirnya. Nafasku terdengar kasar, detak jantungku semakin berpacu saat telingaku mendengar suara desahannya, Apa dia juga menikmatinya? Aku semakin merapatkan tubuhku padanya dan tanpa sadar dia sudah terbaring di lantai karpet dan aku diatasnya. Rambut hitamnya yang panjang terurai dilantai karpet dan kertas naskah berserakan begitu saja.
"Ah! Kak Greg! Stop!" Dia memanggil namaku dan menatapku dengan sejuta ekspresi yang saat itu tidak bisa k*****a.
“Kenapa Brie?” tanyaku dengan bodohnya sebelum melanjutkan ciuman panas ini.
“Kita seharusnya tak melakukan ini!” ucapnya lagi. Matanya sudah terlihat berkaca-kaca seperti yang ingin menangis dan ketakutan. Matanya tertuju kebagian bawah tubuhku, sialan! Rupanya dia menyadari sesuatu yang menggunung di bagian depan celanaku. Salahkan pada hormon, hanya ciuman sebentar saja bisa membuatku ereksi.
“Sebaiknya aku pulang!”Brie serentak bangkit berdiri meninggalkan ku.
“Tunggu dulu Brie!” panggilku seraya menarik tangannya hingga dia kembali ke pelukanku. Celana jeansku kini terasa ketat dan menyiksa, entah setan apa yang merasukiku saat itu, tidak kata-kata yang terucapkan lagi dari mulutku, yang kulakukan hanya kembali mengunci bibir indah gadis itu dengan ciuman yang lebih panas. Beruntung bagiku, tidak ada perlawanan darinya. Detik berganti yang terdengar hanya suara desah nafas bersahutan, dalam sekejap mata aku melucuti baju dan celananya, suara nafasku menggeram seperti binatang buas yang sedang diburu hawa nafsu saat mengecup semua inci tubuhnya. Kulit putih seputih s**u yang mulus layaknya gadis remaja.
Aksiku sempat terhenti saat menatap tubuh moleknya, dia terlentang dibawahku tanpa sehelai benang pun. Pemandangan yang begitu indah yang bahkan membuatku lupa jika diriku masih punya kekasih di tempat lain.
"KAK! NOO!" Dia menggelengkan kepala dan dengan panik dan mata berair sambil menutupi bagian pribadinya dengan kedua tangannya. Ekspresi dan tingkahnya yang malu-malu layaknya gadis perawan justru membuatku semakin bernafsu untuk mengklaim dirinya. Pikiran gilaku mengatakan aku ingin menjadikannya milikku.
"Brie, baby! It's okay... Let me see you...!"
Aku menahan kedua tangannya di lantai karpet sembari mulai menghujani lehernya dengan kecupan.
"Anh~... Kak Greg! Bed please! I w-want my f-first time on the bed..."
Aku pikir dia akan menolak dan mengutuk apa yang telah ku lakukan padanya, tapi kata-katanya membuatku tergelak.
"Apanya yang lucu?" Mata indahnya melotot padaku.
"No, it just... you’re so cute!" Aku tertawa kecil, menggesekkan ujung hidung kami lembut dan mengecup bibirnya lagi sebelum mengangkat tubuh mungilnya yang sudah telanjang dari lantai.
"Whoaa, kau berat juga ya, Brie!" Candaku? berpura-pura oleng saat menggendongnya ala pengantin, tidak sabar membawanya ke kamarku.
"Kak GREG! jangan bercanda!" Dia menampar keras dadaku membuatku spontan mengaduh dan tanpa sengaja membanting tubuhnya ke ranjangku. Dengan tidak sabar kulucuti segera pakaianku dan membuangnya sembarangan.
"Do you like what you see?" Dengan senyum bangga dan menggoda aku memamerkan tubuh sexy maskulin kebanggaanku, tubuh yang biasanya dengan mudah membuat wanita bertekuk lutut padaku, tak terkecuali gadis di depanku ini.
“Shut up! Stop flexing on me!”Brie hanya mengerlingkan mata, memalingkan wajahnya sambil cemberut, tapi pipi chubby-nya semakin merona saat aku melucuti celana boxerku. Dia menarik bed cover untuk menutupi tubuhnya tapi aku merebutnya kembali sambil kemudian merangkak di atas tubuhnya.
“Ssh! Don’t worry, baby... I promise that I’m not gonna hurt you!" Bisikku sebelum mengecup lembut kening, hidung dan bibirnya dan melanjutkan malam kami. Mungkin ini terdengar cheesy tapi aku ingin agar diriku menjadi pengalaman pertama yang terindah baginya.
TBC