Brittany’s POV
"BRUKKH" Suara dentuman keras terdengar membuat suasana hingar bingar di klub seketika langsung sunyi senyap.
"Apa yang kau lakukan? b******k!!!" Mataku kembali terbelalak, tidak percaya apa yang ku lihat saat ini. Entah bagaimana dan kenapa Kak Greg tiba-tiba saja menerjang tubuh Kak Simon hingga dia terjerembab di lantai. Kedua tangan Kak Greg mencengkeram kerah leher Kak Simon dengan ekspresi murka, persis seperti singa yang mengamuk. Pemandangan ini mengingatkanku ke kejadian di malam naas saat Kak Greg menyerangku.
"Aku? b******k? HAHAHAHA!" Reaksi Kak Simon selanjutnya yang malah tertawa lepas sungguh tak terduga. Pria yang bertubuh lebih kurus itu menyeka mulutnya yang berdarah dengan tangannya. Semua orang di dalam klub yang awalnya panik ingin memisahkan pertikaian malah jadi terdiam.
"Kalau aku b******k, lalu kau apa? Huh?"
‘DZIGH!!!’ Kepalan tinju mendarat di wajah Kak Greg membuatnya spontan terjengkang, dan sekarang giliran Kak Simon yang duduk diatas perutnya sambil mencengkeram jaketnya.
"Kenapa kau menyerangku? Apa kau cemburu? Huh? Dasar Pengecut! Yang bisa kau lakukan hanya kekerasan, huh? Cihh!" Darah merah dari mulutnya dia ludahkan ke wajah tampan Kak Greg. Anehnya dia yang bertubuh lebih besar itu tidak bergeming, wajahnya tampak syok, dia malah diam terbaring di lantai, mendiamkan saja Kak Simon yang terus berceloteh dan memakinya kasar.
"Aku tidak mau menghabiskan tenagaku untuk memukuli orang bodoh seperti mu, Greg! Lagipula tak perlu kau sembunyikan lagi, aku sudah tahu semuanya." lanjut Kak Simon lagi dengan senyum puas. Dia melepaskan cengkeramannya dari Kak Greg sebelum bangkit berdiri dan meninggalkannya itu begitu saja.
Suasana terasa begitu tegang dan semua orang di dalam bar masih tertegun melihat perkelahian yang tiba-tiba. Tiga orang sekuriti Club datang untuk melerai tapi beruntung Om Oscar dan Kak Eddy yang kebetulan ada di tempat dengan sigap menghampiri mereka dan menjelaskan bahwa yang tadi hanya sekedar kesalah pahaman.
"Lihat apa kau? Ayo kita pulang!" Kak Simon merangkul pundakku, mengalihkan perhatianku yang masih melongo menatap Kak Greg dari jauh.
"Hey, apa lagi yang kau pikirkan?" ajak Kak Simon lagi tidak sabaran.
"Kak Simon, Kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir sekaligus merasa bersalah saat melihat luka di sudut bibirnya. Jari telunjukku menyentuh luka itu hati-hati dan Kak Simon serta merta mengernyit kesakitan.
"Kalian berdua berhutang penjelasan padaku!" ancam Om Oscar yang menatap kami tajam. Dia memberi isyarat pada kami untuk segera mengikutinya keluar restoran miliknya.
"Jangan meremehkan aku, Dia pikir aku punya sabuk hitam karate untuk apa? Pukulannya tidak lebih sakit dari pukulan ibuku!" dengus Kak Simon sambil terkekeh.
"Oya? Kata orang yang sekali ditonjok langsung KO!" cibir Kak Citra yang datang sembari meninju perut Kak Simon.
"Ouch! Citra! Apa kau ingin membunuhku?!" rengek Kak Simon sambil mengaduh manja dan itu memberiku ide untuk ikutan meninju perutnya.
"Ohh, Brie! Kenapa kau juga malah ikut-ikutan?!" Kak Simon menatapku tak percaya. Pukulanku sebenarnya tidaklah begitu keras tapi reaksi Kak Simon terlalu berlebihan seperti yang sekarat.
"Ini karena Kakak tadi tiba-tiba menciumku! Itu tadi namanya pelecehan seksual!”sahutku sambil memanyunkan bibir.
“Kalian berdua sungguh tega!” lagi-lagi Kak Simon dengan aktingnya yang dramatis.
Aku tidak berkata apa-apa lagi hanya bisa tertawa melihat ulah Kak Simon yang meraung kesakitan. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan emosiku saat ini. Dari sudut mataku di kejauhan aku masih meilhat punggung lebar milik Kak Greg masih terdiam disana ditemani Kak Eddy yang tampak menyeka darah diwajahnya. Tatapan pengunjung lain yang menatap kearahku dengan pandangan curiga membuatku gugup dan khawatir jika berita ini di blow-up besok di social media atau tabloid. Namun dalam kecemasanku, rangkulan erat dipundakku membuatku tersadar, masih ada Kak Simon disampingku yang bisa ku andalkan, dia selalu menjagaku meskipun aku masih tidak mengerti dengan yang dilakukannya malam ini, melakukan hal bodoh hanya demi aku.
***
Langit semakin terang tandanya hari sudah mulai pagi, aku terduduk diam di kursi penumpang, diantara Kak Simon dan Kak Citra yang tertidur lelap dan bersandar ke pundakku. Sedangkan di kursi depan Kak Pratama, managerku yang lain bawahan dari Om Oscar fokus mengendarai mobil. Sebenarnya aku juga sangat lelah tapi mataku tidak bisa terpejam sama sekali, tatapanku mengarah ke pemandangan dibalik jendela, menatap pertokoan yang mulai buka dan berjalan seperti biasa.
Tahun baru, hari baru, lembaran baru, mulai detik ini aku memutuskan mencoba melupakan semua kenanganku dengan Kak Greg. Meskipun aku tahu ini akan sulit karena kami masih akan dipertemukan kembali dalam suatu event dan bahkan mungkin sekuel dari film ini.
Satu hal yang sampai sekarang tidak pernah ku mengerti adalah sifat cemburuan Kak Greg, apakah itu lahir dari perasaan cinta atau hanya murni kebencian. Tapi saat melihat dirinya yang tertunduk diam disana setelah dipermalukan oleh Kak Simon membuatku merasa kasihan dan ingin memeluk punggungnya. Sudah hampir satu bulan aku tidak bercengkerama dengannya dan merasakan kehangatannya. Oh tidak Brie! Berhentilah bersimpati padanya! Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga mencoba mengenyahkan perasaanku yang masih tersisa.
Gregorio's POV
"Apa kau cemburu? Huh? Dasar Pengecut! Yang bisa kau lakukan hanya kekerasan, huh? Cihh!"
Mataku tak berkedip saat bau darah segar menguar di udara dan cipratannya mendarat di pipiku. Aku begitu syok hingga tidak bereaksi saat mata pria itu, Kak Simon menatapku dengan pandangan remeh dan senyuman sinis sebelum tinjunya mendarat di wajahku hingga membuatku tersungkur ke lantai.
"Aku tidak mau menghabiskan tenagaku untuk memukuli orang bodoh seperti mu, Greg! Lagipula tak perlu kau sembunyikan lagi aku sudah tahu semuanya!" lanjut pria itu lagi sebelum meninggalkanku sendirian seperti layaknya pecundang yang kalah dalam pertarungan.
Aku, seorang Gregorio Isaiah dengan tinggi 190 cm, dikalahkan oleh lelaki yang bertubuh lebih pendek dan kurus dalam perkelahian, sungguh memalukan. Kak Simon memang lebih tua dariku, tapi karena tingkahnya yang sering konyol dan kekanakkan kadang aku lupa dengan usianya yang sebenarnya. Sialnya aku telah meremehkan kekuatan fisiknya. Aku tersenyum miris menyadari kebodohanku, pukulannya tidaklah sakit, tapi kata-kata yang dilontarkannya lah yang membuat hatiku sakit menahan rasa malu. Apa yang dia ketahui tentang aku dan Brie? Aku tahu mereka memang dekat seperti saudara, tapi apakah saudara bisa sedekat itu sampai harus berciuman?
"Kau tidak apa-apa, Greg?" Suara Eddy menyadarkanku kembali ke dunia nyata. Aku masih duduk bersimpuh dan tertunduk di lantai saat merasakan sapu tangannya melap darah yang menempel di wajahku, itu bukan darahku tapi Kak Simon. Aku tidak berkata apa-apa, dengan acuh aku menepis tangannya dan mencoba bangkit.
"Hei, Greg! Ayo kita pergi! Sebaiknya kita cek lukamu di rumah sakit!" Eddy menepuk bahuku saat aku kembali ke posisiku semula, duduk di kursi bar dan mengambil sebotol bir sebelum meneguknya bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Aku sadar semua mata di restobar ini masih memandang penasaran ke arahku setelah kepergian mereka.
"Tinggalkan aku sendiri!" jawabku ketus. Perasaanku sangat kacau balau saat ini, rasanya aku ingin berteriak dan menghancurkan apa saja yang ada di depanku. Aku mengepal erat tinjuku hingga tanganku gemetar. Gadis itu, Brie, entah kenapa rasanya aku ingin membunuh siapa saja yang menyentuhnya.
"Apa kau bercanda?!" Eddy mendengus kesal dan merebut botol minuman dari tanganku dan menatapku tajam.
"Dengar, Bodoh! Kau boleh melanjutkan sesi mabuk-mabukanmu terserah, tapi tidak disini! Aku dan Pak Oscar akan memohon pihak manajer tempat ini agar menutupi kejadian yang terjadi malam ini, jangan sampai aku menceritakan kejadian ini pada Melanie!" ancamnya lagi. Mendengar nama Melanie disebut aku spontan menelan ludah kasar.
Iya siapa lagi jika bukan Melanie, adalah manager, dosen sekaligus pemilik agensi dimana aku bernaung. Eddy sangat tahu kelemahanku, aku tidak ingin berurusan dengan wanita sialan itu. Setiap kali dia campur tangan urusanku, hidupku malah semakin kacau.
***
Empat tahun lalu
Aku berdiri canggung di depan kamera, menyipitkan mataku karena sorotan lampu yang menyilaukan. Seorang wanita transgender berambut pirang panjang menatapku dari atas sampai bawah, senyumannya yang menggoda membuatku merasa risih karena dia seperti menelanjangi tubuhku dengan matanya.
"Jadi, namamu Gregorio Isaiah? Tubuhmu tinggi dan tampangmu cukup lumayan, tapi tidak cukup menjual untuk sebagai model. Kau harus sedikit dipoles..." komentarnya. Jari jemarinya yang dihiasi cat kuku berwarna biru menari di perutku yang saat itu belum berbentuk six pack.
Saat itu usiaku baru menginjak 18 tahun, masih buta dan naif akan dunia modelling apalagi entertainment. Dengan tinggi badanku yang di atas rata-rata aku memberanikan diri mendaftar sebagai model di salah satu agensi modeling. Wajahku tidaklah setampan sekarang ini, kulitku pun tidak seputih saat ini. Perubahan drastisku adalah karena latihan keras di gym dan juga perawatan di salon dan sedikit operasi yang semuanya disponsori oleh wanita transgender itu, dan aku tahu semua itu tidaklah murah.
Awalnya aku menganggap pekerjaan modelling ini hanya iseng, sebagai sampingan sambil kuliah. Ayahku sudah tua dan bahkan sudah pensiun dari perusahaan tempatnya bekerja. Dia sekarang hanya membuka usaha bengkel kecil-kecilan. Aku tidak mungkin terus meminta uang padanya sedangkan masih ada adik perempuanku yang lebih membutuhkan. Tidak bisa kupungkiri jika aku masih memiliki hutang budi pada Melanie, aku terjebak dalam kontrak kerja yang lebih tepat disebut sebagai ‘slave contract’ atau perangkap neraka.
"Maafkan aku, Kak Mel! Aku tidak bisa, you know that I'm straight!" Aku menepis tangan nakal wanita itu saat dia menggerayangi tubuhku. Saat itu aku baru saja menyelesaikan photoshoot pertamaku sebagai model untuk pakaian dalam merek ternama. Sebenarnya itu hal biasa bagi setiap model pria dibawah asuhan Melanie, semuanya pernah merasakan sentuhan tangan Melanie, tapi tidak bagiku.
"Straight? Oh come on! My big boy Greg! Apa kau pikir aku juga bukan perempuan? Jangan bersikap lugu seperti anak kecil! Kau tahu siapa aku? Tidak ada yang bisa menolakku!” ucapnya dengan nada sinis dan memaksa. “Tapi jika kau tidak mau ku sentuh, maka lakukan sendiri!" lanjutnya lagi dengan senyuman licik saat menyalakan kamera di ponsel- nya.
Telanjang di depan kamera adalah hal biasa bagi seorang model, bisa dianggap itu salah satu profesionalitas karena wajah dan tubuhku adalah aset, tidak perlu ada rasa malu lagi. Aku sendiri saat itu tidak ingin kehilangan pekerjaan dan kehidupan baruku sebagai model. Kehidupan yang dipenuhi kemewahan, baju-baju dan sepatu bermerk, perhiasan, mobil sport dan pergaulan baru dengan para gadis cantik yang berprofesi sama sebagai model. Saat itu aku tidak berpikir panjang akan konsekuensi yang kudapat kemudian, aku pikir dengan memilih 'bermain' sendiri untuk memuaskan nafsu biadab Melanie yang licik itu lebih baik daripada menidurinya. Bagiku saat itu lebih baik hanya dilihat daripada harus disentuhnya.
Aku melepaskan celanaku dalamku, membiarkan diriku terekspose tanpa sehelai benang pun di depan wanita jalang itu sebelum tanganku memainkan bagian pribadiku. Membiarkan mata laparnya menonton dan merekam diriku m********i di depan kamera.
Aku ingin mengutuk diriku yang begitu bodoh saat itu, tapi semua sudah terlambat. Kesuksesan sebagai model membuatku hampir lupa daratan, aku tenggelam dalam dunia gemerlap, mabuk-mabukan. Aku sering clubbing sampai pagi, hingga aku bertemu rekan wanita sesama model dan mengencaninya. Cheryl, ya saat itu aku jatuh hati padanya, dia gadis yang cantik, seksi dan pintar. Tidak seperti gadis Indonesia pada umumnya yang pasif dan malu-malu. Cheryl adalah wanita agresif berjiwa bebas yang tahu apa yang setiap pria inginkan, terutama di ranjang. Setidaknya wajah cantiknya bisa mengalihkan traumaku pada wanita gila dan jejadian seperti Melanie.
TBC